
"Boleh aku tanyakan pada Tuhan mengapa akhir-akhir ini kamu mengusik pikiranku? Bukankah kisah kita sudah lama berakhir? Apa mungkin ini tanda-tanda bahwa aku akan kembali padamu? Atau mungkin ini hanyalah imajinasiku saja?" -Marutere Althea.
Terhitung sudah seminggu ini Maru selalu disuruh Bu Mifta untuk mengambil buku pelajaran Bahasa Indonesia, sendiri pula. Kalau ada temannya, Maru tidak apa-apa. Masih bisa mengobrol di tengah jalan. Tetapi jika sendiri yang bisa dia lakukan hanyalah diam dan terus berjalan sampai di tempat tujuan. Langkah mulai selangkah Maru akan segera sampai di tempat tujuannya yaitu perpustakaan. Saat sampai di depan perpustakaan, Maru melihat Megi dan teman-temannya sedang diarak Bu Mai---guru BK yang tegasnya tidak dapat dinegosiasikan. Jadi, kalau sudah ditentukan dapat hukuman itu ya sudah. Jangan menolak. Karena semakin menolak, Bu Mai akan semakin tidak kira-kira memberi hukumannya.
Maru diam di tempat sambil melihat Megi. Sejenak, ada pertanyaan yang melintas di pikiran Maru. Pelanggaran apa yang telah Megi perbuat kali ini?
Memang sejak kelas 10, Megi sudah sering melakukan pelanggaran. Hingga rasanya Bu Mai sendiri jenuh karena harus menghukum Megi lagi dan lagi. Setiap hari Bu Mai pasti selalu dijadikan sasaran para guru untuk mengurus Megi yang tidak ada kapoknya. Padahal, dulu saat SMP Megi tidak sebandel itu. Ya nakal, tetapi kenakalan yang dilakukan masih wajar. Masuk ruang BK pun tidak setiap hari. Karena dia menjadwalkan untuk masuk ruang BK seminggu sekali saja.
Berbeda dengan cowok-cowok pada umumnya yang selalu mengisi masa remajanya dengan pacaran, jika tidak ya dengan belajar untuk mencapai apa yang diinginkan. Tetapi itu bagi para cowok pada umumnya. Namun, jika ditanya menurut Megi pasti jawabannya akan berbeda. Menurutnya, hal yang wajib dilakukan untuk mengisi masa remaja adalah dengan melakukan kenakalan. Selain membantu guru BK untuk bekerja supaya tidak hanya diam di ruangan, hal itu juga dapat membebaskan diri untuk tidak mengikuti kegiatan pembelajaran.
"Kak Maru mau nyari buku apa?" tanya seorang gadis yang terlihat lebih muda daripada Maru. Mungkin dia ini baru kelas sepuluh. "Oh itu, buku Bahasa Indonesia paket kelas 11 yang semester dua. Ada di bagian mana, ya?" Maru membalas pertanyaannya.
"Rak nomor dua dari belakang, Kak. Ngomong-ngomong, Kak Maru sendirian aja?" tanya gadis itu lagi. Di sekolah ini memang yang menjaga perpustakaan adalah siswa-siswi OSIS yang sudah diatur jadwalnya kapan. Jadi, sekolah tidak memberikan penjaga perpustakaan. Karena hal ini dapat melatih tanggung jawab siswa-siswi. Maka dari itu, anak OSIS diwajibkan selalu tepat waktu dan sigap.
Maru tertawa kecil. "Iya, nih, sendiri. Ketahuan deh kalau gue jomlo."
Gadis itu terkekeh. "Mau aku bantuin nggak, Kak?" tawarnya. Maru merasa tidak enak. Ini tugasnya, jadi yang harus melaksanakan ya dia. Tetapi membawa buku paket sebanyak 36 buah itu juga tidak sedikit. Harus berapa kali bolak-balik dia?
"Memang nggak ngerepotin?" tanya Maru.
"Nggak kok, Kak. Lagian yang jaga dua orang, jadi nggak apa-apa kalau aku tinggal sebentar," jelasnya. Sementara Maru hanya mengangguk-angguk. "Ya udah deh boleh."
Akhirnya Maru dan adik kelas itu masuk ke perpustakaan dan menuju ke rak nomor dua dari belakang. Sebelumnya, adik kelas itu mendata dahulu buku yang akan Maru pinjam. Barulah setelah itu keduanya mengambil buku di rak. "34, 35, 36, oke deh. Udah pas," ucap Maru.
"Ya udah, ayo, Kak."
Kini, keduanya keluar dari perpustakaan sambil membawa buku paket yang setumpuk. Maru saja heran, kenapa gurunya setega ini coba? Jika niatnya untuk menguji kekuatan ya tidak begini juga.
"Oh iya, nama lo siapa? Kok lo bisa tahu nama gue?" tanya Maru penasaran.
"Namaku Meolita, Kak. Adiknya Kak Mars. Aku tahu nama Kakak dari hape-nya Kak Megi yang ketinggalan di rumah waktu itu. Eh pas aku tanya ke Kak Mars, katanya Kakak itu mantannya Kak Megi. Emang benar ya, Kak?" tanya gadis yang bernama Meolita itu. Maru pun mengangguk. "Iya sih, gue mantannya Megi. Tapi itu juga udah lama, udah sekitar dua tahun yang lalu. Pokoknya masih SMP dulu itu."
"Oooh udah lama banget, ya?"
Maru menjawab dengan anggukan.
Tiba-tiba Maru kepikiran dengan fotonya yang berada di ponsel Megi. Kenapa masih ada fotonya di sana? Bukankah hubungannya sudah lama berakhir?
Maru menatap Meolita dengan beribu pertanyaan. "Kalau gue boleh tahu, kejadian waktu hape-nya Megi ketinggalan itu kapan, ya?"
"Ehm..., kayaknya kalau nggak salah minggu lalu, deh." Meolita menjawab tanpa rasa curiga.
"Tahu nggak, kenapa foto gue bisa ada di hape Megi?"
"Kalau kata Kak Mars, sih, Kak Megi belum bisa lupain Kakak. Oh iya, Kakak kepo, ya? Kok daritadi nanya soal itu terus?"
Merasa ketahuan, Maru langsung menggeleng seketika. Meolita ini polos, tapi polos-polos tahu semuanya. "Nggak kok, siapa bilang? Gue cuma....," ujar Maru menggantung. Bingung harus menjawab apa. Karena sejak tadi dia memang menanyakan soal Megi terus. "Cuma apa hayo? Cuma kangen, kan?" tebak Meolita yang sebagiannya memang benar.
"Ah lo apaan, sih!" balas Maru mengelak.
"Jangan ngambek gitu, dong."
Maru mencibir. "Siapa juga yang ngambek."
"Kakak lah, masa Kak Megi. Eh, Kak berhenti dulu donggg!" teriak Meolita sambil menendang pelan kaki Maru. Karena membawa buku yang banyak, jadi tangannya tidak bisa dipakai untuk mencolek Maru. Sedangkan Maru masih bodo amat. Nanti yang ada, Meolita malah mengejeknya lagi. Karena itu dia lebih memilih focus berjalan saja. Ternyata adiknya Mars menyebalkan juga bila sudah kenal lebih jauh.
Karena tidak direspon oleh Maru, Meolita pun kembali menginjak kaki Maru hingga cewek itu meringis kesakitan sekaligus terkejut. "Aduuuh! Lo apa-apaan, sih, Me?"
Meolita tidak peduli ringisan Maru. "Itu Kak, lihat lapangan!"
Maru akhirnya pasrah, dia menoleh ke arah lapangan. Mencoba melihat ada apa di sana yang membuat Meolita menjadi histeris sendiri. Mata Maru terbelalak lebar melihat Megi dan sekawanannya sedang dihukum untuk mengepel lapangan upacara. Entah mengapa hukuman dari tahun ke tahun semakin aneh. Kalau lapangan disapu itu masih wajar. Tetapi ini malah dipel. Kurang aneh bagaimana jika dipikirkan secara rinci. Kebanyakan hukuman yang diberlakukan di sekolah ini memang membersihkan tugasnya. Baik membersihkan toilet, ruang guru, perpustkaan, koperasi, sampai lapangan pula. Sempat terlintas dipikiran Maru, kenapa jalan tidak dipel sekalian supaya bersih sampai terlihat kinclong.
Meolita menggoyah-goyahkan tubuh Maru. "Kak! Kok malah diam aja, sih? Berekspresi sedikit, dong. Aku kan kepo sama reaksi Kakak," ucapnya jujur.
"Apaan, sih? Gue B aja kok," balas Maru santai. Tetapi matanya masih tertuju pada gerombolan yang ada di lapangan. "B aja, tapi masih diliatin terus. Itu yang namanya B aja?" Meolita kembali bertanya. Dia memang sangat penasaran.
"Iiiihh, kok lo makin ngeselin, ya? Perasaan tadi lo lembut pendiam banget, dah. Kenapa mendadak jadi kepo kayak Dora begini?"
Meolita menyengir. "Ya kan kalau kenalan sama orang itu harus terlihat baik dulu, Kak. Nanti kalau udah kenal, baru deh ngelihatin watak aslinya. Emang Kakak pernah lihat orang kenalan bentak-bentak atau banyak nanya kayak aku? Nggak kan? Nah, makanya itu." Ucapan Meolita memang ada benarnya. Tetapi tetap saja, dia terlalu banyak bertanya. Padahal baru beberapa menit yang lalu kenalan. Itu belum bisa disebut sudah kenal. Tapi disebutnya baru kenal. Maru tak habis pikir dengan Meolita. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo pinter, tapi koplak," jawab Maru asal.
"Koplak dari mananya coba, Kak?" tanyanya memelas. Sementara Maru menghela napas. "Dari Korea-nya. Udah ah. Ayo jalan lagi! Nanti Bu Mifta kelamaan nunggu gue," ajak Maru mengalihkan pembicaraan.
Meolita masih tetap diam di tempat. Maru membalikkan badannya menatap Meolita yang sedang mengamati Megi sekawanannya itu. "Meo, ayoo!"
Maru mengernyit. "Ogah. Udah yuk! Nanti kalau Bu Mifta marah lo mau tanggung jawab?"
"Enggaklah enak aja!" tolak Meolita mentah-mentah. "Ya udah, kalau nggak mau ayo jalan lagi."
"Iya, iya."
Saat keduanya baru melangkah beberapa langkah, Bu Mai menghalangi jalan mereka. Sontak saja keduanya langsung berhenti dan tersenyum kaku kepada guru BK itu. "Kamu Maru?" tanya Bu Mai mengejutkan.
Maru mengangguk. "Iya, Bu. Kenapa ya?"
"Nggak ada apa-apa. Kata Mamat, kamu pacarnya Megi, ya?"
What? Maru terheran-heran sendiri. Kenapa bisa Mamat mengatakan itu? Statusnya sekarang kan bersama Mate, bukan lagi dengan Megi. Rasanya, mulut Mamat itu perlu diberi pelajaran supaya tidak asal ceplos saja.
"Bukan pacar, Bu, tapi mantan." Tegas Maru membenarkan.
Bu Mai hanya mengangguk saja.
Maru berdehem. "Kalau boleh tahu mereka itu buat kesalahan apa ya, Bu? Kok sampai dihukum bareng-bareng? Bikin ulah kayak kemarin?"
"Enggak semuanya bikin ulah. Tadi itu, keempat teman Megi terlambat datang ke sekolah. Dan Megi bukain pintu gerbang buat teman-temannya. Coba saja Megi tidak melakukan itu, pasti dia tidak kena hukuman kali ini. Wajar saja lah, anak kalau udah punya jadwal dihukum ya begitu. Kerjaannya nyari masalah aja," Bu Mai menceritakan kronologinya. "Ada yang mau ditanyakan lagi? Kalau tidak saya mau ke kantor sekarang."
"Nggak kok, Bu."
"Ya sudah," kini Bu Mai sudah berlalu.
Meolita menyenggol bahu Maru. "Cieee masih kepo sama mantan nih, yeee!"
"Apa sih! Kok lo hobi banget godain gue. Kan tadi gue cuma nanya doang. Emang salah?" tanya Maru emosi. Yang ditanya malah cengar-cengir. "Kalau perihal mantan sih nggak salah. Karena mantan itu misterius, membuat kita rindu setiap harinya."
"Gaje lo!"
"Nggak apa-apa nggak jelas, yang penting mantan itu jelas." Ini anak memang minta ditimpuk! batin Maru gemas sendiri.
***
"Pada mau goyang nggak, nih?" tawar Mesky yang sudah malas untuk mengerjakan hukuman dari Bu Mai.
"Digoyang sama siapa?" jawab Maldi cepat. Anak yang satu ini memang pikirannya suka ke mana-mana. Maldi yang awalnya berada di bawah pohon segera pindah mendekat ke Mesky untuk mengetahui kelanjutannya.
Sampai di dekat Mesky, bukannya dilanjutkan, Mesky malah menoyor jidat Maldi. "Ini anak ya, pikirannya nggak pernah benar! Ya goyang dua jari lah, masa digoyang sama biduan. Emang lo pikir di sekolah ini ada biduan apa?"
"Ya kalau gue kepala sekolahnya ya ada doonggg," seru Maldi.
"Buah gedondong makan disayang, mau dong di goyang!" seru Mamat antusias. "Perlu gue ambilin apaan, nih? Pembesar suara?" tawar Mamat. Jika sudah masalah bergoyang, Mamat selalu semangat.
"Bukan pembesar suara, Mat. Tapi pembesar payudara." Maldi menyahut.
Megi mengusap dadanya. "Astagfirullah, Mal. Pikiran lo makin ke sini makin nggak-nggak, ya? Jangan dekat-dekat gue dong. Nanti gue yang suci ini bisa ternodai," ucapnya di lebih-lebihkan.
"Najis!" umpat Maldi dan yang lainnya bersamaan. Saat seperti ini saja baru kompak. Harus dipancing dahulu, ya?
"Pakai hape Mars aja. Volume-nya kan paling gede tuh, segede anunya Megi katanya," Maldi berujar tanpa merasa berdosa. "Lo ngintip pas gue kencing, Mal? Kok tahu kalau...," dua sejoli ini jika sudah menyatu, pikirannya akan sama-sama tidak waras.
"AYO KITA GOYANG DUA JARI," tiba-tiba alunan lagu memutar kencang. Ternyata Mamat sudah menaruh ponsel Mars di spiker yang ada di atas tembok belakang tiang bendera. Sebenarnya bukan Mamat yang melakukan itu, tetapi Mars. Karena dari semua temannya, hanya Mars-lah yang pandai memanjat. Jadi, Mamat dan Mesky memaksa Mars untuk meletakkan ponselnya di samping spiker. Lagipula, ponsel Mars memiliki lagu begitu juga karena Mamat yang mengisikannya.
Setelah lantunan lagu berjudul goyang dua jari menggelegar seantero sekolah, kelima cowok yang sedang dihukum itu langsung bergoyang dua jari tanpa rasa malu. Bahkan Mars-pun yang awalnya menolak, dipaksa oleh keempat temannya. Mereka bergoyang tak beraturan saling tabrak menabrak.
Seantero sekolah dikejutkan oleh lantunan lagu yang menggelegar di spiker sekolah. Baik dari para guru maupun siswa-siswi semuanya berhamburan keluar dari ruangan dan menuju ke lapangan yang berada di tengah-tengah bangunan besar itu. Kini kelima cowok itu menjadi pusat perhatian. Mereka dilingkari oleh banyak orang. Termasuk kepala sekolah juga ikut melihatnya. Ada sebagian yang hanya melihat kejadian itu, adapula yang merekamnya dengan ponsel mereka. Sebagian lainnya ikut bergabung dengan Megi and the gengs di lapangan.
"Sumpah! Bukannya mantan lo itu dihukum ngepel lapangan, ya? Kok malah goyang dua jari, sih? Bikin heboh tahu nggak!" cetus Magis. Jelas saja dia tahu, orang pacarnya juga ikut dihukum. Sebelumnya juga Mesky sudah mengabari Magis.
"Pacar lo bukannya juga?" tanya Maru tidak terima.
Sementara Magis hanya menyengir. "Iya juga, sih. Ah, tapi pelopornya pasti Megi. Dia kan pemimpinnya."
"****!" ungkap Morin begitu saja.
Magis dan Maru saling berpandangan. "Siapa yang ****, Rin?" tanya Maru langsung.
"Enggak."