
"Menjadi pusat perhatian adalah caraku untuk dilihat kamu tanpa aku minta. Karena aku memang menyukai hal-hal yang berbeda dari yang lain. Menurutku itu menarik. Sama halnya seperti kamu yang sudah menarik hatiku tanpa kamu minta." -Megizal Steven.
Semua murid dikumpulkan di lapangan sebelum masuk kelas. Tidak ada yang tidak hadir di lapangan kecuali Megi dan kawan-kawan yang sering menghilang saat akan diberitahu pengumuman yang sangat penting. Saat ini, keadaan lapangan ramai akan suara murid-murid yang bergemuruh. Para murid saling bertanya kepada sesamanya kenapa mereka dikumpulkan seperti ini. Biasanya juga, jika menyampaikan pengumuman selalu selepas upacara pada hari Senin. Hingga saat ini, para guru pun belum juga keluar dari ruang rapat. Sebenarnya ini mau menyampaikan apa hingga keributan antar murid terjadi. Suara berisik menyambar telinga Maru dan Magis yang sejak tadi sedang asyik bercengkerama sendiri. Mereka berdua langsung menyeret diri untuk membelah kerumunan itu dan berjalan menepi di pinggir.
Sementara Morin, dia masih berada di barisan paling depan. Biasalah jika anak seperti Morin itu takut ketinggalan informasi. Baginya, semua yang berhubungan dengan sekolah itu penting baginya. Berbeda dengan Maru dan Magis, mereka berdua lebih memilih untuk tidak berdesakan hanya untuk sebuah pengumuman yang belum pasti. Karena itu, Maru dan Magis membiarkan Morin mencari informasi yang nanti akan dibagikan kepada mereka. Lagipula, Morin jika diajak untuk menepi ataupun beralih tempat ke belakang juga tidak akan mau. Bukan masalah telinga yang tidak benar, Morin tidak mau ke belakang. Tetapi, jika berada di depan apa yang belum dia paham bisa langsung ditanyakan.
Dua menit kemudian, para guru itu pun akhirnya keluar dari ruang rapat bersama dengan kepala sekolah. Mereka berjalan menuju ke panggung yang berada di ujung lapangan samping tiang bendera. Panggung yang biasanya dipakai untuk paduan suara ini memang sering digunakan untuk menyampaikan pengumuman. Para guru berbaris rapi di atas panggung. Sementara kepala sekolah langsung berdiri tegak di depan mikropons.
Kini, kepala sekolah menjadi pusat perhatian para murid. Termasuk juga Maru dan Magis yang berada di barisan paling belakang ikut memperhatikan kepala sekolah. Walaupun mata mereka tertuju kepada kepala sekolah, tetapi mulut dan telinga mereka tidak.
"SELAMAT PAGI SEMUA!!" sapa kepala sekolah itu ramah. Namanya Pak Margadijaya. Terkenal tegas, namun juga terkenal ramah kepada murid perempuan. "PAGI PAK!!" sorak seantero sekolah.
"BAIKLAH, SAYA TIDAK AKAN BERBASA-BASI. SAYA HARAP KALIAN PAHAM DAN MULAI SERIUS UNTUK BELAJAR. SETELAH MENGADAKAN RAPAT DADAKAN, KAMI MEMUTUSKAN UNTUK MEMAJUKAN KEGIATAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER BULAN DEPAN," Pak Marga menghela napasnya setelah mengucapkan kalimat panjang itu. Ini adalah kabar yang buruk. Maka dari itu, menyampaikan pengumuman ini membuat Pak Marga merasa kurang enak. Seharusnya kegiatan PAT dilaksanakan pada tiga bulan yang akan datang. Namun, karena terkendala oleh hari Raya Idul Fitri dan pasti tugas di bulan itu akan menumpuk, maka para guru dan kepala sekolah sepakat untuk memajukan kegiatan PAT. Lagipula, rencana ini juga sudah diperintahkan oleh pemerintah.
Semua murid heboh. "Kok bulan depan banget sih, Pak?" ujar salah satu murid laki-laki berkacamata yang berada di bagian depan.
"Iya, nih! Materi aja belum kelar!"
"Bapak mau bunuh kita ya?!"
"Bulan depan berarti seminggu lagi dong?!"
"Bapak kira ngerjain soal ujian gampang apa?"
"Kalau dikasih kunci jawaban mah nggak apa-apa, Pak! Kita nggak bermasalah. Iya nggak guys?!" mendengar pertanyaan itu, hampir semua murid mengangguk setuju dengan opini murid laki-laki yang seragamnya berada di luar.
Ungkapan murid-muridnya membuat kepala sekolah menggeleng keheranan. "KALIAN PILIH PAT BULAN DEPAN ATAU PAS LEBARAN?"
"Kalau bisa nggak dua-duanya, Pak!" ucap murid laki-laki itu lagi. Padahal yang lainnya masih diam sembari berpikir untuk memilih yang menurut mereka baik. Pasalnya pilihan yang diberikan oleh kepala sekolah sangat sulit. Keduanya sama-sama tidaklah waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan PAT. Memang benar, semakin ke depan tata cara belajar ataupun mengerjakan soal juga akan berubah dengan berkembangnya zaman. Karena itu, tidak heran jika PAT akan dilaksanakan secepat ini. Bahkan sebelum waktunya.
Mungkin, bagi sebagian orang ini hal yang sudah biasa. Khususnya untuk orang-orang yang pintar. Mereka cenderung santai karena mereka yakin bisa mengerjakan. Selagi mereka menguasai mata pelajaran itu, semuanya akan baik-baik saja. Namun, ada juga orang yang otaknya pas-pasan. Mereka cenderung akan bersikap was-was. Takut jika nanti tidak bisa mengerjakan soal ujian. Pikiran mereka tertuju kepada hal-hal yang negatif. Itu semua diakibatkan karena sikap yang kurang yakin dengan kemampuan diri sendiri. Padahal jika mereka mau bersungguh-sungguh untuk belajar, tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika mereka melakukannya dengan niat yang tulus.
Selain itu, juga ada anak yang bersikap biasa saja. Khususnya deretan anak yang seringkali memasuki ruang BK dengan bahagia bak memasuki surga.
"YA SUDAH KALAU GITU TAHUN INI KALIAN TIDAK NAIK KELAS," jawab Pak Marga masih dengan mikropons sehingga suaranya menggelegar di semua sudut sekolah. Mendengar jawaban kepala sekolah, keributan pun kembali terjadi. Para murid saling berdesakan untuk maju ke depan. Masing-masing dari mereka ingin menyampaikan opininya. Karena tidak sampai-sampai di bagian depan, akhirnya semua murid bersuara kompak. "YAH JANGAN DONG, PAK!!!"
Kepala sekolah kembali jengah dengan penolakan yang dilakukan siswa-siswinya. "OKE, DENGAN BEGINI BAPAK ANGGAP KALIAN SETUJU UNTUK MELAKSANAKAN PAT BULAN DEPAN." Keputusan mendadak yang diambil kepala sekolah sukses membuat keributan yang terhenti sesaat itu kembali terjadi. Pak Marga tidak bisa lagi menanyakan sesuatu kepada para muridnya. Karena beliau tahu, semua pertanyaannya tidak akan dijawab melainkan akan menerima penolakan. Pak Marga membalikkan badannya seraya membiarkan muridnya membuat keributan. Beliau berusaha mendiskusikan keputusannya tadi kepada para guru. Apa sudah benar atau tidak. Namun, semua guru mengedikkan bahunya. Tidak ada satupun dari para guru yang memiliki jalan keluar selain mengambil keputusan sepihak seperti ini.
Selesai berdiskusi dengan hasil yang tidak memuaskan, Pak Marga kembali membalikkan badan melihat para muridnya yang masih ribut sendiri. Beliau mengetuk-ngetuk mic-nya. Mendengar ketukan mic tersebut, semua murid terdiam dan menjadikan Pak Marga sebagai pusat perhatian. Dengan sigap, Pak Marga langsung memajukan sedikit tubuhnya sebelum keributan itu kembali terjadi. "KEPUTUSAN INI PEMERINTAH YANG MENGATUR, JADI MAU TIDAK MAU, SENANG ATAU TIDAK SENANG, KALIAN HARUS TERIMA. KEPUTUSAN TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT. BULAN DEPAN KI----"
Belum selesai kepala sekolah melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara drumband dan terompet berbunyi nyaring di bagian belakang lapangan. Semua murid membalikkan badannya menghadap ke belakang. Sementara Maru dan Magis yang sejak tadi ada di belakang langsung melongo tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mata mereka masih normal. Minggu lalu juga sudah dicek ke dokter mata jika mata Maru dan Magis masih bagus. Maru sendiri mengucek matanya berulang kali.
Saat ini mereka tidak salah lihat. Yang mereka semua lihat saat ini benar. Megi dan kawan-kawannya masih bersenandung riang dengan memukul tong sampah yang dibalik sekaligus meniup terompet yang entah didapat dari mana. Yang membuat semuanya tercengang adalah, Mamat yang datang sambil berlari membawa mangkuk bakso milik Mang Yayan beserta sendoknya. Sesampainya dia di gerombolannya, Mamat memukul mangkuk tersebut dengan sendok sambil bergoyang tanpa rasa berdosa. Meskipun menjadi pusat perhatian, tetapi mereka tidak menghentikan aksinya itu.
Mesky meniup terompet. Mars dan Megi memukul tong sampah yang dibalik dan diberi tali lalu dikalungkan ke leher mereka. Mars memang terkenal dingin, namun dalam setiap aksi tidak warasnya Megi, anehnya dia selalu ikut. Oke, sebelum berlanjut mari kita mengenal teman-teman Megi sejenak.
Di bagian kedua ada Maldiano Ranggadean Karta---si tukang mesum. Pikirannya selalu menuju kepada hal-hal yang jorok. Dia juga sering mengeluarkan peribahasa yang tidak nyambung sama sekali. Meskipun begitu, dia jarang marah. Malahan dia yang sering dimarahi karena pikirannya itu. Apalagi, Maldi itu suka mewarnai kukunya. Setiap hari pasti warnanya selalu berbeda. Tidak peduli jika dia itu cowok, buktinya dia tidak peduli dengan ocehan teman-teman ceweknya yang mengatakan bahwa dia bukan cowok tulen. Meskipun kukunya berwarna, namun kukunya masih normal. Dia tidak membiarkannya panjang.
Di bagian ketiga ada Erdian Mesky Semesta, pacarnya Magis. Bisa dibilang sikapnya sebelas duabelas dengan Magis. Sering menimbrung sesuka hati. Jarang mengerjakan tugas. Bahkan dia selalu menyalin tugas Mars. Sama dengan Magis yang selalu menyalin tugas Morin. Berbedanya, Mesky lahir di Belanda. Kulitnya putih seputih salju. Bibirnya pun merah merona. Namun, Mesky itu selalu bergaya sok cool. Rambutnya saja berwarna pirang. Dia juga memiliki poni. Selain itu, Mesky adalah teman mabar sejatinya Megi. Suka menasehati Megi. Tapi, dia juga sering tersinggung.
Dan yang terakhir ada Planet Amarska Gantara, namanya memang unik. Boleh disapa apa saja yang penting masih mengandung nama panjangnya. Si Mars ini paling putih dari kelima temannya. Meskipun Mesky juga putih, tetap saja yang paling putih adalah si Mars. Dia kelahiran asli Norwegia. Blasteran antara Korea dan Norwegia. Matanya saja berwarna abu-abu. Bayangkan saja jika hidungnya itu semancung tikungan jalan. Yang membedakan Mars dengan yang lain adalah sikapnya. Mars terkesan lebih jarang ngomong dan dingin. Dia tempat menyontek para teman-temannya. Karena dari kelima temannya, yang paling pintar hanyalah Mars seorang. Wajar saja jika kepintarannya itu menjadikan dirinya sebagai tempat untuk dicontek. Walaupun Mars itu ganteng dan pintar, namun dia masih sendiri sampai saat ini. Belum ada kabar bahwa Mars dekat dengan seorang cewek.
"KALIAN NGAPAIN?!" tanya sang kepala sekolah keheranan. Anak didiknya yang lima ini memang langganannya mendapat hukuman. Sampai-sampai buku catatan di BK full dengan kesalahan mereka.
Megi mengangkat tangannya tanda untuk menghentikan pentasnya. Dia melirik Maru yang berada tak jauh dengannya. Dia hanya memandang ekspresi Maru sesaat. Lalu kembali menghadap ke depan sambil menyengir. Keadaan pun hening seketika. "Merayakan pengumuman yang Bapak sampaikan lah. Kan jarang-jarang Bapak ngasih kami jam kosong di jam pertama sampai istirahat begini," ujar Megi sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Gila, ya," gumam Maru tak habis pikir.
"Buset, dah! Kapan lo ngajakin pacar gue ke jalan yang benar, Meg?!" Magis ikut menimpali. Ini sudah kesekian kalinya Megi melancarkan aksinya bersama dengan gerombolannya. Termasuk juga Mesky.
"Jangan banyak ngatur, Mbak. Nanti pacarnya kabur baru tahu rasa lho," cetus Mamat langsung. Megi hanya membalas dengan senyumam. "Gue nggak tanggung jawab ya kalau dia kabur beneran," sambung Megi dengan menunjuk Mesky.
Magis menghentak-hentakkan kakinya ke tanah sambil berdecak pinggang. "Lo doain gue ditinggal sama Mesky? Mulutnya yaaa! Belum pernah apa dipanggang pakai batu bara?"
"KALIAN BERLIMA, IKUT SAYA SEKARANG!!" ucap Pak Marga melerai perdebatan diantara mereka. Beliau mengusap keringat di keningnya dengan tangan. Lalu melihat Megi yang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Itu anak memang tidak tahu salah. Pak Marga menggeleng seraya pergi meninggalkan gerombolan para murid. Dia turun dari panggung sambil menyuruh para guru lainnya untuk mengurus semua anak didiknya itu.
"Lo itu mau dihukum malah dadah-dadah!" ketus Magis.
Megi menjulurkan lidahnya kepada Magis hingga membuat gadis itu berekspresi jijik seraya menarik lengan Maru. Dia mengajaknya pergi meninggalkan Megi. Bahkan Magis tidak menyapa pacarnya sama sekali.
"Yaah kok malah bubar. Kan pentasnya belum kelar," seru Megi kecewa.
"Kuy lah, kita udah ditunggu Pak Marga," ajak Mars sambil merangkul bahu Megi. Dia sedikit membungkukkan badannya sambil membisikkan sesuatu. "Ini terakhir kalinya gue dapat hukuman," ucapnya. Sedangkan Megi tertawa kecil. "Lo tenang aja."
Mamat memukul-mukul mangkuk yang dibawanya dengan sendok. Padahal teman-temannya sudah menghentikan aksinya.
"Lo ngapain sih, Mat?" tanya Maldi.
"Menghibur diri untuk menyambut hukuman," jawabnya asal.
"Gue kira lo mau jualan bakso gantiin Mang Yayan."
"Yee Abang Maldi mikirnya kejauhan keleeuus!"
Mesky meloncat-loncat sambil mengangkat kedua tangannya. "Man! Pacar gue marah deh kayaknya."
"Bukan kayaknya lagi tapi memang udah marah kali," Maldi menjawab sambil tersenyum lebar. Pasalnya, diantara mereka berlima hanya Mesky yang sudah memiliki pacar. Maka dari itu, setiap Magis marah pasti Mesky selalu kebingungan sendiri. Seperti orang yang tidak waras.
Ketika kelima cowok itu memasuki ruang kepala sekolah, Pak Marga langsung mengagetkan mereka dengan mengatakan. "Genteng sekolah sudah siap untuk kalian bersihkan."