
"Tak apa bila aku dan kamu pikirannya tak sejalur, asal ucapanmu dan perilakumu itu sejalur." -Marutere Althea.
Jika dipikir-pikir, memang seharusnya tadi ia tak perlu bergabung dalam permainan itu. Ujungnya malah dia sendiri yang bertambah kesal. Bodoh memang. Sudah tahu bila Megi dan sekawanannya itu suka membuat ulah, tapi tetap saja ia mau untuk diajak bermain. Ah, sekarang ia sendiri masih kesal dengan kejadian tadi. Betapa menyebalkannya mereka. Tidak ada yang minta maaf pula. Memang benar-benar bukan manusia. Tak ada rasa bersalahnya. Sudah berkali-kali Maru tadi enggan untuk menimbrung lagi. Siapa tahu mereka ada yang mengajaknya ngobrol. Jangan kan mengobrol, menolah saja tak ada yang melakukan.
Jangan tanya bagaimana dengan Magis. Gadis itu hanya sibuk berpacaran dengan Mesky semenjak mereka berada dalam satu kelas. Mungkin, bagi mereka itu adalah sebuah keberuntungan. Namun bagi Maru, itu hanya sebuah kesialan belaka. Sebab ia tahu, pasangan itu sudah sangat bucin. Sulit sekali untuk dipisahkan. Apalagi sekarang satu kelas. Bukannya semakin jauh malah semakin dekat.
"Ru, mau pulang bareng nggak?" tawaran itu membuat orang yang dipanggil menoleh ke samping. Ada seorang cowok yang sedang berdiri di sampingnya sambil membawa helm. Tentu tanpa motornya. Hanya helm saja.
Maru tersenyum kikuk. "Nggak usah. Lo pulang duluan aja. Gue, gue gampang kok," jawabnya sambil mengedarkan pandangan ke arah lain.
"Lo nungguin Magen?" tanyanya lagi.
Maru menggeleng.
Kenyataannya memang begitu. Ia tidak sedang menunggu siapapun. Hanya saja, ia belum ingin pulang. Suasana hatinya sedang memburuk. Takutnya, nanti malah semakin memburuk gara-gara bertemu Mama tirinya itu. Tapi, kalau ia tidak pulang sekarang nanti yang ada Mama tirinya itu pasti rewel. Pasti akan menghubungi Ayahnya, lalu Ayahnya akan meneleponnya berulang kali. Sungguh, Maru sudah muak hanya dengan membayangkannya saja.
"Terus, nungguin siapa? Gue?" Lagi, lagi, sosok lelaki yang berdiri di sampingnya itu bertanya. Tapi, Maru masih enggan menjawab. "Masih ngambek gara-gara tadi? Semua itu cuma bercanda kali, Ru. So, sori kalau gue bercandanya kelewatan. Gue nggak maksud kok," lanjutnya.
"Tapi nggak harus gue juga kan yang dijadiin bahan bercandaannya lo-lo pada?!" Maru memukul dada cowok itu. Mungkin, Maru pikir cowok itu sudah mengerang sakit. Tapi kenyataannya tak seberapa. Lagipula kekuatan Maru juga tak melebihi kekuatannya.
Cowok itu lantas menarik tubuh Maru dengan kilat. Memeluknya seketika. Maru tak lagi bisa berkata.
"Kan udah dibilang maaf," ucapnya pelan. Masih dalam keadaan memeluk. Maru meronta. Ingin melepas pelukan cowok itu. Tapi lagi, lagi, dia dipaksa untuk diam. Bukannya melepas pelukan, kini pelukan itu malah semakin erat. Hingga telinga Maru dapat mendengar dengan jelas suara detakan jantung cowok yang memeluknya. Bahkan, terdengar dua kali lebih cepat. Sama dengan keadaan jantungnya sekarang. Mungkin, jantungnya bergerak tiga kali lebih cepat sekarang.
Maru mendongak. "Lepasin nggak?!" bentaknya, kesal.
"Dimaafin nggak?"
Jantung yang kian beberapa detik tadi bekerja dengan cepat, kini tak terdengar lagi.
"Pengin banget lama-lama gue peluk, ya? Sampai nggak jawab-jawab," cowok itu menambahkan lagi. Sontak Maru langsung meronta lagi. Ia memukulnya lagi. "Iiih bukan gue kali! Lo tuh yang pengin. Udah ah! Gue mau pulang! Lepas!" teriak Maru.
Beruntungnya, ia pulang terlambat tadi. Jadi keadaan sekolah sedang tidak ramai sekarang. Setidaknya ia tak jadi pusat perhatian. Itu jauh lebih baik baginya.
"Ya, dimaafin nggak?" cowok itu mengulang pertanyaan yang sama.
Maru memutar bola matanya jengah.
"Iya, iya, dimaafin. Puas? Lepas sekarang!" Tapi, cowok itu masih tak melepasnya. Jangan kan melepas, memberi ruang batad saja tidak. Malahan ia semakin mempererat pelukannya. Sudah lama ia tak merasakan pelukan ini. Nyaman yang ia rasa menjulur ke seluruh bagian tubuhnya. Ia sangat rindu masa-masa ini. Dulu, ia memiliki hak dengan bebas untuk memeluk Maru seperti ini. Tapi sekarang, dia perlu alasan untuk bisa memeluknya lagi. Dulu ia sebebas itu. Sekarang, dirinya seakan memiliki tembok tersendiri di depam tubuhnya. Jika dibolehkan, ingin sekali ia mengulang masa-masa dulu. Dirasa, semuanya belum terlambat. Semuanya masih bisa diperbaiki. Akan tetapi, itu ada dalam dirinya. Ia tak tahu, apa dalam diri Maru juga seperti itu atau tidak. Jawaban itu yang sampai sekarang belum ia temukan.
"Lo ngomongnya nggak ikhlas."
"Sok tahu banget sih!"
"Ya memang gue tahu."
"Terserah lo, deh! Lo boleh ngomong apa aja. Tapi lepasin gue dulu. Gue nggak bisa napas, Meg!" adunya dengan kesal. Cowok itu, Megi, masih tak melepaskannya. Malah, cowok itu terkekeh. "Di dada gue ada udara kok. Coba aja hirup, nanti juga lo ngerasa."
"Udara apaan! Modus," cecarnya.
Megi tertawa. Ia lantas melepas pelukannya. Dia sadar, hak itu tak lagi ada untuknya.
"Gini kek dari tadi. Pengap tahu. Ya, udah. Gue pulang dulu," ujar Maru. Ia memilih untuk tak banyak marah kepada Megi. Ketika Maru hendak pergi, Megi menahan lengan Maru. Membuatnya mau tak mau harus berhenti. Sejenak, ia menoleh. "Apalagi?" tanyanya, jengah.
Megi hanya menyunggikan senyum.
"Kalau nggak mau pulang bareng gue, biar gue aja yang pesenin taksi. Lo tunggu di sini aja."
Maru, rindu masa ini.
***
Sejak naik taksi sampai sekarang hampir tiba di rumahnya, Maru tak henti-hentinya tersenyum. Ia masih kepikiran akan kejadian tadi.
Lucu.
Itulah pikirnya.
Seakan ia kembali bernostalgia pada masa lalunya. Sungguh indah. Ingin rasanya dia kembali pada masa lalu. Tapi Maru tak yakin, apakah Megi akan sepemikiran dengannya atau tidak. Dulu, Megi yang membuat semuanya berakhir. Tidak mungkin bila sekarang Megi memiliki keinginan untuk membuat lembaran baru lagi dengannya. Bukan karena Megi masih sendiri sejak putus dengannya ia jadi banyak berharap. Tapi memang kedekatannya dengan Megi akhir-akhir ini menciptakan rasa yang sudah terkubur itu muncul kembali. Bila Maru bisa menolaknya, sudah dari beberapa bulan yang lalu ia menolak rasa ini.
Pasca putusnya dengan Mate, dirasa-rasa Maru tidak sempat galau.
Hidupnya masih panjang.
Maru berharap, jika ia bisa lebih dulu bahagia daripada Mate, mantannya.
Dia ingin jadi orang yang jauh lebih dianggap berharga.
Semoga kedepannya, apa yang Maru harapkan itu bisa menjadi kenyataan.
"Mbak, ini sudah sampai." Pak supir membuyarkan semua lamunan Maru yang indah. Gadis itu langsung tergelagap. Ia tersenyum kikuk. Lantas segera mengeluarkan uang dari saku seragamnya dan menyodorkan kepada Pak supir taksi itu. "Nggak usah, Mbak. Semuanya sudah dibayar sama Mas-mas tadi," kata Pak supir menjelaskan.
Ah, kenapa Maru tak tahu bila Megi yang membayar semua ini?
Harusnya dia bisa menebaknya.
Maru bukan orang yang baru mengenal Megi dua atau tiga hari yang lalu. Akan tetapi sudah hampir lima tahun yang lalu mereka sangat dekat.
"Ya, sudah. Kalau gitu makasih, ya, Pak." Maru menunduk lantas bergegas keluar dari taksi yang mengantarkannya pulang. "Iya, Mbak."
Lalu, Maru bergegas masuk ke halaman rumahnya.
Dahinya seketika mengernyit ketika melihat mobil yang penuh dengan barang-barang berharga milik Ayahnya. Tanpa berpikir panjang, Maru langsung berlari untuk mengeceknya. Sesampainya di ruang tamu, Mama tirinya telah memasukkan semua barang-barang Ayahnya. Termasuk sertifikat rumah sekarang berada pada tangannya. Mestha, Mama tirinya tak begitu terkejut melihat kehadiran Maru. Justru ia senang. Akhirnya Maru melihat awal dari sebuah kehidupan barunya yang buruk. Yang sebentar lagi akan menimpanya.
Mata Maru lantas mengarah ke arah lain. Di sana, di dapur ada Magen.
Orang yang selama ini ia percaya tidak akan melakukan hal ini ternyata sama saja. Magen dan Mamanya sama-sama orang jahat. Seharusnya Maru tidak menganggap Magen itu orang baik. Magen itu bayangan dari Mamanya. Maru semakin geram. Kebaikan Magen selama ini hanya menipunya semata.
"Oh, udah lihat, ya? Gimana perasaannya Tuan Puteri?" tanya Mestha, tersenyum. Ia senang sekarang. Semua yang dia inginkan sudah berada di tangannya sekarang. Semua ini tanpa bermain tangan dan darah. Itu adalah hal yang cukup bagus bagi Mestha. Dia tak perlu menyewa orang untuk membunuh Maru ataupun Ayahnya.
Maru menunjuk Mestha dengan amarah. "Serahin sertifikat itu, nggak?! Kalian nggak berhak atas rumah dan harta ini!" teriak Maru yang seketika membuat Magen menoleh.
Hanya menoleh, tanpa merespon apapun.
"Ups! Nggak berhak kamu bilang? Denger, ya! Sertifikat ini sudah atas nama saya! Jadi, saya punya hak atas semua ini. Kamu yang nggak punya hak untuk apapun! Daripada kamu ngoceh nggak jelas, lebih baik kamu kemasi barang kamu dan juga barang Ayahmu itu. Besok rumah ini akan dijual," ujar Mestha dengan tatapan yang tajam. Tak ada lagi kata bersahabat. "Magen, cepat selesaikan makanmu. Kita pergi sekarang," tambahnya.
Mestha langsung mendorong tubuh Maru kasar sampai ia terjatuh. Lantas Maru bangkit dan langsung menjambak rambut Mestha dari belakang hingga dia menjerit kesakitan. "Awww! Terkutuk kamu, Maru!! Lepasin, nggak?! Kamu akan membayar semua ini!! Maru!! Saya bilang lepas!" teriaknya.
"Nggak! Saya nggak akan lepas ini sampai Tante ngasih sertifikat itu sama saya!" Maru ikut membentak. "Enak saja! Ini bukan milik Ayah kamu lagi, ini mi---aww! Sakit!! Lepas anak terkutuk!" Mestha masih terus berteriak.
Tiba-tiba, tangan Maru dilepas paksa oleh Magen. "Sopan sedikit sama Nyokap gue," katanya dingin.
Maru tak menyangka jika Magen lebih membela Mamanya yang sudah jelas-jelas salah ketimbang membela dirinya.
Air mata yang sudah ia bendung untuk tak dikeluarkan itu seketika mengalir dengan sendirinya. Padahal tadi ia sudah berusaha keras untuk tidak menangis. Maru yakin bila dia tidak secengeng yang orang pikir. Tapi kali ini, ia benar-benar cengeng. "Sopan sedikit lo bilang? Mama lo sopan nggak ambil barang orang lain tanpa izin? Harusnya lo tahu mana yang benar mana yang nggak! Percuma pinter kalau attitude aja nggak punya!" Maru marah, dia langsung memukuli Magen dengan seadanya. "Lo itu orang jahat yang pernah gue kenal! Lo nggak lebih dari Nyokap lo! Gue benci sama lo, Gen! Lo satu-satunya orang yang gue percaya. Tapi lo juga satu-satunya orang yang ngerusak kebahagiaan gue! Otak lo di mana, sih?! Kenapa orang kayak kalian nggak punya balas budi?!" teriaknya meluapkan semua amarahnya.
"Kamu tuh berisik, ya." Mestha berkomentar, santai.
Maru masih terisak dengan tangisannya.
"Selesaikan ini, Gen. Mama tunggu di luar," ucap Mestha memerintah. Dia lantas pergi. Sudah jengah rasanya melihat Maru yang memberontak sejak tadi.
Sementara Magen, dia masih terdiam.
"Lo itu munafik! Ucapan lo beda jauh sama kelakuan lo! Gue benci," ungkap Maru jujur. Memang iya, dulu-dulu ia percaya dengan Magen. Yakin bila Magen adalah orang yang baik. Namun kenyataannya tidak seperti itu. "Kenapa diem aja?! Oke, anggap aja sekarang lo menang dalam permainan lo sendiri. Seneng kan lo? Akhirnya bisa ngerebut kebahagiaan orang lain. Marvelous! Keren lo. Gue nggak nyangka," Maru sedikit tertawa dalam tangisnya. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh Magen.
Magen memajukan tubuhnya sedikit. "Terima kasih. Kalau gitu, kemasi barang lo dan Bokap lo sekarang. Jangan sampai gue sendiri yang bertindak," katanya.
Maru membulatkan matanya lebar-lebar. Bagaimana bisa Magen seperti itu?
"Lo bener-bener nggak punya hati! Salah apa sih gue sama lo sampai lo melakukan ini ke gue?!" Maru kembali terisak. Perasaannya kini hancur. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Magen tidak menjawab apapun. Ia langsung pergi begitu saja. Maru tak lagi bisa mengejarnya. Percuma. Sertifikat itu sudah atas nama Mestha. Apalagi yang bisa dia pertahankan.
Sejenak, tubuh lemas Maru menatap tembok yang ada di belakangnya.
Sebuah panggilan tiba-tiba masuk. Maru segera mengambil ponselnya. Dengan keyakinan, ia langsung menerima panggilan itu. Sebuah benda hitam pipih kini ditempelkan di telinganya. "Halo, Ayah."
"Halo, Sayang. Kamu sudah pulang? Kalau sudah cepat-cepat nyusul Ayah ke Sendy Buana kafe, ya? Ayah mau ngerayain keluarga baru kita sama Mama dan Magen. Pasti mereka sudah ngasih tahu kamu soal acara ini, kan? Maru," cerita Ayahnya panjang. Maru semakin menangis dibuatnya. Bagaimana bisa Mestha dan Magen melakukan ini disaat Ayahnya sedang sangat senang. "Maru, kamu nangis, Nak? Kamu kenapa? Ada masalah? Cerita sama Ayah sekarang. Maru. Cerita sama Ayah," ujar Ayahnya lagi di sambungan telepon.
"Ayah, mereka..., pergi."
"Mereka, mereka siapa?" Ayahnya masih belum mengerti. Sejenak, Maru mengembuskan napasnya. "Tante sama Magen udah pergi. Mereka ngambil semua apa yang kita punya."