Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 32 :: TIKUNGAN ARAH



"Titik terlemah manusia adalah saat di mana dia mulai kehilangan semuanya. Di saat itu, dia akan diuji seberapa kuatnya dia bertahan dengan dirinya sendiri. Atau mungkin, akan seberapa lemahnya dia mengeluh tentang dirinya yang sendiri itu.


Meski di sekitarnya sangat ramai. Namun hatinya akan selalu merasa sepi. Hampa. Hening. Seakan dia tidak sedang berada dalam kehidupan yang sebenarnya.


Walau dia selalu meyakinkan dirinya. Semuanya akan kembali. Akan baik-baik saja. Namun terkadang dirinya itu memilih jalan yang lain. Antara bertahan, atau memilih untuk angkat tangan." -Marutere Althea.


Beberapa menit setelah Maru selesai menelepon Ayahnya, sambungan pun segera terputus. Bukan. Bukan Maru yang memutuskannya. Melainkan Ayahnya. Entah kenapa. Maru jadi khawatir sendiri jika begini. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan Ayahnya. Sungguh. Pikirannya sudah melayang kepada hal-hal yang buruk. Memilukan. Sudah semua yang dipunyanya diambil Mestha dan Magen, sekarang ia harus memikirkan akan Ayahnya yang tiba-tiba mematikan teleponnya. Ah, Maru seharusnya tidak menceritakan hal itu dulu. Seharusnya dia menceritakannya setelah Ayahnya pulang dari kerja. Dengan begitu, Ayahnya tidak akan terganggu pikirannya. Sekarang Maru menyesali hal itu.


Tubuhnya yang sudah lemas tidak bisa lagi melangkah. Jangan kan melangkah. Untuk berdiri saja rasanya sudah sulit. Napasnya tidak karuan. Benar-benar enggan untuk bernapas. Dadanya mulai sesak. Setiap dia menangis. Dadanya selalu sesak seperti ini. Semuanya sudah biasa. Bila biasanya Maru akan bergegas mencari ruangan ataupun halaman yang banyak udaranya, kini mulai enggan. Dia tak lagi peduli pada dirinya. Meskipun untuk bernapas saja susah. Ia tidak ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Tidak ingin melakukan apapun. Atau bertemu dengan siapapun termasuk bertemu Ayahnya sendiri. Malu. Itu yang dirasakannya sekarang. Seakan ia tidak bisa menjadi anak yang baik. Bahkan ia sudah tahu bahwa masalah akan menghampirinya, tetapi ia masih tetap diam saja. Membiarkan seolah tak ada apa-apa. Ini yang disesalkan.


Mengingat hari pernikahan Ayahnya. Semakin teringat, Maru semakin merasa sakit. Semakin terpikirkan, Maru semakin ingin menyalahkan dirinya sendiri. Untuk saat ini, yang Maru ingin hanyalah memukuli Magen. Ingin sekali dia menghabisi Magen sekarang juga. Ingin sekali dia memukul Magen dengan tangannya sendiri. Di depan matanya, Magen menutup semua jalan kehidupannya. Ingin sekali. Tapi logika Maru masih berjalan. Dia tidak ingin masuk penjara setelah melakukan itu. Apalagi membunuh termasuk tindak kriminal. Yang ada Maru hanya menambah masalah saja. Bukan menyelesaikan.


Langit-langit rumah baru ini seperkian waktu berjalan akan mulai pergi. Dalam artian sudah bukan milik Maru lagi. Melihat rumahnya ini, Maru malah ingin menyalahkan Ayahnya juga. Kenapa tidak menjadikan atas namanya saja sertifikat rumah ini? Kenapa harus Mestha? Padahal. Maru adalah anak satu-satunya. Kandung pula. Dari pernikahan pertama. Apa Ayahnya mulai tidak memikirkan akan masa depannya? Semudah itukah Mestha mempengaruhi Ayahnya? Seolah semua yang baik mendadak berubah menjadi buruk. Seperti hanya membalikkan telapak tangan saja. Sangat mudah.


Meskipun ingin menyalahkan. Tetapi Maru kembali mengingat dirinya sendiri. Selama ini dia tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang seperti warisan, harta, sertifikat atau apalah itu. Dia tidak peduli. Dia bahkan tidak pernah memiliki satu hari di mana dia memikirkan semua ini. Dulunya semua terasa indah. Sampai-sampai ia lupa untuk peduli dengan hal semacam itu yang tentunya sangat penting untuk ke depannya. Sekarang dia sama sekali tidak memiliki jaminan untuk kehidupannya ke depan. Bila dipikirkan, mungkin akan buruk. Bukan mungkin. Memang buruk. Namun, ia berusaha untuk tidak mengambil hal-hal yang buruk saja. Maru ingin menghilangkan semuanya yang buruk. Dan mengingat sesuatu yang baik. Itu akan lebih baik untuk dirinya.


"Maru. Kamu baik-baik saja, Nak?" Suara itu. Maru pun segera mendongak dan bangkit. Ia langsung dipeluk oleh Ayahnya. Pelukan erat ini. Maru merasa rindu tiba-tiba. Sudah lama dia tidak dipeluk sehangat ini.


"K-kamu nggak di apa-apain, kan? Baik-baik aja, kan? Nggak ada yang lecet, kan?" Ayahnya begitu khawatir. "Ayah tenang kalau kamu baik-baik aja," lanjut Ayahnya.


Air mata yang semula Maru bendung tak lagi tertahan. "Maru..., baik-b-baik aja kok, Yah. Ayah kenapa matiin teleponnya begitu aja? Maru khawatir, Yah."


"Ah, itu. Nggak sengaja, Nak. Ayah kaget tadi," jawab Ayahnya berbohong.


Maru melepaskan pelukannya. "Ayah nggak lagi bohong, kan?" tanyanya penuh penasaran. "Maru nggak mau Ayah tertutup sama Maru. Maru ini anak Ayah. Nggak seharusnya Ayah bohong sama Maru. Maru udah besar. Maru berhak tahu apapun soal Ayah. Maru punya hak itu sekarang, Yah. Tolong jangan halangin Maru untuk tahu. Kayak masalah sertifikat misalnya. Kenapa Ayah semudah itu nyerahin rumah ini sama Tante itu? Pernah ngorbanin apa dia sampai Ayah bela-belain ngasih rumah? Apa..., apa Ayah udah nggak sayang lagi sama Maru? Ayah," sarkas Maru.


Maru sendiri tidak mengerti kenapa dia membahas semua itu sekarang. Bukan dia yang ingin. Tetapi amarahnya.


"Maru, Ayah nggak bermaksud---"


"Maru nggak nyalahin Ayah kok. Maru cuma ingin penjelasan dari Ayah."


"Ikut Ayah sekarang," ajak Ayahnya begitu saja. Maru tidak mengerti. "Ke mana?" tanyanya.


Ayahnya menghela napas sejenak.


"Kita cari tempat untuk berbicara. Ayah akan jelasin semuanya."


***


"MUZAN!! KELUAR KAMU!!" teriakan itu dan gedoran pintu ruangannya yang cukup keras membuat Muzan segera memutuskan sambungan teleponnya dengan anaknya, Maru. Dia tidak ingin Maru mendengar apa yang terjadi dengannya di kantor. Sudah cukup masalah di rumah saja yang dia tahu. Jangan sampai Maru memikirkan teriakan itu juga.


"MUZAN!! KELUAR ATAU SAYA---" Dengan bergegas Muzan membuka pintu ruangannya. Kepala perusahan itu---Pak Monardo---sudah berdecak pinggang di depannya dengan raut wajah yang tidak bisa lagi ditoleransi. "Jawab yang jujur!! Kamu ke mana 'kan uang sepuluh milyar itu? Kamu mencoba untuk korupsi, ya?!" Pak Monardo langsung menuduh.


Uang sepuluh milyar. Uang itu kemarin sudah masuk di brankas. Itu seingat Muzan. Dia hanya melakukan pengulangan data saja. Sama sekali Muzan tidak memegang uang itu. Sepeserpun tidak. Lantas kenapa dia dituduh seperti itu?


"Kalau kamu mengembalikannya, mungkin saya masih bisa mentoleransi kamu." Pak Monardo memang terkenal sekali tegasnya. Apalagi jika dia mendengar ada hal-hal buruk yang terjadi dengan pegawai perusahaannya. Termasuk kasus korupsi yang entah ulah dari siapa.


"Tapi saya tidak tahu soal uang itu, Pak. Saya sama sekali tidak pernah memegangnya. Saya berani sumpah, Pak. Saya---" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Pak Monardo jauh lebih dulu menyelanya. "Kalau begitu! Ganti uangnya dalam waktu tiga bulan! Tidak usah sumpah-sumpah!! Saya tidak butuh sumpahmu itu!"


Muzan baru saja hendak membantah. Tetapi kembali disahut Pak Monardo. "Dan kamu, saya pecat! Silahkan angkat kaki dari perusahaan saya sekarang!!"


Pak Monardo dan para pegawainya yang lain, yang semula mengerubungi Muzan mulai berhamburan pergi setelah kata 'pecat' itu Pak Monardo keluarkan. Muzan tak lagi bisa membantah. Percuma. Bila dia membantah setelah Pak Monardo membuat keputusan, yang ada ia malah diberi lebih banyak masalah.


Itu yang dia pikirkan.


***


"Jadi, Ayah...," Maru menggantungkan ucapannya. Sementara Ayahnya pun mengangguk---membenarkan apa yang Maru pikirkan. "Ayah dipecat," kata Ayahnya menambahi.


Apa masih bisa dia menyunggingkan senyumnya setelah semua ini?


"Kamu nggak apa kan kalau untuk sementara tinggal di kontrakan yang sederhana? Nggak sampai lama kok. Ayah janji. Ayah akan cari kerja lagi supaya kita bisa balik lagi ke rumah yang dulu," ujar Ayahnya meyakinkan Maru.


"Kenapa harus nyari kontrakan? Kita tinggal aja sama Mama, Yah. Kita nggak perlu ngeluarin uang untuk bayar uang kontrakan. Lagipula, Mama juga nggak akan melarang kok. Untuk kali ini aja. Turutin apa yang Maru ingin."


"Kenapa...," Ayahnya menggantungkan ucapannya. Membuat Maru yang sudah penasaran itu semakin penasaran lagi. "Kenapa Ayah nggak bisa menolak keinginan kamu sekarang? Ayah, Ayah sayang sama kamu, Nak. Semoga saja Mamamu membolehkan, ya?" ujar Muzan berkaca-kaca.


Bila jujur, Muzan sangat malu jika harus tinggal bersama mantan istrinya itu. Dia akan memilih untuk mencari kontrakan saja daripada harus tinggal bersama. Bukannya apa-apa atau bagaimana. Hanya malu saja jika ia harus tinggal di rumah mantan istrinya itu. Sepertinya sangat tidak pantas. Namun, ia tidak bisa menolak apa yang Maru inginkan. Dia tidak bisa kehilangan orang yang ia sayang untuk yang ketiga kalinya. Cukup dua kali dan itu masih menyasat hatinya hingga sekarang.


Entah mengapa, harga dirinya seolah-olah sudah jatuh.


"Sebentar ya, Yah. Maru telepon Mama dulu," ucap Maru sambil bangkit. Ia berjalan menjauhi Ayahnya. Mencari keheningan sejenak agar ia lebih leluasa untuk mengobrol dengan Mamanya. Meski Maru sudah menebak jika Mamanya tidak akan menolaknya untuk tinggal bersama, tetap saja dia harus minta izin lagi. Apalagi kali ini bukan hanya Maru saja. Tetapi bersama Ayahnya juga. Barangkali Mama tidak mengizinkan. Nanti yang ada malah semakin kacau.


"Halo, Maru. Tumben telepon Mama. Ada apa? Mau nginep lagi, ya? Nggak usah telepon, Sayang. Langsung dateng aja. Mama juga kangen kamu ke sini lagi," belum juga Maru membalas tetapi Mamanya sudah lebih dulu berbicara panjang. Suara ini sangat Maru rindu. Meskipun ia jarang menginap di rumah Mamanya, ia juga jarang sekali menelepon Mamanya. Bukan tidak mau. Tetapi Maru hanya takut bila Ayahnya tahu. Takut bila Ayahnya marah dengan Mamanya hanya karena Maru menelepon Mamanya. Sejak percerain kedua orangtuanya, Ayahnya sudah memberi tahu untuk tidak berhubungan lagi dengan Mamanya. Entah mengapa Ayahnya begitu benci dengan Mamanya. Maru sendiri juga tidak tahu.


Berulang kali Maru mencoba untuk menghalangi proses percerain kedua orangtuanya dan hasilnya selalu gagal. Tidak ada satu pihak pun yang sejalur dengan pikirannya. Baik Mamanya. Maupun Ayahnya. Keduanya sudah sangat ingin untuk berpisah. Tidak ada celah sedikit pun di tengah-tengah mereka. Bahkan Maru sempat merasa seperti tidak dianggap. Harapannya dengan masa depan impiannya punah sekaligus. Hanya harapan sepele untuk bahagia bersama orangtuanya di masa yang akan datang. Orangtua kandung. Bukan tiri. Dan juga bukan orang asing baginya. Hanya sesepele itu. Tetapi ia tidak bisa mewujudkannya sekarang.


"Iya, Ma. Maru tahu. Oh, iya Mama dan Mbak Mahira apa kabar?" tanyanya berbasa-basi sambil memikirkan ucapan yang akan ia katakan setelah ini. "Baik-baik aja. Tumben kamu nanya kabar. Ada apa, Sayang? Cerita sama Mama kalau ada masalah, Maru." Mamanya balik bertanya.


"Mama keberatan nggak, kalau aku sama Ayah tinggal di rumah Mama? Untuk sementara aja kok, Ma." Maru menghela napasnya. Ia berulang kali melirik Ayahnya yang sedang duduk dengan kehampaan. Seperti tidak ada lagi harapan yang akan hadir.


"Tinggal di rumah Mama? Sama Ayah? Memang rumah Ayah kenapa?" Terdengar suara cemas dari ujung sana.


Maru tertawa kecil untuk meredakan kecemasan Mamanya. "Nggak apa kok, Ma. Cuma masalah kecil. Nanti Maru cerita kalau udah sama Mama. Gimana? Mamanya ngizinin Maru sama Ayah, nggak?" Maru meminta kepastian.


"Mama nggak punya alasan untuk ngelarang, kan? Kamu anak Mama satu-satunya, Maru."


"Tapi aku nggak sendirian, Ma. Aku sama Ayah. Nggak apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa. Datang aja. Mama akan selalu ada untuk kamu," ujar Mamanya membuat Maru ingin kembali menangis. Rindu. Sangat rindu diperhatikan seperti ini. Meskipun Maru masih memiliki orang yang menyayanginya, tetapi butuh tembok pembatas untuk lebih dekat dengan mereka.


"Mbak Mahira gimana?"


Itu masalahnya. Mahira masih kesal dengan Ayah Maru. Bahkan sampai sekarang pun. Bila Mamanya mengizinkan, belum tentu Mahira juga begitu. Maru mulai cemas kembali. Jika Mahira masih tidak membolehkan, itu artinya ia dan Ayahnya harus mengontrak. Dan tentu harus membayar kontrakan. Lalu bagaimana caranya menbayar hutang bila uangnya dipakai untuk membayar kontrakan? Tidak. Seharusnya Mahira mengerti situasi untuk sekarang.


"Nggak apa. Kamu datang aja. Mahira nanti Mama yang urus." Respon Mamanya. Tanpa sengaja membuat Maru tersenyum untuk sesaat. "Makasih, Ma. Maru tutup dulu, ya. Daaah," pamitnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Selesai menelepon Mamanya ia langsung menghampiri Ayahnya.


"Ayo, Yah."


Ayah Maru mendongak dengan linglung. Penuh pertanyaan. "Ke mana, Ru?" tanya Ayahnya.


Maru mengulum senyum. "Ke rumah Mama."


"Mama kamu...," Maru langsung duduk di samping Ayahnya. "Nggak apa, Yah. Mama ngebolehin kok. Malah kita disuruh ke sana sekarang juga."


"Mahira?"


"Mama yang bakal urus. Ayo," ajaknya penuh semangat. Jujur. Maru ingin melihat reaksi Ayah dan Mamanya saat bertemu. Apalagi jika tinggal bersama.


Sejenak, Ayahnya ikut tersenyum. Mengacak-acak puncak rambut Maru. "Kamu memang anak kesayangaan Ayah. Ayah sayang banget sama kamu, Maru. Maafin Ayah," katanya parau.


"Nggak ada kata maaf untuk sekarang. Semuanya udah terjadi. Nggak ada yang perlu disesalin ataupun disalahin. Semua ini udah takdir. Kita jalanin aja, Yah."


Berusaha untuk kuat di depan orang yang disayang memang tidak mudah. Tetapi mencoba untuk melakukannya tidak salah, kan? Setidaknya, untuk saat ini Maru bisa menenangkan hati Ayahnya.


Meskipun hanya untuk sesaat.