Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 36 :: GEMURUH BERDURI



*Diri juga duri


Apapun yang aku lakukan


Kembalinya juga kepadaku


Hati juga mati


Apapun yang aku rasakan


Kembalinya juga kepadaku


Tak tertentu


Juga perasaanku*.


-Marutere Althea.


Tiga bulan berlalu secepat ini. Maru sudah terbiasa dengan kehidupannya yang baru. Bila ditanya bahagia atau tidak jawabannya pasti bahagia. Meskipun tak ada lagi harta ataupun sebagainya tapi kehidupan sederhana ini sudah cukup bagi Maru. Setelah banyak detik, menit, jam, hingga hari berlalu layaknya dapat membuat hati beku seseorang menjadi cair. Melihat kehadiran Muzan setiap hari dengan semangat di pagi hari untuk bekerja dan pulang di malam hari yang penuh dengan peluh membuat Mahira sedikit berubah. Ia tak lagi ketus dengan Muzan. Mahira yang biasanya akan membiarkan Muzan bertindak sendiri kini mulai ia bantu. Bila ada waktu luang Mahira menyempatkan diri untuk datang ke warung kakak iparnya itu. Tidak banyak mengobrol, tetapi kedatangan Mahira itu sudah cukup membuat Maru, Muzan, dan Marita bahagia. Walaupun tidak banyak berkata namun sikapnya terhitung sudah lebih baik sekarang.


Mungkin sekarang kebiasaan Maru dimulai dari awal lagi. Sarapan dengan keluarga yang lengkap. Semangat di pagi hari yang didukung oleh Ayah dan Mamanya. Senyuman yang menambah semangatnya. Tak pula di sekolah---meski sudah tak lagi punya apa-apa tetapi Magis dan Morin masih berada di sampingnya. Mereka tidak begitu peduli dengan keadaan Maru. Mau kaya. Mau miskin. Mereka tidak peduli. Persahabatan mereka tidak diukur dengan hal semacam itu. Sedikit, Maru senang. Dia tak salah bergaul. Ya walaupun kadang Magis menyebalkan tapi hatinya baik. Dia juga sering membuat Maru harus mengembangkan senyum. Tertawa bersama untuk hal yang sepele. Begitupun Morin. Tidak begitu bertingkah, namun akhir-akhir ini Morin sedikit cerewet. Maru menyukainya.


Mengenai Marsha. Kemungkinan pernyataan Megi dulu cukup membuatnya berhenti untuk mencari masalah dengan Maru. Tidak pasti pula jika itu sebabnya. Cuma memang kejadian itu terakhir kalinya Maru menatap mata Marsha. Setelahnya tak ada kontak fisik antara keduanya. Meskipun berada dalam satu kelas namun Marsha tidak lagi menampakkan wajahnya di depan Maru. Maru juga tidak tahu apakah Marsha sadar akan kesalahannya atau tidak. Tapi melihat Marsha yang ia pikir sedikit menjauhinya membuat Maru cemas. Aneh kan? Tiba-tiba menjauh tanpa alasan. Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya tanpa sepengetahuan Maru?


Pasalnya setiap kali Maru hampir kontak mata dengan Marsha---ia sudah lebih dulu menghindar. Maru heran mengapa Marsha terlihat begitu menjauhinya. Setiao kali ada jam kosong di kelas Marsha selalu keluar kelas. Jika biasanya dia akan ikut membuat kericuhan kali ini sudah berbeda. Dan anehnya, Maldi juga ikut keluar. Maru tidak tahu mengapa dua orang itu selalu keluar saat jam kosong. Apa mungkin mereka memiliki hubungan? Begitu banyak pertanyaan aneh yang muncul di benak Maru. Namun, ia tak ingin salah menduga. Mungkin memang keduanya sedang ada keperluan. Tak ada yang harus dipikirkan. Lagipula itu urusan mereka sendiri. Maru tak punya hak untuk mengetahuinya.


Lalu, Megizal.


Cowok itu sedang dalam fase dekat dengan Maru. Beberapa kali Maru menangkap bila Megi mengkode dirinya. Maru paham betul. Ia bahkan juga dalam keadaan sadar. Tapi setiap kali Maru menanyakan kembali apa yang telah Megi katakan, cowok itu hanya bilang bahwa itu sekadar candaan belaka. Maru juga sadar. Ia telah melupakan semuanya dengan Mate. Ada sebagian dari perkataan Megi yang sempat Maru benarkan. Kaitannya dengan hubungan tanpa perasaan. Sebagian ada benarnya karena Maru pikir selama menjalin hubungan ia tidak pernah merasakan ataupun mendapatkan sesuatu yang spesial. Misalnya dengan kejutan atau sebatas keluar bersama namun menciptakan kenangan. Setelah diingat baik-baik rasanya tidak ada.


Pertama dan terakhir kali Mate mengajaknya keluar juga karena Mate ingin mengajarkan beberapa mata pelajaran yang kurang Maru pahami. Mungkin memang momen itu. Bukan cuma itu kemungkinan. Ada momen yang setidaknya cukup membuat Maru yakin bila Mate menjalin hubungan dengannya tidak main-main. Saat itu adalah saat di mana Mate mengajaknya ke rumah. Bertemu dengan Ibunya Mate. Berbincang banyak. Tak Maru sangka, ia dapat dengan mudah berinteraksi dengan Ibunya Mate. Tapi itu dulu. Sekarang entah apa kabar. Maru sudah lama tidak ke sana.


Apa semuanya baik?


Apa perlu Maru datang ke sana? Sekadar menutup rindu yang kian menghantuinya.


Untuk sekarang, hak datang ke rumah Mate sebagai pacar mungkin sudah tidak Maru miliki. Akan tetapi ia masih punya hak. Maru adalah teman Mate. Itu hak yang dia miliki sampai kehidupannya berakhir nanti. Bukan lagi mantan, tapi hanya sebatas teman.


Status teman cukup membuatnya memiliki hak lagi.


***


Musim penghujan sudah mulai datang sejak sebulan yang lalu. Dan tampaknya, hujan ini akan sering turun untuk beberapa bulan ke depan.


"Hujan, nih. Yakin nggak mau pulang bareng gue aja?" tawar Megi sedari tadi.


Maru mengembuskan napasnya, lelah. "Apa bedanya gue bareng lo atau nggak? Lo kan naik motor. Yang ada gue tetep kehujanan kali," jawabnya lalu kembali menatap hujan yang tak berhenti.


Megi tertawa kecil.


"Sama gue nggak bakal kedinginan kok. Yang ada malah ngerasa hangat," ujarnya bercanda.


Maru mendecih. "Apaan, sih."


Saat ini mereka sedang berada di koridor kelas. Banyak siswa-siswi yang berdiri di sekitar mereka. Terutama bagi mereka yang membawa motor ke sekolah. Kebanyakan terdominasi oleh kaum adam. Sebagian pula juga ada kaum hawa yang memang membawa motor juga tapi sebagiannya sedang menunggu jemputan. Karena hujan tak kunjung reda banyak yang sengaja hujan-hujan.


"Ini hujan nggak bakal reda. Kayaknya bakal lama, deh. Gimana? Tawaran gue masih berlaku loh." Teman-teman Maru sudah lebih dulu pulang. Morin yang sudah dijemput Ayahnya. Berhubung jalur pulangnya tidak searah jadi Maru tidak bisa menumpang. Sedangkan Magis? Ia sudah pulang bersama Mesky naik mobil Mesky. Bersama dengan Mamat dan Mars juga. Maldi juga sudah pulang naik mobilnya. Marsha kelihatannya juga pulang bersama Maldi. Mungkin hanya nebeng. Tidak ada hal lain. Kedatangan musim baru ini membuat Mesky dan Maldi antisipasi dengan membawa mobil ke sekolah. Tidak lagi seperti biasanya yang membawa motor. Tapi berbeda dengan Megi. Cowok itu masih setiap dengan motornya itu. Semua ini membuat Maru tidak punya pilihan. Jika dia menunggu hujan reda kemungkinan akan sampai malam. Tapi bila bersama Megi yang ada malah hujan-hujanan.


Tak tahan dengan tolakan yang diberikan Maru padanya, Megi pun hendak berhujan-hujanan untuk pulang. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat sebuah genggaman tangan seseorang menahan lengannya. Refleks Megi menoleh. Bukannya marah karena langkahnya tertahan, ia malah tertawa. "Kenapa? Nggak tega lihat gue basah-basahan sendiri, ya?" tanyanya.


Maru memperhatikan keadaan sekitar. Lantas kembali menatap manik mata Megi. "Nanti lo bisa sakit," ujar Maru sedikit cemas.


"Emang kenapa kalo gue sakit?"


Genggaman itu mulai lepas. Maru mengambil dua masker di dalam tasnya lalu memberikan salah satunya kepada Megi.


"Pakai," suruhnya tanpa alasan.


Megi yang heran tak banyak membantah. Dia mengambil masker yang telah Maru berikan. Sementara Maru sudah memakai maskernya. "Jangan diliatin aja! Dipakai, Meg!" tuturnya sedikit ngegas.


"Eeh, iyaa. Bentar."


Setelah Megi selesai memakainya, Maru langsung menggenggam kembali tangan Megi. "Ayo pulang," ajak Maru.


"Katanya kalo hujan-hujanan ntar sakit."


"Ya makanya gue temenin."


"Maksud lo?"


"Gue temenin biar nggak sakit. Ayo," tukas Maru cepat karena hawa dingin itu mulai menyeruak tubuh Maru.


Senyuman itu tak sadar terukir di wajah Megi.


Hingga akhirnya Maru menarik Megi keluar dari batas hangat menuju ke batas dingin. Mereka berdua berlari menuju ke parkiran. Entahlah. Maru juga tidak tahu mengapa ia jadi seaneh ini. Tapi ia senang melakukan keanehan ini.


Sesampainya di parkiran mereka berteduh sejenak.


"Kita ngapain pakai masker segala, sih?" tanya Megi, dengan mengambil motornya yang berada di tengah.


"Semoga aja."


Ketika motor Megi sudah bisa diambil, Megi memberikan jaketnya kepada Maru.


"Dipakai," ujarnya. Ia lantas tersenyum. "Biar opini lo itu nggak salah," lanjutnya.


"Nggak usah, nanti yang ada lo tambah sakit lagi. Nih lo aja yang pakai." Maru menolak. Ia memberikan kembali jaket yang telah diterimanya itu kepada sang pemilik. Tapi Megi tidak mengiakannya. "Lo nyuruh gue pakai masker, gue udah pakai. Sekarang gantian. Gue nyuruh lo pakai jaket dan harusnya lo mau."


Maru terdiam.


Tak banyak berpikir dia mengulas senyuman sambil memakai jaket yang telah Megi berikan. Lalu naik ke motor Megi dengan cepat.


"Kalau lo sakit jangan salahin gue, ya. Ini lo yang maksa. Inget itu," kata Maru mengingatkan.


"Iya, iya, bawel amat. Kayak pacar tahu nggak kesannya."


"Ngomong apa, sih? Udah, jalan!"


"Iya, iya, pacar."


Kemudian Megi menyalakan mesin motornya. Melajukan motornya dengan cepat hingga rasa dingin itu bukan lagi terasa dingin. Tapi sangat-sangat dingin sampai bagi Megi itu rasanya hangat; hangat saat Maru dengan terpaksa memeluknya erat karena ketakutan.


Sangat hangat.


***


Setelah aksinya menerjang hujan lebat, akhirnya mereka tiba di rumah Maru dengan selamat.


Megi mengerem motornya ketika ia sudah memasuki halaman rumah Maru yang baru. Bukan Maru. Sudah lama hanya saja belum ia tinggali selama ini. Maru pun turun dari motor Megi dengan jengkel. "Lo tuh, ya! Tadi kalo ada apa-apa gimana? Bisa pelan nggak, sih! Nggak tahu lagi boncengin anak orang apa? Ya, udah. Masuk dulu, masih hujan."


"Ya ampun, ngomelnya nggak bisa besok aja apa? Dingin ini," cecar Megi.


"Kan udah diajakin masuk. Ya udah, ayo," seru Maru yang masih jengkel. Bisa-bisanya tadi Megi melajukan motornya dengan kecepatan yang tidak bisa lagi terhitung. Serasa seperti balapan. Apalagi tadi keadaannya sedang hujan. Pasti jalanan keadaannya sedang licin. Maru hanya takut mereka kenapa-kenapa. Terkhususnya takut Megi kenapa-kenapa. Mengenai dirinya ia tak begitu peduli. Entah karena apa.


Setibanya di teras, Maru hendak mengetuk pintu rumah. Namun Muzan sudah lebih dulu membuka pintunya. Dilihatnya Maru dan Megi sedang hujan-hujanan. Muzan pun langsung cemas.


"Kamu kenapa hujan-hujanan, Nak? Kan bisa Ayah jemput pakai taksi online. Kamu kan bisa hubungin Ayah. Nggak harus hujan-hujanan." Belum bersalaman, Maru sudah lebih dulu dicereweti oleh Ayahnya.


"Maru nggak apa-apa kok, Yah. Nggak bakal sakit. Suer, deh."


Muzan menggeleng heran. Tidak akan sakit katanya? Basah kuyup terkena air hujan begini tidak akan menbuatnya sakit? Yang benar saja. Maru tipikal anak yang lemah. Terkena air hujan saja mungkin sudah bisa demam. Lantas Muzan beralih menatap Megi yang berdiri di samping Maru. Dengan basah kuyup juga tentunya.


"Kamu yang ngajak anak saya hujan-hujanan, ya? Berani-beraninya kamu mau bikin anak saya sakit! Sana pulang!" ucap Muzan marah. Dia ingat bila cowok yang berdiri dihadapannya ini adalah mantannya Maru. Sekaligus yang membuat anak perempuan satu-satunya ini merasakan patah hati. Lalu sekarang? Muzan melihat Megi membuat anaknya kedinginan. Mengajaknya hujan-hujanan pula.


Maru menahan Ayahnya. "Yah, nggak begitu ceritanya. Aku yang maksa Megi buat hujan-hujanan. Ayah percaya sama Maru, deh."


"Mana ada kamu yang ngajak, Maru? Kamu kan tahu kalau kamu itu lemah fisiknya. Sudah! Orang salah jangan dibela," tutur Muzan masih tak habis pikir. Sementara Megi mengulurkan tangannya kepada Muzan untuk bersalaman. "Maaf, Om. Ini semua salah saya. Maru jangan dimarahin, ya. Marahin saya aja. Kan saya yang salah," katanya memohon.


Uluran tangan Megi tak diterima.


Tak apa.


Megi sadar akan banyak kesalahan yang telah dia perbuat pada Maru.


Tidak masalah.


Semua ini setimpal.


"Maru masuk ke rumah!" ujar Muzan sedikit keras. Hingga Maru kembali memohon. "Tapi, Yah. Megi juga basah kuyup. Biarin dia masuk dulu, ya?" pintanya.


"Nggak ada mampir-mampiran. Maru, masuk Ayah bilang! Jangan membantah."


"Tapi, Yah...," Maru melirik Megi. "Lo masuk, gih. Jangan di luar terus ntar malah sakit," suruh Megi dengan senyum.


Maru heran. "Tap---"


"Jangan bantah terus, ya, pacar. Masuk sana," kata Megi kembali.


"I-iya." Pada akhirnya Maru pasrah dan menurut. Ia masuk ke dalam rumah dengan keadaan pasrah. Dia hanya takut bila Megi dimarahi oleh Ayahnya. Itu saja. Nanti jika Megi menjauh darinya setelah dimarahi bagaimana?


Maru belum siap untuk kehilangan Megi yang kedua kalinya.


Lantas Megi mengembangkan senyuman selebar mungkin. Merasa biasa-biasa saja. Di sisi lain, mendengar kata pacar disebut, Muzan kembali menatap Megi tidak suka. "Kamu bilang apa tadi?" tanya Muzan serius.


Megi mengernyit.


"Bilang apa, Om?" Dia malah balik bertanya.


"Kamu pacar Maru?"


Mendengar itu Megi terkekeh. "Belum, sih, Om. Ini lagi masa pedekate. Doain aja ya, Om. Semoga cepat balikan," ucapnya senang.


"Kamu nggak lagi main-main, kan? Saya nggak pengin kamu ngecewain anak saya lagi."


"Kalo Om ngasih lampu hijau, saya serius."