
"Kamu masih sama seperti yang dulu. Tidak ada bedanya sama sekali. Hanya perasaanmu saja yang mungkin sudah berubah." -Marutere Althea.
Baru saja masuk kelas, Maru sudah mendapati kelas barunya itu sedang berisik. Entah ada masalah apa sampai begitu berisiknya. Padahal sebelumnya tidak seramai ini. Mungkin karena ada Megi dan sekawanannya, kelas ini menjadi rusuh. Tidak hanya itu, beberapa hiasan kelas yang baru saja ditempel dua hari yang lalu sudah mulai lepas satu persatu dari dinding. Semua itu terjadi karena ulah anak laki-laki di kelas ini yang memang susah untuk diatur. Sudah beberapa kali dimarahi anak perempuan, tetapi tetap saja tak menghiraukan.
Beruntungnya, Maru tidak mendapat jabatan apapun di kelas ini. Jadi hidupnya bisa tenang. Tidak seperti Marsha yang setiap harinya selalu berceloteh tentang ini itu. Topik yang selalu dia bahas tidak pernah meleset dari Megi dan sekawanannya. Di kelas ini, Marsha mendapat jabatan sekertaris. Ralat. Dia yang mengajukan dirinya sendiri. Entah karena apa alasannya hingga dia suka mengajukan dirinya. Apa mungkin hidupnya ini kurang sibuk?
Magis keluar dari kelas, menghampiri Maru yang berdiri di depan papan tulis. Anak itu sembari senyum lalu berbisik. "Lo nggak usah masuk. Percuma. Nanti juga disuruh si Bos keluar." Oh iya, semenjak satu kelas dengan Megi semuanya berubah. Magis yang mulanya sangat tidak suka dengan Megi sekarang mulai biasa saja. Bahkan keduanya lumayan akrab sekarang. Apalagi Megi sering menceritakan ide-ide konyolnya untuk melanggar peraturan. Dari sana lah, Magis mulai tertarik untuk ikut Megi membuat ulah. Katanya menarik. Seru bila dilakukan. Karena jarang-jarang Magis pernah melanggar peraturan. Orang kedua sahabatnya saja anak baik-baik.
"Keluar? Maksudnya?" tanya Maru tak mengerti.
Tangan Magis merangkul bahu Maru. "Jadi, gue sama Megi itu mau bolos nggak ikut pelajarannya Kak Mithar. Kan gue nggak pernah tuh ngelakuin itu. Makanya, sekarang gue mau coba. Kayaknya asyik deh!"
"Lo sehat, kan?"
"Iya dong! Sekali-kali nggak apa melanggar peraturan. Biar bisa merasakan masa-masa SMA."
Dahi Maru mengerut. "Halah! Dulu bilangnya benci banget sama Megi. Sekarang malah jadi partner. Emangnya, benci itu bisa jadi suka," ucapnya asal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Magis. "Maruuu!! Gue nggak suka, ya! Gue cuma senang aja. Lagipula gue masih cinta sama my lope-lope Mesky kok," jawabnya sok dramatis.
Maru menarik rambut gadis yang merangkulnya itu hingga dia menjerit. "Aww, sakit!" keluhnya. Dia mencibir setelah itu. Maru hanya terkekeh pelan.
"Guys!! Cepetan keluar!! Si Mamat mau ngebom!!" teriak Mesky heboh. Mamat yang berada di bangku paling belakang langsung berdecak pinggang. "Ya elah! Disuruh keluar malah diam-diam bae. Pada mau makan gratis nggak, nih? Mumpung si Bos lagi kebanjiran endorse. Kalau mau buruan gih ke kantin!" tambahnya.
Tidak butuh waktu lama, semua murid kelas XII IPS 2 berhamburan keluar kelas. Jika sudah mendengar kata gratis semuanya langsung histeris. Jarang-jarang mereka disuruh makan gratis dengan menu apapun. Hingga beberapa detik berlalu, kelas mulai kosong. Hanya tertinggal beberapa murid. Megi yang baru saja datang langsung mengernyit keheranan. Sejak tadi dia berada di ruang BK. Dia bahkan tidak tahu jika rencananya dan Magis itu sudah dilakukan apa belum. Megi berjalan melewati Maru dan Magis yang kini masih berdiri di pintu kelas. Cowok itu menghampiri teman-temannya. "Pada ke mana, nih, anak-anak? Tumben sepi banget," tanyanya heran.
Maldi menghela napas panjang. "Ya ke kantin lah, Bos. Biasa, makan-makan."
"Oh, siapa yang lagi ulang tahun?" Megi duduk di atas meja. "Nggak ada," jawab Mesky.
Mars dan Mamat sibuk dengan kertas besar yang entah sedang mereka apa kan. Keduanya saling beradu mulut saat menulis sesuatu di kertas itu dengan spidol hitam yang seharusnya digunakan di papan tulis. Dan faktanya itu memang spidol kelas yang mereka pakai. Lagipula, mana mungkin mereka itu bermodal untuk melakukan ulah. Jika bukan hasil meminjam ya mengambil langsung (mengambil dulu, izinnya nanti sambil dikembalikan).
Megi memangku kakinya. "Lah, pada belum sarapan apa gimana? Kok makan aja berjamaah."
"Kan si Bos yang bayarin," balas Mesky yang sedang mengikat tali sepatunya. Jawaban Mesky membuat Megi murka seketika. "KAPAN GUE BILANGNYA, PECEL?!!"
"Ya nggak bilang, sih."
Magis ikut menyahut. "Segitu doang mah nggak ada apa-apanya. Kan jarang-jarang lo traktir teman sekelas." Mendengar itu, Mesky membalas lagi. "Bukan jarang, Sayang. Megi itu selalu traktir setiap hari," ucapnya meralat pandangan Magis.
Magis menutup bibirnya seketika. Dia baru menyadari akan hal itu. Lantas terkekeh. "Ya sorry, gue kan nggak tahu. Tenang aja, Meg. Ntraktir sekelas nggak bakal bikin lo bangkrut kok. Paling cuma pusing doang."
"Wuuu sama-sama musibah namanya! Dasar pil KB," Maldi ikut menimbrung.
"Apa lo bilang?!"
"Pil KB."
"Ulangi coba."
"PIL KABEEE!!"
"Kampret lo!"
***
ANNOUNCEMENT
SORRY MISS. WE ARE XII IPS 2 SEDANG STUDY IN THE CANTEEN BECAUSE WE ARE HUNGRY. IF MISS MITHAR WANT TO EAT ALSO, SILAHKAN JOIN. IF NO, PLEASE, WAIT KITA.
SALAM SAYANG, MUAAHH♡
---TERTANDA, MEGI DKK.
Mithar yang hendak masuk ke kelas XII IPS 2 berhenti seketika. Tulisan besar itu terpampang jelas di depan kelas itu. Sesekali Mithar menoleh ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan kelasnya pun sepi. Tanpa menunggu kedatangan murid kelas itu, Mithar berlalu begitu saja. Bukan untuk kembali ke kantor. Melainkan untuk menemui Bu Mai. Jika ada ulah lagi yang Megi perbuat, yang selalu menanganinya adalah Bu Mai. Maka dari itu, Mithar memilih tak ambil pusing dengan masalah ini.
Tiga menit berlalu, kini Mithar kembali lagi ke kelas XII IPS 2 bersama Bu Mai yang sedang membawa penggaris panjang di tangannya. Penggaris itu selalu setia Bu Mai bawa ke mana-mana. Setelah membaca tulisan itu, Bu Mai lantas pergi meninggalkan Mithar. Beliau menuju ke kantin untuk mencari dari dalang masalah----Megi sekawanannya. Membaca tulisan besar itu, Bu Mai hanya bisa menggeleng keheranan. Sudah kelas duabelas tetapi kemampuan Bahasa Inggrisnya masih di bawah rata-rata.
"Kamu itu, ya, Mas. Nggak pernah bosan apa ketemu Ibu terus? Selalu saja bikin masalah. Apa hidup kamu hampa tanpa kerusuhan? Heran Ibu sama kamu," baru saja Bu Mai tiba di kantin, beliau sudah langsung menemukan murid yang beliau. Ternyata Megi sedang duduk di atas meja sambil bermain gitar. Tentu saja Bu Mai semakin geram dengan tingkahnya. Beliau mendatangi anak itu, dan langsung memberikannya pukulan dengan penggaris cokelat itu. Semua siswa-siswi yang berada di kantin langsung diam berjamaah. Menjadikan Megi sebagai pusat tontonan. "Yaah, Ibu. Jangan emosi begitu, dong. Masa dari sekian orang cuma saya yang dipukul. Kan syakets, Bu," keluhnya dramatis.
Bu Mai menatapnya tajam. "Kalau nggak ada setannya nggak akan ada yang terhasut. Kamu itu biang keroknya. Selalu saja ngajak teman-teman kamu buat bikin ulah." Lalu Bu Mai menunjuk Mars dengan penggaris panjang itu. "Kamu. Ibu lihat kamu itu anaknya pinter. Kok ya mau-maunya diajak nakal begini."
Penggaris itu kian beralih kepada Maru. "Ibu dengar kamu juara satu pararel mapel Bahasa Inggris, kan, Mbak? Kok bisa-bisanya tulisan di depan kelas itu amburadul nggak karuan."
Bu Mai melanjutkan kembali menunjuk satu persatu anak yang memiliki potensi.
"Ya sudah. Semuanya kembali ke kelas. Dan kamu, Mas, ikut Ibu ke ruang BK." Bu Mai hanya menunjuk Megi seorang diri. Cowok itu malah menyengir lalu mengekori Bu Mai di belakangnya.
***
Istirahat kedua telah selesai, bagi XI IPS 2, sekarang adalah waktunya mereka untuk tidur. Tentu saja mereka beranggapan seperti itu karena sekarang waktunya pembelajaran Sejarah. Pasti gurunya pun akan menceritakan sebuah sejarah tentang apa sampai selesai. Setelah itu barulah beliau memberikan soal dadakan. Bahkan soal yang diberikannya tidak pernah sedikit. Jika waktu pulang masih longgar, beliau bisa memberikan soal hingga limapuluh soal. Apabila waktunya kurang, maka akan disuruh mengumpulkan besok pagi sebelum pukul tujuh. Itu tadi adalah tata belajar yang selalu dipakai oleh Pak Muras. Dari sekian banyak guru, hanya Pak Muras lah yang paling kalem. Tetapi, jika ada yang membuatnya marah langsung dia jatuhi hukuman tanpa berpikir panjang.
Sejak insiden di kantin tadi, Megi dihukum membersihkan ruangan BK yang tampak sudah bersih. Tetapi, karena tidak ada tempat yang kotor dan toilet baru saja dibersihkan oleh pak kebun, akhirnya Bu Mai menyuruhnya untuk membersihkan kembali ruang BK. Sementara Bu Mai tertidur pulas di atas sofa karena menunggu Megi menyelesaikan hukumannya. Namun, namanya juga anak laki-laki. Bukannya bersih malah jadi kotor. Sebelum Bu Mai mengamuk, Megi sudah lebih dulu lari mengacir.
Sehingga pelajaran Sejarah kali ini Megi terpaksa mengikutinya. Padahal dia sudah memiliki niat untuk bolos. Tetapi, gara-gara takut Bu Mai mengamuk dia malah salah masuk. Harusnya dia tadi pergi ke kantin. Bukannya malah ke kelas sendiri. Jika sudah sampai di depan pintu, sudah tidak alasan lagi untuk kabur.
Pak Muras masih setia bercerita. Sebagian anak-anak sudah mulai menguap. Bahkan ada yang sudah tertidur. Karena Pak Muras mengangkat bukunya, beliau jadi tidak tahu jika anak-anak didiknya sedang mengantuk dan sampai tertidur. Selain itu, usia Pak Muras yang sudah menginjak empatpuluhan membuatnya tampak tak peduli dengan suasana kelas yang kadang ramai seperti pasar dan kadang sepi seperti kuburan.
Megi yang sedari tadi menopang dagu dengan kedua tangan mulai menutup matanya. Lantas melek lagi ketika dia mencium aroma makanan. Dia menepuk lengan Maru pelan. "Lo bawa makanan di laci?" tanyanya.
"Iya. Memang kenapa? Nggak boleh, ya?" Maru memasang ekspresi was-was. Sejak tadi dia sibuk mencatat cerita dari Pak Muras sebagai antisipasi jika nanti diberikan soal yang banyak.
Megi menyengir. "Nggak apa-apa. Oh iya, itu lo bawa apa?"
"Nasi uduk empat bungkus. Ehm, bukan punya gue semua sih. Punyanya Magis, Morin, sama Marsha."
"Kan habis ini pulang. Ngapain lo bungkus?"
"Tadi itu keburu pesan, eh, tahunya udah masuk. Ya udah, dibungkus deh jadinya. Lo kenapa nanya itu, sih?"
Sejenak Megi berdehem. Dia memegangi perutnya, pura-pura kesakitan. "Boleh gue makan, nggak? Gue belum makan dari tadi." Melihat Megi yang tampak kesakitan karena belum lapar, akhirnya Maru mengiakannya saja. Dia merogoh lacinya dengan pelan-pelan supaya tak timbul suara. Diambilnya satu bingkus nasi uduk beserta sendoknya. Lantas ia menyodorkannya kepada Megi.
Megi berdehem lagi setelah dia mengambil nasi uduk itu dari tangan Maru. Membuat gadis yang duduk sebangku dengannya merasa risih. Lagi-lagi kegiatannya untuk mencatat poin-poin penting terkendala oleh Megi. Entah apa yang sedang pria itu inginkan. Tapi Maru sedang malas untuk meladeninya. Nanti yang ada dia ketinggalan cerita Pak Muras yang ngomongnya sangat cepat. Suaranya saja pelan. Sengaja Pak Muras pelankan sekali supaya murid-muridnya tidak membuat rusuh.
Merasa diabaikan, Megi berdehem lagi. Kali ini terdengar lebih keras.
"Apa lagi?" tanya Maru ketus tanpa menoleh. Dia masih mencatat.
Megi lantas tersenyum. Meskipun balasan gadis itu ketus tapi yang penting dia direspon. "Cuma satu doang?" tanyanya, setengahnya berniat meminta lagi.
Maru menghela napas. Tangannya merogoh laci. Dia mengambil semua nasi uduk yang tersisa di lacinya. Tanpa sadar dia memberikan semua itu kepada Megi. Tatapannya pun masih terarah ke depan.
"Makasih, cantik," puji Megi senang.
Megi menepuk bahu Mesky yang bertempat duduk di depannya. "Mau makan, nggak?" tawarnya berbisik.
Mendengar kata makan Mesky langsung mengangguk.
Setelah Mesky mengiakan, Megi beralih kepada Maldi, Mars, dan Mamat. Menawari mereka bertiga. Mamat dan Maldi mengangguk setuju. Sementara Mars tidak menoleh sekalipun saat ditawari. Akhirnya mereka berempat beranjak dari bangku dan merangkak menuju ke belakang. Sesampainya di belakang Mamat langsung membuka bungkus nasi uduk yang dibawa Megi. Dia mengawali. Takut jika tidak kebagian. Dilanjutkan dengan Mesky, kemudian Maldi. Dan yang paling terakhir membuka bungkus nasi uduk adalah Megi.
Pak Muras mendengar suara rusuh di bagian belakang. Beliau lantas berdiri, terkejut. "Kalian bersihkan perpustakaan sepulang sekolah!"
Empat sekawan itu langsung tersedak mendengarnya.
"Lah, nggak bisa gitu dong, Pak!"
"Bapak mau?"
"Mengisi perut lapar itu manusiawi, Pak."
"Lagian juga bukan nasi uduk kita kok, ya?"
Protes ke empatnya bergantian. Pak Muras menghela napas. Kali ini terdengar lebih berat. Beliau menggelengkan kepalanya heran. "Lalu nasi uduk siapa?" tanya Pak Muras tenang.
"Iya, nasi siapa, Meg?" Mesky balik bertanya.
"Nasi uduk Maru, Pak," jawab Megi sangat jujur hingga membuat gadis bernama Maru itu membulatkan matanya lebar-lebar. Tidak percaya jika dia juga bisa terlibat.
Pak Muras menatap Maru, "kamu ikut mereka bersihkan perpustakaan."
"Lah, kok saya juga kena sih, Pak?" tanya Maru bingung.
"Kamu kan pacarnya."