Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 19 :: ALIR ALUR TAKDIR



"Hargailah orang yang sudah mencari topik pembicaraan untuk mempertahankan sebuah obrolan. Karena mencari tak semudah mengakhiri." -Magenta Arkas Prakarsa.


Terdengar derap langkah yang semakin keras. Megi yang berada di dalam kamar langsung mengesah panjang. Dia sudah tahu langkah siapa itu. Yang pasti bukan orangtuanya. Tak lama setelah Megi mengesah panjang, seseorang yang dia maksud datang menghampirinya dengan senyum bergairah. Sudah pasti dugaan Megi tidak pernah salah. Tapi yang salah adalah datangnya orang itu di waktu yang tidak tepat. Apalagi ini sudah liburan semester. Dan Megi masih belum memiliki jadwal apa-apa. Mungkin, dia hanya akan bermalas-malasan di rumah. Bangun tidur, mandi, makan, main game, makan, ngecek notifikasi di ponsel, tidur, ngecek notifikasi lagi, main game, mandi, makan, nonton televisi, tidur. Hanya itu yang biasanya Megi lakukan ketika tidak memiliki kegiatan apapun.


Jika bukan melakukan rutinitas malas-malasan seperti rantai makanan itu, biasanya Megi hanya akan stay di atas ranjangnya saja. Tanpa mandi sekalipun. Untuk makannya, dia selalu menyiapkan beberapa macam cemilan dan minumannya juga yang dia letakkan di dalam kulkas kecil di kamarnya. Sengaja memang. Katanya lebih mempermudah. Tidak perlu jauh-jauh ke dapur hanya untuk makan atau minum. Karena itu, dulu Megi sempat merengek kepada Mamanya supaya dibelikan kulkas yang kecil seperti yang ada di rumah sakit pada umumnya. Lalu di tempatkan di kamarnya. Awalnya, permintaan Megi itu ditolak. Tetapi, bukan Megi namanya jika mudah putus asa. Dia tidak henti-hentinya merengek kepada Mamanya. Jika pada Papanya pasti langsung kena tonjok. Apalagi Papanya itu tipe orang yang keras dan sangat ingin tahu dengan apa yang akan anaknya lakukan.


Mozha yang ditatap Megi sengit tampak tak memedulikan tatapan itu. Dia lantas ikut duduk di samping Megi. Masih dengan senyuman. "Meg," panggilnya.


"Hm," balas Megi acuh.


"Liburan ke Bali, yuk? Mumpung gue ada uang lebih, nih. Soalnya Mama sama Papa nggak pulang. Mereka langsung keluar kota. Gimana? Mau nggak? Tenang aja, deh. Lo nggak bakal mengeluarkan uang sepeserpun. Semuanya gue yang tanggung," ucap Mozha antusias. Namun, malah mengundang hawa curiga dari sisi Megi. Tidak seperti biasanya Kakaknya itu mau mengajak dia liburan. Apalagi tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Apa mungkin Mozha memiliki tujuan lain? Tetapi, Megi langsung menutup semua pertanyaannya itu. Tawaran Mozha kali ini sangat menggiurkan. Megi belum pernah pergi ke Bali. Setiap liburan, kota yang Megi tuju hanyalah Bandung, Yogjakarta, Semarang, dan Malang. Semua kota yang disebutkan itu terdapat saudara dari Mama-Papanya.


Orangtua Megi memang jarang berada di rumah. Maka dari itu, keduanya sangat overprotektif terhadap Megi. Akan tetapi, untuk Mozha tidak separah itu. Mereka sudah tidak mengkhawatirkan Mozha lagi karena Mozha sudah menyanggupi tantangan dari Papanya. Walaupun begitu, terkadang Mozha juga lelah sendiri dibuat orangtuanya. Sesekali menanyakan kabar Megi di saat yang tidak tepat. Bahkan saat Mozha sedang berada di kampus sekalipun. Makanya, ketika di rumah Mozha sering mengganggu Megi karena hal itu. Dia tidak ingin merasa terganggu sendirian dan Megi memang juga harus merasakannya. "Idiih ini bocah bengong aja! Mau nggak, nih? Jarang-jarang loh gue baik kayak gini." Mozha mengedipkan matanya.


Lamunan Megi buyar seketika. Kesempatan ini tidak boleh hilang begitu saja. Sayang. Tanpa berpikir lagi, akhirnya Megi mengiakan tawaran Mozha. Tetapi, lagi, lagi, dia juga penasaran. Berangkat ke Bali berdua saja atau ada orang lain. Siapa tahu orangtuanya ikut menyusul. "Berdua aja, Kak?" tanyanya penasaran.


"Ya nggak dong, pinter! Kurang seru," jawab Mozha sambil menoyor jidat Megi pelan. Harusnya dia menoyornya dengan keras, tetapi tiba-tiba dia merasa kasihan. Sudah sering Megi mendapat hal itu dari Mozha. Hampir setiap hari sudah beberapa kali Mozha lakukan. Meskipun Megi berniat untuk membalas, namun dia mengurungkan niat itu. Dia takut jika nanti uang jajannya terpotong hanya karena membalas perlakuan Mozha. Secara, uang jajannya sekarang sudah dipegang oleh Mozha. Dengan mudahnya bisa dia kurangi ataupun ditambahi. Tergantung mood-nya nanti.


Tangan Megi menopang dagunya. "Terus sama siapa aja?" tanyanya berhati-hati takut membuat mood Mozha yang sekarang terlihat sedang baik.


Mozha mengusap pipi Megi lantas menepuknya pelan. "Masa gitu aja nggak tahu, sih? Bikin gue gemas aja."


"Gue memang nggak tahu, Kak," ucap Megi menatap Mozha sekilas lalu mengubah posisi duduknya supaya lebih nyaman. Mozha yang mendengar jawaban Megi itu langsung merasa jengkel. Padahal orang yang Mozha maksud adalah orang yang sering sekali mendarangi rumah mereka. "Ya udah, gue kasih tahu. Niatnya itu gue pengin ngajak Meta. Gimana menurut lo?" Mozha balik bertanya.


Megi diam sejenak, kembali berpikir. "Jadinya bertiga gitu?"


"Iya," balas Mozha semangat. Dia bahkan sudah membayangkan ketika Meta dan Megi berduaan. Entah mengapa, melihat Megi bersama Meta selalu membuatnya tenang. Hatinya selalu merasa adem. Bak tinggal di pegunungan yang dinginnya tak terhitung.


Setelah Megi pikir-pikir, lebih baik berdua saja daripada membawa Meta. Itu sama saja meribetkan. "Udah lo ajak orangnya?"


"Ya belum dong, Meg. Gue ngajaknya lo dulu. Baru Meta. Kalau lo-nya mau, pasti Meta juga."


Kening Megi berkerut, sama sekali tak mengerti. Apa hubungannya jika dia mau dan Meta juga pasti akan mau? Sungguh aneh. Lalu ia melihat Mozha mengukir senyum dan beberapa kali mengembuskan napas. Hanya dua kegiatan itu yang sedang Mozha lakukan sejak masuk ke kamar Megi. Sekian menit, Megi masih tetap diam. Sampai akhirnya Mozha membuka suaranya kembali. Ia tidak sabar menunggu Megi berbicara yang selalu lama seperti ini. "Lo mau kan? Jawab kek! Jangan cuma diam aja. Gue ini manusia. Nggak ngerti bahasa diam begitu, Meg," cecarnya langsung.


Megi turun dari ranjangnya, ia langsung menyandarkan tubuhnya di tembok. Dia hanya duduk di karpet. "Terserah lo aja deh, Kak."


"Oke. Gue chat Meta dulu, ya?" Tanpa menunggu Megi menjawab iya, Mozha langsung mengeluarkan benda pipih berwarna hitam itu dari saku celananya. Tak lama kemudian, Mozha langsung bangkit dari kasur milik Megi. "Meta mau, Meggg. Apa gue bilang. Selagi lo mau, itu anak juga bakal mau. Eh, tapi dia mau ngajak teman. Kira-kira yang diajak cowok apa cewek, ya, Meg?"


Megi menggeleng cepat. "Mana gue tahu," jawabnya terang-terangan.


Mozha terkekeh pelan melihat tingkah Megi, adiknya yang satu ini memang membuatnya gemas. Mozha tidak bisa menahan bibirnya untuk mengembang. "Ya pokoknya begitu. Kita berangkat ke Bali besok. Tiketnya udah gue pesan tadi," tambah Mozha sambil mengingatkan.


Megi melongo. Secepat itu Kakaknya bertindak. Dasar. Mozha memang seniat itu untuk berliburan.


***


Rencananya, kemarin Maru ingin pergi ke rumah Mama kandungnya. Tetapi terhalang lagi oleh Mama tirinya. Sejak kemarin, keluarga baru itu sudah melakukan perjalanan menuju Bali. Sesampainya di Bali, Maru berdiam diri di kamar. Sementara Mestha dan Muzan sudah jalan-jalan mengelilingi kota Bali. Memang Muzan sengaja tidak mengajak Maru untuk ikut dengannya dan juga Mestha. Dia sudah menyuruh Magen untuk menemani Maru berkeliling Bali. Tujuan Muzan adalah untuk mendekatkan hubuangan adik kakak mereka. Supaya tidak terasa canggung seperti semalam ketika Maru dan Magen memberinya sebuah hadiah dan merayakan ulang tahun Ayahnya itu di sebuah restoran yang ada di Bali. Semua itu yang merencanakan adalah Magen.


Maru bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke pintu kamarnya untuk dia buka. Rambutnya masih berantakan. Dia belum mandi sampai sekarang. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. "Ke pantai gue mandi dulu, nggak?" tanyanya ketika pintu sudah terbuka.


Bukannya menjawab, Magen malah mengukir senyum. "Ya mandi lah. Masa lo ke pantai berantakan gini kayak orang gila."


"Ngatain gue?" tanya Maru sambil menunjuk dirinya sendiri. "Iya, memang ada siapa lagi selain kita?" Magen menjawab dengan cepat.


"Ishh, tungguin dulu kalau gitu," Maru membalikkan badan. Dia segera mencari baju yang sesuai untuk dia pakai ke pantai. Sementara Magen hanya duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Lima menit berlalu, Maru keluar dari kamar mandi memakai celana jeans pendek sepaha yang dipadukan dengan kaus kebesaran warna hijau lumut. Ukuran kaus yang Maru pakai cukup besar hingga membuat dirinya tampak tak memakai celana karena ditutupi oleh kaus yang kebesaran itu. Ketahui saja, Maru itu memang hobi memakai pakaian yang kedodoran daripada yang ngepas dengan badannya. Lalu, Maru menuju ke depan cermin. Dia mengikat rambut panjangnya itu. Ia tinggalkan beberapa helai rambut yang dibiarkan. Tangannya mengambil kacamata bulat dan dia pakai. Lantas menghampiri Magen yang sedari tadi memperhatikannya.


Magen mendongak. "Udah?" Dan Maru membalas dengan anggukan. Gadis itu memakai sandal swallow. Begitupun dengan Magen sama halnya.


Kedua remaja itu langsung berjalan berdampingan menuju ke pantai yang tidak jauh dari hotel yang mereka tempat. Sembari berjalan, Magen juga mengajak Maru mengobrol. Meskipun jawaban Maru selalu ketus, namun Magen tidak berhenti untuk selalu membuka percakapan. Dia tidak menyukai sesuatu yang hening. Maka dari itu, sejak tadi Magen selalu mencari topik pembicaraan supaya percakapannya dengan Maru tidak putus begitu saja. Mulai dari sikap teman-teman Maru yang selalu menempel pada dirinya. Siapa lagi jika bukan Magis dan Morin. Hanya dua orang itu yang selalu lengket dengan Maru di manapun berada.


Pantai yang Maru dan Magen kunjungi sungguh membuat Maru tenang seketika. Dia banyak menghirup udara di sini. Tak henti-hentingnya mengembangkan pipinya sejak tiba di pantai. Sebelum Maru melakukan sesuatu, Magen menarik lengannya menuju ke pinggir pantai untuk bermain air. Kali ini Maru tidak memberikan penolakan. Walaupun awalnya sedikit terkejut tetapi dia juga ikut membalas Magen yang sudah membuatnya basah kuyup seperti ini. Mereka bersenang-senang. Saling mengejar satu sama lain.


Di ujung pantai, terdapat Megi dan Meta yang hendak bermain air. Sementara Mozha sudah menghilang entah ke mana. Mereka baru saja sampai di Bali. Akan tetapi, dua orang gadis yang dibawa Megi bersih keras memaksanya untuk pergi ke pantai saat ini juga. Karena Mozha memberikan pelototan kepadanya, akhirnya dengan terpaksa Megi mengiakan. Pada awalnya, Meta memang ingin mengajak teman. Yaitu Mate, tetangga sekaligus gebetannya. Akan tetapi, tawarannya itu ditolak mentah-mentah oleh Mate. Akhirnya, Meta tetap mau pergi berlibur meskipun tak bersama Mate. Jika bukan karena biaya ditanggung oleh Mozha, mungkin Meta akan memikirkannya kembali.


"Mau berjemur dulu apa langsung main air, Meg?" tanya Meta polos sambil menutupi wajahnya dengan tangannya karena silau. Sinar matahari sore ini lumayan panas. Mau tidak mau, Meta harus memakai sunblock dengan SPF tinggi tadi. Itu saja sunblock milik Mozha yang dia pakai.


Megi menatap Meta sambil mengangkat satu alisnya. "Lo pikir gue ikan asin apa sampai dijemur segala?"


"Bukan begitu. Biasanya kan kalau di pantai itu berjemur kayak bule, Meg. Tuh, tuh, lihat!" Meta menunjuk salah satu bule yang sedang berjemur dan hanya memakai bikini bottem saja. Setelah Megi melihat apa yang Meta tunjuk, dia langsung menepuk jidatnya pelan. Lantas menarik tubuh Meta menghadapnya. "Jadi, lo mau lepas baju gitu?" Megi bertanya sejujur mungkin.


Meta menggeleng. "Nggak. Meta cuma mau berjemur aja tanpa lepas baju. Meta kan masih pakai miniset. Malu lah kalau dilihat orang. Apalagi dilihat Megi."


"Ya Tuhan. Udah deh, Ta. Mending kita langsung main air aja. Jangan bikin gue mikir yang nggak-nggak." Megi mengusap wajahnya. Lalu dia mendorong tubuh Meta menuju ke pinggir laut. Di sana, Meta membuatnya terjatuh hingga bajunya langsung basah semua. Karena tidak terima, dia bangkit dan mengejar Meta. Mereka berlari sepanjang pantai hingga tanpa sadar Megi menabrak seseorang. Megi memeluk gadis yang dia tabrak supaya tak terjatuh. Mata mereka saling bertatapan.


Satu menit kemudian.


"Lo, ngapain di sini?" tanya Megi sambil melepas pelukan mereka.


Maru menggaruk rambutnya. "Gue liburan sama keluarga. Lo sendiri? Liburan juga? Sama keluarga apa sama pacar baru?" Maru bertanya sambil melirik Meta yang sedang melongo sekilas. "Ehm, gue nggak tahu liburan sama siapa. Nggak jelas soalnya. Kak Mozha ngajak anak orang, nih," tutur Megi.


Keduanya tampak terkejut awalnya. Namun, kembali lagi pada sikap semula.


"Maru lagi ngapain sama dia?" Meta menunjuk Magen yang berdiri tak jauh darinya. Hampir saja Maru membuka mulut, tetapi sudah didahului oleh Magen. "Udah tahu baju basah pakai nanya," balasnya ketus.


Meta menggertakkan giginya. "Ya biasa aja dong jawabnya!"


"Mumpung kita ketemu di sini, gimana kalau kita mainnya bareng aja?" tanya Maru kepada tiga orang di dekatnya. Entah mengapa, ide itu terlintas begitu saja di benaknya.


"Meta nggak mau," tolaknya mentah-mentah.


"Seharusnya lo cukup ngajak gue aja," tutur Megi, sengaja.