Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
EPILOG



Lima tahun yang lalu semuanya masih terasa abu-abu.


Masih menjadi anak SMA yang labil. Belum mengerti bagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Belum paham bagaimana menyelesaikan rasa tidak suka dengan jalur damai. Kedewasaan pada diri mereka belum cukup ada. Bahkan, seolah SMA adalah masa di mana kekanak-kanakan itu muncul dengan zamannya.


Begitupun dengan hubungan Maru dan Megi. Selama lima tahun berpisah dengan menjalin hubungan sebagai teman saja nyatanya mampu mengembalikan perpisahaan itu menjadi pertemuan untuk kembali. Ada begitu banyak lika-liku yang mereka lalui. Menjalin hubungan tanpa status membuat semuanya menjadi rumit. Di Jakarta Megi dekat dengan Miranda---teman SMP-nya dahulu---bukan hanya Miranda belaka. Megi juga dekat dengan putri kampus. Mhalea Firophas namanya. Bahkan perasaan Megi hampir jatuh kepada Miranda.


Bukan Megi saja yang mengalami hal seperti itu. Maru juga mengalaminya. Ada tetangga sebelah rumahnya yang mulai akrab dengannya. Saling berbagi kontak hingga akhirnya Maru diantar jemput olehnya. Mafa namanya. Cowok yang sudah beberapa kali menyatakan cinta kepada Maru. Dengan ujung yang selalu sama yaitu ditolak. Mempertahankan hubungan tanpa status seperti yang dulu mereka lakukan memang tidak mudah.


Ada titik di mana mempertahankan bukan lagi jadi titik prioritas.


____


"Ya, ampun! Dandan mulu dari tadi. Itu Mesky udah mau ijab kabul sama Manda! Cepetan!" seru Marsha.


Hari ini tepat setelah seminggu Maru telah lulus kuliah. Maru kembali ke Jakarta dua hari yang lalu. Tepat saat dirinya kembali ada surat undangan yang ia dapatkan. Awalnya dia pikir Megi yang akan menikah. Ternyata malah Mesky. Maru juga tak menyangka. Magis bukan jodoh Mesky yang sebenarnya di masa depan. Magis hanya menjadi kenangan.


Manda adalah teman kecil Mesky. Entah sejak kapan mereka mulai dekat hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Manda sering sekali mengunggah fotonya bersama Mesky di akun sosial medianya. Karena itu, setidaknya Maru sedikit tahu siapa Manda


Di acara ini Magis tak hadir. Maru juga awalnya ingin tidak datang bila Magis memutuskan untuk tidak datang. Tetapi Megi mengirimkan pesan kepadanya tadi malam agar dirinya datang ke acara Mesky. Katanya sekalian Megi ingin bertemu dengannya juga. Sekalian reuni bersama teman-temannya yang lain.


"Tante Maru lama," cibir Mahes---anak laki-lakinya Marsha yang berusia enam tahun. Anak yang telah Marsha kandung saat masih SMA. Tiba-tiba Maru mengingat masa itu kembali tanpa sengaja.


"Tante?" Maru mengulang panggilan Mahes kepadanya dengan ragu.


Marsha menghela napas. "Emang mau dipanggil apa? Nenek? Oma?"


"Ah, nggak." Maru menggeleng cepat. Dia baru saja lulus dari pendidikannya. Setelah mendapat gelar sarjana ternyata dia juga mendapat gelar 'tante'. Padahal usianya masih muda. Masih dua puluh dua tahun. Tetapi dia sudah dipanggil 'tante' seperti orang yang sudah berkepala tiga.


Marsha kembali menarik lengan Maru. "Ayo, ih. Jangan ngaca terus!" tukasnya.


Tanpa bisa menolak akhirnya Maru mengekori Marsha. Hubungannya dengan Marsha mulai membaik setelah Maru menolong Marsha saat Ujian berakhir. Sejak itu pula Marsha sering mengirim pesan kepadanya. Memberi tahu hal ini. Kadang juga meneleponnya hanya untuk curhat masalah Mahes yang bandel. Tak luput Marsha juga sering menceritakan bagaimana kehidupannya sekarang.


Banyak hal telah berubah. Dari yang benci menjadi suka. Dari yang konflik menjadi damai. Semuanya telah menjadi saksi. Betapa indahnya alur takdir yang telah Tuhan rencanakan.


"Saya terima nikahnya Mandari Olivia binti Maman Abdi dengan maskawin emas lima gram dibayar tunai," ucap Mesky lancar ketika Maru baru saja tiba. Dia mengembangkan senyum melihat temannya bahagia. Meskipun di sana masih ada temannya yang bersedih.


Hidup tak harus tentang kemenangan, kadang juga tentang kekalahan. Meskipun menyebalkan, namun ada hati yang kau bahagiakan.


Bagi Maru, semuanya akan kembali pada diri masing-masing dengan cara yang berbeda. Sebab itu Maru tidak begitu memperihatinkan keadaan Magis. Bila sekarang Mesky bahagia itu tidak menutup kemungkinan jika sebentar lagi Magis juga ikut bahagia. Hanya saja waktunya yang berbeda.


Pak Penghulu memandang sekitar sambil tersenyum. "Sah?" tanyanya.


Semua tamu pun menjawab serentak dengan bahagia. "SAAAHHH!"


Belum sempat Maru melihat Mesky memasangkan cincin kepada Manda, dia sudah lebih dulu mundur ke belakang. Tangannya ditarik lembut oleh seseorang. Maru tidak menolak. Dia memang sedang menunggu orang ini menemuinya.


Maru mengelewati kerumunan orang-orang hingga akhirnya sampai di bagian makanan cathering.


"Kangeeeennnn banget," jawab Megi.


"Tanpa sadar kita bisa melalui semuanya. Gue hampir nggak percaya."


"Apalagi gue." Megi terkekeh.


"Kebayang sih susahnya jadi seorang Megi yang laris sana-sini. Sampai putri kampus naksir juga," sindir Maru.


Megi menyenggol bahu Maru. "Tapi lo cemburu, kan?"


"Nggak, nggak sama sekali."


Jujur sejujur-jujurnya Maru memang cemburu sekali. Dua orang yang sangat dekat dengan Megi bukan orang sembarangan. Miranda adalah sahabatnya saat SMP. Sedangkan yang satunya adalah putri kampus. Maru tidak bisa membayangkan jika dia harus melepas Megi untuk sahabatnya maupun putri kampus itu.


Megi mengambil bunga yang ada di belakangnya. Bunga yang semula terletak manis di dalam vas dia ambil seenaknya. Megi bergegas jongkok di hadapan Maru. Dia tidak sempat untuk membelikan Maru bunga tadi. Jakarta terlalu banyak kemacetan hari ini hingga membuatnya susah ke mana-mana.


"Lo ngapain? Malu, ih! Berdiri, nggak!" sarkas Maru gugup sendiri.


Ada banyak pasang mata yang menyorotnya. Setelah pasangan mempelai selesai ijab jabul semua tamu berhamburan. Ada yang mengambil makan. Ada pula yang berselfie. Kini, Megi membuat Maru menjadi pusat perhatian. Bukan sekali dua kali Megi mempermalukannya seperti ini. Tapi sudah yang kesekian kalinya.


"Sebentar aja, dengerin gue."


"Meg...."


"Dulu gue pernah ngajak balikan dan lo nggak nerima. Sekarang gue ngajak lo balikan lagi. Tapi nggak pacaran," ungkap Megi lancar karena sudah berlatih sepanjang hari.


Maru mengernyit. "Terus?"


"Will you marry me?"


"Cieeeee," teriak orang-orang di sekitar berjamaah. "Terima, terima, terimaaa."


Megi tersenyum senang ada yang menyemangatinya. Ternyata latihannya tidak sia-sia.


"Please, give me your answer today. Mau kan nikah sama gue?" tanya Megi lagi. Tak heran bahasa Inggrisnya lancar karena sempat latihan


Inikah yang disebut balikan secara halal dengan menikah? Tentu tak harus dipikirkan karena Maru memang menunggu saat ini. Maru pun mengangguk malu. "Iya, gue mau."


"GUE DITERIMA, HOREE!!"


Mungkin, ini adalah akhir yang berakhir. Meskipun selamanya kisah ini tak akan pernah berakhir.


____