
"Aku tak ingin bertingah bodoh lagi, cukup sekali dan aku tak mau mengulangi." -Megizal Steven.
Teriakan melengking memenuhi ruang kelas XII IPS 2. Magis dengan pedenya berdiri di atas meja untuk konser. Hari ini terdapat dua jam kosong karena Bu Mai tidak masuk sekolah sebab ada rapat di sekolah lain. Bu Mai juga sepertinya lupa untuk memberi tugas. XII IPS 2 memang sering sekali mendapat jam kosong padahal sedang mendekati Ujian Nasional. Dulu saja waktu masih kelas sepuluh dan sebelas mereka jarang sekali mendapat jam kosong. Baru kali ini saat mereka berada di kelas puncak jam kosongnya juga ikut memuncak.
"MAGIS TURUN, IH! BERISIK TAHU, NGGAK!" teriak Maru sambil menggoyang-goyangkan meja yang dinaiki Magis. "PUNYA MALU NGGAK, SIH!"
Magis memukul lengan Maru pelan sambil jongkok di atas meja. "Diem, dong! Ntar gue jatuh, Ru!"
"Bodoamat! Turun nggak lo? Nanti kalau ada guru kita yang repot!"
"Eeeh, iya, iya. Jangan bawa-bawa guru kenapa. Ucapan itu adalah doa."
"Ya, udah. Turun!"
"Iyaa, astagfirullah. Sabar." Magis pun menyerah. Dia turun dari meja untuk menuruti apa yang Maru mau. Magis bukan orang yang suka mengambil resiko. Ia masih ingin namanya baik-baik saja. Tidak ingin tercemar hanya karena ikut membuat ulah di jam kosong seperti ini.
Megi sejak tadi pagi tidak berbicara dengan Maru. Bahkan Megi sudah tidak meletakkan tasnya di sebelah Maru. Cowok itu bertukar tempat dengan Morin. Mars bersama Megi dan Morin bersama Maru. Entah kenapa Maru sendiri bingung dengan tingkah Megi. Setiap kali Maru hampir kontak mata dengan Megi, cowok itu langsung melengos entah ke mana. Sepertinya memang ada yang aneh dengan Megi.
Bukan hanya itu belaka. Megi tidak lagi menyapa Maru. Padahal setiap paginya Megi selalu mengekori Maru ke mana pun gadis itu pergi. Entah ke tempat duduk Magis ataupun ke belakang kelas. Tak sekadar mengekori. Megi juga kadang berceloteh membicarakan hal yang tidak penting hanya untuk membuat Maru mengembangkan bulan sabit di bibirnya. Lantas Megi juga tidak pernah menjaga jarak dengan Maru. Hampir selalu bersama. Di mana ada Maru di situ ada Megi.
"Lo lagi berantem, Ru?" tanya Magis yang sejak tadi memperhatikan Maru. Temannya itu tidak berhenti melihat Megi di ujung sana yang sedang bercanda tawa dengan teman-temannya.
Maru kembali menatap lurus ke depan dengan senyuman terpaksa. "Nggak kok."
"Terus kenapa tuh bocah kayak nggak suka liat lo? Tumbenan nggak nyapa lo. Biasanya juga langsung nyosor."
"Iya, sih. Mungkin dia lagi ada masalah kali. Gue samperin dulu, ya."
"Oke, semangat!"
Daripada memikirkan yang aneh-aneh tentang sikap Megi yang kelihatan menjauh darinya. Maru lebih memilih untuk menanyakan langsung kepada orangnya. Lebih jelas dan akurat. Dengan itu Maru tidak perlu berpikir yang lebih jauh lagi. Lagipula Maru juga harus belajar untuk berpikir dewasa. Sebentar lagi dirinya bukan anak SMA. Tingkatannya sudah lebih tinggi sedikit. Hanya tinggal menghitung hari saja mungkin.
Gadis itu berjalan ke arah gerombolan yang didominasi oleh kaum adam. Setibanya di sana Maru langsung berdiri di depan Megi dengan tatapan yang tak pernah berpindah. Sampai sekarang pun Megi masih tidak ingin kontak mata dengan Maru. Cowok itu melengos ke arah lain. Seolah tidak ada orang yang berdiri di depannya. Teman-teman Megi yang melihat sikap aneh Megi lantas bungkam. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Perasaan aneh itu kembali datang. Maru rasa Megi memang sedang marah kepadanya. Tapi di sisi lain Maru juga tidak tahu salahnya apa. Dengan perlahan Maru berusaha melupakan semua itu. Sekarang ada hal yang harus dia klarifikasi dahulu.
"Meg, lo kenapa?" Maru membuka suara.
Bukannya merespon pertanyaan Maru yang sedikit khawatir tentangnya Megi malah melambaikan tangannya kepada teman-temannya. Mengajak mereka untuk pergi. "Cabut," ujarnya.
Maru terbelalak melihatnya. Baru kali ini dia dicueki oleh Megi. Setahu Maru ia tidak memiliki salah dengan Megi. Bahkan akhir-akhir ini dia sering tertawa bersama Megi. Lalu letak kesalahannya di mana? Tidak mungkin pula jika Megi melampiaskan kekesalannya pada orang lain ke dirinya sendiri. Megi bukan orang seperti itu. Yang Maru kenal Megi hanya menyimpan rasa marahnya pada orang yang membuatnya marah.
Jadi, Maru membuatnya marah kah?
"Kita duluan, ya! Jaga kelas, Ru. Bentar lagi roboh tuh kayaknya," timpal Mamat berusaha untuk bercanda. Mamat tidak ingin bila Maru memikirkan hal buruk dengan sikap Megi barusan. Begitupun dengan Mesky. Ia juga menepuk bahu Maru pelan. "Nggak apa-apa. Mungkin lagi nggak mood dia-nya. Positive thinking, oke?"
Maru tak membuka suara lagi. Dia hanya tersenyum dalam anggukan. Pikiran buruk itu kembali mengiang dipikirannya. Bila benar ada masalah. Sepertinya Maru belum siap menghadapinya. Kini, dia hanya sebatas melihat punggung cowok itu yang kian mulai menghilang dari penglihatannya.
***
"Lo PMS, Bro?" tanya Mesky langsung setibanya mereka di kantin. Tempat mana lagi yang ingin mereka datangi selain kantin? Hanya kantin yang membuat mereka betah di sekolah. Bukan karena makannya. Melainkan juga penjualnya yang masih muda.
Mamat sudah bertengger di depan Muna---penjual gorengan yang sering dibicarakan karena masih muda, cantik pula. "Gorengannya masih lengkap, nih. Batagornya ada. Masih banyak pula. Seblaknya masih sedikit, sih. Ciloknya juga ada. Kemarin lo nanyain itu kan, Mal?" tanya Mamat sekaligus promosi.
Maldi hanya mengacungkan jari telunjuknya. Itu artinya dia memesan cilok satu mangkok. Mamat paham dengan maksudnya. Dia pun mengangguk-angguk dan menulisnya di buku catatan Muna supaya tidak lupa. Setelah itu ia kembali bertanya. "Akang-akang yang lain pada pesan apa, nih? Biar Oppa yang tulis."
"Seragamin ajalah sama lo," jawab Mesky.
"Lah, Oppa kan maunya seblak. Jadi disamain sama siapa? Oppa apa Kang Malkist?"
"Kan tadi gue bilangnya lo bukan Maldi. Punya kuping kok nggak ke pake."
"Itu namanya memastikan."
"Halah alesan!" cibir Mesky.
Mereka langsung duduk di kursi paling ujung agar tidak ada guru yang melihat mereka. Berhubung jam kosong pasti ada guru yang hobi sekali patroli. Walaupun biasanya yang sering melakukan itu adalah Bu Mai. Tetapi bisa saja sekarang Bu Mai memiliki wakil dan juga ikut berkeliling.
Maldi berdehem. "Jadi, lo kenapa? Tumben cuek sama Maru. Nggak demen lagi, nih?"
Mesky menoyor jidat Maldi karena dengan seenaknya berbicara seperti itu. "Lo kalau ngomong dijaga, elaaah! Nggak suka, nggak suka. Ucapan itu doa. Kalau kejadian beneran kan berabe."
"Urusan siapa yang ribet siapa," timpal Mars yang biasanya hanya diam dan sekadar mendengarkan.
"Ya 'kan kita teman. Harus saling mendukung dan membantu. Iya, nggak, Bro?" Mesky menyenggol Maldi untuk meminta dukungan. "Yoi," balas Maldi menyetujui.
Mars menggeleng heran. "Bilang aja lo pada kepo, begitu aja ribet."
"Ya, ampun. Abang Mars ini memang paling pengertian. Suka, deh." Maldi menjawab dengan hiperbola. Membuat yang melihatnya langsung sakit mata. Megi hanya memandangnya jijik. Begitupun dengan Mesky. Hanya Mars yang masih biasa saja. Padahal Maldi duduk di samping Mars.
Melihat Maldi seperti itu Mesky jadi teringat kejadian waktu lalu. Saat Maldi melarang Madda untuk memberikan Marsha minyak kayu putih. Sedangkan Maldi sendiri malah langsung pergi menghampiri Marsha untuk memberikan minyak kayu putih itu. Kalau tidak memiliki hubungan apa-apa sepertinya tidak mungkin. Karena raut wajah Maldi berubah khawatir saat Madda bilang kalau Marsha sedang mual-mual.
"Betewe, lo punya hubungan apa sama si Marsha and the bear?" tanya Mesky tanpa teman-temannya duga.
Maldi terbelalak. Kenapa malah jadi dirinya yang diintrogasi?
"Lo pacaran sama Marsha?" Kali ini Megi yang ikut menimbrung. Dia sudah bosan jika harus memikirkan dirinya sendiri. Lebih baik dia mengintrogasi Maldi saja yang sudah berbulan-bulan ini terlihat sangat aneh.
Mamat yang baru saja datang dengan membawa pesanan ikut terkejut dengan penuturan Megi. "Seriusan, Kang? Lo pacaran sama si tukang rusuh itu? Sejak kapan?"
Maldi bingung sekarang. Antara dia harus jujur atau harus berbohong. Tapi sebelum Ujian Nasional selesai Maldi tidak ingin ada satupun orang yang tahu selain dirinya dan Marsha. Nanti setelah Ujian Nasional selesai barulah ia memberi tahu teman-temannya. Yang Maldi takutkan hanya berita itu tersebar sebelum dia dan Marsha dinyatakan lulus. Nanti malah banyak masalah yang datang. Maldi tidak bisa membuat Marsha kepikiran.
"Apaan, sih! Nggak," elak Maldi sambil tertawa kecil. "Gue nggak pacaran. Masih pedekate. Doain aja," lanjutnya.
Mesky mengernyit. "Lo suka cewek modelan begitu?"
"Nggak semua orang jahat dalamnya juga jahat kali. Aslinya tuh dia baik. Kalian aja yang belum liat dalamnya dia," ujar Maldi memberitahu. Sementara Mamat malah semakin bingung. "Emang dalemannya warna apa? Pasti putih, ya?" tanyanya polos.
Dia langsung mendapat jitakan dari Maldi. "Nggak daleman itu maksud gue! Astaga, pikirannya," semburnya gergetan.
"Eh, eh. Gue jadi kepikiran, deh. Nanti tuh kalau gue jadi nikah sama Magis terus gue mau ngajak Magis begituan gimana, ya?" Tiba-tiba Mesky membuka suara dengan pertanyaan yang aneh. Gara-gara Mamat salah jurusan Mesky jadi ikut salah juga. Tetapi berbeda dengan Maldi. Cowok itu hanya diam dan tak lama menjawab pertanyaan Mesky. "Nggak usah diajak. Langsung aja tidurin. Toh dia-nya nggak bakak nolak kalau udah begitu."
Jawaban Maldi membuat teman-temannya kembali membulatkan mata lebar-lebar.
"Lo..., kata siapa?" tanya Mesky tak percaya. "Jangan-jangan lo pernah lagi, ya? Ngaku lo!" tudingnya.
Maldi merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia keceplosan seperti ini. "Ngasal aja, sih," jawabnya sambil menyengir.
***
Sepulang sekolah Maru menunggu Magen menjemputnya. Tadi pagi juga Magen sudah mengantarnya sekolah. Mungkin mulak tadi pagi dan seterusnya Magen akan selalu mengantar jemputnya. Maru juga mulai membiasakan dirinya untuk diantar jemput seperti ini oleh Magen. Perlahan dia mulai melupakan Megi. Sejak keputusannya menerima Magen untuk menjadi pacarnya, sejak itu pula Maru harus menghapus nama Megi dari hatinya.
Sampai kapanpun Megi hanya akan menjadi kenangan. Tidak akan lebih pula tak ada yang berubah. Seharusnya Maru menyadari hal itu dan tidak berharap lebih kepada Megi. Harapannya sudah pasti tak akan terbalas. Begitu juga dengan penantiannya. Kunci masalah ini hanya lupa dan melupakan.
"Megi," panggil Maru saat Megi lewat di depannya. Benar bila Megi sedang menjauhinya. Buktinya dia sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan Maru lagi. Jelas-jelas Maru selalu ada disekitarnya sejak pagi. Tapi tak satupun kata bisa Megi ucapkan kepadanya. Jangankan untuk berbicara. Sekadar menoleh kepadanya saja tidak dilakukan.
Ada apa?
Cowok itu berhenti berjalan. Masih diam tanpa berkata apapun.
"Lo kenapa menjauh dari gue? Gue salah apa sama lo?" tanya Maru sesuai dengan apa yang sedang dia pikirkan sejak tadi. Hatinya sesak mendapat perlakuan dingin seperti ini dari Megi. Maru lebih suka dengan tingkah Megi yang konyol daripada dingin seperti ini. Maru lebih suka bercanda dan tertawa bersama daripada harus berbicara serius seperti ini.
Megi mengembuskan napasnya. Enggan menjawab pertanyaan Maru yang sudah bisa dia tebak akan bertanya seperti itu. Ia kembali tak peduli dan melanjutkan langkahnya. Tapi satu lengannya ditahan oleh gadis itu. Mau tidak mau Megi harus berhenti. Dia ingin sekali marah tetapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Ingin menyalahkan juga tidak tahu kepada siapa.
"Cerita sama gue, ada apa? Jangan bikin gue khawatir sama lo." Maru semakin mendesak Megi untuk berbicara.
Ketika Megi hendak menjawab tiba-tiba ada seseorang menghentikan mobilnya di depan mereka. Seseorang itu keluar dari mobil dengan senyuman. Seraya tangan yang tadinya memegang lengannya perlahan lepas. Megi menoleh kepada Maru. Gadis itu menatap lurus pada seseorang yang baru saja datang. Tak lama Maru ikut membalas senyuman itu dengan mengukir senyum juga. Hati Megi semakin sesak melihatnya.
"Sayang, kamu udah nunggu lama, ya?"
Kalimat itu membuat Megi membulatkan matanya lebar-lebar. Dia tidak salah dengar, kan?
Magen memanggil Maru dengan sebutan 'sayang'. Sejak kapan?
Megi kembali mengingat cerita Moza. Memang ternyata benar. Magen lebih memilih Maru. Sedangkan Maru juga seperti itu. Meninggalkan dirinya hanya untuk Magen. Padahal sebelumnya masih baik-baik saja. Tapi tiba-tiba masalah datang tanpa diundang.
"Nggak apa. Oh, iya. Itu mobil siapa, Gen?" tanya Maru penasaran. Pasalnya Magen sudah tidak memiliki mobil lagi.
Magen tersenyum lagi. "Meezo, temen aku. Tadi dia buru-buru pulang. Jadi mobilnya dititipin sama aku."
Apa? Aku-kamu?
"Oh. Aku pikir kamu beli lagi," kata Maru.
Hello! Ini ada gue lho!
Megi emosi sendiri. Sejak tadi dirinya seperti tidak dianggap saja. Tanpa bertahan untuk melihat drama ini ia segera pergi begitu saja.
"Eeh." Maru tak lagi bisa menahan Megi. Cowok itu sudah pergi jauh. Melangkah dengan sangat cepat seolah sudah muak untuk berinteraksi dengannya. Maru hanya menghela napasnya, pasrah.
"Kenapa?
"Nggak apa-apa."
"Ayo pulang," ajak Magen.
Maru mengangguk.
Sepertinya bukan lagi dugaan, Megi benar-benar sedang menjauh darinya.