
"Inginku berkata 'mantan apa kabar?' tetapi kenapa bibirku kaku tak bisa bergerak?" -Megizal Steven.
"Kang, buruaan! Oppa Mamat udah kebelet basket ini!" teriak Mamat di ujung pintu setelah semua murid berhamburan untuk pulang. Kang---sebutan orang Jawa dalam memanggil temannya yang lebih tua.
"Gue kira lo kebelet kawin, Mat."
"Pikiran lo nyeremin, Mal," cetus Mesky sambil menggelengkan kepalanya. Namun, Maldi malah menepuk pipi Mesky. "Mal, Mal, lo kira nama gue malkist abon?"
Mesky terkekeh. "Kalau nggak keberatan sih nggak apa-apa," jawabnya santai.
Mamat yang sudah tidak tahan lagi langsung menuju ke bangku yang berjejer di lorong koridor. Semua bangku yang berjejeran itu memang Megi dan teman-temannya yang meletakkannya di sana. Padahal sudah berulang kali ditegur, tetap saja masih kekeh untuk meletakkan bangku di lorong. Mamat menunggu teman-temannya selesai mencatat ringkasan materi yang tertulis di papan tulis sebanyak lima kali. Itu adalah salah satu hukuman yang Pak Marga berikan. Bahkan Mamat sudah menulis ringkasan itu sejak tadi. Malahan teman-temannya itu sibuk dengan ponselnya masing-masing. Jadinya sekarang Mamat yang harus sabar menunggu teman-temannya selesai menulis. Jika bukan karena harus dikumpulkan sore ini juga, mereka pasti akan mencatatnya di rumah.
Sambil menunggu, Mamat membuka ponselnya. Isi ponsel anak cowok hanyalah game saja. Berbeda dengan cewek yang kebanyakan berisi kata-kata puitis yang sok bijak. Terkadang malah terdapat hasil selfi yang sampai menumpuk. Namanya juga cewek, selfi-nya berulang kali jepretan tetapi yang diupload hanya satu atau bahkan cuma beberapa. Kadang-kadang bisa menyusahkan orang lain hanya untuk sekadar mengambil satu jepretan di tempat yang menurutnya unik. Sebab itu, cewek yang suka selfi kebanyakan memang tidak tahu malu untuk berpose di tempat umum. Jangankan cewek, di zaman sekarang saja cowok juga banyak yang begitu. Salah satunya adalah Mamat. Namun, dia tidak menggunakan ponselnya untuk menyimpan hasil-hasil jepretannya. Melainkan ponsel teman-temannya yang setiap hari akan terisi dengan foto-foto Mamat.
Karena Mamat sedang malas untuk bermain game, akhirnya dia membuka YouTube. Tanpa teman bermain bersama rasanya kurang seru. Maka dari itu, Mamat memilih hiburan baru. Dia menyambungkan wifi di ponselnya dengan wifi sekolah. Beruntungnya, Megi mengetahui kata sandinya. Untuk bermain ponsel di sekolah, Mamat merasa lancar jaya. Apalagi temannya itu hafal benar kata sandinya. Meskipun sering berubah-ubah, tetapi itu tidak menjadi kendala bagi Megi untuk tidak mengetahui password-nya.
Saat sedang asyik mencari hiburan baru, Mamat melihat Maru dan Magis menuju ke perpustakaan. Dia langsung berteriak kencang. "Cewek, pada mau ke mana, tuh?"
Seketika Magis dan Maru menoleh ke sumber suara. "Kepo banget, sih, jadi cowok!" balas Magis ketus. Sepertinya Magis memang sensi jika bertemu dengan teman-teman Mesky. Salah sendiri, sudah beribu kali dibilang harus tobat masih saja bandel. Wajar saja jika Magis tidak suka dengan mereka. Orang telinganya saja sepertinya perlu diperiksakan ke THT. Kalau tidak begitu, mau susah bagaimana pun caranya untuk memberitahu tidak akan mereka dengar. Pasti akan dianggap seperti angin yang lewat saja.
"Eh buseett. Galak benar, Mbaknya," jawab Mamat sambil mengelus dadanya. Menghadapi Magis sama saja dengan menghadapi Ibunya. Sifat galaknya itu sangat mirip dengan Ibunya. "Apa lo?" Magis menjawab dengan suara ketus lagi hingga membuat Mamat menyesal telah menyapanya tadi.
"Kok malah diam, sih! Pacar gue mana?" Magis melipat tangan diikuti sepatunya mengetuk-ngetuk ke lantai sambil menunggu jawaban dari Mamat. Di sampingnya terdapat Magis dengan ekspresi wajah yang susah diartikan. Dia tidak tahu, harus menunggu Magis berdebat dengan Mamat atau diam-diam meninggalkannya. Jika dia hanya diam, lama-lama bisa bosan melihat aksi Magis. Namun, jika dia pergi meninggalkan Magis yang ada malah dia kena sembur dari Magis. Percuma saja jika sekarang dia mengajak Magis pergi. Nanti juga akan ditolak.
Mamat meletakkan ponselnya di bangku samping. Dengan wajah malas, Mamat mengarahkan telunjuk tangannya ke belakang. Itu artinya Mesky ada di dalam kelas.
"Tuh kan, pacar lo masih di kelas. Kita pergi aja deh, ya?" Maru memegang pergelangan tangan Magis seraya mengajaknya pergi. Akan tetapi, gadis itu masih tetap diam di tempat. Dia menatap Mamat bak ingin menerkamnya. "Awas aja ya kalau sampai pacar gue bikin ulah lagi. Bilangin noh ke pemimpin lo. Gue bakal bikin perhitungan!"
Sayangnya, Magis hanya terfokus kepada Mamat hingga ia tidak sadar jika Megi sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi. Mendengar ancaman dari Magis, ia hanya terkekeh. megi memajukan tubuhnya lantas ikut duduk di samping Mamat. Tangannya merangkul bahu Mamat. Kedua sudut bibirnya terangkat naik membentuk bulan sabit. Melihat itu, Magis terkejut setengah mati. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. "Pemimpinnya udah dengar kok, Mbak. Ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Megi memancing.
Dipanggil 'Mbak' Magis merasa dihina. Enak saja memanggil orang seenak jidat. "Lo pikir gue Kakak lo? Udah, deh, Meg. Jangan bikin gue makin sebel. Harus berapa kali sih gue bilang sama lo supaya Mesky nggak ikut lo bikin ulah?"
"Gue nggak ngajak, kok. Dia aja yang nawarin diri," balasnya sambil tertawa. Magis menatapnya tidak suka. "Ya lo tolak dong. Masa gitu aja harus gue yang ngasih tahu."
"Kata Bapak saya nggak baik nolak rezeki."
Magis menggertakkan giginya. "Sekarepmu!" (Terserah kamu)
"Itu punya Oppa Mamat, Gis." Mamat menimbrung.
"Itu anunya punya Oppa Mamat seganteng Jungkook."
"Jangan mimpi, deh! Ayo, Ru, kita pergi. Bisa **** gue kalau lama-lama di sini," Magis menarik tangan Maru seraya mengipas-ngipaskan tangannya. Dia beranjak pergi.
"Apa coba yang dia kira?"
Megi menepuk bahu Mamat sambil tertawa geli. "Mungkin, dia kira lo suka sama itunya kali." Mamat masih tidak paham dengan maksud Megi. "Itu apa?" tanyanya lagi.
"Halah giliran gue yang ngomong lo lemot. Tapi kalau Maldi langsung cepat tuh nangkep," cetus Megi. Seketika Mamat langsung ikut tertawa. Tak butuh waktu lama, Maldi, Mesky, dan Mars sudah keluar dari kelas. Kini, Megi dan Mamat berdiri. Merangkul teman-temannya dan melangkah menuju ke lapangan basket yang sudah pasti akan sepi. Pasalnya lapangan basket sekolah sudah dikuasai oleh Megi dan teman-temannya. Maka dari itu, tidak ada yang boleh memakai lapangan basket sepulang sekolah jika belum meminta izin kepada Megi ataupun salah satu temannya.
Anak seperti Megi memang wajar. Di sekolah suka bikin keributan yang tak terduga. Selalu mendapat hukuman setiap harinya. Akan tetapi, jika di rumah dia hanya bisa menurut saja kepada Kakaknya. Dengan guru saja dia masih berani untuk membantah. Bahkan tak segan-segan untuk mengusilinya. Namun, kalau dengan Kakaknya itu berbeda lagi. Terkesan seperti anak yang baik. Selalu menurut tanpa membantah jika diperintah. Apalagi semenjak Kakaknya berhasil menaklukan tantangan orangtuanya untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran berbeasiswa, sejak itu juga semuanya mempasrahkan Megi kepada Kakaknya saat orangtua mereka sedang tidak ada di rumah. Meskipun ada di rumah, apa yang Megi lakukan selalu salah. Dan apa yang Kakaknya lakukan selalu benar.
Sejak sepuluh menit yang lalu, mereka berlima sudah selesai bermain basket. Sekarang, semuanya sedang beres-beres. Tujuan mereka selanjutnya bukan lah pulang, akan tetapi menuju ke kafe Sendy Buana. Seperti biasa, perjalanan menuju ke kafe menggunakan mobil Mars. Motor-motor yang dibawa oleh Megi, Mesky, dan Mamat dititipkan di rumah Mang Yayan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari sekolah. Megi selalu membayar Mang Yayan ketika dia dan yang lain mengambil motor yang dititipkan. Selain itu, Megi juga sering mentraktir teman-temannya di warung Mang Yayan. Karena itu lah, Mang Yayan sangat senang jika Megi selalu menitipkan motornya kepadanya. Sekaligus jika Megi memborong dagangannya untuk dibagikan. Di saat seperti itu, Mang Yayan merasa seperti mendapat uang dari langit.
Mang Yayan adalah salah satu penjual di kantin sekolah yang akrab dengan Megi dan teman-temannya. Tak heran jika Mang Yayan sering memberikan semangkuk bakso gratis setiap Megi sedang tidak mood. Itupun juga seseringnya Megi memborong dagangannya. "Meg, Mang Yayan lagi beli sayur di kampung sebelah. Tadi gue udah ngomong sama istrinya kalau kita sering nitip motor di sini. Katanya suruh masukin ke dalam rumah. Nanti kuncinya bawa pulang. Begitu," ucap Mesky yang baru saja keluar dari rumah Mang Yayan. Megi pun mengangguk seraya memasukkan motornya ke dalam rumah Mang Yayan. Begitupun dengan Mamat, dia langsung mengikuti Megi dari belakang. Sementara Mesky langsung menyusul Mars di mobil. Dia menyuruh Mamat untuk memasukkan motornya juga.
Awalnya, Mamat itu tidak naik motor ke sekolah. Tapi semenjak Meolita----adiknya Mars sekolah di SMA Galaska, Mamat memilih untuk naik angkutan umum. Pasalnya jika dia tetap satu mobil dengan Meolita yang ada nanti dia darah tinggi. Mars bahkan sampai memberikan motornya kepada Mamat karena tidak tega jika Mamat harus naik angkutan umum yang gerahnya minta ampun. Lagipula motor Mars sudah lama tidak dipergunakan, daripada rusak hanya karena tidak dipakai jadi dia memberikannya kepada Mamat. Selain terputih, Mars juga berasal dari keluarga yang melebihi kata mampu. Sebab itu, memberikan motor itu bukanlah hal yang sulit. Baginya sama seperti memberikan permen lolipop kepada orang yang bersedih. Jangan tanya berapa jatah uang saku Mars perbulan, karena jika mereka tahu pasti akan pingsan.
Meskipun begitu, Mars lebih suka memberikan barang daripada mentraktir teman-temannya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Megi. Akan tetapi, tujuan mereka berdua masih sama. Hanya caranya saja yang berbeda.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Kini, mereka berlima sudah sampai di kafe Sendy Buana. Bahkan sudah memesan langsung ketika baru sampai. Mungkin karena kelelahan dalam bermain basket, makanya mereka ingin segera mengisi energi kembali. Mamat masih berada di kasir. Dia asyik bercengkerama dengan Mbak kasir yang bisa terbilang masih muda. Mungkin umurnya baru menginjak dua puluhan. Lalu Mesky duduk di samping Megi dan menepuk bahu cowok di sampingnya. "Meg, tahu nggak tadi pagi waktu kita bikin heboh ternyata Maru ngeliatin lo terus. Dari lo datang sampai dia diajak Magis pergi, matanya masih ngeliatin lo. Mungkin nggak sih kalau dia masih suka sama lo?" tanya Mesky membuka percakapan. Lagipula dari tadi dia sudah tidak sabar ingin menanyakan hal ini kepada Megi. siapa tahu juga dia merasa dilihati oleh Maru.
"Nggak usah ngarang deh lo. Gue sama Maru udah selesai sejak lama. Mana mungkin dia masih suka sama gue. Mungkin lo tadi salah lihat kali. Bisa aja Maru lagi ngelihatin hal lain," balas Megi sambil berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tidak ada angin ataupun petir mendadak Mesky membahas mantannya. Walaupun sebelumnya Megi pernah chatingan dengan Maru, itu hanyalah sebuah chatingan biasa. Megi memang malas jika diajak membahas mantan. Karena baginya, yang lama biarkan terkubur. Dia tidak ingin mengenangnya kembali. Namun, entahlah, sekarang keadaan hati Megi sedang tidak karuan. "Ya masa gue ngada-ngada, sih. Gue tuh tadinya mau lihatin pacar gue. Eh, nggak tahunya malah lihat Maru ngelirikin lo," Mesky membela ucapannya.
Mamat yang sejak tadi asyik dengan Mbak kasir berlari menghampiri mereka. Dia langsung angkat bicara. "Pada ngomongin Oppa Mamat sama Mbak kasir, ya?" tanyanya tanpa mengetahui dahulu hal yang sedang dibahas. Bertanya itu, Mamat langsung mendapat jitakan gratis di jidatnya oleh Maldi dan Mesky. "Haduuuh jidat Oppa Mamat!" keluhnya sambil memegangi keningnya.
"Makanya diam bae kalau nggak tahu apa-apa!" ketus Maldi.
Mamat mengercutkan bibirnya. "Tapi nggak nyakitin jidat Oppa juga kaliiii!"
"Bodo amat."
Sebenarnya, melihat Mamat memanggil dirinya dengan sebutan 'Oppa Mamat' sangat membuat Mesky bergidik ngeri sendiri. Dia hanya takut jika Mamat itu bukan cowok tulen. Apalagi Magis selalu menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat dengan manusia yang bernama Oppa Mamat itu. Bukan hanya Mamat saja, tetapi juga yang lain seperti Megi dan Maldi. Tetapi, jika dekat dengan Mars, Magis tidak mempermasalahkan. Meskipun Mars juga ikut Megi membuat keributan setidaknya dia masih memiliki kelebihan yaitu kepintarannya. Magis berharap, Mesky juga ikut pintar jika dekat dengan Mars. "Lo sebenarnya sadar nggak sih, Meg? Atau jangan-jangan lo udah sadar tapi lo pura-pura nggak sadar. Ayo jujur sama gue," suruh Mesky memaksa.
"Gue nggak tahu dan nggak mau tahu. Bagi gue dia itu hanya sekadar mantan. Jadi nggak usah bahas mantan. Gue nggak mood. Lagian dia juga udah punya pacar. Ada baiknya kalau kita bahas hal lain." Megi menjawab panjang hingga akhirnya Mesky menyeriangi Megi. "Mau lo peduli atau nggak yang penting gue udah ngomong sama lo."
Semoga aja apa yang lo omongin memang benar, batinnya. Dia tak lagi membalas ucapan Mesky yang akan semakin mempertanyakan hal-hal di luar nalar. Seketika Megi langsung fokus kepada ponselnya. Akan tetapi, pikirannya masih terbayang akan ucapan Mesky tadi. Mantan?