
"Merendahkan orang untuk meninggikan derajatmu. Memainkan orang untuk menyenangkan hatimu. Sekilas kamu seperti tidak bahagia." -Marutere Althea.
Aroma masakan Marita mulai tercium sampai di kamar Maru. Dia yang sedang mengikat rambutnya pun langsung beranjak dari kamarnya untuk menghampiri Mamanya itu. Berhubung Mahira belum pulang, ia akan membantu Mamanya. Sejak dua hari yang lalu Mahira ada acara untuk melakukan survei. Alhasil Mahira menginap di rumah temannya untuk sementara waktu. Menghemat biaya juga. Setidaknya sampai beberapa hari ini Mahira tidak akan tahu mengenai Muzan yang tinggal di rumahnya. Maru sedikit bersyukur juga. Jika Mahira belum tahu ia akan jauh lebih tenang. Karena bila Mahira tahu Maru mungkin akan kebingungan untuk menghadapi Mahira.
"Eh, Ayah udah bangun? Mau ikut Maru bantu Mama nggak?" Maru berhenti di depan pintu kamar Muzan. Dia tersenyum penuh arti. Berharap dalam batinnya agar Muzan menerima ajakannya. Setidaknya harapan untuk merasakan lengkapnya keluarga itu masih bisa Maru rasakan. Bayangan yang lalu-lalu hanya bisa diharapkan, sekarang ingin Maru rasakan dengan kenyataan.
Muzan tampak berpikir. Dia sedikit canggung untuk ikut Maru membantu Marita. Apalagi dengan hubungan yang kurang baik seperti ini rasanya sangat tidak mungkin. Untuk melihat wajah Marita lagi layaknya belum dimampuinya. Meskipun perlakuan Marita masih sama seperti dulu tetap saja rasa bersalah itu masih ada. Walau sudah lama tetapi luka itu nyatanya masih membekas. Belum hilang sepenuhnya. Muzan sangat malu bila mengingatnya. Betapa bodohnya dirinya melepaskan seorang wanita yang sangat baik hanya untuk wanita yang sekadar memikirkan mengenai harta. Mengapa juga dulu dengan mudahnya ia melepaskan seseorang yang sulit didapatnya. Dalam bayangannya Muzan menukarkan berlian dengan setumpuk sampah.
Maru yang melihat Ayahnya melamun pun segera menepuk bahu Ayahnya pelan. Dengan senyuman yang tak pernah ada habisnya. "Jadi gimana? Mau nggak? Ayah jangan kebanyakan mikir. Yang udah ya udah. Biarin aja. Nggak usah dipikirin," ujarnya.
Rasanya Muzan tidak tega untuk menolaknya.
"Ayah...," Maru kembali angkat suara dengan gerakan lembut memeluk Ayahnya. "Maru sama Mama sayaaaanngg banget sama Ayah. Ayah nggak sendiri. Masalah ini kita hadepin bareng-bareng. Kita kan keluarga."
Tak sengaja, Muzan mengembangkan senyum dengan anggukan kecil. "Ayah juga sayang Maru," katanya sambil mengusap puncak rambut Maru.
Maru mendongak. "Sama Mama nggak?"
"Iya, sama Mama juga."
"Mama Marita, ya? Bukan Tante yang satu itu." Maru bertingkah seperti anak kecil. Hal seperti inilah yang dia rindu.
Muzan mencubit pipi Maru. "Iya, Mama Marita. Nggak sama yang lain."
Tiba-tiba seseorang mengejutkan keduanya. "Eh, ada apa ya? Kok bawa-bawa nama saya?" Marita berujar. Entah sejak kapan dia berdiri di ujung sana.
"Sini, Maaa," panggil Maru mengajak Mamanya untuk maju beberapa langkah. "Ayo pelukan," lanjutnya.
***
"Sejak kapan dia tinggal di sini? Kenapa nggak bilang dulu sama aku, Mbak? Mbak lupa ya kalau aku nggak suka sama dia? Mbak juga ngapain ngizinin tikus satu itu tinggal di sini?" Mahira mengajukan banyak pertanyaan tanpa menjedanya.
Tanpa diduga ternyata Mahira pulang lebih awal dari dugaan. Katanya ada beberapa hambatan. Jadinya survei untuk sementara waktu ditunda dulu. Tanpa mengabari akan pulang Mahira langsung pulang seenaknya. Membuat semuanya di luar dugaan. Mahira yang baru saja menampakkan wajahnya di ruang makan langsung mengernyit heran. Ada rasa muak, marah, benci, tidak suka, dan masih banyak lainnya yang mengganjal di hati. Marita yang tersadar akan kedatangan adiknya itupun langsung menarik lengan Mahira masuk ke dapur. Membicarakan semuanya baik-baik sebelum Mahira marah-marah.
Sementara Muzan hanya bisa duduk diam penuh kecanggungan. Rasa tidak nyaman itu sudah mengelilingi tubuhnya. Makanan yang berada di depannya tak lagi dia makan.
"Kok nggak dimakan, Yah? Mama ke mana? Kok se---"
"HARUSNYA AKU JUGA DIHARGAI, MBAK!! BUKAN CUMA DIA!!" teriakan yang bersumber dari dapur membuat ucapan Maru terpotong. Ia berdiri kaku. Ia sangat mengenal suara itu. Iya, dia tidak salah. Itu suara Mahira. Sejak kapan dia datang?
Maru menatap Ayahnya. "Mbak Mahira?" tanyanya pada Ayahnya yang hanya dibalasi dengan anggukan kaku. Seketika Maru langsung was-was. Ia berlari menuju ke dapur. Meninggalkan Ayahnya di ruang makan.
"Aku punya hak untuk nggak ngizinin dia tinggal di sini! Mbak sebenarnya nganggep aku ada nggak, sih?! Kenapa nggak bilang dulu sama aku?" sarkas Mahira sudah tidak karuan. Ia merasa sudah tak dianggap. Di sisi lain, Marita bingung harus bagaimana cara menjelaskannya. "Tenang dulu, Ra. Mbak bakal jelasin semuanya. Kamu jangan mikir yang negatif dulu sama Mbak. Mahira dengerin Mbak se---"
Mahira menggebrakkan meja yang ada di sampingnya. "Apa yang mau dijelasin?! Aku nggak suka ada tikus itu di rumah ini, Mbak!"
"Mbak Mahira cukup!" Maru berteriak cukup nyaring hingga membuat keduanya berhenti bercek-cok dan menatap Maru.
"Apa? Mau belain tikus itu lagi?"
Marita memegang lengan Mahira dengan cepat. Menyuruhnya untuk tidak membicarakan hal ini di depan Maru. "Udah, Ra. Kita bicarain ini nanti, ya? Kamu capek, kan? Mandi dulu gih," ujar Marita.
"Berhenti nyebut Ayah aku dengan sebutan yang nggak pantas!" Maru angkat suara lagi.
Namun, Mahira memilih untuk tidak bercekcok dengan Maru. Percuma. Berdebat dengan anak kecil tidak akan ada habisnya. Ia melepas genggaman tangan Marita di lengannya dengan kasar. Lalu ia pergi begitu saja. Terlihat sangat jelas bila ia sedang marah.
***
Tegang.
Situasi sekarang memang seperti itu. Maru sarapan di samping Ayahnya. Sedangkan Marita dan Mahira duduk di depan mereka. Tanpa ada satupun obrolan diantara mereka hingga waktu sarapan pun hampir selesai.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh lebih satu menit, Mahira bangkit dari kursinya. Tak langsung pergi. Ia tersenyum sinis kepada Muzan. "Saya harap Anda sadar diri di mana Anda sekarang. Jangan bersikap seperti di rumah sendiri. Keadaannya udah berbeda. Dulu Anda di atas saya. Tapi sekarang Anda di bawah saya. Tolong ingat itu Tuan Muzan," ujar Mahira tidak suka.
"Mbak Mahira jangan mancing, deh!" Maru bertindak juga.
"Yang sopan, Mahira. Jaga ucapan kamu," tambah Marita.
Lagi, lagi, Mahira tidak mendengarkan Marita. Ia langsung pergi. Meninggalkan situasi ini dengan kecanggungan yang lebih.
"Maafin Mahira ya, Mas. Aku harap kamu nggak masukin ucapannya barusan." Sementara Muzan hanya bisa tersenyum canggung. "Nggak apa-apa," katanya.
***
Suasana kantin tak seramai biasanya. Hanya tinggal beberapa orang yang datang. Padahal biasanya sangat ramai sampai berdesak-desakan. Tapi kali ini cukup berbeda. Maru yang duduk sendirian di tengah tanpa Magis dan Morin hanya bisa menghela napas. Ia memesan jus apel dan roti bakar saja. Sampai sekarang jusnya hanya diaduk-aduk saja. Ia belum nafsu untuk meminumnya. Perihal masalah kemarin ternyata cukup membuatnya kepikiran. Marita---Mama kandungnya memang memperbolehkan Ayahnya tinggal di rumahnya. Tetapi sikap Muzan kepada Marita masih canggung. Seperti kejadian tadi pagi misalnya. Jujur saja bila Maru tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.
Muzan merasa tidak nyaman untuk bertemu dengan Marita. Padahal, seharusnya yang bersikap seperti itu Marita. Karena dia yang ditinggalkan. Namun lain hal. Mungkin kesalahpahaman dulu belum terselesaikan. Apalagi ditambah dengan sikap Mahira yang sangat ketus dengan Muzan. Hal seperti itu juga yang menjadikan Mahira menunda kesiapannya untuk menikah. Ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Tidak ingin mengalami hal yang sama. Apalagi setelah Marita cerai dengan Muzan, Mahira mulai menampakkan sikap ketusnya. Berbeda sekali dengan sikapnya yang dulu. Jangankan untuk bersikap ketus, berkata dengan nada yang tinggi saja Mahira tidak berani. Nyatanya, masalah yang dialami Marita juga membawa dampak bagi Mahira yang seharusnya sekarang sudah menikah melihat umurnya yang sudah sangat matang.
"Ruuu!" Seruan itu membuatnya berhenti melawun. Ia lantas menoleh ke sumber suara. Ada Marsha dengan segerombolan siswa-siswi lainnya yang tiba-tiba datang ke kantin. Mereka mengerumuni Maru secara tiba-tiba. Membuatnya sedikit terkejut.
Maru menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ini ada apaan, ya?" tanyanya bingung.
Tiba-tiba dikerumuni oleh banyak orang tanpa alasan yang jelas. Ada apa?
Marsha mendekat. Ia duduk di atas meja tempat di mana Maru meletakkan minuman dan makanannya. Sangat tidak sopan. Itulah kesan Maru sekarang. Melihat Marsha yang tersenyum kecut seperti itu membuatnya was-was. Kemungkinan Marsha akan membuat masalah dengannya.
Maru bangkit dan bergegas pergi. Namun tangannya ditarik oleh Marsha. "Eeeh, mau ke mana? Buru-buru banget, sih."
Dengan terpaksa Maru membalikkan badannya.
"Gue bukan tipikal orang yang kurang kerjaan kayak lo."
Marsha mengangguk-angguk dengan tertawa kecil. "Ya ampun! Lo emang bukan tipikal orang yang kurang kerjaan. Tapi orang yang suka nyari kerjaan. Iya kan, Ru?" Marsha berdiri, menyamakan tingginya dengan Maru.
"Maksud lo apa?" Maru tidak mengerti.
Bukannya menjawab apa yang Maru tanyakan ia justru membalikkan badannya menatap segerombolan orang yang dibawanya. "Tuh liat kan lo pada. Dia aja lagi pura-pura nggak ngerti. Lagi akting nih!" serunya bersemangat.
Nyatanya ucapan Marsha membuat Maru tak sengaja naik emosi. Ia maju selangkah dan menarik rambut Marsha yang sedang membelakangi dirinya. "Maksud lo apa, hah!" tanyanya sambil menarik rambut Marsha dengan kencang.
"Aww, sakitt pinterr!" rintih Marsha kesakitan. "Lo tuh mainnya fisik ya! Keras banget! Nggak berperi kemanusiaan!" katanya berapi-api.
"Lo nggak usah mancing emosi gue, Sha!"
"Ya ampun geer banget tikus satu ini," ucapnya sambil terkekeh.
Mendengar kata 'tikus' disebut membuat Maru jengkel. Hari ini sudah beberapa kali ia mendengar kata itu di rumah. Oleh Mahira tentunya. Sekarang. Di sekolah ia harus menerima kata itu lagi. Emosinya semakin membludak. Ia menatap Marsha tajam. Marsha bukan lagi temannya. Entah ini bercanda atau tidak. Tapi Maru sudah tidak bisa memakluminya lagi. Dengan sigap dia memberikan tinjuan keras ke pipi kanan Marsha. Bukan lagi tamparan. Kali ini sudah tinjuan. Semua orang terkejut dengan tindakan Maru. Tak serta merta dengan Marsha. Ia langsung terpelanting jatuh dengan kasar.
"Aduuhh!!! Sakittt," adu Marsha memegangi pipinya.
"Sakit banget tuh pasti."
"Maru keras juga, dah."
"Kasian banget si Marsha."
"Eh, lo nggak apa, Sha?"
Lontaran beberapa siswa terdengar di telinga Maru. Ia tidak merasa bersalah. Dia justru senang bisa membuat Marsha berhenti memainkannya.
Marsha yang kesakitan itu dibantu bangkit oleh teman-temannya. Ia memegangi bibirnya yang berdarah. Marsha tidak terima. Ia ingin menampar Maru tapi tangannya ditahan oleh Maru. "Mau lagi?" tawar Maru.
"Lepasin nggak?!"
"Lo inget ya. Gue nggak suka dimainin kayak gini. Jadi nggak usah nyari gara-gara sama gue."
"Dasar murahan! Pantes aja kelakuan lo kasar kayak Bokap lo! Orang hobinya aja nyolong!" Marsha berteriak.
Maru melepas tangan Marsha dengan kasar. Ia terdiam. Bagaimana Marsha tahu perihal itu?
"Kenapa diem aja? Emang bener kan kalo Bokap lo itu pencuri. Suka ngambil uang orang. Pantes aja anaknya kayak gini. Apa jangan-jangan alasan lo macarin Mate juga karena uang? Murahan banget." Marsha tertawa kecil ditengah rasa sakit yang dirasakannya. Baginya membuat Maru dipermalukan seperti ini sudah membuatnya tak lagi merasakan sakit. "Giliran nggak dapet apa-apa dari Mate, lo nyari target baru. Setahu gue Megi juga anak orang kaya sih. Nggak nyangka. Ternyata lo sepicik ini," ungkap Marsha dengan gaya dihiperbolakan.
"Lo!" Maru melayangkan tangannya. Namun berhenti saat seseorang memanggil namanya. "Maruu!" Dia menoleh ke sumber suara.
Itu..., Mate.
"Kenapa berhenti? Apa karena sang mantan dateng? Jadi lo harus jaga image? Dih, munafik banget." Lontaran kata-kata langsung mengalir begitu saja dari bibir Marsha. Maru geram mendengarnya. Dulu ia pikir Marsha adalah orang yang baik. Tapi nyatanya tidak sebenar itu.
Maru menatap Marsha tajam. "Diem lo!" bentaknya.
Maru sudah tidak mampu dikelilingi seperti ini. Ia pun bergegas pergi.
"Murahan banget."
Kalimat itu seketika membuat Maru berhenti melangkah. Ia membalikkan badan. Menoleh kepada seseorang yang melontarkan kalimat menyakitkan itu untuknya. Sangat tidak disangka. Mate mengatakan itu untuknya.
"Emang murahan orangnya, Mate. Lo baru tahu? Gue kasian deh sama lo. Mimpi apa sih dulu kok bisa jadian sama si tikus," celutuk Marsha memperpanas.
Maru ingin membalas. Tapi percuma. Itu juga tidak akan menghilangkan semuanya.
"Ya ampuun! Orang kalo nggak ngegibah ya kerjaannya malu-maluin orang. Miris banget gue liatnya." Megi tiba-tiba datang entah dari mana. Ia sudah berada di ujung kantin---duduk diatas meja sambil makan gorengan bersama teman-temannya. "Eh lo yang ada di ujung sana. Gue kasih tahu ya. Meskipun udah mantan bukan berarti musuh. Jaga hubungan lah. Jangan bersikap kayak nggak punya attitude gitu," kata Megi yang jelas sangat tertuju untuk Mate.
Maldi terkekeh. "Kayaknya si Marsha serasi deh sama yang diujung sana. Behahaha."
"Serasi bangeeeett kayak Romeo dan Julaikaah," Mamat ikut menyambung. Yang diselingi dengan tawa teman-temannya.
"Lo diem, ya, Tomatt!" teriak Marsha.
Megi menghela napas. "Ini sampai kapan kalian mau gangguin pacar gue, hah?"
Seketika, semua mata tertuju ke sumber suara.