
"Mengkhawatirkanmu lagi itu bukan hakku. Apalagi mengetahui kondisimu, itu juga bukan kewajibanku. Keadaannya sekarang berbeda. Dulu, aku dan kamu memiliki ikatan. Sekarang, aku dan kamu hanyalah sebatas teman." -Megizal Steven.
Sepeninggal Maru dan Mate, kini Mestha buru-buru membereskan barangnya lalu dimasukkan di dalam koper besar. Dia memasukkan semua barangnya asal-asalan. Bahkan dia juga tidak memperdulikan pertanyaan yang muncul dari mulut teman-teman sosialita-nya. Setelah semua barangnya masuk ke dalam koper, dia bergegas pergi keluar kafe. Koper besar miliknya itu diseret dengan cepat. Tidak peduli jika barang yang ada di dalamnya itu lecet. Karena yang sekarang dia pedulikan adalah nasib dari rencananya. Dia tidak ingin rencana yang sudah dia tata dari dulu berakhir begitu saja hanya karena kecerobohannya. Apalagi, ini barulah pemulaan. Bagian klimaks-nya saja belum dia lakukan.
Di depan kafe, Mestha mengeluarkan ponselnya seraya menelepon anak tunggal sekaligus anak buahnya. Dalam melaksanakan rencananya, Mestha selalu melibatkan anaknya. Dia tidak pernah melibatkan orang luar. Seperkian menit, teleponnya tidak diangkat-angkat. Mestha khawatir jika Maru keburu sampai di rumah. Berkali-kali Mestha menelepon Magen, namun berkali-kali pula tidak tersambung. "Ini anak ngapain, sih!" gerutunya.
Saat panggilan ke sembilan belas, barulah Magen mengangkatnya. "Kamu ngapain hah?! Dari tadi nggak diangkat-angkat!" sembur Mestha langsung.
"Ya maaf, Ma. Tadi aku silent soalnya. Memang kenapa? Ada masalah?" terdengar suara berat di ujung sana. "Iya. Kamu sekarang cari Maru. Bawa dia ke rumah lama kita. Kalau perlu buat dia nggak sadar. Sekarang dia lagi perjalanan pulang ke rumah. Kamu susul. Gerak cepat, Gen!"
Magen masih belum mengerti kenapa dia harus menculik Maru. "Oke, Ma. Ehm, memang Maru buat masalah?" tanyanya penasaran.
"Dia penentu hidup kita, Gen! Dia udah tahu semuanya! Jangan banyak tanya lagi!! Cepat cari dia!!" Mestha semakin menggebu-gebu. Pasalnya ini menyangkut hidup dan matinya. Jika Muzan mengetahui kebenaran ini, mungkin dia akan mendapat hukuman. Tapi, bisa jadi dia juga akan langsung diceraikan. Karena sebelum menikah mereka memang memiliki kesepakatan bersama. Untuk Mestha tidak diperbolehkan mengikuti arisan dan kegiatan sejenisnya. Jika sampai melakukan, tindakan yang diambil Muzan bebas ingin melakukan apa saja. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Termasuk tindakan cerai sekalipun.
"Iya, Ma." Seketika sambungan telepon pun terputus. Mestha merasa lega. Setidaknya Magen sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Mestha pun kembali menyeret kopernya menuju pinggir jalan. Lantas memesan taksi online. Sembari menunggu taksinya datang, dia berpikir mengenai rencana lanjutan. Setelah kejadian tadi, dia tidak bisa melakukan rencana sebelumnya. Dia memerlukan rencana baru.
Di samping itu, Magen yang baru saja selesai mengerjakan tugas-tugasnya langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Matanya mengantuk. Namun, niatnya untuk tidur sekarang terhalang oleh permintaan Mamanya itu. Sebenarnya, untuk melakukan ini itu seperti yang Mamanya suruh itu membuat dirinya bosan. Apalagi ini sudah kesekian kalinya dia begini. Ingin menolak, tetapi itu tidak mungkin dia lakukan. Karena sampai sekarang, dia juga masih butuh biaya untuk sekolah. Bahkan cita-citanya saja belum terwujud, apa jadinya jika itu semua gagal terwujud karena kendala biaya. Dia akan sangat menyesali itu.
"Apa gue nunggu Maru di depan rumah aja? Secara kan tujuannya pulang. Ah, itu lebih baik daripada gue harus buang-buang bensin," tanya Magen pada dirinya sendiri yang tentu saja tidak akan ada yang membalas pertanyaan itu. Magen mengganti pakaian berwarna hitam semua. Juga tidak lupa memakai topeng. Seusai merasa semuanya lengkap, kini Magen bergegas menuju gudang rumah. Di sana lah Mamanya menyimpan berbagai obat bius dan juga perlengkapan lainnya.
Magen yang berpakaian serba hitam itu sekarang membawa obat bius di tangannya. Dia melangkahkan kakinya selebar mungkin untuk segera sampai di depan rumah. "Sembunyi di mana, ya, gue? Hmm..., di balik pohon mangga aja, deh."
Satu jam berlalu. Namun masih tidak ada tanda-tanda bila Maru pulang ke rumah. Magen yang sekarang masih di bawah pohon mangga bingung sendiri. Dia tak ingin diomeli Mamanya jika Mamanya tahu hal ini. Maka dari itu, Magen berpikir sebentar. Suara jangkrik pun mulai membisingi telinga Magen. Dia akhirnya memilih untuk mencari Maru dengan motor saja supaya lebih cepat. Tapi, lagi dan lagi dia ragu. Jika menggunakan motor, pasti akan susah untuk membawa Maru ke rumah lamanya. Nanti yang ada Maru perlu diikat dengan dirinya. Ah jangan sampai. Sedetik kemudian, Magen memilih untuk memakai mobil saja. Meskipun lama yang penting bisa membawa Maru dengan mudah jika Maru sudah terkena bius olehnya.
Mobil berwarna merah mengkilap itu keluar dari garasi rumah keluarga Muzan. Magen masih memakai baju serba hitam. Dia lupa untuk menggantinya kembali. Beruntung saja warna mobilnya tidak hitam juga. Jika sampai iya, nanti orang kira dia adalah penjahat.
Magen mengendarai mobilnya mengelilingi jalan arah rumahnya ke Kafe Sendy Buana. Akan tetapi, dia masih belum menemukan sosok Maru. Padahal dia sudah menjalankan mobilnya sepelan mungkin. Mobil merah itu memasuki halaman Kafe Sendy Buana. Magen ingin mengecek kembali. Apakah Maru benar-benar sudah pulang atau belum. Dia masuk ke kafe sembari mencari Maru di segala sisi sudut kafe. "Maaf, Mas. Dari tadi saya lihat Mas sedang mencari sesuatu. Apa perlu saya bantu?" tawar salah satu pelayan wanita berkulit sawo matang.
Magen diam sejenak. Dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Oh itu, saya lagi nyari adik saya, Mbak. Namanya Maru, orangnya pendek, segini lah kira-kiranya." Magen memberitahu pelayan itu dengan menyamakan tinggi Maru dan telinganya. "Dia itu rambutnya panjang, warnanya hitam. Punya tahi lalat di tangan kirinya. Mbak tahu nggak?"
"Sepertinya saya tadi lihat, Mas. Tapi dia sudah pulang sejam yang lalu. Ya sudah, saya permisi dulu. Mari," pamit pelayan itu ramah.
Ternyata memang benar jika Maru sudah pulang sejak tadi. Tapi, mengapa dia belum sampai di rumah juga?
Pergi ke mana kah dia?
Atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya.
Pikiran buruk kembali melayang-layang di otak Magen. Daripada memikirkan hal-hal yang buruk, dia memutuskan untuk kembali mencari Maru lagi. Meskipun tujuannya untuk menculik Maru, tetapi keadaannya juga dia khawatirkan sekarang. Dengan cepat Magen berlari keluar kafe. Masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba bensin Magen tinggal sedikit. Dia membelokkan mobilnya ke POM bensin terdekat. Beruntungnya, dia membawa uang kali ini.
Seusai mengisi bensin, Magen menghentikan mobilnya sebentar di halaman POM bensin. Dia keluar dari dalam mobil dan duduk di bagian depan mobil. Dia mengeluarkan ponselnya seraya menelepon Maru. Sudah beberapa kali dia menelepon tetapi ponsel Maru sedang tidak aktif. Pasrah. Magen menghela napasnya lantas turun dari tempat duduknya. Ketika dia ingin pergi, dia menemukan sosok yang tidak asing lagi. Tanpa berpikir panjang, Magen menghampiri sosok itu.
"Lo Megi, kan?" tanyanya langsung sambil menunjuk sosok itu dengan jari telunjuknya. "Temannya Maru, kan?" tambahnya lagi. Padahal pertanyaan sebelumnya belum dijawab. Tetapi dia sudah membondongnya dengan pertanyaan lagi.
Sosok itu mengangguk. Dia meminggirkan motornya. Magen pun mengikutinya. "Eh, gue mau nanya sama lo."
"Nanya apa?" Megi menoleh. Dia masih ingat betul jika cowok yang berada di depannya ini adalah kakak tirinya Maru.
Magen memajukan tubuhnya dua langkah. "Lo lihat Maru, nggak? Sejak sore tadi dia belum pulang juga."
"Nggak," jawabnya cepat tanpa berpikir.
Megi memutar bola mata jengah. Kalau gue bilang nggak ya berarti gue nggak tahu. Maksa amat jadi orang! Batinnya kesal sendiri. "Lo pikir gue pikun? Sampai lupa gue ketemu sama siapa aja hari ini?"
"Ya elaaahh. Baper banget, sih, lo. Gue kan cuma nyuruh lo buat ingat-ingat lagi. Bukan ngatain lo pikun," ralatnya. Namun, Megi tidak peduli lagi dengannya. Orang kenal saja tidak. Apa gunanya peduli? "Oke, udah gue ingat-ingat. Tapi emang nggak tahu."
"Ingat-ingat apaan?" Magen mengernyit. "Mana ada orang ingat-ingat itu sebentar. Paling nggak ya lama." Lanjutnya.
Megi mengangkat satu alisnya. "Dih! Lo apa-apaan sih. Suka-suka gue dong mau ngingetnya berapa lama. Udah selesai, kan? Lo bisa pergi." Megi mengusirnya secara halus.
"Lo bisa serius sebentar nggak, sih?"
"Bisa."
"Ya udah. Gue nanya lo baik-baik. Lo beneran nggak tahu Maru ada di mana? Ini udah malam tapi dia belum ada di rumah," jelas Magen khawatir.
Megi yang jengah sendiri tampak tidak mendengarkan ucapan Magen sejelas mungkin. "Ya terus apa urusannya sama gue?"
"Lo kan temannya. Siapa tahu aja lo punya info gitu Maru ada di mana."
Lah, memang Maru ke mana? Hilang apa gimana? Megi bertanya di dalam hatinya. Dia membulatkan mata. Baru tersadar jika sedari tadi yang mereka bahas adalah keberadaan Maru.
"Maru hilang?" tanya Megi dengan polosnya. Magen rasanya ingin mencabik-cabik orang yang kini ada di depannya. Sudah diajak berbicara sedari tadi, tetapi dia belum paham juga. Magen membatinnya gergetan. Ini anak otaknya di mana sih? Di dengkul bukan?
"Makanya orang kalau lagi ngomong itu didengerin betul-betul. Capek gue ngomong sama lo," keluh Magen sambil mengelap keringatnya. Bukannya merasa bersalah, Megi malah terkekeh namun pura-pura. Dia ingin terlihat tidak peduli di depan Magen. Walaupun sebenarnya, sekarang dia juga khawatir dengan Maru. "Lagian gue juga nggak nyuruh lo ngomong sama gue." Setelah mengatakan itu, Megi kembali menaiki motornya.
"ASTAGA!!" teriak Magen frustasi. Melihat Megi mengabaikannya dan pergi meninggalkannya, dia kembali berteriak. "Eh, lo mau ke mana?! Woii!!"
Magen menepuk jidatnya pelan. "Buang-buang waktu aja gue. Dari tadi ngomong sama orang gila."
***
Megi menghentikan motornya di pinggir jalan. Mengetahui Maru hilang, kini rasanya dia cemas. Hatinya tidak tenang. Entah mengapa, dia khawatir dengan keadaan Maru. Padahal, itu sudah bukan urusannya lagi. "Sumpah dah! Ini kenapa perasaan gue nggak enak gini ya? Apa-apaan coba tuh badut satu. Pakai nanyain Maru ke gue. Memang dia pikir gue ini emaknya apa?"
Tangannya mengelap wajahnya. "Aisshh! Kenapa perasaan gue nggak tenang, sih! Kenapa coba gue khawatir segala sama Maru?" tanyanya pada diri sendiri. "Tapi..., kalau dia kenapa-napa gimana? Dia kan nggak bisa bela diri. Duh! Pusingnyaaaa. Apa gue cari dia aja ya? Daripada gue nggak tenang gini. Nanti yang ada gue malah keriputan."
Udara malam yang dingin, membuat tulang-tulang Megi sedikit tertusuk. Malam ini berbeda dari malam lainnya, dingin. Hal ini semakin membuat Megi merasa cemas. Dia memakai helm-nya kembali. Lantas menghidupkan mesin motornya. Tidak peduli jika besok dia sakit gara-gara kedinginanan. Yang penting, Maru harus ketemu malam ini juga. Hawanya sedang tidak baik jika Maru berada di luar. Apalagi jika dia tidak memakai jaket.
Sudah beberapa kali ponsel Megi berdering, tetapi tidak dia angkat satu panggilan pun. Karena dia tahu, yang akan meneleponnya sampai berkali-kali seperti ini adalah Mozha. Tidak ada orang lain yang hobi menganggunya setiap hari selain Mozha. Padahal, menjadi anak kedokteran itu seharusnya serius dan hanya fokus pada tugasnya. Namun, Kakaknya yang satu ini malah terlihat biasa saja. Seperti tak ada beban sama sekali. Terkadang, Megi juga dibuat keheranan olehnya.
Pukul 00.00 WIB, tetapi Megi masih setia mengelilingi kota Jakarta yang luasnya tidak bisa dihitung dengan tangan. Megi menepi sejenak. Meskipun kebanyakan cowok itu kuat fisik, namun tidak selamanya kuat. Seperti sekarang saja, Megi kedinginan. Dia tidak membawa jaketnya yang tebal. Melainkan jaket kain yang tipis. Dia juga tidak memakai sepatu. Yang dia pakai sekarang adalah sandal merk swallow. Kebiasaannya jika keluar rumah hanya sekadar untuk mengisi bensin memang begitu. Memakai sesuatu yang seadanya. Mungkin, jika tadi Mozha tidak menyuruhnya memakai jaket dia juga pasti hanya akan memakai kaus oblong saja. Jika dibilang orang kaya, dia memang orang kaya. Akan tetapi cara berpenampilannya tidak menunjukkan jika dia itu anak orang kaya.
Sembari beristirahat, Megi juga melihat ponselnya. Membuka notifikasi yang masuk. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Eh, buseett. Nggak capek apa tuh anak. Nyepam gue sebanyak ini. Pakai telepon juga lagi." Siapa lagi jika bukan Mozha yang melakukan itu.
"Udah tengah malam ternyata. Apa gue pulang aja, ya? Besok gue cari lagi."
"Iya, deh. Gitu aja. Daripada nanti Mozha ngamuk lagi. Bisa kurus gue lama-lama kalau diomelin."
Megi kembali memakai helm. Lantas dinyalakan mesin motornya. Dia menoleh ke belakang sejenak. Lalu melajukan motornya dengan kecepatan tidak normal. Meskipun tujuannya pulang, tetapi dia sambil mencari Maru. Dia menatap jalanan yang sepi itu sembari berucap. "Ru, gue harap lo baik-baik aja."
Ponsel Megi langsung bergetar. Membuatnya menghela napas kasar.
"Cewek ini lagi."