Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 13 :: FAKTA HITAM PUTIH



"Namanya juga penyesalan, pasti datangnya selalu di akhir. Kalau datangnya di awal, itu namanya pendaftaran." -Mategrass Radityaka.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam, matahari mulai kembali bersembunyi. Sinarnya yang terang menderang mulai meredup seketika. Maru yang kini berada di bangku dekat gerbang sekolah sibuk membuka tutup catatannya. Dia belum paham betul tentang BAB yang semalam telah Mate jelaskan. Masih ada beberapa bagian yang belum dimengerti. Sejak beberapa jam yang lalu dia sibuk mengutak-atik soal Matematika yang terdapat di buku paket. Dia berharap bisa menjawab dengan benar. Akan tetapi, sampai sekarang pun dia belum bisa menyelesaikan satu soal dengan benar. Sungguh, rendahnya kualitas otak Maru di bidang Matematika. Harus beberapa kali menjelaskan kepadanya, barulah dia mengerti. Jika hanya menjelaskan sekali saja belum tentu bertahan lama di otaknya. Rata-rata kepintarannya memang sedang.


Memang tidak heran jika terkadang Maru itu frustasi sendiri dengan nilai hasil ulangan Matematika. Beruntungnya, nilai ujiannya tidak terlalu buruk. Ya jelas saja tidak buruk, setiap ujian Matematika saja teman-temannya sangat berbaik hati untuk memberikan jawaban secara percuma. Salah satunya adalah Morin. Namun, itu pun belum tentu Morinnya ikhlas. Karena teman-teman sekelasnya sering menyindir yang ini itu. Bisa jadi karena sindiran itulah teman-temannya yang pintar mau berbagi jawaban secara percuma tanpa meminta imbalan lain. Mau bagaimana pun perasaan mereka yang pintar, Maru tidak terlalu memperdulikan. Yang penting nilainya tidak buruk. Itulah yang ia butuhkan sekarang untuk tetap berada di zona aman.


Berulang kali Maru mengecek jam tangannya. Tampaknya, waktu berlalu dengan cepat. Tidak disangka sekarang sudah mulai malam. Namun, Mate belum juga menghampirinya. Apa latihannya belum selesai? Tapi tidak masalah juga jika Mate belum selesai latihan. Lagipula Maru juga masih ingin mencoba mengerjakan soal kembali. Meskipun otaknya kini merasa pusing, namun hatinya kekeh untuk bisa menjawab satu saja pertanyaan dengan benar. Di buku paket, setiap soalnya memiliki kunci jawaban beserta caranya di bagian belakang buku. Guru di sekolahnya memang sengaja memberikan semua itu agar dapat dipelajari oleh murid-muridnya. Namun, berbeda lagi fungsinya jika yang memakai anak-anak nakal. Mereka malah mempergunakannya untuk menyontek.


"Kali-kali pulang malam nggak apa kali, ya? Toh, gue juga nggak main." Maru berbicara sendiri pada dirinya. Sembari menunggu Mate. Setiap pulang sekolah, Mate memang latihan basket dahulu. Dia tidak pernah absen tidak latihan. Padahal pelatih basket sekolah tidak mengharuskan anak didik basketnya untuk latihan setiap hari. Tapi, melihat Mate yang rajin latihan, pelatih basket sempat menawarinya untuk menjadi ketua tim basket sekolah. Namun, Mate menolaknya mentah-mentah. Padahal jarang sekali orang lain mendapat tawaran seperti itu karena pelatih basket terkenal pendiam soal ketua. Tahu-tahu langsung diperkenalkan begitu saja. Pelatih memang sengaja menyeleksi anak didik basketnya secara diam-diam untuk mengetahui mana yang benar-benar serius dan bukan.


Tak lama, Mate datang menghampirinya sembari memberikan sebotol air mineral kepada Maru.


"Ini buat aku?" tanya Maru polos. Karena yang ada di sana adalah Mate dan Maru. Tidak ada orang lain selain mereka. Jelas sudah jika air itu Mate berikan kepada Maru. Tetapi, Mate hanya membalasnya dengan anggukan. Maru langsung menerima botol air mineral itu. Tanpa menunggu Mate menyuruh untuk meminumnya, ia sudah lebih dulu membuka tutup botolnya dan diminum. "Mate, nanti kita belajarnya di kafe aja, ya? Soalnya aku laper. Sekalian kita makan. Aku udah bawa baju ganti kok. Boleh kan aku mandi di rumah kamu?"


Tidak ada alasan yang mampu membuat Mate untuk berkata tidak. "Iya, terserah kamu. Ayo, bentar lagi malam."


Senyuman seketika mengembang di wajah Maru. Dia bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan bersama Mate menuju ke parkiran. Entah kenapa, meskipun Mate aneh jika tiba-tiba bersikap baik kepadanya. Namun, dia juga senang. Ah, tetap saja Maru selalu kepikiran perkataan Morin tadi siang. Setiap bersama Mate, perkataan Morin selalu melayang-layang di pikirannya. Walaupun sebenarnya itu sangat mengganggu.


Menuju ke rumah Mate tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena dengan waktu lima belas menit saja keduanya sudah sampai di rumah Mate dengan selamat. Maru berdiri di depan rumah Mate sembari menunggu Mate yang sedang memakirkan motornya di samping rumah Meta. Oh iya, hari ini Meta tidak terlihat semenjak kejadian tadi pagi. Meta seperti ditelan bumi saja. Padahal, biasanya Meta selalu muncul di hadapan Maru berulang kali hingga gadis itu merasa jengah sendiri. Tapi, ada untungnya juga jika Meta tidak memunculkan diri. Ia jadi memiliki banyak waktu untuk bersama Mate. Jarang-jarang seharian penuh Maru ditemani oleh Mate. "Ayo, masuk!" ajak Mate sambil menarik lengan Maru.


Ketika berada di dalam rumah Mate, Maru langsung disambut hangat oleh Mamanya Mate. Dia bahkan sampai memeluk Maru karena lama tak bertemu.


"Ya ampun, Maru. Lama nggak ketemu kamu makin cantik aja, ya? Tumben kalian berdua barengan," celutuk Mamanya Mate. Sebenarnya, Mate tidak pernah mengajak Maru ke rumahnya. Akan tetapi, Maru sendiri yang berinisiatif untuk datang ke rumah Mate. Maka dari itu, Mamanya Mate sendiri sampai heran jika Mate memang benar-benar menyukai Maru. Sikapnya saja tidak menunjukkan bahwa Mate menyukainya. "Tante bisa aja," jawab Maru, terkekeh.


Mate menoleh. "Memang kalau bareng nggak boleh?" tanyanya.


Sontak saja Mamanya itu menggeleng. "Ya boleh dong. Harus malah. Kalian berdua kan pacaran udah lama. Masa nggak pernah ngedate, sih? Dicoba dong sekali-kali. Apa perlu Mama yang menyiapkan semuanya?"


"Ah, Tante. Bikin aku malu aja," ujar Maru sambil menyelipkan anak rambutnya ke telinga. "Loh, kenapa malu? Kalau nggak gini, Mate nggak bakal peka, Ru. Masa udah pacaran lama tapi nggak pernah ngedate. Malu dong sama Tante dulu. Baru pacaran seminggu aja udah ngedate tiga kali. Tante aja sampai bingung sendiri. Mate itu keturunannya siapa. Orang Tante sama Om aja nih hobi banget ngedate. Tapi punya anak kok malah kaku begini."


"Siap-siap, Ru. Habis ini kita ngedate sambil belajar," tutur Mate akhirnya. Dia menghela napas lantas pergi ke kamarnya. Meninggalkan Maru dengan Mamanya yang asyik menyindirnya.


Maru yang mendengar ucapan Mate langsung tersentak. Dia melirik Mamanya Mate. "Memang bisa ya, Tan, begitu? Kok aku nggak pernah dengar, ya?"


"Hahaha, kamu mah jangan percaya begitu aja. Ngomongnya ngedate sambil belajar. Ujung-ujungnya malah ngedate doang. Ya sudah, kamu siap-siap gih. Pakai kamar mandi Tante aja biar cepat." Mamanya Mate mengelus rambut Maru seraya ikut pergi.


***


"----jadi begitu caranya. Kamu paham? Kalau kamu belum paham, aku punya catatan ringkasan. Kamu bisa pelajari lagi nanti di rumah," ucap Mate sembari menyodorkan buku catatan ringkasan itu kepada Maru.


"Mate, udahan dulu ya? Aku pusing nih," keluh Maru sambil memegang kepalanya. Setelah sampai di kafe, keduanya langsung makan. Yang tidak Maru duga adalah Mate langsung mengeluarkan banyak buku begitu saja. Padahal, Maru berpikir bahwa mereka akan istirahat sebentar. Ternyata malah tidak. "Ya udah, minum dulu."


Maru mengangguk.


Maru melihat keadaan di sekitarnya. Dia ingin meringankan otaknya sejenak. Setelah berjam-jam belajar, tubuhnya sangat lemas sekarang. Kebanyakan pikiran itu memang tidak baik. Makanya, sekarang dia sedikit lelah. Jika saja dia menggerak-gerakkan tubuhnya, pasti akan terdengar suara kretek-kretek.


Saat Maru melihat ke arah kiri, matanya membulat lebar-lebar. Dia melihat Mama tirinya ada di sini dengan teman-temannya. Mereka terlihat sedang bercanda gurau. Tapi, mata Maru memicing ke satu bagian. Yaitu di samping bangku Mama tirinya. Terdapat sebuah koper besar. Itu adalah koper yang pernah Mama tirinya bawa dan akan dia kembalikan ke temannya. Lalu, mengapa koper itu ada di Mama tirinya lagi?


Kini, satu pertanyaan muncul di benak Maru. Apa yang Mama tirinya lakukan di sini?


Sejenak, pandangan Maru masih memperhatikan Mama tirinya. Dia curiga dengan apa yang akan Mama tirinya itu lakukan. Saat itu pula, Mama tirinya menyeret koper yang semula ada di sampingnya. Dia membuka koper itu seraya mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya. Ada baju, perhiasan, gelang jam, dan juga ada sepatu. Tapi, itu adalah baju Ayahnya zaman dulu yang memang masih bagus keadaannya. Perhiasan itu pun jika Maru tidak salah ingat, itu milik Ayahnya. Hampir semua barang yang Mama tirinya bawa adalah barang-barang milik Ayahnya.


"Ini nih, Jeng. Gelang jam antik. Masih bagus pula. Kalau kalian beli, aku bisa ikut arisan setiap hari. Kalian kan tahu, jatah bulananku nggak cukup buat bayar arisan. Habis percuma buat makan doang," keluh Mama tirinya lumayan nyaring hingga Maru mampu mendengarnya. "Lagian ya, ini itu produk asli bukan KW. Belinya di luar negeri tahu. Untung dong kalian, kan aku jualnya murah."


Arisan? Bukannya Ayah melarang itu, ya? Wah, benar-benar nih Mama tiri!


Maru refleks berdiri hingga membuat Mate sedikit terkejut. Dia bergegas menghampiri Mama tirinya itu. Sedangkan Mate, dia mengikuti Maru dari belakang. Dia hanya takut jika Maru melakukan hal-hal yang aneh. Apalagi dia berdiri dengan raut muka yang sedang menahan amarah.


"Jadi ini kelakuan Tante di luar rumah?!" Maru langsung meluncurkan pertanyaan itu dengan keras, hampir seperti berteriak.


Mama tirinya itu terkejut bukan main. "K-kok k-kamu b-bisa ada di sini?" pertanyaan itu bersuara gugup.


"Halah! Mau ngeles apaan lagi, sih?! Aku nggak keberatan kalau Tante jualan. Tapi, nggak barang Ayah juga yang dijualin. Dari awal aku memang udah curiga sama Tante. Bisa-bisanya, baru beberapa hari menikah Tante udah morotin harta Ayah aja!" Maru mengeluarkan unek-uneknya.


"Apa yang kamu lihat itu salah, Sayang." Mama tirinya masih mengalihkan. Namanya juga orang salah, susah untuk langsung mengaku. Maru sudah menaikkan tangannya, hampir saja dia menampar pipi Mama tirinya itu. Namun, tangannya dipegang erat oleh Mate. Sejenak ia menoleh, "kamu apa-apaan, sih? Jangan bikin aku tambah marah, ya!"


Mate menatap mata Maru. "Kalau mau marah nggak pakai nampar juga kali. Jangan terlalu mengikuti amarah. Nggak baik. Nanti rugi di kamu sendiri. Lebih baik kita pulang sekarang!"


"Aku nggak mau pulang! Aku mau dia cerai sama Ayah!" Maru menunjuk spontan kepada Mama tirinya yang kini mulai meneteskan air mata buaya. Melihat itu, Maru ingin muntah saja.


"Mama nggak melakukan kesalahan kok. Kenapa Mama harus cerai? Maru, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Apa yang kamu lihat, kamu dengar, belum tentu itu benar, Sayang." Mestha---Mama tirinya itu mengelak lagi. Membuat Maru semakin gerang dengan tingkahnya. Jika bukan karena Mate menahannya, pasti Mama tirinya itu sudah babak belur olehnya. "Tante pikir aku tuli? Aku buta? Sampai apa yang aku ketahui sekarang itu salah! Justru anda yang salah, Nyonya Mestha!"


Maru membalikkan badannya. Sudah cukup dia membentak Mama tirinya. Tidak ada lagi yang perlu dia ketahui. "Mate, ayo pulang!"


Mate hanya mengangguk. Lantas keduanya pergi menuju meja mereka sembari membereskan barang-barang dan segera pergi dari kafe.


Di sisi lain, Mestha yang tengah menangis pura-pura itu membatin. Bahaya! Maru udah tahu semuanya. Kalau dia sampai bilang ke Mas Muzan, semuanya akan selesai hari ini. Apa-apaan? Bahkan aku belum melakukan apapun. Nggak, ini nggak boleh terjadi. Aku harus cegah dia. Aku nggak punya banyak waktu. Ayo, Mestha! Matikan dia sekarang.


***


Di pinggir jalan, Maru menangis. Dia salah telah membiarkan Ayahnya menikahi Mestha yang notabene-nya memang wanita tidak benar. Seharusnya dia dulu teguh untuk mencegah pernikahan ini, bukan malah membiarkannya. Wanita itu hanya memanfaatkan Ayahnya. Dia sangat licik. Beruntungnya, baru beberapa hari menikah, Maru sudah mengetahui semuanya. "Ru, udah, nggak usah nangis. Nggak ada gunanya kamu nangisin dia. Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Bicarakan masalah ini sama Ayah kamu besok. Ayo, aku antar pulang." Mate tersenyum, sengaja. Supaya Maru menuruti permintaannya.


"Aku nggak nangisin wanita itu, Mate. Aku nangisin diri aku sendiri. Coba aja kalau dulu aku nggak nyerah buat nyegah pernikahan ini. Pasti semua ini nggak akan terjadi. Aku nyesel sekarang," Maru menyenderkan kepalanya di bahu Mate yang kini berdiri di sampingnya. Namun, Mate malah terkekeh. Lantas berucap. "Namanya juga penyesalan, datangnya di akhir. Kalau di depan namanya pendaftaran."


Sepertinya, niat Mate ingin menghibur. Tetapi, dia belum mampu untuk membuat Maru tertawa. Bahkan, seorang Mate yang kaku tidak cocok jika dia harus bercanda seperti ini. Tapi, demi menghormati sikap Mate yang baik kepadanya, Maru membalasnya dengan senyuman.


"Ayo, aku antar pulang."


Maru menggangguk seperti binatang peliharaan yang menuruti kemauan tuannya. "Mate," panggilnya lirih.


"Ya?"


"Aku nggak pulang ke rumah Ayah."


"Terus?"


"Ke rumah Mama kandung aku aja. Ayo, nanti aku kasih tahu arahnya."


Keduanya mulai naik motor dan menuju ke tempat yang Maru inginkan. Jika itu membuat Maru bahagia, Mate ikhlas mengantarkannya. Ini untuk yang terakhir kalinya.