Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 21 :: MENGIKIS LUKA



"Lebih baik tanpa perasaan tapi di zona nyaman. Daripada dengan perasaan tapi di zona tak aman." -Marutere Althea.


Berminggu-minggu para murid menjalani masa liburan semester, sekarang mereka harus kembali lagi ke sekolah. Banyak yang sengaja datang terlambat hari ini. Bukan karena tidak ada kegiatan pembelajaran, melainkan karena mereka malas menunggu waktu pulang. Biasanya, pada hari pertama seperti ini akan ada pembagian kelas baru. Catatannya akan ditempelkan di mading sekolah.


Maru yang baru saja tiba di lorong sekolah langsung ditarik kedua sahabatnya menuju ke mading. Setibanya di sana, Maru langsung mencari namanya berada. Begitupun dengan Magis dan Morin yang sejak tadi belum mendapat tempat untuk membaca pembagian kelas karena banyak yang berkerumun di sini. Bahkan aksi dorong mendorong pun sampai terjadi.


Kelas 12 IPS 2



Marutere Althea


Megizal Steven



Betapa terkejutnya Maru saat membaca namanya yang terletak begitu dekat dengan nama Megi. Beberapa kali Maru mengucek matanya. Berusaha memastikan dengan apa yang dia lihat. Namun, tulisan yang dia lihat tidak berubah. Masih sama. Iya, Maru berada dalam satu kelas dengan Megi. Sebentar, setelah Maru menjelajahi satu persatu nama di bagian kelas XII IPS 2, akhirnya nama Morin telah dia temukan di bagian bawah. Nama Magis pun juga berada tepat di nama Maldi. Bisa dibilang, Megi dan sekawanannya sekelas dengan Maru sekawanannya.


Cukup rumit, akan tetapi Maru senang.


Magis mendorong tubuh Maru untuk menggeser tubuhnya. Memberi Magis ruang untuk membaca apa yang telah Maru tunjuk dengan jarinya tadi. "Demi apa kita sekelas sama itu anak?!" Magis bertanya dengan menaikkan satu nada oktafnya. Lebih tepatnya dia berteriak sekarang. Membuat telinga teman-temannya harus ditutup dengan kedua tangan mereka jika masih menginginkan pendengaran yang normal. "Nggak apa-apa sama mereka, yang penting kita sekelas, kan?" Kini, Maru balik bertanya yang hendak Magis tolak tetapi tidak jadi karena dia menemukan nama Mesky di bawah nama Megi. Betapa senangnya dia bisa satu kelas dengan kekasihnya itu.


Maru langsung memeluk dua sahabatnya itu. "Nggak nyangka kita sekelas lagi, guys!"


"Gue juga, terhura jadinyaaa," Magis ikut heboh. Sementara Morin hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Detik kemudian, Morin mengumpat. "Sial."


Ucapan terakhir Morin membuat Magis dan Maru saling berpandangan. Keduanya sama-sama tak mengerti maksud perkataan Morin. Dulu, Morin juga sempat berkata kasar. Padahal tidak sedang apa-apa. Hal itu semakin membuat Magis dan Maru merasa ada yang aneh dengan Morin. Sahabatnya itu suka tiba-tiba mengatakan satu kata.


Magis mengernyit. "Lo nggak senang kita sekelas lagi? Bilang hore kek. Jangan bilang sial. Serasa kita ini beban lo aja," gerutunya langsung.


"Bukan itu maksud gue," Morin meralat ucapannya. Dia juga tidak sadar saat dia mengatakan hal sedemikian rupa. Selalu saja dia sadarnya belakangan setelah Magis dan Maru menatapnya heran.


"Ru, lo sebangku sama gue, ya?" tawar Magis, lebih tepatnya memaksa. Sebenarnya, Maru tidak ingin memiliki bangku salah satu dari mereka. Nanti takut ada yang merasa tersinggung. Walaupun Morin tak pernah menggerutu, akan tetapi tak ada yang tahu bila dia kesal atau tidak. Berbeda dengan Magis. Kalau dia kesal, dia selalu berceloteh hingga permintaannya itu dikabulkan. Persis seperti anak kecil. "Hm, kalian berdua sebangku aja, deh. Gue mah gampang sama siapa aja. Yang penting kalian duduknya di depan atau di belakang gue. Terserah," ucap Maru memutuskan.


Magis menghela napas berat, kesabarannya diuji kembali. Padahal tadi dia sudah yakin jika Maru akan menerima tawarannya itu. "Kenapa sih kalau gue sebangku sama lo? Nyusahin apa gimana?" tanyanya mulai lelah.


"Bukan begi----" pembicaraan Magis dan Maru terpotong karena suara bel sekolah yang cukup nyaring. Maru melihat gelang jamnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Dia lantas menarik lengan Magis dan Morin bersamaan. "Ayo, nanti kalau Bu Mai lihat bisa gawat!" serunya.


"Bu Mai lagi, Bu Mai lagi. Kapan sih itu guru pensiun. Bikin ribet aja," cecar Magis sambil berjalan. Kedua sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Sesampainya di kelas XII IPS 2, Magis langsung menarik lengan Maru untuk duduk sebangku dengannya. Namun, Maru tidak bisa menolak karena Morin mengiakan saja. Mereka duduk di bangku tengah nomor dua dari depan. Sementara Morin duduk di depan mereka bersama Marsha yang dulunya kelas IPS 2. Kelihatannya, Marsha dan Morin juga lumayan akrab. Apalagi Marsha adalah anak OSIS, dia dapat dengan mudah untuk mengenal seseorang. Setahu Maru, Marsha dan Morin pernah menjadi partner lomba Karya Ilmiah Remaja di tingkat Nasional. Jadi, tidak asing lagi jika dua remaja itu sebangku.


Megi dan sekawanannya baru saja masuk kelas dengan digiring oleh Bu Mai. Guru itu menjabat sebagai guru BK sekaligus walikelas XII IPS 2. Maka dari itu, jangan heran jika Megi sekawanannya masuk di kelas ini. Selain mempermudah untuk mengawasi tingkah mereka, Bu Mai juga akan lebih mudah untuk menegurnya. Meskipun menceramahi Megi dan sekawanannya sudah menjadi kebiasaan Bu Mai, akan tetapi beliau tidak pernah bosan untuk melakukannya berulang kali sampai Megi dan sekawanannya lulus dari SMA Galaska. "Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Mai.


"Pagi Buuu!" seru seantero kelas berjamaah seperti paduan suara.


Megi dan sekawanannya berdiri di samping Bu Mai. Bukan karena malas untuk duduk, melainkan Bu Mai yang memintanya. "Oke, Ibu tidak akan menceramahi kalian pagi-pagi seperti ini. Apalagi ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah. Jadi, sekarang Ibu akan mengacak posisi duduk kalian. Di kelas ini, Ibu melarang keras kalian berpindah tempat duduk. Jika Ibu sudah mengatur A sama B, ya sudah A duduk sama B. Jangan pindah-pindah. Kalau ada yang pindah tempat, Ibu akan mendenda seratus ribu."


"Eh buseett. Itu denda apa pungli, Bu?" tanya Megi memasang wajah sok kaget. Dia mengusap dadanya berulang kali. Sebaliknya, Bu Mai malah memberikan tatapan tajam. "Uang itu akan Ibu masukkan ke kas kalian," jelas Bu Mai.


Magis mengangkat satu tangannya ke atas. "Iya, Magis. Kamu mau bertanya apa?"


"Kenapa harus Ibu acak tempat duduknya? Kan enakan pilih sendiri, Bu." Magis cemberut setelah mengatakan itu. Dia hanya takut bila nanti Bu Mai menempatkannya dengan siswa atau siswi yang pendiam. Istilahnya seperti Morin. Susah untuk diajak berbicara jika sudah dijelaskan oleh guru.


Bu Mai duduk di tempatnya. "Jika tidak begitu, nanti kalian bakal ramai kayak di pasar. Apalagi kalian sudah kelas duabelas. Waktunya belajar dengan serius. Jangan main hape melulu," jawabnya sambil melirik Megi sekilas. Salah satu murid yang hobi memainkan ponsel saat kegiatan pembelajaran berlangsung adalah Megi. Beruntungnya, teman Megi yang lainnya tidak ikut-ikutan melakukan itu. Sudah beberapa kali ponsel Megi disita, dibakar, dibuang, dipecahkan, diinjak Bu Mai sampai rusak, bahkan hingga mendapat denda sekalipun tidak membuat Megi menghentikan aksinya itu. Setiap dia ketahuan sedang bermain ponsel, esok paginya dia sudah memiliki ponsel baru. Entah sudah berapa juta uang yang kini orangtua Megi keluarkan untuk membelikan anaknya ponsel.


Megi menyenderkan tubuhnya di tembok. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Namanya juga anak IPS, Bu. Ya wajar dong berisik. Kalau Ibu pengin yang nggak berisik ya pindah jadi wali kelas anak IPA aja. Saya jamin Ibu bakal tenang di sana," ujar Megi sambil memunculkan deretan gigi putihnya itu.


Merasa serba salah, Megi menggaruk rambutnya sambil menyengir. "Ah, Ibu nih. Apa-apa emosi kalau sama saya. Coba deh, Bu, sekali-kali sayang gitu sama saya."


"Sayang pala kamu peyang?!" Bu Mai mengetuk-ngetuk meja dengan spidol. "Kalau kamu mau disayang guru itu ya ubah kenakalan kamu, Mas. Jadi murid yang rapi, rajin belajar, penurut, bukan yang begajulan begini."


Megi malah tertawa lebar. Tak ada perasaan bersalah yang menyelimuti wajahnya. Jangan tanya dia sedang sehat atau tidak. Karena sesehat-sehatnya Megi, dia memang tidak waras. "Yaah, Ibu. Kalau saya nggak nakal, nanti ruang BK sepi. Nanti enak di Ibunya dong. Nggak ada kerjaan. Percuma kalau Ibu digaji tapi kerjanya duduk doang. Harusnya Ibu itu berterima kasih sama saya. Selama ini kan saya selalu membantu Ibu."


"Pandai berbicara kamu. Sudah, diam saja di sini!" Bu Mai menyudahi obrolan tidak pentingnya bersama Megi. Guru itu lantas kembali berdiri dan memukul meja di depannya dengan penggaris panjang yang selama ini selalu beliau pergunakan untuk menghukum murid nakal. Bu Mai menunjuk Megi dengan penggarisnya itu lalu dia menunjuk Magis yang duduk di samping Maru. "Kamu dan Magis gantian. Kamu sebangku dengan Maru," ucapnya singkat.


Magis mengangkat satu tangannya ke atas. "Kalau saya, Bu? Sama siapa?"


"Sama saya boleh nggak, Bu?" Mesky ikut mengangkat satu tangannya ke atas. Di ujung sana, Magis mengukir senyumnya. Berharap jika Bu Mai akan memperbolehkannya.


Bu Mai mengangguk. "Ya sudah, kalian duduk di depan Maru. Oh iya, Morin sebangku dengan Mars. Kalau Marsha dengan Maldi. Kalian berempat duduk di samping Megi dan Mesky. Jangan ada yang membantah."


Lalu, Bu Mai kembali mengacak bangku murid lainnya. Sementara Megi langsung beranjak dari depan menuju ke bangku Maru. "Hm, gue izin, ya?" ucap Megi sambil memegang ujung kursi. Pertanyaan yang Megi lontarkan membuat Maru mengernyit. "Nggak usah izin kali. Kan Bu Mai yang nyuruh," balasnya kikuk.


Megi hanya tersenyum. Lantas duduk di samping Maru. Walaupun sudah beberapa kali bertemu. Akan tetapi, mereka berdua masih sama-sama canggung untuk memulai pembicaraan.


"Istirahat nanti ke kantin bareng, yuk?"


Maru menoleh ke sumber suara. "Ngajak aku-eh, engg..., gue maksudnya." Segera Maru menepuk-nepuk bibirnya itu. Entah mengapa, sejak kemarin dua selalu saja memakai kata aku untuk membalas ucapan Megi. "Kalau lo nyaman pakai aku-kamu nggak apa-apa kok. Gue nggak masalah," tutur Megi sambil mengembangkan pipinya.


Di dalam hati, kini Maru sangat berbunga-bunga. Jantungnya pun mulai berdetak kencang. Entah karena malu atau karena sikap Megi kepadanya. Semenjak beberapa kali bertemu Megi tanpa sengaja, perasaannya kini menjadi naik turun. Bahkan dia sudah tidak memikirkan tentang Mate lagi. Kenyataannya memang begitu. Jika Mate maupun Meta sampai tahu kalau Maru memakai aku-kamu dengan Megi pasti akan muncul masalah besar. Meskipun Maru tahu jika Mate tidak akan cemburu, tetapi Meta bisa mengomporinya. "Lo nggak masalah. Tapi gue yang bermasalah. Lagian tadi gue nggak sengaja kok," Maru mengelak.


"Iya, iya, nggak usah serius gitu kenapa? Kayak mau akad nikah aja," cetusnya tanpa berpikir panjang. Maru yang mendengar itu langsung menatap Megi dalam-dalam. Cowok yang ada di sampingnya ini memang menyebalkan lama-lama.


***


Maru melewati koridor kelas bersama Megi. Dia ingin mengajak Megi untuk ke kantin bersama Mate juga. Karena itu, sekarang mereka berdua menuju ke kelas Mate. Rasanya, Maru ingin cepat-cepat untuk bertemu Mate. Liburan semester beberapa minggu lalu sempat menjadi kendala bagi Maru karena susah untuk menghubungi Mate. Hingga sekarang, perasaan rindu itu mulai membakar tubuhnya.


"MA...." Maru menggerem kakinya mendadak di ambang pintu kelas Mate. Hingga membuat cowok di sampingnya itu ikut berhenti. Kalimatnya terpotong ketika dia melihat Mate di kelasnya, tetapi tidak sendirian. Melainkan bersama Meta. Orang yang paling sering membuat Maru cemburu. Cowok itu sedang menemani Meta makan di bangkunya. Teriakan Maru yang terputus itu membuat Mate mengangkat kepalanya, menatap Maru yang datang bersama Megi. Lantas bangkit dari tempatnya. "Maru," ucapnya pelan, terkejut.


Maru mendecak sebal. Dia membalikkan badan lalu pergi dari sana. Di saat dia ingin mempertemukan Mate dengan Megi, cowok itu malah sedang asyik dengan cewek lain. Megi menggelengkan kepalanya heran dengan apa yang Mate lakukan. Sejahat-jahatnya Megi, dia tidak pernah bermesraan dengan gadis lain selain pacarnya sendiri. "Dasar rakus!" bentaknya lalu ikut pergi menyusul Maru.


Megi menarik lengan Maru dan langsung memeluk gadis itu.


"Kenapa, Meg? Kenapa? Udah beberapa kali gue digituin gue selalu diam. Tapi kenapa dia nggak sadar juga kalau gue ini cemburu?" keluhnya.


Tak lama, Mate dan Meta menyusul. Mate menarik tangan Maru hingga dia terpaksa harus melepaskan pelukan itu. "Jangan peluk dia! Aku nggak suka!" Mate membuka suara, marah.


"Kamu juga jangan berduaan sama dia!" protes Maru sambil menunjuk Meta. "Aku nggak berduaan. Tadi itu ramai," elak Mate.


"Udah, Ru. Ayo pergi!" ajak Megi menarik tangan Maru. Namun, Mate tidak melepaskan genggamannya. Dia malah semakin mempererat. "Lepasin dia!" perintah Megi.


"Nggak!"


"Gue bilang lepas, anjing!"


"Nggak!"


"Meta nggak direbutin juga?" tanya Meta nyengir, memotong pembicaraan.


"Nggak!" ucap Megi dan Mate kompak.