Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 17 :: MULUT PENGANCAM



"Aku memang takut, tapi aku tak kecut. Kamu boleh memiliki seribu cara untuk menghancurkanku. Namun, jangan salahkan aku jika tiba-tiba karma datang menghampirimu." -Marutere Althea.


Maru masih belum yakin jika dia harus pulang sekarang. Bukan tanpa alasan, sampai sekarang pun Ayahnya masih tidak bisa dihubungi. Iya, jika di rumah. Kalau tidak bagaimana? Apa perlu nanti dia pulang dengan mengajak Mate untuk menemaninya. Siapa tahu saja Mama tirinya itu akan kembali berulah. Secara kan rahasia terbesarnya sudah dia ketahui. Makanya, tidak mungkin jika Mama tirinya itu tetap diam.


Bukannya ingin bernegatif pikirannya, tetapi jika dia diharuskan berurusan dengan Mestha memang selalu begitu. Dari awal dia kenal sampai menjadi Mama tiri pun tetap tidak bisa untuk berpikir positif. Apalagi raut muka Mestha dengan sendirinya menunjukkan juga sikap buruknya. Memang tidak sejelas itu, akan tetapi untuk Maru itu sangat jelas. Berbeda lagi jika untuk Ayahnya yang memang tidak percaya dengan ucapan Maru terkecuali ada buktinya. Entah bukti video atau bukti langsung.


Bolak-balik Maru berpikir. Dengan siapa dia datang ke rumahnya. Namun, jika dia mengajak Mate apa cowok itu mau menemaninya? Kini, Maru mondar-mandir ke kanan dan kiri. Keputusannya sudah bulat. Dia akan mengajak Mate. Masalah mau atau tidaknya ya tergantung nanti. Jika Mate memang tidak mau tak apa, dia masih bisa datang sendiri. Lagipula dia juga bukan lagi anak kecil.


Mate yang sekarang berada di lapangan basket pun mulai melakukan pemanasan. Dia berlari-lari di tempat lalu menggerakkan tubuhnya dari bagian atas sampai bagian bawah. Tak lupa dia juga berlari mengelilingi lapangan sebanyak duapuluh lima kali hingga keringat bercucuran dia keningnya. Mungkin saja bagian tubuh dalamnya juga sudah terbasahi oleh keringat jika saja tidak tertutupi oleh jersey.


"Mate," seru Maru yang berjalan menghampiri cowok itu, sendiri tanpa ditemani siapapun. Mate celingukan ke kanan dan ke kiri, lantas menghampiri Maru. "Ada apa? Sendirian?" tanya Mate to-the-point.


Maru mengangguk. Sepertinya dia jadi tidak enak rasa untuk mengganggu Mate latihan. Tapi apa boleh buat. Dia membutuhkan Mate sekarang. Ya, meskipun belum tahu tujuannya untuk apa. Akan tetapi, Maru lebih memilih mengajak orang lain untuk pulang ke rumah Ayahnya. Hatinya tidak tenang jika dia pulang sendiri. "Iya. Ehm..., kamu masih lama latihannya?"


"Lumayan."


"Oh. Habis latihan sibuk nggak?"


"Nggak. Tapi nanti Mama ngajak keluar. Kenapa memang?" Mate memperhatikan wajah Maru.


Maru menggeleng seketika. Lantas menyengir. "Nggak kok, nggak apa-apa. Aku cuma mau nanya. Ya udah, aku pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati."


Maru tersenyum riang meskipun hatinya kecewa. Dia menghela napas sejenak lalu membalikkan badan dan pergi dari lapangan basket. Kepergian Maru tidak membuat Mate bergeming. Dia kembali latihan. Sedangkan Maru sendiri kembali dilanda kebingungan. Dia ingin pulang sekarang juga. Tapi dengan siapa?


Selepas dari lapangan basket, Maru berjalan lontang-lantung. Teman-temannya sudah pulang sejak tadi. Tidak mungkin jika Maru menyuruh teman-temannya untuk mengantarkannya ke rumah Ayahnya. Terlalu merepotkan. Belum lagi jika nanti ada sesuatu yang terjadi. Pasti dia akan melibatkan teman-temannya lagi.


Walaupun teman-temannya banyak, tapi dia tidak bisa mengajak mereka begitu saja. Karena yang Maru bisa percaya hanyalah Magis, Morin, dan juga Mate. Selebihnya hanyalah teman biasa. Percaya tidak percaya tergantung keadaan. Berbeda jika dengan tiga orang itu, dalam setiap keadaan pun Maru selalu percaya.


Pelan-pelan Maru melangkah. Jaraknya pun sangat pendek. Dia berhenti di parkiran sekolah. Masih banyak kendaraan yang berada di sana. Itu artinya masih banyak pula orang yang berada di dekatnya. "Tumben belum pulang? Lagi nungguin pacar, ya?"


Pertanyaan itu membuat Maru sontak saja membalikkan badan. Terkejut.


"Enggak kok. Hm, gue ... gue....," belum selesai berucap, seorang di hadapannya langsung menyahut. "Kita kan udah jadi teman. Jangan gugup gitu lah ngomongnya."


Seketika Maru merasa malu.


"Gue nggak gugup kok. Gue cuma....," lagi dan lagi Maru merasa salah tingkah. Dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Cuma apa?"


"Nggak apa-apa," balasnya singkat.


Orang di depannya itu---Megi---tersenyum nakal. "Mau gue anter pulang nggak?" tawarnya.


Maru mematung. Setengah terkejut dan juga senang. Ini namanya rezeki anak saleh. "Dianter lagi? Serius? Nggak ngerepotin memang?" ucapannya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Padahal tadi dia akan menjawab mau bukannya malah balik bertanya seperti ini. Dia hampir saja menolak ajakan Megi secara perlahan. Tapi, apa yang dia tanyakan kepada Megi memang seharusnya dia tanyakan. Jadi tidak salah jika sekarang dia menanyakan hal itu. Karena kemarin mereka baru saja pulang bersama.


Megi tertawa, tumben Maru sekhawatir itu. "Gue nggak merasa direpotin. Tapi nggak tahu kalau lo, ya. Mungkin aja lo repot kalau Mate tahu kita pulang bareng. Secara kan dia pacar lo." Maru mendengar jelas bahwa Megi menekankan kata pacar. Jika membahas status begini, rasanya Maru kembali merasa canggung. Memang Megi yang mengakhiri semua ini, akan tetapi entah mengapa dia yang merasa bersalah. Padahal, dia sama sekali tidak menyakiti Megi. Yang ada malah sebaliknya. Megi yang menyakiti dirinya. Ah, zaman sekarang dunia memang sudah terbalik. Seperti sekarang. Perasaan bersalah itu bukannya Megi yang merasakan. Tetapi malah Maru. Aneh.


"Nggak kok. Mate bukan tipe orang yang gampang cemburu. Jadi, nggak masalah deh kalau kita pulang bareng," kata Maru. Sempat terlintas di benaknya mengapa Mate tidak pernah marah dengannya jika dia sedang bersama cowok lain. Satu kali pun Maru tidak pernah melihat Mate merasa cemburu kepadanya. Padahal, di dalam hatinya yang paling dalam Maru menginginkan hal itu. Semacam perasaan rindu. Iya, dulu Megi memang sering marah ketika dia sedang bersama cowok lain yang statusnya bukan teman Megi. Yang dimaksud teman adalah orang-orang yang Megi kenal. Jika Megi tidak mengenali orang itu, berarti dia bukan teman. Sebenarnya, motto hidup seorang Megi itu mudah. Sikap gue tergantung sikap lo ke gue. Makanya, jika orang lain baik pasti Megi akan baik juga kepada orang itu. Jika orang itu kenal dengannya, Megi juga akan kenal orang itu.


Megi mengukir senyum, lantas menggandeng tangan Maru. Namun, yang digandeng hanya diam di tempat sambil memperhatikan tangan Megi yang tiba-tiba menggenggam telapak tangannya erat. "Kenapa? Katanya mau pulang. Ayo."


Maru mendongak, masih merasa salah tingkah. Belum sempat Maru membuka mulut, Megi sudah lebih dulu menariknya.


Sore ini ... pulang bersama mantan.


***


Sejak di perjalanan tadi, Maru sudah menceritakan perihal Mama tirinya kepada Megi. Begitu pun sebaliknya, Megi juga ikut bercerita tentang Magen yang tak sengaja bertemu dengan dirinya di POM bensin beberapa minggu yang lalu. Entah karena apa, Maru selalu merasa tenang setelah menceritakan masalahnya dengan Megi. Walaupun tak selalu mendapat saran, akan tetapi dia merasa enteng. Seperti tidak ada beban. Malahan dia merasa sedikit tidak waras jika Megi sudah mulai menghiburnya. Masalah yang tadinya menumpuk di pikiran Maru, tiba-tiba hilang seketika. Seperti ditelan bumi dalam sekejap.


Motor Megi memasuki pekarangan rumah baru Maru yang bisa dibilang megah. Lebih besar dari rumahnya yang dulu. Namun, bagi Maru ini tak ada apa-apanya dibanding rumahnya yang dulu. Rumah yang memiliki segudang cerita indahnya hidup. Memiliki banyak kenangan yang sampai sekarang masih membekas. Susah untuk dilupakan. Apalagi, setiap berada di rumah barunya ini dia selalu teringat akan kenangannya di rumah lama.


Megi turun dari motornya. Dia berdiri di samping Maru. Matanya langsung menyorot rumah baru Maru. Sudah tidak asing lagi bagi Maru ketika teman-temannya selalu melihat rumah barunya secara detail. Persis seperti yang sedang Megi lakukan sekarang. Perlahan Maru mulai tertawa. Dia tidak bisa menyembunyikan tawanya ini. Jika ditanya apa yang lucu, jawabannya tidak ada. Namun, melihat orang memperhatikan rumah barunya itulah yang membuatnya ingin tertawa. Seketika Megi menoleh kepadanya. "Kenapa? Lebih besar dari yang dulu, ya? Hm, ya wajar sih. Mama tiri gue yang minta. Orangnya matre sih," cetus Maru tak tahan.


Megi membulatkan matanya. Perasaan dia tidak ingin menanyakan hal itu. "Gue nggak nanya, sih."


Sontak saja Maru mendorong bahu Megi menjauh darinya. "Kan gue ngasih tahu. Isshh, nyebelin lo, dasar!"


"Jangan kasar-kasar, atuh," ucap Megi sambil mendekati Maru. Gadis itu malah menyunggingkan senyum. "Bodoamat, wlee," Maru menjulurkan lidahnya.


"Dih! Ini kapan gue diajak masuknya? Keburu gue jamuran," keluhnya sambil berdecak pinggang.


"Assalamualaikum, spada, permisi. Ada tamu cogan, nih, " ucap Megi ketika Maru mengetuk pintu rumah barunya. "Meg, jangan mulai deh." Tanpa Maru sadari, kini dia dan Megi mulai akrab kembali. Seperti pada saat mereka kenal dan menjalin hubuangan pertemanan.


"Siapa juga yang mulai. Orang bertamu itu harus ramah. Jangan masang muka jutek begitu dong," kata Megi, sengaja.


Maru merasa tersindir. "Emang aku jutek? Nggak kok," balasnya membela diri. Namun, Megi malah tertawa mendengarnya. Dia menunjuk Maru. "Apa? Gue nggak salah denger lo pakai aku-kamu tadi?" tanyanya memastikan.


"Apaan sih! Jangan ngada-ngada, deh!"


"Kamu tuh yaaa! Kalau masih suka sama aku bilang." Megi mengucapkannya dengan selebay mungkin. Maru menatapnya jijik. "Tuh kan! Lo ngomongnya dibuat-buat."


Megi menghela napas. "Nggak. Kamu mah baperan. Masa gitu aja udah ngambek."


"Siapa juga yang ngambek. Halu, Bang?"


"Lah, itu tadi ngomong ngambek."


"Ngomong doang astagaaaa." Maru menempelkan kepalanya di pintu. "Lo aja deh yang ngetuk ini pintu," lanjutnya sambil bertukar tempat.


"Oke."


Sebelum mengetuk pintu, Megi membaca doa dahulu sambil mengangkat kedua tangannya. Lalu meletakkan kaki kanannya lebih maju daripada kaki kirinya. Maru heran sendiri melihat apa yang Megi lakukan. Padahal dia hanya menyuruh Megi untuk mengetuk pintu saja. Bukan mau pulang sekolah atau apa sampai harus berdoa dahulu.


Maru mengangkat satu alisnya. "Meg," panggilnya.


"Haa."


"Apa motivasinya lo ngelakuin itu? Gue kan cuma nyuruh ngetuk pintu. Bukan berdoa."


"Ya karena itu. Sebelum bertamu harus doa dulu. Supaya tuan rumahnya jadi kalem. Eh, btw, nyokap baru lo galak nggak, sih?" Ketika pertanyaan itu dilontarkan, Maru hanya bisa mengedikkan kedua bahunya.


Tok tok tok...


Berulang kali Megi mengetuk, akhirnya terdengar suara dari dalam rumah. "Iya, sebentar."


"Rumah lo megah, tapi bel rumah aja nggak punya."


"Bukan rumah gue."


Ketika pintu terbuka, seorang wanita muncul dengan pakaian rapi. Dia sedikit terkejut melihat Maru datang. Namun, detik selanjutnya dia bersikap biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa. "Eh, Maru, kok lama nggak pulang? Mama sampai khawatir lho sama kamu. Oh iya, ini siapa?" sapa Mama tirinya, drama.


Maru tersenyum masam. "Teman aku, namanya Megi."


"Kenalin Tan, saya Megi, mantannya Maru." Dengan senang hati Megi mengulurkan tangannya kepada Mestha. Entah dia sengaja atau tidak, tetapi Maru geram melihatnya. Padahal tanpa berjabat tangan pun harusnya bisa. Apalagi hanya sekadar berkenalan belaka. Ditambah pula Megi memperkenalkan dirinya sebagai mantan Maru. Sangat membuat Maru kesal dibuatnya.


Mestha membalas uluran tangan Megi. "Ah, iya, iya. Ayo masuk, Meg."


"Iya, Tan."


Megi dan Maru saling bertatapan. Bukan beradegan romantis, melainkan saling kesal sendiri. Maru masih sebal akan ucapan Megi tadi. Sementara Megi sebal karena Maru menatapnya seperti ini. Kedua remaja ini duduk di ruang tamu. Sementara Mestha sedang membuat minuman di dapur.


"Lo jangan sampai minum nanti. Gue takut lo di racunin lagi. Nih, kalau lo haus." Maru menyodorkan sebotol air mineral kepada Megi.


"Iya, iya, bawel."


Saat Megi bersama Maru, tiba-tiba sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Jika biasanya dia suka kesal dengan orang lain, ini dia malah membuat Maru kesal dengannya.


Mestha datang membawa jus jeruk. Sebenarnya Megi sangat tertarik untuk meminumnya.


"Megi, ini Maru-nya Tante pinjam sebentar, ya? Kamu minum saja dulu. Ayo, Ru!" Mestha menatap Maru tajam. Seolah sedang memaksanya untuk menuruti apa yang dia katakan. "Gue tinggal sebentar. Ingat pesan gue, ya, Meg," ujarnya berbisik.


Megi membalasnya dengan kedipan mata.


Tanpa Maru duga, Mestha membawanya ke kamar atas. Entah apa yang akan dia bicarakan kali ini. Apa mungkin sangat penting?


"Langsung aja kali, ya? Saya juga lagi nggak mood buat basa-basi." Mestha melipat kedua tangannya di dada, menatap Maru serius. Namun, Maru sudah jengah melihat wanita ini di hadapannya. Ingin sekali dia mengusirnya sekarang juga.


Mestha mencondongkan tubuhnya, seraya berbisik ke telinga Maru. "Saya rasa kamu sudah tahu siapa saya sebenarnya. Jadi, jangan sampai kamu berani ember ke mana-mana. Termasuk Ayah kamu. Kalau nggak...," Maru langsung memotong ucapannya. "Kalau nggak kenapa?"


"Nyawa Mama kamu taruhannya," lanjut Mestha sambil tersenyum licik. "Saya bukan tipe orang yang suka main-main. So, jangan permainkan saya jika kamu masih ingin Mama kamu hidup. Mengerti?"


"Diamnya orang itu artinya iya. Semoga kamu nggak pura-pura tuli, ya? Have fun dengan mantan kamu," ucapnya lalu pergi meninggalkan sebuah ancaman. Maru terdiam di tempatnya.