
"Dia lebih memilih mencari yang baru daripada mempertahankan yang lama." -Marutere Althea.
Lagi sibuk nggak?
Kalau nggak temani gue makan di kafe kemarin. Sekalian traktir lagi.
Sebuah pesan masuk itu langsung membuat si pemilik ponsel mengernyit. Sore-sore begini dia sudah dibuat heran dengan Mozha. Sejak pertemuannya minggu lalu, mereka saling bertukar nonor ponsel. Dua hari yang lalu Mozha juga sempat menyepamnya sampah ratusan pesan. Tak hayal setelah Magen buka pesan itu ternyata hanya angka belaka. Magen hanya membaca pesan itu. Dia tidak memiliki niat untuk membalasnya walaupun hanya satu kata. Tetapi, rasanya aneh saja begitu. Belum kenal terlalu lama dan Mozha bersikap seperti sudah mengenal lama.
Magen memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Sekarang dia sedang tidak ingin ke mana-mana. Tolakan Maru semalam membuat mood-nya hancur. Ia tidak menyangka bahwa Maru tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya. Padahal gadis itu semakin lama semakin perhatian. Tapi semua yang Magen pikir itu hanyalah pandangan dari sudutnya saja. Hingga ia tak tahu pandangan dari sudut Maru.
Entah karena perasaannya yang semakin besar ia sampai lupa jika Maru sudah memiliki kekasih. Hal itu yang Maru jadikan alasan semalam. Betapa bodohnya Magen bisa sampai melupakan status Maru sekarang. Seharusnya dia membuat Maru putus dengan kekasihnya. Barulah setelah itu dia mengungkapkan perasaannya. Kelakuannya semalam sangat memalukan. Ia tak berpikir panjang sebelum bertindak.
Tadi pagi, ia merasa canggung ketika harus dihadapkan dengan Maru lagi untuk sarapan. Apalagi Maru duduk di depannya. Sekilas Magen sadar bila Maru memperhatikannya. Karena tak ingin terlihat kecewa, pria itu pura-pura tak mengetahui jika Maru memperhatikannya. Pagi tadi ia menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari biasanya. Dia lalu berangkat kuliah tanpa menyapa Maru.
Mungkin bagi Maru, dia juga ikut merasa canggung. Ketika Magen menembaknya, entah itu serius atau hanya bercanda tetapi Maru di landa kebingungan. Ingin ikut bercanda namun ia takut jika itu serius. Ingin serius tapi ia juga takut jika itu hanya bercanda. Lantas saja dia memberi penolakan dengan alasan statusnya sekarang. Setelah itu raut wajah Magen yang semula sumringah mulai menyurut. Senyuman yang mengembang itu perlahan menghilang. Dengan alasan ingin mengerjakan tugas, Magen bergegas pergi dari kamar Maru. Sontak saja membuat gadis itu merasa bersalah.
Tiba-tiba ponsel Magen bergetar kembali. Tangannya merogoh saku celananya. Benda pipih berwarna hitam itu keluar dari sana. Lantas ia menggeser layar ponselnya. Lagi, lagi, pria itu mengernyit. Pesan yang masuk itu berasal dari Mozha lagi. Dia menyesal telah mencari dan meminta maaf kepada Mozha jika tahu kedepannya akan seperti ini. Mozha itu sering mengganggu ketenangannya.
Dijawab dong! Sombong amat mentang-mentang ganteng.
Setelah membaca itu, ia langsung mengetik balasan kepada Mozha.
Otw.
Dia kembali memasukkan ponsel ke saku celana. Lantas pergi menuju ke kafe untuk menghampiri Mozha yang terus saja mengganggunya.
Kafe yang Mozha tempati tidak jauh letaknya dari kampus. Hanya dengan waktu sepuluh menit Magen sudah sampai di sana. Mozha sudah menunggu pria itu di depan kafe dengan senyuman. Sempat terlintas di benak Magen bila Mozha sudah berada di dalam. Bahkan juga sudah memesan makanan. Namun ternyata gadis itu masih menunggunya di luar kafe.
"Lama banget, sih, jalannya!" ketus Mozha menyambut kedatangan Magen. Dia menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. Sore ini sangat panas. Membuat dia jadi kelabakan sendiri karena lupa memakai sunblock. Seingatnya, dia sudah memasukkan benda itu ke dalam tasnya. Namun sudah beberapa kali dia cek ternyata tidak ada. Tadinya dia ingin ke Supermarket sebentar untuk membeli sunbclok akan tetapi Magen sudah datang.
Magen menatap Mozha malas. Sudah dia bilang jika mood-nya sedang tidak baik. Jadi dia tidak ingin lama-lama melihat Mozha terus melempar senyum kepadanya. "Bawel," balasnya malas.
Dia langsung masuk ke kafe tanpa mengajak Mozha. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lantas mengekori Magen dari belakang. Alasan mengapa dia mengajak Magen untuk menemaninya adalah karena Magen itu ganteng. Iya, Mozha ingin mengenal lebih jauh sosok pria ganteng itu. Sikap bersalah Magen minggu lagi membuatnya kagum. Ia tidak pernah melihat cowok seperti itu. Sibuk mencari orang hanya untuk meminta maaf. Perilaku Magen yang itulah membuat Mozha menggetarkan hatinya.
"Mau makan apa, Gen?" tanya Mozha sambil membuka buku menu. Ia sangat antusias sekarang.
"Terserah."
"Seblak mau nggak?" tawarnya.
"Terserah," jawab Magen sama seperti tang tadi. Mozha menutup buku menu itu. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan. Diam. Matanya memperhatikan raut wajah Magen.
Mozha menepuk lengan Magen. "Lo kenapa, sih? Dari tadi terserah melulu," ucapnya menyelidik.
"Nggak apa-apa."
"Jawabnya nggak apa-apa tapi hatinya lagi kenapa-napa," cecarnya ikut kesal.
"Sok tahu."
Mozha semakin kesal. "Kalau ada masalah itu cerita jangan dipendam sendirian. Tahu nggak? Nanyain lo dari tadi berasa kayak ngomong sama robot, lho. Jawabnya kakuu terus."
"Sorry."
"Tuh kaan! Gue itu ngajak lo ke sini buat makan. Bukan buat bikin emosi."
Magen menghela napas. Ia sekilas memperhatikan gerak-gerik Mozha dari tadi. Lantas ia membatin. Kayaknya dia suka sama gue. Apa gue jadiin dia pelampiasan gue aja, ya? Lumayanlah nggak jelek-jelek banget.
Buku menu yang semula berada di depan Mozha itu mulai beralih kepada Magen. Dia menarik buku menu itu lalu dibaca. Sekilas Mozha terlihat keheranan. Lalu bersikap biasa saja. Magen membolak-balikkan buku menu itu. Bibirnya sempat terbuka lalu tertutup kembali. Jari jemarinya menunjuk gambar makanan itu satu persatu, dan menggeleng. Tidak ada menu makanan yang ia sukai di sini. Sebenarnya ada, banyak malahan. Tetapi yang sekarang dia cari adalah makanan yang sesuai dengan hatinya.
Karena yang dicarinya tak ada dia meletakkan kembali buku menu itu. "Lo tadi mau pesan apa?" tanyanya kepada Mozha.
"Seblak. Kenapa? Lo nggak suka?"
"Bukan."
"Ya terus?"
"Gue ngikut lo aja. Lo mau pesan apa terserah. Yang penting makanan," ucapnya membuat Mozha membulatkan matanya lebar-lebar.
Mozha memajukan tubuhnya, bahkan ia menarik kursinya untuk maju. "Apa? Gue nggak salah dengar, kan? Lo yakin mau makan apapun yang gue pesan?" tanyanya berbondong-bondong.
"Iya," balasnya mengangguk.
Mozha menyengir. "Iya yang mana, nih? Iya, gue salah dengar apa , iya, lo mau makan apapun?"
"Iya, makan apapun."
"Lah, salah lagi?"
"Iya, cowok itu memang selalu salah di mata cewek. Lo harus terima itu, Genta," ucapnya sambil menepuk bahu Magen. Gadis itu bangkit dari duduknya. Dia menuju ke kasir untuk memesan. Padahal hanya dengan memanggil pelayan semuanya bisa dipesan. Tetapi, Mozha memang ingin memesan ke kasir supaya lebih cepat dilayani.
Sejenak, Magen mengulum senyum tanpa sadar.
***
Suasana kelas pagi ini sedikit riuh karena Mamat, Mesky, dan Maldi sedang konser di belakang kelas. Mereka memakai perlatan seadanya. Maldi menggunakan sapu sebagai gitarnya. Mesky memakai penghapus teman-temannya yang dia sejajarkan sebagai piano. Bahkan dia memakai penghapus itu sama sekali tidak izin. Setiap dia melihat penghapus tangannya langsung mengambilnya. Sementara Mamat berdiri di atas kursi sambil memegang spidol kelas yang dia anggap sebagai mic. Suara Mamat yang nyaring menggelegar di ruang kelas XII IPS 2. Cowok itu sama sekali tidak memiliki urat malu. Bukannya turun dari kursi dan berhenti bernyanyi, ia malah memperkeras suaranya. Membuat sebagian teman-temannya mengeluh kesakitan di telinganya.
Ketika tiga orang itu sibuk berkonser, Mars malah menyibukkan diri mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu. Dia terlihat sangat tenang. Sama sekali tidak terganggu. Padahal suara nyaring Mamat bisa membuat pikiran menjadi kacau saking cemprengnya. Sebagian murid laki-laki lainnya ikut berkonser. Ada yang menyawer Mamat dengan kertas yang disobek-sobek asal entah dari buku siapa yang mereka sobek. Ada pula yang bergoyang sambil mengikuti alunan musik tak karuan itu.
Megi sang pemimpin tak ikut serta bergabung di konser itu. Sejak tadi dia duduk manis di samping Maru. Mamat bahkan sudah memanggilnya berulang kali, tetapi tidak direspon. Panggilan itu hanya Megi abaikan. Membuat Mamat emosi. Lantas Megi memperhatikan apa yang sedang gadis itu kerjakan sedari tadi. Tatapannya tak beralih sama sekali. Kedua tangannya menopang dagunya.
"Lo ngapain sih, Ru?" tanya Megi kepo dengan apa yang sedang Maru lakukan. Cowok itu sudah menanyakan pertanyaan yang sama beberapa kali hingga Maru muak mendengarnya.
"Nggak lihat gue lagi ngapain?" balasnya ketus.
Megi menggaruk rambutnya. "Ya lihat. Tapi gue nggak tahu itu mau diapain. Memang ada tugas bawa pohon kelapa ke sekolah, ya?"
"Nggak ada, sih," balasnya asal.
"Terus apa motivasinya lo bawa itu pohon? Kurang kerjaan aja."
Maru meletakkan bibit pohon kelapa itu di dalam kantong kresek hitam. Apa yang Megi katakan memang benar bila ia kurang kerjaan. Tetapi, dia hanya ingin memberikan itu kepada Mate. Meskipun membawanya ke sekolah itu perlu tenaga yang besar. Tapi tidak masalah. Dia senang melakukannya. "Mau gue kasih ke Mate sebagai tanda untuk menguji keseriusan dia. Ya, gue mau dia jaga pohon ini. Kalau pohon ini tumbuh besar berarti dia serius sama gue. Tapi kalau mati atau layu berarti dia cuma mainin gue," jelasnya.
Oh, mau dikasih ke pacarnya.
"Ehm..., nanti bantu gue bawa ini ke kelas Mate, ya? Mau nggak?"
"Kenapa nggak sekarang aja? Mumpung guru-guru pada sibuk."
"Boleh."
Dilempari senyum begitu, Megi tenang melihatnya. Sudah lama ia tidak melihat Maru memberikan senyuman itu kepadanya.
Bibit pohon kelapa itu Megi bawa ditemani Maru di sampingnya. Meskipun ini bukan untuknya tetapi tidak masalah. Lagipula Megi juga terlalu banyak berharap bila Maru masih mencintainya. Mendengar ucapan Maru tadi membuat hatinya tertusuk seketika. Namun apapun itu, Maru tidak boleh mengetahuinya bila Megi mulai menyukainya lagi.
Maru sampai di kelas Mate dengan senyum yang terus mengukir di kedua pipinya. Sejak tadi gadis itu tak henti-hentinya untuk tersenyum. Tetapi, langkahnya terhenti, mendadak. Matanya mengerjap beberapa kali mengikuti detakan jarum jam di gelang jam miliknya. Maru berusaha mengontrol napasnya untuk tidak menggebu-gebu. Pemandangan yang dia saksikan sekarang membuatnya merasa terbakar seketika. Mate berada di dalam kelas sambil memeluk gadis lain. Itu adalah Meta. Lagi, lagi, gadis itu yang membuatnya terbakar.
"Ngapain masih di sini? Ayo, masuk."
Tubuh Maru tersentak, terkejut dengan kedatangan Megi yang menyenggol tubuhnya. Saat perjalanan ke kelas Mate, Megi izin ke toilet sebentar. Alhasil Maru berjalan duluan ke kelas Mate. Dan kini, pria itu menyusulnya sambil membawa apa yang dia suruh tadi. Kedua mata Megi langsung menyorot pemandangan yang membuat Maru menghentikan langkahnya.
Wah bener-bener itu cowok, berengsek! Batinnya ikut terbakar. Dia tidak tega melihat Maru disakiti seperti ini. Benda yang semula dia bawa langsung diletakkan di lantai. Megi lantas menghampiri Mate yang sedang berpelukan mesra dengan Meta. Maru tidak bisa menahan Megi yang terlanjur masuk ke dalam. Gadis itu masih termenung. Berdiri tanpa bergerak. Air mata yang semula berhasil dia bendung kini sudah tidak lagi. Pipinya terbahasi oleh air mata yang mengalir. Hatinya kian memanas.
Megi langsung memberikan satu pukulan kepada Mate. Tepat di pipi kanan pria itu. Anak perempuan yang melihat aksi Megi itu lantas menjerit. Membuat suasana kelas yang hening kian mulai rusuh. Mate memegang pipinya yang memerah itu. Sementara Meta menggigit bibirnya ketakutan. Megi tidak memedulikan jeritan anak perempuan di kelas itu. Dia langsung menarik kerah baju Mate. Membawanya keluar kelas. Di sisi lain, Maru hanya terdiam melihat Mate diperlakukan seperti itu. Meta berlari menghampiri Maru dengan wajah tidak terima. "Maru jangan nangis aja, dong!! Tolongin Mate!! Nanti dia babak belur, Ru!! Kasihan, Mate!!" teriaknya nyaring sambil menggoyang-goyangkan tubuh Maru.
Maru menepis lengan Meta.
Tanpa mengatakan apapun, dia langsung pergi menyusul Megi dan Mate.
"Meg, jangan pukul dia lagi," lirihnya masih menangis.
"Nggak bisa, Ru! Ini anak harus dikasih pelajaran! Dia nggak bisa seenaknya nyakitin lo begini!" ujar Megi memanas. Melihat Maru menangis, ia melepaskan kerah seragam Mate.
Maru mengusap air matanya. Memajukan tubuhnya hingga berada tepat di depan Mate. "Harus berapa lama lagi aku bertahan kamu sakitin?" tanyanya, sangat pelan.
"Aku...."
"Aku pikir kamu berubah. Tapi ternyata nggak. Sikap baik kamu selama ini----"
"Aku memang nggak berubah," sahutnya memotong kalimat Maru. Mate masih terperangah. Meta yang baru saja datang langsung bergelayut di lengan pria itu.
Megi tertawa kecil, sinis. "Kalau lo nggak suka seenggaknya jangan sakitin dia."
"Bacot!" umpat Mate. Ini pertama kalinya seantero sekolah mendengar Mate mengumpat. Siswa-siswi mulai berdatangan, berkerumun.
Mata Megi menyorotkan ketidaksukaannya secara jelas. "Waah berani lo, ya! Minta di-gibeng," Megi tidak terima.
Maru mendongak, menatap manik mata Mate. "Kalau kamu memang nggak suka aku, kenapa nggak mutusin aku aja? Kenapa harus nyakitin aku?"
"Oke, kita putus."
"Parah lo! *******!" teriak Megi emosi. Ia lantas menarik tubuh Maru mendekat, lalu memeluknya. "Ada gue," tambahnya.