Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 35 :: SAKSI TIRANI



"Aku ingin peduli tapi hatiku tak bisa diajak kompromi. Aku ingin lebih dekat tapi hatiku ingin aku menjauh dengan cepat. Aku ingin mengenal lebih banyak tapi hatiku bilang untuk tidak menguak. Rasanya tidak enak, tapi kenyataannya aku lebih percaya dengan otak." -Megizal Steven.


Berhubung mata pelajaran Matematika kosong untuk tiga jam ke depan maka anak-anak IPS 2 berhamburan tak karuan. Ada yang sudah berkumpul di belakang untuk menonton sesuatu. Yang tentunya hanya diisi oleh anak laki-laki saja. Sudah di belakang, di pojok pula. Ada yang cengar-cengir sendiri sambil memegangi ponselnya. Beberapa ada yang sedang berkonser. Mengobrak-abrik meja dan kursi yang ada untuk menjadi sebuah panggung. Bahkan sapu dan kemoceng pun juga berguna untuk keperluan konser. Sebagian yang lain sibuk menggibah di pinggir. Ada yang hanya diam sambil membaca buku. Siapa lagi jika bukan si pintar Mars yang selalu ranking satu pararel dan juga si Morin yang selalu menempati posisi kedua untuk ranking di seluruh jurusan IPS. Bukan cuma itu. Sisanya yang lain juga ada yang berpacaran. Contohnya juga Magis dan Mesky yang selalu bermesraan di mana pun mereka berada. Ditambah mereka sebangku. Makin susah dipisahkan.


Kelas XII IPS 2 sudah ramai sekali seperti sedang ada konser. Melebihi gemuruh di pasar setiap harinya. Entah sudah seperti apa kelas ini. Sudah tak seperti kelas yang bersih dan tenang. Tempatnya berantakan tak karuan. Jangan tanya apa ada anak yang akan bertanggung jawab tentang ini atau tidak. Pasalnya semua anak sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Sudah tidak peduli jika nanti ada guru yang datang. Bahkan Megi dan teman-temannya sudah menghilang entah ke mana. Mungkin mereka mencari hiburan di luar kelas. Tapi tak apa. Itu menguntungkan. Setidaknya jika tidak ada Megi dan teman-temannya kelas tidak akan bertambah buruk lagi. Hanya saja, sekarang Maru bingung harus melakukan apa. Magis sudah sibuk dengan pacarnya. Sementara Morin sibuk dengan bukunya. Lalu, Maru menatap sekelilingnya. Canggung. Sejak kejadian di kantin beberapa hari yang lalu semua teman-temannya seperti menjauh. Ternyata semudah itu mereka terhasut oleh Marsha. Sekarang membuatnya sendiri tanpa melakukan apa-apa.


Lagipula apa yang harus Maru lakukan? Dia bukan tipikal yang suka membaca buku seperti Morin. Dia juga bukan tipikal orang yang suka bermesraan di tempat umum. Apalagi di sekolah. Lagian, Maru juga tidak memiliki pasangan. Senganggurnya dia saat ini. Tak ada satupun yang mengajaknya apa atau apa. Jangan kan untuk mengajak Maru melakukan apapun, untuk menoleh saja rasanya enggan. Sejenak Maru mengembuskan napasnya. Tak apa. Dia harusnya tidak mengeluh.


Dilihatnya masih lama waktu untuk istirahat. Akhirnya Maru memutuskan untuk tidur saja.


"Ampun, dah! Anak tukang nyolong hobinya tidur mulu! Ini sekolah! Bukan rumah! Inget aturan dikit kalii!!," seruan itu tidak lagi tidak bukan berasal dari ujung. Dari segerombolan yang sedang berkonser. Mereka berdecak pinggang sambil tertawa kecil. Salah satu dari mereka menepuk bahu Marsha. "Bilangin tuh sama si tikus, Sha. Masa tidur di sekolah. Ngeliatin banget kalo dia nggak punya teman."


Lalu semua yang sedang berkonser berhenti melakukan apa yang semula mereka lakukan. Mereka tertawa kecil bersama Marsha yang memang suka memancing emosi ini. Bahkan dulu Maru tidak pernah berpikir bila Marsha sebegini dengannya. Kenapa? Maru rasa ia tidak pernah melakukan kesalahan kepada Marsha. Bertegur sapa juga jarang. Mana mungkin ia membuat Marsha sakit hati atau marah.


Magis bangkit dari tempat duduknya. "Lo jangan mancing-mancing, ya! Jaga ucapan lo!"


"Kumat, kan? Astaga." Mesky jengah sendiri melihat Marsha berulah.


"Nggak usah dibelain juga! Lo tuh yang diem! Ganggu aja!" Marsha semakin berapi-api. Dia yang memancing dia pula yang terpancing. Rasanya belum cukup jika ia belum melihat Maru sengsara. Entah sejak kapan pemikiran buruk itu menempel pada dirinya. Marsha juga tidak sadar.


"APA LO BILANG?!!" Magis emosi. Bagaimana tidak? Marsha malah menyalahkannya. "APA?!! MAU IKUT TEMPUR JUGA LO, HAH?!! SINI MAJU!! GUE LADENIN," seru Marsha semakin menjadi.


Yang semula sibuk dengan urusannya kini menghentikan kegiatannya. Melihat pertempuran lagi. Menggerombol seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan. Ada sebagian dari mereka yang sudah merekamnya sejak tadi. Ada pula yang hanya memandanginya. Bahkan Mars yang notabene-nya tidak pernah memedulikan keadaan di sekitar pun ikut menghentikan kegiatannya. Ia menatap kejadian yang tiba-tiba membuatnya terganggu. Bukan cuma Mars. Morin pun ikut menghentikan kegiatannya. Ia bangkit dan menghampiri Maru yang sedang dikerumuni. Dia duduk sendirian di bangku tengah. Sangat tepat dan mudah untuk membuat Maru dikerumuni orang banyak seperti ini. Morin langsung berdiri di samping Maru. Dia tersenyum lantas berkata. "Nggak usah didengerin."


Mesky menahan Magis yang hendak menghampiri Marsha. "Sayang, udah. Jangan diladein. Nanti yang ada kamu kena masalah," ujar Mesky yang dibalas tatapan tajam oleh Magis.


"Tapi dia tuh nggak bisa seenaknya malu-maluin orang dong! Maru itu sahabat aku," sergahnya cepat. Lantas Mesky refleks menarik lengan Magis hingga ia memeluknya langsung untuk menenangkan emosi Magis. "Aku tahu, Sayang. Tapi nggak harus dengan kekerasan, kan?"


Magis mengangguk pasrah. "Ya habisnya itu boneka setan minta dikasarin terus, Sayang. Kelakuannya nggak manusiawi tahu."


"Cih, lebay!" cecar Marsha.


Maru bangkit. Ia maju menghampiri Marsha lebih dekat.


"Mau lo apa, sih? Gue punya salah apa sama lo? Kenapa lo benci banget kelihatannya," tanya Maru memberanikan diri.


Kelihatannya Marsha senang saat Maru bertanya akan hal itu. Dia mengembangkan senyumannya.


"Mau tahu salah lo apa?" Dia balik bertanya. "Lo tuh nggak berperi kemanusiaan, Ru! Semuanya lo embat! Lo dulu udah punya Mate. Tapi kenapa lo masih ngedeketin Megi, hah? Gue tanya sekarang. Lo itu suka sama siapa, sih? Mate atau Megi?! Lo jangan bikin gue sama Meta nggak jelas begini, dong! Punya hati nggak sih lo?! Dasar tikus!"


Megi?


Mate?


Kenapa harus dua cowok itu?


Perasaannya sedang tidak karuan sekarang. Antara keduanya Maru bingung harus memilih siapa.


"Kenapa diem aja!! Jawab!!"


"Gue..., gu---"


"Nggak bisa jawab kan lo? Munafik! Lo tahu gue suka sama Megi. Lo tuh harusnya sadar diri!"


Maru baru sadar akan hal itu. Marsha menyukai Megi. Berarti benar jika selama ini Maru menduga bahwa Marsha memiliki perasaan yang lebih kepada Megi. Bodoh sekali dia baru tahu kebenarannya sekarang. Dia juga tidak bisa menyalahkan Marsha sepenuhnya karena kenyataannya dia sendiri juga salah. Akhir-akhir ini Maru dekat dengan Megi. Bahkan bisa dibilang sangat dekat. Hingga tidak mungkin bila ada orang lain memiki kesempatan untuk mendekati Megi.


Seketika ada suara kursi yang ditendang. Semua mata kini tak lagi memperhatikan drama Marsha dengan Maru. Melainkan melihat siapa yang datang tiba-tiba dan menghancurkan kefokusan mereka. Saat seorang cowok datang bersama dua temannya itu, tiba-tiba semua orang langsung membisu. Cowok itu menghampiri Maru dan merangkulnya.


"Meg---" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, orang yang merangkulnya sudah lebih dulu menyela. "Kalian nggak denger kemarin? Jangan gangguin pacar gue lagi. Orang kan banyak, ya? Kenapa mesti pacar gue gitu, gue tanya."


Mamat bertepuk tangan. "Fitnah akhir zaman, nih! Yang lain sibuk berkurumun kalian berdua malah berpelukan. Astagfirullah," ujarnya sambil mengelus dada dengan miris.


Mesky dan Magis yang tersadar langsung melepas pelukan mereka.


"Ih, nggak sengaja juga," elak Magis.


Mesky hanya menyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Tahu, tuh."


"Halah alesan!" Mamat berdecak.


Marsha menggeleng tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dia melepas paksa rangkulan Megi kepada Maru dengan kasar. Marsha tidak suka saat Megi memberi perhatian lebih kepada orang lain. Apalagi Maru orangnya.


"Meg, jujur sama gue. Lo nggak beneran pacaran, kan, sama dia?" tanya Marsha masih syok.


"Ya masa gue bohong."


Tanpa menunggu lagi Megi langsung menarik lembut Maru untuk keluar dari ruang kelas yang semakin panas itu. Sementara Marsha terlihat sangat terkejut. Megi mengakui Maru sebagai pacarnya. Di depan matanya. Secara langsung. Begitu menyakitkan.


"Tikus murahan!" teriaknya.


Sebuah tarikan tangan itu menarik lengan Marsha dengan kasar. Membawa gadis itu ikut keluar dari kerumunan.


"Lho, Maldi mau ke mana tuh!"


***


"Lepasin tangan gue!"


Ketika sampai di UKS Maldi melepas genggamannya itu.


Ia lantas bersender pada dinding yang ada di belakangnya. "Masuk," katanya pada Marsha.


"Nggak. Gue mau balik aja!"


Tangan Maldi sudah lebih dulu menarik tubuh Marsha hingga mendekat dengannya tanpa ada jarak. Mata dan mata saling bertemu. Bahkan napas satu sama lain bisa dirasakan masing-masing. Maldi mengelus puncak rambut Marsha sambil tersenyum. "Sebentar aja. Masuk, ya? Biar aku yang kunci pintunya," ucap Maldi lembut.


"Mal, ini sekolah." Marsha masih berusaha untuk menolak.


Maldi tersenyum. "Biar aku yang atur. Kita lupain masalah hari ini. Termasuk..., lupain rasa suka kamu sama dia."


"Mal..., jangan aneh-aneh, deh."


"Sori, Sha. Tapi hanya dengan ini kamu bisa lupa tentang beberapa masalah."


"Mal...." Marsha masih berpikir. Dia tidak sepenuhnya yakin. "Nggak bakal lama," sela Maldi lebih dulu.


Hingga tak ada lagi waktu untuk berpikir. Marsha akhirnya menurut. Masuk ke dalam UKS yang sangat sepi tanpa satupun penghuni. Sejenak, Marsha bisa menenggelamkan masalahnya---bersama Maldi untuk sesaat.


***


Di sisi lain Megi membawa Maru ke kantin. Ini belum waktunya istirahat. Oleh karena itu kantin kali ini masih sepi sesuai dengan dugaan Megi tadi. Selama perjalanan ke kantin keduanya sama-sama diam. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara.


"Kayaknya, status pacar ini penting buat lo, Ru. Kalo nggak begini lo pasti bakal direndahin lagi." Megi angkat suara setelah lama mereka diam.


Maru kira apa yang dilakukan Megi memang sangat penting baginya. Tapi setelah mendengar penurutan Marsha tadi rasanya semua status ini tidak bisa lagi ia gunakan. Bukannya memperbaiki hubungannya dengan Marsha. Yang ada malah semakin membuat Marsha jengkel dengannya.


Maru menggeleng. Dia tersenyum lurus ke arah depan.


"Nggak perlu, Meg. Kita nggak perlu bohongin banyak orang untuk ngelindungi gue. Gue bisa kok hadapin semuanya."


"Kalau gitu kita pacaran beneran aja gimana?" tanya Megi tiba-tiba.


Maru cukup terkejut mendengarnya. "Hah? Maksudnya?"


Tidak salah dengar bila Megi mengajaknya pacaran, kan?


Jantung Maru seperti berhenti untuk sejenak. Bila memang ucapan Megi tadi benar adanya pasti Maru akan sangat bahagia. Ini yang dinantikannya. Tapi, ia juga masih ingat akan kejadian dua tahun yang lalu. Tetap saja. Ia senang mendengarnya. Jika seandainya itu benar, Maru pasti tidak akan menerimanya. Setelah semua apa yang diketahuinya tadi ini. Tidak mungkin bila Maru melakukan hal yang akan membuat Marsha sakit hati.


Megi tersadar akan apa yang barusan dikatakannya. Ia langsung tertawa begitu menyadari kebodohan yang hampir saja dilakukannya. "Nggak, bercanda doang," elaknya.


"Ooh," respon Maru singkat.


Ternyata hanya bercanda.


***


Malam ini, Marita datang ke warung sate kambing milik Muzan. Katanya jahitan di rumah sudah selesai. Jadi Marita datang untuk membantu Muzan. Akhir-akhir ini hubungan keduanya sudah lebih baik. Berbeda dari yang awal-awal. Maru sangat senang melihatnya. Rasanya keluarganya seperti masih utuh. Ada Ayah, Mama, dirinya dan Mahira.


Marita sibuk memotong bawang merah di samping Maru yang sedang memotong kertas minyak agar berukuran kecil. Sementara Muzan masih sibuk membakar sate di depan. Meski tak jauh dari Marita dan Maru tapi tetap saja mereka tak bisa mengobrol.


"Maru kok pacarnya nggak pernah diajak main ke rumah lagi?" tanya Marita, sengaja.


Melihat beberapa hari ini raut muka anaknya sering ditekuk. Seperti ada masalah. Namun Maru masih enggan untuk bercerita dengannya. Marita tak ingin memaksa Maru jika tidak ingin bercerita. Jadi ia lebih memilih untuk mendiamkannya saja. Lagipula pasti ada waktu di mana Maru akan bercerita tanpa diminta.


Maru hanya tersenyum kecut.


"Nggak apa-apa, Ma. Maru udah putus lama sebenarnya," jawabnya.


"Kenapa?"


"Nggak jodoh kali, Ma."


Marita mengusap rambut Maru sambil tersenyum. "Kamu ini. Kalo putus dari dulu juga alasannya nggak jodoh. Kapan ada alasan lain? Masa alasannya harus sama kayak yang dulu."


Alasan yang dulu?


Megi.


Entah mengapa, Maru malah ingin tertawa mengingat betapa lugunya dulu. Wajar saja pacaran putus. Masih anak SMP yang labil. Tapi gayanya sudah sok-sokan pacaran. Dulu Mamanya sudah melarang. Tapi Maru tetap kekeh untuk berpacaran dengan Megi. Lucu sekali, batinnya dalam hati.


"Eh! Kamu ini putus malah senyum-senyum," kata Mamanya membuyarkan ingatannya. Maru seketika memeluk Mamanya. "Nggak apa, Ma. Masih muda juga. Lagian aku nggak segitu sukanya sama Mate. Jadi nggak apa. Aku masih biasa," ungkapnya.


Marita hanya mengangguk-angguk.


"Kalau sama mantan yang dulu gimana?"


"Megi maksud Mama?"


"Memang ada selain itu, ya?"


"Nggaklah, Ma. Kalo suka ya masih. Namanya juga first love."