Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 38 :: BAYANG PETAKA



"Suka karena terbiasa. Karena itu, jangan terbiasa memperlakukanku seperti ini. Nanti bila aku suka, kamu yang susah." -Marutere Althea


Kamar Maru terdengar sangat ricuh dari luar. Sudah sejak satu jam yang lalu Morin dan Magis datang ke rumahnya. Rencananya ingin mengerjakan tumpukan tugas seminggu ini. Awalnya Magis ingin merencanakan weekend-nya dengan pacarnya, tapi Morin sudah lebih dulu mengajaknya. Karena Morin tumben sekali mengajak alhasil Magis langsung menyetujuinya.


"Jadi guru tuh enak, ya." Tiba-tiba Magis menyelutuk. Ia lelah menyalin banyak jawaban dari buku Morin dan Maru secara bergantian. Setiap kali diajak mengerjakan tugas Magis selalu ikut. Bukan tanpa alasan. Semuanya berujung dengan kegiatan yang hanya menyalin jawaban dari teman-temannya.


Maru menoleh. "Enak gimana maksud lo?" tanyanya sembari kembali berkutik dengan ponselnya.


"Ya enak pokoknya. Kerjaannya ngasih tugas mulu. Mereka-nya ngapain begitu? Leha-leha?" jawab Magis.


"Nggak begitu juga kali, Gis! Lo, ah, pikirannya!" timpal Maru sambil menoyor kening Magis. Heran dengan pikiran Magis yang tidak-tidak.


Meskipun Maru juga sama halnya dengan Magis yang suka mengeluh karena tugas, tetapi dia tidak ingin menjelek-jelekkan gurunya. Maru sadar. Masa depannya bergantung dengan guru. Adabnya pun juga harus baik dengan guru. Makanya ia lebih memilih untuk tidak ikut-ikut membicarakan guru.


Morin melempar bukunya kepada Magis. "Jangan nyalahin orang untuk kesulitan yang lo hadapin," ujar Morin serius.


"Pelan, ih!" tutur Maru setelah meraih buku yang Morin lemparkan tadi. "Maksud gue tuh nggak nyalahin, Rin. Gue cuma ngomong doang. Mewakili perasaan kalian yang begitu semangat untuk menyelesaikan tumpukan tugas akhir minggu," lanjutnya semakin ke mana-mana.


Maru melempar bantalnya kepada Magis. Tepat di kepalanya. "Udah kenapa. Jangan bahas itu lagi. Oh, iya. Gue punya berita hot, nih! Mau tahu, nggak?"


"Apa-apa?" Magis berseru.


"Selagi nggak ngejelekin orang gue dengerin." Morin angkat bicara.


"Iiih, Morin sok suci masa."


"Julid amat lo."


"Hehe, bercanda, Rin."


"Serius juga bukan urusan gue."


"Iiihh jangan ngambek, dong! Ya ampun, Ru. Masa Morin ngambek sama gue," adunya kepada Maru.


Maru memutar bola matanya. "Dengerin gue, dong!"


"Iya, iya, apa?" Magis menutup bukunya. Dia lebih tertarik dengan berita baru yang hendak Maru ceritakan daripada dengan tugasnya. Ia bangkit mendekat kepada Maru di atas kasur. Sementara Morin masih setia duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. Dia masih sibuk dengan laptopnya.


Tangan Maru menopang dagunya. Seraya mengambil bantal agar lebih santai. "Kemarin tuh gue nggak sengaja mergokin Marsha yang lagi googling tentang hal-hal yang berhubungan sama kehamilan---"


"What?! Seorang Marsha masa melakukan begituan? Nggak nyangka. Di balik banyaknya jabatan ternyata aslinya naudzubillah," potong Magis cepat sebelum Maru menyelesaikan ceritanya. Maru pun menggertakkan giginya. "Gue belum selesai ngomong!" keluhnya jengkel.


Tidak banyak respon. Magis hanya menyengir untuk menenangkannya. "Iyaa, mon maap, Bos. Hehe. Jadi lanjutannya gimana?" Magis tak berhenti untuk tidak bertanya.


Saat mendengar kata 'kehamilan' pikirannya langsung merujuk pada hal yang tidak-tidak. Apalagi dengan membayangkan bagaimana Marsha itu. Pikirannya semakin tidak karuan. Di tambah sekarang banyak pula berita-berita tentang hal seperti itu. Magis juga memikirkan hal yang sama untuk Marsha sesuai dengan berita yang sering didengarnya.


Selesai disela Magis begitu saja tiba-tiba Maru bingung harus berkata apa lagi. Ia pun mengedikkan bahunya.


"Iiiih kok begitu, sih!" cecar Magis kecewa.


"Tiga kali lo ngeluarin kata 'ih'. Jijik gue dengernya." Morin menyambar. Membuat Magis ingin sekali mengumpat. Tapi dia juga tahu. Sekalinya dia mengumpat Morin akan mengomentarinya beberapa kali. Jadi, Magis tidak ingin mengambil risiko.


Magis tertawa kecil.


"Jangan gitu, dong. Namanya juga cewek. Pasti sering dong pakai kata itu."


"Kok malah bahas itu, sih! Ini gue belum kelar lho ceritanya," ujar Maru semakin jengkel.


Magis mengeluarkan senyuman sok manisnya dengan jari peach. "Iya, sok atuh dilanjutin. Magis dengerin kok," katanya.


Sejak tadi dia selalu disela dengan hal yang tidak begitu penting. Maru jadi kurang mood untuk melanjutkan ceritanya. Padahal dia sangat penasaran sekali dengan Marsha. Ada apa dengannya?


"Kok malah melamun, sih? Lanjutin dong!"


"Ya pokoknya tuh gue nggak tahu sebenarnya gimana, ya. Cuma gue penasaran aja gitu kenapa dia nyari hal yang nggak sewajarnya. Emang dia mau nikah habis lulus?" tanya Maru.


Morin meletakkan ponselnya. Lantas menatap Maru. "Orang nyari sesuatu karena butuh. Jadi ya udahlah, mungkin dia butuh. Ngapain juga diurusin," katanya lumayan panjang.


"Menurut kalian Marsha hamil, nggak?" Magis bertanya.


Maru dan Morin saling berpandangan.


Kenapa pikiran mereka sama?


"Kalaupun iya juga bukan urusan kita," jawab Morin lebih cepat.


Dia tidak ingin temannya ini berpikiran negatif. Ya, meskipun pikirannya juga hampir mengarah pada hal yang negatif pula. Tapi setidaknya jika dia bisa menghentikan temannya dia juga bisa berhenti dengan sendirinya.


"Bukan masalah urusan kita atau nggak, Rin. Masalahnya tuh nama dia bakal tercemar," tutur Magis serius.


"Nama dia 'kan? Bukan nama lo juga."


Magis hanya bisa mengembuskan napasnya. Iya, Rin, iya.


***


"Mat," panggil Maru sewaktu dirinya melihat Mamat, Maldi, Mesky, dan Mars memasuki kelas. Dari keempat anak itu yang Maru kenal hanya Mamat. Selebihnya agak gimana. Kurang srek juga. Lagipula Mamat orangnya enteng. Gampang diajak ngobrol.


Tetapi saat nama 'Mat' disebut, yang menoleh kepada Maru bukan hanya orang yang bernama Mamat. Tapi ketiganya menoleh kecuali Mars. Kalau itu sudah tentu. Lantas Mars melanjutkan langkah menuju ke tempat duduknya. Sementara Mesky, Maldi, dan Mesky menghampiri Maru lebih dekat. Namun, saat Marsha datang. Maldi langsung berbalik arah menuju Marsha dengan sendirinya. "Woy, Malkist abon! Mau ke mana lo?" teriak Mesky berkoar.


Maldi hanya menyengir dan melambaikan tangannya. "Misi, Bro," ujarnya sambil menunjuk Marsha.


"Oh, oke, oke," jawab Mamat mengangguk-angguk. Begitupun dengan Mesky.


Hingga kini yang tersisa hanya ada Mesky dan Mamat yang menghampirinya. Keduanya langsung duduk di bangku yang berada di depan Maru. "Kenapa? Tumben manggil-manggil. Biasanya juga ogah. Udah nggak jengkel nih sama Oppa?" tanya Mamat.


"Au, ah." Mata Maru menatap Mesky tidak suka. "Lo ngapain ke sini? Kan yang gue panggil cuma Mamat," ucapnya.


Mesky mengedikkan bahunya.


"Gue tuh menjaga kalian. Gue nggak mau kalian berduaan tanpa sepengetahuan Megi. Ntar ada yang cemburu lagi," jawab Mesky dengan cengiran. Sementara Mamat hanya mendengarkan perkataan Mesky tanpa bantahan.


"Apaan?" Mesky mengangkat dagunya.


"Megi ke mana? Kok nggak bareng kalian?" Mata Maru hanya fokus pada dua orang di depannya ini.


Memang sejak tadi ia sama sekali tidak melihat Megi. Padahal biasanya Megi selalu berada di kelas lebih dulu sebelum Maru. Tapi tumben hari ini tidak. Tadi setelah upacara selesai semua murid langsung berhamburan masuk ke kelas karena saking panasnya. Anehnya, Maru tidak melihat Megi di lapangan upacara.


Apa dia terlambat?


Tapi sekarang tidak ada satupun orang yang dihukum di lapangan. Biasanya jika ada yang terlambat atau tidak memakai seragam yang lengkap akan dihukum untuk hormat ke tiang bendera. Bukan sekadar itu. Tapi juga disuruh untuk berjalan jongkok mengelilingi lapangan upacara sebanyak lima kali. Selain itu masih banyak lagi hukuman lainnya. Tentu, hukuman yang membuat lapangan upacara tidak pernah sepi setelah kegiatan upacara selesai.


"Biasalah. Lo kayak nggak kenal Megi aja," balas Mesky cepat.


Mamat hanya menyengir. "Dihukum bersihin toilet cowok karena jatuhin piala di ruang KepSek."


"Kok bisa?" Maru terkejut.


Mesky hanya terkekeh. Ya, mengapa tidak bisa? Megi kan memang suka berbuat ulah. Tak heran jika hidupnya selalu terasa kurang tanpa hukuman. "Tadi pagi dia main basket di lapangan upacara. Katanya lagi proses pembugaran. Makanya dia mainnya keras. Sialnya, pas mau lempar bola ke Maltin bolanya malah salah alur ke ruang KepSek. Jendelanya pecah kena bola. Eh, nggak tahunya bola itu juga jatuhin piala yang ada di ruang KepSek. Matilah dia akhirnya," jelas Mesky.


"Beruntungnya nih piala yang di jatuhin si Bos nggak pecah. Kalau sampai pecah pasti Bapak KepSek bakal lebih kejam ngehukumnya," tambah Mamat lebih dramatis. Dia memasang wajah melas. "Jadi kasian Oppa liat si Bos dihukum. Seumur-umur tuh si Bos nggak pernah beres kalo disuruh bersih-bersih. Bukannya makin kinclong malah makin nggak karuan. Dugaan Oppa nih, si Bos pasti bakal ditambah hukumannya."


Maru memukul Mamat dan Mesky bergantian.


"Kalian kan temannya. Kenapa nggak dibantuin? Kalian pinter apa gimana, sih? Temennya kesusahan malah dibiarin," ujar Maru marah-marah. Sudah tahu kalau Megi tidak bisa membersihkan apapun. Katanya malah akan memperburuk. Lalu kenapa tidak dibantu?


"Udah mau tadi, cuma---"


Maru menyela dengan cepat. "Mau apa? Masa temen gitu. Nggak mau ikut susah. Maunya ikut seneng aja. Gimana, sih?"


"Dia-nya yang nggak ma---"


"Mana mungkin begitu. Lo ngakal kali, ah. Heran. Perasaan Megi baik banget sama kalian. Tapi kok balesannya begini. Nggak tahu diri banget. Kalian pikir dia nggak keribetan apa bersihin semua toilet di sekolah?" Maru tidak berhenti untuk tidak berceloteh.


Mesky menghela napasnya.


"Lo diem dulu kenapa? Iya, gue tahu kalo lo itu khawatir sama Megi. Tapi nggak marah-marah juga kali."


"Apa lo bilang? Khawatir? Nggak. Gue nggak khawatir," elak Maru.


Mamat menimbrung. "Nggak khawatir tapi perhatian gitu."


"Gue timpuk pake buku lo, ya!"


"Nggak, nggak. Bercanda," ucap Mamat mengalah. Lebih baik menurut saja. Maru tipikal cewek yang kasar. Mamat pernah merasakan cubitan Maru. Sangat sakit. Karena itu ia tidak ingin mencoba untuk yang kedua kalinya.


Mesky menggebrak meja. Membuat Maru dan Mamat menatapnya secara tidak langsung. "Dengerin gue dulu. Jangan disela lagi. Lo pikir kita setega itu apa sama Megi? Ya nggak lah! Tadi tuh kita udah ke sana niat mau bantuin. Tapi Megi-nya nolak banget. Bener-bener nggak mau. Sampai-sampai kita diusir pakai pel. Ya, udah. Apa boleh buat. Kita balik ke kelas dengan berat hati."


"Kenapa nggak ngomong dari tadi, sih?" Maru menggeram. Jika Mesky menjelaskannya sejak tadi dia tidak akan marah-marah seperti ini, kan?


"Lo yang nyahut mulu. Bikin gue gagap ngomong aja."


Mamat hanya menjadi penonton. Melihat perdebatan di depannya.


"Gue cabut dulu," ujar Mamat tiba-tiba dan bangkit dari posisi duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Maru.


Mamat menoleh. "Toilet," jawabnya.


"Gue ikut, ya?"


"Lo pengin pipis juga?" Mamat balik bertanya.


Maru menggeleng. Ia mengambil jus jeruk dari dalam lacinya. "Nggak. Gue mau ketemu Megi. Ayo," ajaknya.


"Lo mau ke toilet cowok?" Mesky bertanya heran.


"Emang kenapa? Suka-suka gue dong. Udah, ah! Lo urusin aja tuh Magis. Jangan ganggu gue." Maru menyentak. Namun, Mesky hanya tersenyum sambil mengacungkan jari jempol kepadanya.


Maru lantas menarik lengan Mamat dengan seenaknya.


***


"Lo ngapain ke sini?"


Pertanyaan itu langsung didapat Maru ketika dia baru saja masuk ke dalam toilet cowok bersama Mamat. Cowok itu berdiri di belakang Maru dengan mendengus. "Nggak cuma Maru aja, Kang. Oppa juga dateng. Serasa kayak nggak dianggap ada," tuturnya dramatis.


Megi terkekeh. "Ya maksudnya lo berdua," ralatnya karena tidak tega.


Mamat pun sudah tidak tahan. Ia mendorong tubuh Maru untuk memberinya jalan. "Minggir, Ru! Gue udah kebelet ini! Dipucuk lagi."


"Eh, iyaa." Maru pun akhirnya minggir. Setelah Mamat masuk ke bilik toilet, Maru memberanikan diri untuk berbicara. Namun, Megi meletakkan pelnya dan memajukan tubuhnya lebih dekat dengan Maru. "Lo nggak harus ke sini. Ini bukan tempat yang aman. Nanti kalo ada orang yang tahu lo bisa dihukum," katanya memberitahu.


Tapi Maru menggeleng. "Gue mau bantuin lo. Dengan alasan itu gue bakal tetap aman," ucapnya enteng.


"Aman gimana? Yang ada lo malah dihukum nanti. Udah. Mending lo balik aja, ya?" suruh Megi sambil tersenyum.


Mamat yang sudah keluar dari bilik toilet tersenyum jahil saat melihat Megi dan Maru sedang mengobrol. Ada ide jahil yang muncul dibenaknya. Mamat pun langsung berlari dan mendorong Megi ke depan. "Eeeeeh, licin bangetttt!" teriaknya heboh.


Saat melihat Megi berada di depan Maru, Mamat tersenyum. Di pikirannya Megi sudah mencium Maru tanpa di sengaja. Apalagi sudah hampir tidak ada jarak antara keduanya. Namun saat Mamat mengintip ia malah terbelalak kaget. Tidak. Rencananya tidak berjalan semulus itu. Megi memalingkan wajahnya ke samping saat tubuh Maru juga ikut terdorong sampai di dinding. Lalu Megi menoleh, menatap Maru yang sedang menutup matanya.


Pasti Maru memikirkan hal yang sama dengan Mamat.


Megi terkekeh. "Nggak terjadi apa-apa. Nggak usah ditutup matanya."


"Eh, gue kira lo...," balas Maru menggantung setelah membuka matanya. Jantungnya masih berdebar kencang saat Megi berada sedekat ini dengannya. "Nggak bakal. Gue nggak mungkin melakukan hal serendah itu sama orang yang gue sayang," katanya menjelaskan, tulus.


Iya, mana mungkin Megi mencium Maru dengan seenaknya meskipun ia di dorong tiba-tiba seperti tadi. Alam sadarnya masih ada pada dirinya.


_____