Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 43 :: BINGKAI UKIR



"Karena yang dikenang ternyata lebih menyenangkan. Yang masa depan malah mengecewakan." -Megizal Steven.


Ponsel Moza sejak tadi tidak berhenti berdering. Membuat Megi jengkel sendiri. Cowok itu lantas keluar dari kamarnya. Turun ke bawah untuk makan malam. Sembari melangkah, Megi mengulas senyum saat ia tak sengaja mengingat Maru. Masa lalunya dengan Maru cukup menyenangkan meskipun endingnya tidak begitu baik. Tetapi kenangannya masih indah untuk diingat.


Dulu saat masa labilnya itu dengan bodoh ia malah melepaskan Maru begitu saja. Andaikan hubungan mereka tidak putus mungkin akan bertahan sampai sekarang. Hampir sekitar lima tahunan. Megi jadi sumringah sendiri. Ia membayangkan betapa hebatnya dia jika mampu mempertahankan hubungannya saat SMP dulu sampai sekarang. Pasti akan banyak orang yang memujinya. Tentu hidupnya tidak akan terasa sunyi seperti ini.


Maru memang bukan cewek secantik Marsha. Tetapi dengan adanya Maru di kehidupannya sudah cukup membuatnya bahagia. Klasik memang. Namun, namanya juga manusia. Ada saat di mana manusia mengalami masa kebodohannya dan juga kekhilafannya.


Malam ini Megi makan malam dengan Moza. Kakaknya itu ternyata sudah berada di ruang makan sejak tadi. Pantas saja panggilan ponselnya tidak diangkat-angkat tadi.


"Ponsel lo tadi bunyi."


"Biarin."


"Ya, udah."


"Meg," panggil Moza.


"Hmm."


"Gue nggak mau lo punya hubungan lagi sama mantan lo itu! Nggak ada penolakan, Meg!" Moza tiba-tiba berteriak di depan Megi saat mereka berdua sedang makan malam.


Megi mengerutkan keningnya bingung. "Lah, lo kenapa sih? Peduli banget sama hubungan gue," balas Megi heran.


"Maru itu selingkuhan Genta, Meg. Lo ngerti nggak, sih? Kemarin Genta mutusin gue cuma untuk mantan lo itu." Moza pada akhirnya mengungkapkan semua keganduhan yang ada pada hatinya. Sejak diputuskan oleh Magen kemarin, ia sama sekali tidak nafsu melakukan apapun. Bahkan Moza sempat tidak masuk kuliah hari ini. Berdiam diri di rumah.


Megi masih tidak percaya. Mana mungkin Magen dan Maru pacaran? Mungkin hanya kebetulan saja atau hanya candaan belaka. Megi sangat yakin bila Maru masih menempatkan dirinya di hatinya. Tidak mungkin Maru berbalik arah. Nanti bila Ujian sudah selesai Megi baru akan bertindak. Setidaknya satu langkah lebih maju untuk mengubah statusnya. Lagipula tidak mungkin jika di fase mendekati Ujian ini Maru mau berpacaran.


"Bukan Maru mantan gue mungkin. Dunia kan sempit. Bisa aja namanya kebetulan sama," timpal Megi tidak begitu peduli. Mendengarkan celotehan Moza sama saja dengan membuatnya khawatir. Ia malah akan kepikiran terus tentang hal yang tidak-tidak.


Moza menggebrakan meja makan itu dengan jengkel. Dia menatap adiknya itu dengan tajam. Mana ada dia salah orang. Di Mal dia melihatnya dengan sendirinya tanpa omongan dari orang lain. Tidak mungkin bila itu bukan Maru mantannya Megi. Lagipula Moza hanya mengenal satu Maru saja. Dan itu Maru mantannya Megi. Tidak ada lagi Maru yang Moza kenal.


"Marutere Althea nama lengkapnya. Adik tirinya Genta. Masih mau bilang kebetulan? Inget ya, Meg. Mulai sekarang jauhin yang namanya Maru. Fokus sama pendidikan kamu aja," kata Moza memperjelas. Megi tertegun mendengarnya.


Apa benar yang barusan Moza bilang?


Maru memilih Magen daripada dirinya. Bukankah itu tidak mungkin untuk terjadi? Ah, tapi Megi juga lupa. Masih ada Tuhan yang mengawasi. Tidak ada yang tidak mungkin. Memang benar bila Maru sudah benar-benar membencinya.


***


"Ayah mau kamu pacaran sama Magen," ujar Muzan ketika Maru baru saja duduk di depannya. Anak perempuannya itu terdiam tak berkedip. Masih tidak percaya dengan apa yang barusan Muzan katakan. Secara tidak langsung Muzan menjodohkan Maru dengan pilihannya yaitu Magen yang berstatus mantan kakak tirinya.


Maru meneguk ludahnya lantas tertawa kecil. "Ayah kalau bercanda nggak lucu, ih. Masa pacaran dipakai bahan bercandaan," balas Maru mengalihkan. Dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja tadi hanya bercanda. Tentu tidak lucu jika Maru menyeriusinya.


Lagian juga Magen tidak mungkin memiliki niat untuk menembaknya lagi, kan? Meskipun sudah memiliki kesempatan yang jauh lebih besar tetapi tidak mungkin pula jika Magen masih memiliki rasa dengan Maru. Sudah lama mereka berpisah dan perpisahannya pun bukan termasuk kesan yang baik. Mereka berpisah dengan cara yang buruk hingga bila Maru mengingatnya langsung membuatnya jengkel.


Maru rasa dirinya juga bukan tipe Magen. Dia terlalu emosian. Untuk hal yang sepele Maru juga sering marah-marah. Kadang dia juga sampai membentak. Dia menyadarinya. Dirinya bukan tipe cewek yang disukai banyak cowok. Sebab itu tidak mungkin bila Magen masih menyukainya. Lagipula Magen yang sekarang maupun yang dulu masih sama statusnya. Tidak ada yang berubah meskipun hubungan kedua orangtua mereka sudah selesai. Sampai kapanpun tidak akan pernah berubah. Magen adalah kakak Maru.


"Ayah serius, Nak."


Maru tertawa kecil. Lucu sekali Ayahnya ini. Baru kali ini Muzan mengatur Maru soal pacaran. Harus dengan siapa dan bagaimana. "Ayah, Maru belum kepikiran untuk pacaran lagi. Bentar lagi Maru ujian, Yah. Maru mau fokus dulu sama Ujian Maru," sanggah Maru.


Memang benar jika sebulan lagi Ujian karena itu ia tidak mau memikirkan statusnya dahulu. Masih ada hal penting yang harus Maru selesaikan. Dia juga belum menentukan jurusan kuliahnya sampai sekarang. Banyak hal yang harus Maru pikirkan untuk masa depannya. Masalah pacar sekiranya akan menjadi yang nomor sekian mulai sekarang.


Muzan mendongak. "Kamu akan ambil jurusan apa setelah ini?" tanyanya.


Sesuai dugaan Maru beberapa minggu yang lalu. Ayahnya pasti akan bertanya soal ini. Kemarin Magis sudah bilang kepadanya bila dia akan mengambil jurusan Psikologi. Itupun katanya kalau dia mampu. Jika tidak dia akan mengambil jurusan lain. Masih ada banyak stock pilihan. Salah satunya adalah Hubungan Internasional. Maru heran sendiri dengan Magis. Semua jurusan yang telah dia pilih cukup tinggi-tinggi. Tidak ada jurusan yang mudah dimasuki olehnya.


Sedangkan Morin. Sudah tidak perlu ditanya kembali. Dia sangat pintar Ekonomi. Kemungkinan dia akan masuk ke STAN. Itu baru rencananya. Pilihan kedua Morin adalah jurusan Hukum di Universitas Gajah Mada. Dan pilihan terakhirnya adalah jurusan Akuntansi di Universitas Diponegoro. Morin memang sudah menata semuanya dengan baik. Dia tidak begitu ingin kuliah di daerah Jakarta. Bosan dengan suasana kota Jakarta yang terkenal dengan kemacetannya.


Lalu Marsha? Ketika gadis itu ditanya oleh Magis yang penyakit penasarannya akut itu dia juga menjawab. Meskipun awalnya sewot tetapi Marsha tetap menjawabnya dengan detail. Walaupun ada beberapa jawaban Marsha yang membuat Maru dan Magis terheran-heran. Marsha terbilang cukup pintar. Hanya saja perilakunya yang kadang juga menyebalkan. Membuat orang lain naik darah karena ulahnya.


Marsha bilang jika setelah lulus dia tidak akan lanjut kuliah dahulu. Katanya akan dijeda selama setahun untuk tetap tinggal di rumah. Mengurusi sesuatu yang penting katanya. Setelah setahun di rumah Marsha akan melanjutkan pendidikannya di UI. Jurusannya belum pasti apa. Tetapi jika tidak jurusan Akuntansi ya mungkin bisa jurusan Manajemen. Marsha hanya ingin bekerja di kantor.


Sekarang tinggal dirinya. Mau ke mana Maru setelah ini?


"Mungkin kerja kali, ya, Yah? Otak pas-pasan kayak Maru mau kuliah apa?" jawab Maru asal. Dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.


Muzan terkekeh.


"Sana minta pendapat sama yang lebih pintar. Siapa tahu aja sarannya cocok buat kamu," suruh Ayahnya yang tidak lain adalah untuk menemui Magen di kamar. Setidaknya bisa mempererat hubungan mereka.


Dengan malas Maru berdiri. Dia menatap Ayahnya. "Harus sekarang, nih?" tanyanya.


"Kan yang butuh kamu, Sayang. Mau sekarang atau besok baliknya juga ke diri kamu sendiri."


"Iya, Ayah. Ini lagi otewe juga."


Muzan hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya Magen dan Maru itu pribadi yang terbalik. Maru dengan seribu emosi dan malasnya. Magen dengan seribu sabarnya juga dengan ketulusannya. Berbeda sekali. Meskipun begitu, Muzan selalu berharap semoga mereka berdua memang jodoh.


***


Uraian kata yang barusan dikatakan Muzan membuat Maru kepikiran. Sembari berjalan menuju ke kamar Magen, ia juga masih terbayang dengan ucapan Ayahnya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Ayahnya menyuruhnya untuk berpacaran dengan Magen. Sangat tidak mungkin bila tidak ada apa-apa. Pasti ada sesuatu yang sedang Muzan dan Magen sembunyikan darinya.


Maru harus mengklarifikasi semua ini dengan Magen. Setibanya di depan kamar Magen, Maru langsung membuka pintunya. Kebetulan tidak terkunci. Dia membukanya lebar-lebar hingga terlihat seorang cowok sedang mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang di kedua telinganya. Cowok itu berbaring santai di ranjang sambil memejamkan matanya.


"MAGENTA ARKAS PRAKARSA! LO BILANG APA SAMA AYAH, HAH?" teriak Maru di ambang pintu kamar Magen sekaligus kamar Ayahnya juga. Berhubung kamarnya hanya ada tiga jadi mau tidak mau Magen dan Muzan harus sekamar. Ternyata teriakan Maru tadi tidak membuat Magen berkutik. Wajar saja karena Magen sedang memakai earphone.


Maru masuk ke kamar Magen. Ia naik ke atas ranjang yang sedang ditiduri Magen. Bergoyangnya ranjang itu membuat Magen membuka mata dengan refleks. Melihat Maru yang mendekat kepadanya ia sontak terbangun. "Eeeh, lo mau ngapain tadiii?" ujarnya heboh.


Magen melepas earphone-nya. Menatap Maru dengan curiga. Sementara yang ditatap hanya mendengus jengah. "Lo ngomong apaan sama Ayah, hah?" Maru kembali bertanya.


Tentu Magen tidak tahu apa-apa. Tadi dia berbaring dengan tenang sambil mendengarkan musik kesukaannya. Tiba-tiba Maru datang dan mengagetkannya. Lalu Maru bertanya sesuatu yang tidak Magen mengerti. Maksudnya apa? Sejak tadi Magen tidak keluar kamar. Ia tidak tahu apapun yang terjadi di luar.


"Ngomong apaan, sih? Nggak ngerti gue, elaaah. Lo tiba-tiba datang dan ngagetin aja," tutur Magen sambil menggaruk tengkuknya. Maru mengembangkan senyum yang perlahan senyumnya berubah seperti senyum nenek lampir. Dia memegang kerah baju Magen seperti adegan di televisi. "Ayah nyuruh gue pacaran sama lo. Nggak mungkin tanpa alasan, dong? Lo pasti udah ngomong yang aneh-aneh sama Ayah. Iya, kan? Ngaku nggak lo!" tuding Maru.


"Gue nggak ngomong apa-apa. Nggak usah nuduh, deh." Magen mengelak. Memang kenyataannya begitu. Dia sama sekali tidak mempengaruhi Muzan untuk membuat Maru berpacaran dengannya. Tetapi Muzan sendiri yang menyuruh Magen untuk semangat mendapatkan Maru kembali.


Maru masih tidak percaya dengan Magen. Ia menyipitkan matanya. "Mana ada, ih! Muka-muka lo tuh pandai banget ngakalin orang," tambah Maru tidak mau berhenti.


"Serius, ya, ampun. Gue nggak ngomong apa-apa sama Ayah. Lo tanya aja sama Ayah kalau nggak percaya."


Maru langsung diam. Tangannya tak lagi memegang kerah baju Magen.


"Tapi gue serius soal perasaan gue, Ru. Gue masih sayang sama lo. Apa lo mau ngasih gue kesempatan untuk ngisi hati lo yang kosong itu?" Magen mengangkat dagu Maru hingga mata mereka saling berpandangan.


Kata siapa kosong?


Yakin atau tidak tetapi nama Megi masih ada di hatinya.


Maru melepas tangan Magen dari dagunya. "Lo ngomong apaan, sih? Bentar lagi tuh gue ujian. Udah, deh. Nggak usah nambahin pikiran gue aja," elak Maru.


Bukan Ayahnya bukan juga Magen sama-sama membuatnya kepikiran.


"Gue tahu. Gue hanya butuh kepastian lo aja. Selama fase mendekati Ujian gue nggak bakal gangguin lo. Jadi, apa lo mau jadi pacar gue?" Magen benar-benar serius. Sudah tidak ada lagi yang menghalanginya. Moza sudah bukan lagi pacarnya. Hubungan mereka sudah selesai. Lalu apa lagi? Bukannya sudah benar jika sekarang Magen bertindak sebelum terlambat?


Maru jadi bimbang. Dulu Magen pernah menembaknya dan Maru masih bisa menolak karena Magen adalah kakak tirinya. Sekarang tidak ada lagi alasan. Ujian juga tak lagi bisa dijadikan alasan untuk menolak. Perasaan? Sangat tidak mungkin. Karena jujur, saat ini Maru sedang dalam fase keraguan. Ia belum yakin hatinya ini untuk siapa.


Magen?


Atau Megi?


Magen menggenggam telapak tangan Maru sambil tersenyum penuh arti. "Apa lo nggak mau ngebiarin orang lain mencoba bikin lo bahagia? Gue nggak janji kalau gue nggak bakal nyakitin lo, Ru. Tapi gue bakal buktiin kalau omongan gue selalu bisa dipegang," kata Magen tulus.


Lagi, cowok di depannya ini berhasil membuatnya semakin bimbang. Jika benar Megi serius dengannya, kenapa sampai sekarang Megi tidak melangkah lebih maju kepadanya? Setidaknya Megi harus memberinya kepastian mengenai keseriusannya. Kini, Maru malah semakin meragukan keseriusan Megi.


"Ayah restuin, terima aja." Suara itu membuat Maru menoleh ke ambang pintu. Ada Ayahnya yang sedang tersenyum kepadanya. Seolah senyuman itu memiliki makna yang tersirat untuk tidak menolak ajakan Magen. "Magen orang baik. Sayang kalau disia-siain," lanjut Muzan.


Magen semakin mengembangkan senyumannya. "Jadi, gimana? Yes or no?"


"Yes, but...," jawab Maru dengan refleks. Jawabannya membuat Magen langsung memeluknya dengan bahagia. Sementara Ayahnya yang berada di ambang pintu juga ikut tersenyum. Lantas, Maru ragu. Apakah ini membahagiakan atau tidak?