
"Ini bukan akhir yang memisahkan. Melainkan akhir yang menyatukan." -Megizal Steven.
Pengumuman kelulusan telah datang kemarin. Semua kelas XII SMA Galaska dinyatakan lulus tanpa ada satupun yang tertinggal. Padahal Megi tidak yakin bila dia juga ikut lulus. Mengerjakan soal-soal ujian saja dia hanya menjawabnya asal. Bukan karena tidak bisa. Melainkan karena tidak belajar pada akhirnya dia lebih memilih untuk mengerjakan sebiasanya. Ujian Nasional juga bukan ujian yang seperti biasanya. Jika dulu ada Mars yang akan membantunya. Tetapi kemarin saat Ujian Nasional Megi hanya berjuang sendiri.
Berjuang tanpa semangat dari siapapun. Moza tidak memberinya semangat. Begitu pula dengan Maru. Ketika itu dia sedang tidak berhubungan baik dengan Maru. Wajar bila Maru tidak memberinya semangat. Tetapi Megi masih mendapat semangat dari orangtuanya. Anak kelas sepuluh dan sebelas juga ikut menyemangatinya. Setidaknya masih ada yang memberinya semangat meskipun sama sekali tak membuatnya bersemangat.
Melupakan soal itu.
Semuanya sudah berlalu. Megi tak lagi ingin mengingatnya. Yang sudah biar berlalu. Karena saat ini ada hal yang lebih penting dari semua itu.
Pagi ini Megi bangun sangat awal. Dia segera membereskan kamarnya yang tidak pernah dibereskannya. Lantas mengambil pakaian yang menurutnya sangat cocok dipakainya. Celana jeans hitam dipadu dengan kaos warna putih lalu jaket hitam yang menutupnya. Menurutnya style-nya sudah lumayan. Tidak begitu memalukan. Dia segera menyisir rambutnya serapi mungkin. Lantas memakai sepatu vans yang baru dibelikan Moza minggu lalu.
Berhubung ia akan menemui orang yang spesial baginya ia akan menggunakan sesuatu yang belum pernah dipakainya. Termasuk sepatu baru. Megi sadar bila hal yang penting ini akan dilakukannya siang nanti. Tetapi datang pagi juga akan menambah nilai plus untuknya.
***
Barang-barang Maru sudah dimasukkan Megi ke dalam bagasi mobilnya. Begitu pula dengan barang-barang Mahira. Rencananya hari ini Megi akan mengantarkan Maru dan Mahira ke Semarang. Setelah semalam meminta izin kepada Muzan akhirnya Megi diperbolehkan untuk mengantar Maru dan Mahira.
"Kamu bawa mobilnya hati-hati, ya. Terima kasih telah berubah," ucap Muzan sambil menepuk punggung Megi bangga. Muzan mulai menyadari kesalahannya dengan menjodohkan Maru dan Magen. Padahal anaknya itu masih muda sekali dan seharusnya Muzan membebaskan pilihan Maru sendiri. Selama masih di batas wajar dirasa masih baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Walaupun Muzan tidak jengkel lagi kepada Megi belum berarti Muzan menyetujui Megi untuk memiliki hubungan yang lebih dengan anaknya. Sejak tadi Muzan sudah memberitahu Megi bolak-balik perihal itu. Tanpa diberitahu pun Megi juga sudah diberi tahu Maru.
"Maru dan Mbak Mahira berangkat dulu ya, Yah." Maru menyalami Muzan dan memeluknya pula. Lalu bergantian Maru memeluk Marita. "Selama Maru nggak di rumah Mama jaga diri baik-baik. Jangan lupa untuk selalu balas pesan Maru. Maru berangkat ya, Ma. Assalamualaikum," pamitnya kepada Marita.
Kemudian Mahira keluar rumah dan berpamitan dengan Muzan dan Marita. Sebelum mereka berangkat ternyata pembantu baru sudah tiba di rumah. Untuk mensiasati agar warga tidak salah paham jika Muzan dan Marita hanya berdua di rumah maka Mahira mencari pembantu baru minggu lalu.
"Namanya Bi Ama," ucap Mahira memperkenalkan pembantu baru yang sudah sedikit tua itu. "Bi Ama ini bakal bantuin pekerjaan Mbak selama aku nggak di rumah."
"Iya, Mahira."
"Perkenalkan Mas, Non, Nya, Tuan, nama saya Bi Ama. Saya dari Tegal." Bi Ama memperkenalkan dirinya.
"Jauh sekali, ya?' Marita mengernyit.
Bi Ama hanya tersenyum. "Saya merantau, Nya. Di Tegal saya sulit mencari pekerjaan. Matur suwun sanget sudah milih saya untuk bekerja di sini." [Terima kasih sekali]
"Iya, Bi, nggak apa."
Muzan mengangkat dagunya. "Buruan berangkat sebelum makin siang," perintahnya.
"Oh, iya, Yah."
"Pamit, Mas, Mbak. Bantu Mbak saya ya, Bi," pamit Mahira dengan senyum mengembang.
Bi Ama membalas senyuman itu. "Siap, Mbak!" jawabnya dengan semangat.
"Permisi semua." Kini gantian Megi berpamitan. Dia menyalami satu persatu mulai dari Muzan, Marita, dan Bi Ama. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Mobil Megi melaju dengan cepat saat matahari mulai tenggelam. Malam hampir tiba sebelum Megi sampai di Semarang. Perjalanan masih lumayan panjang. Hingga akhirnya mobil Megi masuk ke dalam halaman sebuah restoran besar. Dia menghentikan mobilnya. Maru yang sejak tadi tertidur langsung membuka matanya perlahan. Sementara Mahira masih sibuk memainkan ponselnya.
"Mbak Mahira makan dulu, yuk! Isi tenaga. Iya kan, Ru?" Megi membuka percakapan setelah lama diam.
"Hah, apaan." Maru masih belum mengumpulkan nyawanya. Dia masih berusaha membuka matanya lebar-lebar. Tidurnya tadi sangat pulas dan nyenyak sekali. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana kota barunya. Orang-orang di sekitarnya. Tentu ia perlu beradaptasi. Itu bukanlah hal yang mudah.
Sebab itu Maru banyak memikirkan ini itu sampai bisa tidur pukul dua tengah malam dan bangun pada pukul lima. Terhitung Maru hanya tidur selama tiga jam saja. Sementara Mahira masih seperti biasa. Dia sudah terbiasa beradaptasi. Karena itu dia tidak banyak kepikiran. Mahira sudah banyak pengalaman dengan hal seperti itu.
Gara-gara rasa mengantuknya yang berat itu alhasil Maru dan Mahira bertukar tempat duduk. Maru pindah ke bangku belakang agar bisa meluruskan kakinya. Mahira pindah ke tempat duduk Maru yang semula berada di samping Megi. Sebenarnya Megi sedikit canggung karena tidak pernah mengobrol dengan Mahira. Bahkan sudah lama sekali Megi tidak bertemu Mahira. Terakhir kali bertemu adalah saat masih bersama Maru. Masih SMP.
Mahira menengok ke belakang. "Bangun, Ru. Ayo makan dulu. Kalau masih ngantuk nanti tidur lagi setelah makan," katanya.
"Iya, Mbak."
Megi keluar lebih dulu. Lalu membuka pintu kedua mobil untuk melihat Maru yang masih menggeliat. Malas untuk bangun. "Mau turun sendiri apa digendong, nih?" tawar Megi.
Walaupun masih mengumpulkan nyawa tetapi Maru masih bisa mendengarnya.
"Eeeh, nggak!" teriaknya sambil beranjak duduk. Mahira yang masih berada di dalam mobil hanya menggeleng heran sambil tersenyum. "Gue bisa bangun sendiri! Minggir!"
Megi menurut saja. Menghilang dari hadapan Maru. Namun, saat Maru hendak keluar dari mobil matanya langsung menyipit. Ada sorot lampu malam yang mengenai matanya. Seketika Maru langsung menutupi matanya dengan telapak tangannya.
"Ya, ampun! Silau banget."
"Makanya bangun, elaaah. Anak cewek malesan," cibir Megi yang ternyata masih berdiri tak jauh dari tempatnya.
Maru terpaksa keluar dari mobil dengan ogah-ogahan. Dia menggerutu kesal sambil menghampiri Megi dan Mahira yang sudah menunggunya. Sesampainya di sana Maru langsung mencuci mukanya di wastafel depan restoran. Ada banyak sorot mata yang menatapnya. Tapi Maru masih tidak peduli. Bukan urusannya juga.
"Cuci muka di toilet kek," saran Megi.
"Kelamaan. Mumpung ada air, nih. Kalian masuk duluan aja. Ntar gue nyusul."
Mahira menepuk punggung Maru. "Jangan lama," ingatnya.
"Ho'oh."
Megi dan Mahira segera masuk ke dalam restoran. Beberapa menit setelahnya Maru mulai menyusul mereka. Tidak peduli dengan keadaannya sekarang. Entah bajunya yang sudah berantakan. Ataupun wajahnya yang sudah tidak karuan. Saat mencuci muka tadi Maru lupa membawa sabun wajahnya. Alhasil, ia hanya membasuhnya dengan air belaka.
Langkah demi langkah mengantarkan Maru kepada Megi dan Mahira. Dua orang itu sudah memesan banyak makanan tanpa menunggu Maru. Dengan kesal di menghampiri Megi dan Mahira. Tangan Maru menarik kursi itu lalu didudukinya. Ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap Megi dan Mahira bergantian untuk meminta penjelasan.
"Kenapa, dah? Tajam amat matanya." Megi tertawa kecil seraya merogoh ponsel dari saku jaketnya.
"Kalian pesan nggak nunggu gue. Terus gue harus makan apa? Bekas kalian gitu?"
"Maru, Mbak ud---" Mahira berhenti berkata karena Maru sudah lebih dulu menyela. "Maru ngerti. Nggak usah dikasih tahu."
"Udah tahu, wlee."
"Terus kenapa ngegas tadi? Astaga buah naga," gerutu Megi tak karuan.
Maru hanya tertawa. "Akting doang, jangan baperan lah."
"Pengin banget gue baper, ya?"
"Geer," elak Maru.
"Makin sayang, deh."
Memiliki hubungan baik setelah lama tidak berinteraksi membuat keduanya renyah sekarang. Perlahan semuanya kembali seperti dulu. Megi dengan senyumannya yang jahil. Juga Maru dengan emosinya yang labil. Seakan, Mahira hanya menjadi penonton atas kisah cinta keponakannya ini.
Lalu kapan dirinya akan menjadi peran utama dalam sebuah kisah?
***
Semalam Megi memilih untuk menginap di hotel daripada harus melanjutkan perjalanannya. Dia bukan orang yang kuat melek sepanjang malam. Nyatanya Megi masih manusia. Dia takut terjadi apa-apa bila melanjutkan perjalanan. Daripada mengambil resiko akhirnya Megi memilih jalan aman. Hanya semalam saja untuk istirahat dan besok ketika pagi datang mereka akan melanjutkan perjalanan.
Dua jam yang lalu Maru, dan Mahira sibuk membersihkan rumah baru mereka setelah tiba di Semarang. Megi juga ikut membantu membersihkan rumah meskipun banyak mengeluhnya daripada kerjanya. Magen membelikan rumah ini untuk Maru dan Mahira selama berada di Semarang. Awalnya sempat ditolak Maru. Namun, Magen adalah orang yang teguh pada pendiriannya. Dia tidak akan pergi ke Belanda sebelum Maru menerima rumah baru itu. Daripada membuat Magen gagal pergi akhirnya dengan terpaksa Maru menerimanya.
Maru tahu. Dengan menerima rumah dari Magen hanya akan membuatnya terus mengingat Magen. Tapi apa boleh buat. Di Semarang ini Maru harus melupakan sejenak tentang Megi maupun Magen. Dia hanya harus fokus pada pendidikannya. Lalu dia akan kembali dengan kelulusannya. Itu yang telah Maru rencanakan.
"Capek banget, ya, ampun." Maru membaringkan tubuhnya di kasur lantai yang baru saja diambil Megi dari bagasi mobil.
Megi menyodorkan segelas air putih kepada Maru. "Minum dulu." Dengan rasa hausnya yang tinggi Maru pun mengambil air putih itu dari tangan Megi. "Makasih, ya."
"Gue tunggu di depan," ucap Megi sambil beranjak. Dia melempar senyum kepada Maru. "Ada yang mau gue omongin. Berdua aja tapi. Jangan bawa orang. Apalagi bawa warga sekampung. Bisa habis dikeroyok kegantengan gue ini."
"Pede banget, ih."
"Wajar, orang ganteng mah bebas."
"Terserah lo."
Tak lagi menjawab Megi pun bergegas keluar rumah. Mahira masih menata barang-barangnya di kamar. Ini kesempatan yang sangat bagus untuk Megi. Tanpa ada Mahira yang ada di samping Maru setiap saat dia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa malu.
Dengan senang Megi keluar rumah sambil senyum-senyum tidak karuan. Dia menunggu Maru di belakang mobilnya. Sembari Maru datang, Megi berusaha mengatur napasnya agar tidak sesak napas nantinya. Olahraga jantung pun Megi lakukan sesaat agar tidak merasa gugup saat ada Maru di depannya. Jantungnya harus sehat saat mengatakan perasaannya itu.
Seperkian menit akhirnya Maru datang. Dia melirik ke kanan dan kiri. Tidak ada apa-apa. Padahal tadinya ia mengira jika Megi akan memperlihatkan sesuatu kepadanya. Kemungkinan memberi hadiah sebagai kenangan sebelum berpisah jauh. Sebelum LDR pertemanan juga tentunya.
"Ngapain sih di sini?" tanya Maru bingung.
Megi mengembuskan napasnya. Dia memegang kedua bahu Maru hingga dia menatap Megi kaget. Tanpa angin maupun hujan tiba-tiba Megi menatap matanya sedekat ini. Jantung Maru seakan berhenti berdetak. Tak lama jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Hingga lebih kencang daripada sebelumnya.
"Gue...."
"Iya, kenapa?"
Benar-benar tidak dalam kendali. Jantung Maru berdetak tidak normal. Tubuhnya kaku seperti es. Dipikirannya, Megi akan mengatakan perasaannya kepadanya. Entah hanya pikiran atau memang kenyataan akan terjadi.
"Gue sayang sama lo. Dari dulu perasaan gue nggak pernah berubah. Gue serius, Ru. Ini nggak lagi bercanda."
Maru mengangguk.
"Jadi, mau nggak balikan sama gue?" tanya Megi serius.
Antara senang dan bimbang. Senang karena Megi benar-benar mengungkapkan perasaannya. Tetapi bimbangnya dia tidak mungkin menerimanya. Maru harus fokus pada pendidikannya. Dengan status pacar yang LDR dari Semarang ke Jakarta tidak membuat Maru yakin bila mereka bisa melaluinya bersama.
"Gue mau, tapi nggak bisa. Gue udah janji sama diri gue sendiri untuk fokus kuliah. Tentang LDR...," Maru menggantungkan ucapannya. "Gue nggak begitu yakin meskipun lo meyakinkan gue," ungkapnya.
"Nggak masalah. Gue sanggup nunggu lo sampai selesai," jawab Megi yakin.
Maru tidak begitu percaya. Kemungkinan dia akan berada di Semarang selama lima tahun. Apa Megi masih bisa bertahan kepadanya hingga nanti?
"Lo percaya kan sama gue?" Megi kembali bertanya. "I hope you believe me for my self," kata Megi lagi.
"Meg, gue...."
"Iya, kan?"
"Maybe..., yes." Maru memeluk Megi erat. Dalam beberapa minggu ini dia sudah berpisah dengan dua lelaki yang dia sayangi. "I will believe you. Makasih," ucap Maru memperjelas.
"Nama gue masih ada di hati lo, kan?"
"Maunya gimana?"
"Gue maunya iya."
"Iyain aja, deh, biar seneng."
Megi bahagia saat ini. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada ini. Perasaannya yang telah diungkapkannya tidak sia-sia. Sampai titik ini Megi bersyukur sekali.
Meskipun kedepannya dia harus kembali berjuang untuk bertahan.
Meskipun kedepannya dia harus kembali sendiri untuk bersama.
Meskipun nantinya, dia akan menentukan alurnya sendiri.
Lebih dari apapun, manusia tetap manusia. Ada saatnya untuk bertemu. Ada saatnya pula untuk berpisah.
"Selalu kunci nama gue di hati lo, ya!"
SELESAI.