
"Resiko memiliki adalah kehilangan. Karena tak selamanya yang dimilki akan selalu menetap.
Lalu, untuk apa aku berpikir mempertahankan bila kamu sendiri ingin menyelesaikan?" -Mozadiella Ajnasafitri.
Suasana XII IPS 2 tidak seramai biasanya. Mungkin saja karena segerombolan Megi belum datang. Jadi kelas masih terasa tenang dan damai. Magis dan Maru sejak tadi sudah berdiri di depan papan tulis. Entah untuk apa sebenarnya Maru sendiri juga tidak tahu. Dia hanya mengikuti apa yang Magis ajak.
Tiba-tiba Marsha datang. Berhubung hari ini piketnya, ia langsung mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan di papan tulis itu. Marsha tidak mempedulikan kehadiran Maru dan Magis yang berdiri di sampingnya. Lagipula sudah lama hubungan mereka renggang. Marsha juga tidak peduli lagi dengan semua itu. Untuk saat ini ada hal yang harus dia lakukan. Jauh lebih penting daripada mengurusi Magis dan Maru.
Magis yang melihat Marsha menghapus papan tulis di sebelahnya tidak banyak berkata. Dia hanya menoleh. Memperhatikan Marsha dari atas sampai bawah berulang kali. Namun saat matanya sampai di bagian perut Marsha, ia langsung terkejut. Perut Marsha terlihat lebih buncit dari sebelumnya.
"Gue nggak salah liat kan, Sha?" Magis membuka suara masih dengan menatap perut Marsha.
"Apaan?" balas Marsha sewot.
Magis menunjuk perut Marsha yang sedikit membuncit. "Itu perut lo kenapa?"
Marsha berhenti menghapus papan tulis. Ia menatap Magis. "Kenapa apanya? Gue nggak kenapa-kenapa," ujarnya.
"Lo nggak lagi hamil kan?" tanya Magis.
Marsha refleks memegang perutnya itu. Ia lupa memakai sweater hari ini. Membuat perutnya yang sudah mulai membuncit itu kelihatan. Jantung Marsha berdetak dengan kencang. Ia tertawa canggung sambil meneguk ludahnya, gugup. "Canda lo, ya? Gue habis makan tadi. Makanya agak buncit. Akhir-akhir ini gue juga sering makan fast food, sih. Makanya lemak gue mulai banyak," tutur Marsha menjelaskan sedetail mungkin.
Penuturan Marsha yang panjang membuat Maru dan Magis heran.
"Kaget banget sih kayaknya kalau liat gue bugar." Marsha kembali sewot. Gadis itu mengambil ponselnya di tas dan bergegas pergi keluar kelas dengan cepat. Seolah ada yang sedang Marsha rahasiakan.
Magis menyenggol Maru sambil mengangkat dagunya menunjuk Marsha yang sudah pergi. "Aneh nggak, tuh? Gue aja kalau habis makan nggak sebuncit itu perutnya," celutuk Magis.
"Udahlah. Lo jangan bahas hamil-hamil lagi. Kayaknya dia tersinggung sama pertanyaan lo tadi."
"Ya, kan gue niatnya cuma bercanda."
"Bercanda lo nggak lucu buat dia."
"Buat lo lucu, dong?"
"Nggak juga."
"Cih! Sama aja."
Maru hanya terkekeh. Lagipula ia masih terbayang dengan ucapan Marsha waktu itu. Untuk tidak mengurusi urusan orang lain. Makanya sekarang Maru tidak begitu peduli dengan Marsha. Berbeda dengan Magis. Gadis itu masih termenung. Memikirkan sesuatu. Tentunya tidak jauh dari Marsha pastinya.
***
"Magen, ada yang mau Ayah tanyakan sama kamu." Muzan duduk di samping Magen dengan menghela napas panjang sehabis membereskan warungnya. Sore ini cuacanya cukup terik. Membuat keringat banyak bercucuran dengan sendirinya. Muzan mengusap peluhnya itu dengan tangan.
Sejak pulang dari kuliah Magen langsung datang warung Muzan untuk membantunya. Pekerjaan part time Magen untuk sementara ditunda dahulu karena akhir-akhir ini tugas Magen mulai membludak. Ia tak sanggup bila harus dilakukan dengan kerja pula. Namun, seminggu lagi setelah praktek dan tugas yang selesai Magen akan kembali bekerja.
"Tanya apa, Yah?"
"Kamu masih suka sama Maru?"
"Eh, kok Ayah...."
"Tatapan kamu ke Maru berbeda. Kamu juga perhatian sama dia. Jadi?" Muzan memiringkan kepalanya. Menunggu jawaban pasti dari Magen.
Muzan tidak ingin mencampuri urusan Magen dan Maru. Hanya saja tiba-tiba semalam ia memikirkan tentang ini. Magen bukan lagi anak tirinya. Magen juga orang yang baik. Muzan sudah mengenal Magen lama. Meskipun tidak terlalu lama. Tetapi cukup untuk mengetahui bagaimana sosok Magen ini. Muzan rasa Magen sangat cocok untuk Maru. Apalagi kepribadian Magen hingga hal-hal jelek Magen sudah dapat Maru ketahui. Begitupun dengan Muzan. Dengan semua itu layaknya Maru akan jauh lebih baik bersama Magen daripada dengan Megi itu.
Magen ingin berbohong tetapi dia tidak pandai berbohong. Ingin jujur tapi dia bingung harus bagaimana cara menjelaskannya. Sepertinya perasaan Magen untuk Maru memang tidak pernah hilang. Buktinya sekarang rasa itu kembali ada. Ambisinya untuk mendapatkan Maru juga kembali terbuka.
"Magen masih suka sama Maru. Bahkan perasaan ini nggak pernah bisa Magen lupain. Maru itu satu-satunya cewek yang bisa membuat Magen tersenyum," jelas Magen sepanjang itu tanpa dia duga. Magen malu untuk mengatakan ini tetapi berhubung Ayahnya bertanya sekalian saja ia jujur. Siapa tahu Ayahnya merestui niatnya itu.
Muzan merangkul bahu Magen dengan mengembangkan senyum. Tangannya mengacak-acak rambut Magen gemas. "Jangan pernah menyerah untuk dapatin Maru. Ayah selalu dukung kamu, Gen."
Magen terbelalak dengan apa yang barusan dikatakan oleh Ayahnya.
Dia direstui?
"Ayah ngerestuin Magen buat dapatin Maru?" Magen kembali bertanya untuk memastikan. Jawaban Muzan pun membuatnya ingin terbang seketika. "Iya," jawab Muzan.
Muzan kembali menyenderkan tubuhnya seperti awal.
"Kamu pernah nembak Maru?"
"Pernah tapi ditolak. Alasannya klasik. Maru itu adik tiri Magen."
"Sekarang kan bukan lagi saudara tiri. Kamu harus coba nembak Maru lagi sebelum Maru balikan dengan mantannya," saran Muzan. Dia tidak begitu menyukai Megi. Selain karena pernah menyakiti anaknya itu Megi juga tidak bisa diajak serius. Cowok itu selalu ingin bercanda dan bercanda. Muzan kira untuk Maru yang sudah kelas 12 ini harusnya Maru memiliki pasangan yang bisa diajak serius. Ini bukan lagi waktunya untuk main-main.
Magen tersenyum lagi. Hari ini rasanya Magen seperti habis tertimpa durian runtuh.
"Ayah kenal sama Megi?" tanya Magen penasaran. Ayahnya itu mengangguk. Kini raut wajahnya tidak seriang tadi. Apa Megi meninggalkan kesan yang buruk kepada Muzan? "Ayah rasa orang itu hanya sekali disakiti orang lain. Jangan dua kali dengan orang yang sama," jelas Muzan membeberkan semuanya.
Meskipun tidak secara langsung namun Magen paham dengan apa yang Muzan katakan.
Tiba-tiba ponsel Magen bergetar. Ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Magen pun membukanya karena penasaran. Kamu kemana aja? Aku kangen, Genta. Bisa temuin aku di Kafe SB besok malam? Aku tunggu, ya.
Magen membulatkan matanya lebar-lebar. Setelah membaca pesan itu Magen mengembalikan ponselnya ke layar utama. Betapa terkejutnya ia saat melihat notifikasi yang masuk. Ada sekitar 76 panggilan dan 38 pesan yang masuk selama seminggu ini dia tidak mengurusi ponselnya. Memang Magen sedang malas membuka ponselnya karena saking sibuknya. Ternyata kesibukannya ini membuatnya lupa jika dia memiliki seorang pacar yang khawatir dengan keadaannya.
Mengingat perasaannya dengan Maru membuat Magen dengan perlahan melupakan Moza, pacarnya.
***
Pasalnya warna pink yang mereka kenakan cukup nyala. Berseragam pula. Mereka berempat memakai sepatu yang sama terkecuali dengan Mars. Hanya dia yang memakai sepatu berwarna hitam. Bukan sekadar sepatu saja yang sama. Tetapi sweater yang mereka pakai juga sama. Bergambar panda yang lucu dengan warna yang serasi dengan sepatu. Sama-sama berwarna pink namun tak begitu mencolok. Pink kaosnya hanyalah warna pink yang muda.
"Ya, ampun! Sayang! Kamu ngapain malu-maluin diri sendiri, sih?" Magis berteriak heboh sewaktu ia melihat pacarnya juga ikut berdandan aneh. Magis menyipit. Ia lantas menarik Mesky untuk keluar dari gerombolannya. Mengajak pacarnya ke belakang untuk dimarahi.
Maru bangkit dari duduknya dan menatap Megi yang sedang tersenyum kepadanya. Melihat Megi seperti itu rasanya Maru jadi malu sendiri. Bisa-bisanya cowok gagah itu memakai sesuatu berwarna pink yang sangat mencolok mata? Entah memang sengaja atau memang tanpa diduga.
"Guys! Ada yang punya minyak kayu putih, nggak?" Tiba-tiba Madda datang dan langsung berdiri di depan segerombolan biang rusuh itu. Madda mengangkat dagunya sambil menodongkan tangannya kepada semua orang yang ada di kelas satu per satu. "Eeeh! Ini nggak ada yang bawa apa? Yang anak PMR, dong! Mana!" seru Madda lebih keras lagi.
Maru membuka tasnya. Memastikan bila dia membawanya. Saat matanya melihat apa yang dibutuhkan, ia langsung tersenyum. "Ini gue bawa," ujarnya.
Madda langsung menghampiri Maru dengan cepat.
Mamat berdecak pinggang. Pusat perhatian seluruh mata tak lagi tertuju kepadanya. "Cepetan, woy, pergi! Ganggu aja lo, Da," cibirnya.
Madda menatap Mamat tajam. "Berisik lo! Sabar kenapa."
"Minyak kayu putih buat apa, sih? Masih pagi masa udah ada yang pingsan," tanya Megi heran.
"Itu tuh si Marsha mual-mual di toilet dekat koperasi. Kayaknya belum sarapan deh. Makanya masuk angin," jawab Madda. Setelah mendapatkan apa yang dibutuh ia kembali melangkah. "Pinjem ya, Ru," katanya.
"Madda!"
Madda berhenti melangkah. Gadis itu membalikkan badannya ke sumber suara. "Apaan?"
Maldi---cowok itu menghampiri Madda dan mengambil minyak kayu putih dari tangan Madda. "Eh, lo---" Belum selesai Maldi sudah memotongnya. "Biar gue aja yang ke sana." Maldi tak menunggu respon, cowok itu langsung pergi begitu saja.
Mamat menunjuk-nunjuk Maldi dengan jari telunjuknya. "Tuh bocah kenapa? Tumbenan dia mau nyamperin cewek rusuh itu."
"Pacaran kali," balas Megi asal.
Lagipula siapa yang tahu soal itu. Mungkin hanya Maldi, Marsha, dan Tuhan yang tahu. Bagi Megi juga tidak penting. Itu urusan mereka. Sedangkan urusannya adalah mendekati Maru kembali.
***
Sendy Buana Cafe.
Tulisan besar itu membuat Magen mengembuskan napasnya sejenak. Magen sudah menyiapkan mentalnya. Malam ini dia akan mengatakan yang sejujurnya kepada Moza. Dia tidak ingin Moza tau hari orang lain. Nanti yang ada malah Moza semakin sakit hati kepadanya.
Meskipun hubungannya dengan Moza terbilang sebentar tetapi Magen sudah tidak bisa melanjutkannya. Ia tidak mungkin berhubungan dengan orang yang belum pasti perasaannya. Sedangkan perasaannya sudah sangat pasti kepada orang lain. Bila kesempatan tiba di kehidupannya Magen tidak akan membiarkan kesempatan itu hangus dengan sendirinya. Selain mendapat kesempatan Magen juga mendapat restu.
Lalu tidak mungkin bila Magen membuang semua itu.
Hanya tinggal satu langkah lagi Magen sudah bisa mendapatkan Maru. Itu merupakan pencapaian yang tak terkira baginya. Dari dulu memang Maru yang selalu dicintainya. Mungkin Moza hanya sebagai pelariannya saja. Magen ragu dengan perasaannya terharap Moza. Layaknya memang benar bila perasaannya terhadap Moza itu tidak pernah ada.
Dengan keyakinan untuk nenyelesaikan semuanya Magen bergegas menuju ke Kafe itu untuk menemui Moza. Di dalam Kafe itu Magen mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah. Saat matanya menemukan di mana Moza berada Magen langsung menghampirinya tanpa banyak berpikir lagi. Malam ini juga semuanya harus selesai. Magen tidak ingin memiliki beban lagi.
"On time," ucap Moza membuka suara saat Magen sudah datang. Dia mengembangkan senyumnya. Akhirnya dia bisa kembali melihat Magen. Moza merasa sangat bahagia.
Magen menarik kursi untuk didudukinya. Sedikit canggung Magen pun mengembangkan senyumnya. "Maaf untuk seminggu ini, Za," ucapnya merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa."
Moza tidak kembali bersuara. Dia memesan beberapa makanan dan minuman kesukaan Magen setiap kali mereka pergi untuk makan bersama. Moza ingin mengonfirmasi kejadian waktu di Mal dulu. Tetapi ia mengurung niatnya. Malam ini ia ingin menghabiskan waktunya dengan Magen. Bersenang-senang untuk sesaat. Barulah nanti Moza bertanya soal kejadian di Mal ketika pulang.
"Kamu ke mana aja selama ini? Kok nggak ngabari aku? Aku ini pacar kamu, Gen. Aku khawatir sama kamu," ujar Moza serius sambil menatap Magen lekat-lekat. Magen hanya menghela napasnya. Menetralkan tubuhnya agar tidak gugup. "Maaf udah bikin kamu khawatir," jawabnya singkat.
Moza ingin jawaban yang setidaknya cukup panjang.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Oh, ya? Apa?" Moza sumringah.
Magen harus menyelesaikannya. Tidak ada lagi nanti-nanti.
"Aku mau kita putus, Za. Hubungan ini aku jalani tanpa perasaan," ucap Magen serius.
"Tanpa perasaan gimana? Katanya kamu nyaman sama aku? Kamu mau serius sama aku, kan?"
Magen menggeleng pelan. "Mungkin aku hanya sebatas nyaman sama kamu. Perasaan aku sepenuhnya masih untuk Maru. Bahkan sampai sekarang...."
"Oh, jadi itu alasannya kenapa kamu ngilang seminggu? Kamu habisin waktu kamu untuk jalan-jalan sama Maru. Iya, kan?" Moza mulai emosi. Ia tidak pernah menyangka bila Magen akan memutuskannya sepihak. Semua omongannya hanya omong kosong belaka.
"Maksud kamu apa?" tanya Magen heran.
Moza tertawa kecil. "Aku liat waktu kamu berduaan sama Maru di Mal. Kamu bahkan rangkul Maru. Aku liat kamu sebahagia itu sama Maru. Sedangkan sama aku..., bahkan kamu lupa kalau aku ini pacar kamu."
"Nggak begitu, Moza."
"Maru emang jahat! Gara-gara dia kamu jadi mutusin aku, kan?"
"Moza ini nggak se---"
"Aku mau pulang." Moza bangkit dan langsung menenteng tasnya pergi meninggalkan Magen dengan air mata yang mengalir.