
"Mungkin memang sulit untuk mengembalikan semuanya. Tapi untuk memperbaiki sebagian itu masih ada kesempatan." -Magenta Arkas Prakarsa.
Pecahan gelas kaca membuat Magen yang sedang ada di kamarnya ikut terkejut. Ia bangkit dari posisinya menuju ke bawah karena penasaran dengan apa yang terjadi. Magen sebenarnya sudah banyak pikiran akhir-akhir ini. Entah mengapa, ia malah semakin merutuki semua yang telah diperbuatnya dengan Mamanya. Padahal dari dulu memang Mamanya selalu mencari uang seperti ini. Bahkan Magen tak pernah menyesalinya. Baru kali ini rasanya ada yang mengganjal dengan diri Magen. Semenjak mengenal Maru dan mulai ada rasa pada gadis itu niat jahatnya perlahan mulai menghilang. Berada di sisi Maru saja rasanya sudah cukup membuat Magen bahagia. Ia tak lagi butuh uang. Karena nyatanya memang Magen hanya butuh kebahagiaan. Bukan uang belaka.
Magen tidak sepenuhnya tega memperlakukan Maru seperti itu dulu. Tapi dia tidak punya pilihan. Antara Mamanya dan Maru, Magen masih memilih Mamanya. Tidak ada alasan untuk tidak memilih Mamanya. Ya, walaupun sejujurnya Magen tidak bisa memilih antara keduanya. Tak berselang lama perasaan gusar itu memenuhi benak Magen. Ia tidak seharusnya begitu. Sekarang Magen sudah besar. Seharusnya dia bisa memilih antara yang benar dan yang salah. Lagi, lagi, Magen terjebak dengan traumanya. Sekaligus masuk ke dalam pilihan yang salah karena hal itu.
"Belum tidur, Gen?"
Magen menoleh ke sampingnya saat dia sudah sampai di lantai bawah. Terlihat ada Mamanya yang sedang mabuk berat. Pantas saja ada suara gelas pecah tadi. Magen sendiri juga tidak heran dengan tingkah Mamanya ini. Mestha seringkali meringankan pikirannya dengan mabuk seperti ini. Biasanya bisa sampai tiga botol sekaligus. Magen tahu ini salah. Tidak seharusnya Mestha melakukan itu. Tapi Magen masih tak berani untuk keluar dari zonanya. Dia kembali terjebak untuk berkata iya pada hal yang salah.
Pandangan Magen memperhatikan sekelilingnya. Ruang tamu yang sangat berantakan karena ulah Mamanya. Bantal yang sudah berserakan. Pecahan gelas. Kulit kacang yang berhamburan. Ah, semua ini sungguh buruk. Apalagi lampunya dibiarkan redup. Seolah sangat menyesuaikan dengan keadaan. Ini sungguh larut malam. Sudah pukul satu lebih. Sejenak Magen mengembuskan napasnya. Ia mengulas senyum sambil mendekat kepada Mamanya. Merangkul perlahan Mamanya untuk dibawa ke kamar. "Udah malam. Mama tidur, ya?" ujar Magen pelan.
"Nggak. Mama belum ngantuk Magen. Mau di sini aja! Nggak mau ke kamar! Bau. Nggak enak," adu Mamanya menolak.
Magen tidak memaksa.
"Ada yang mau Magen bicarain sama Mama. Penting," ucap Magen serius. Meskipun Mamanya sudah mabuk berat. Tetapi pikiran Mamanya tak sepenuhnya langsung rileks. "Ambilin obat Mama. Di kamar," perintah Mamanya.
Dengan anggukan kepala Magen langsung pergi ke kamar Mamanya. Mengambil obat seperti apa yang telah Mamanya suruh tadi. Magen tahu obat yang Mamanya maksud adalah obat untuk mengembalikan keadaan Mamanya yang sedang mabuk. Sejak dulu memang begitu. Setiap Mamanya mabuk berat, Mamanya itu selalu membawa obat berwarna kuning kecil di dalam sakunya. Katanya itu obat pereda. Padahal setahu Magen itu hanyalah vitacimin. Bukan obat pereda. Aneh. Tapi memang dengan itu Mamanya bisa kembali normal.
Setelah mengambil obat berwarna kuning itu, Magen langsung kembali ke bawah. Ia tak langsung menemui Mamanya. Magen membelok arah menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Lalu ia baru menjumpai Mamanya di ruang tamu dengan segelas air putih yang ada di tangannya.
"Ini, Ma," ucap Magen sambil memberikan segelas air putih yang telah diambilnya dari dapur.
Mestha menerimanya tanpa protes. Di sela mabuknya ia masih tersenyum pada anak tunggalnya itu. Lantas Mestha meminum obatnya dan mengembuskan napasnya sejenak. Selang beberapa menit Mestha baru kembali membuka suara. "Hal penting apa yang mau kamu omongin? Masalah kuliah kamu? Kan Mama udah kasih kamu uang lima milyar buat keperluan hidup kamu selama Mama pergi ke Belanda."
"Bukan masalah itu, Ma," elak Magen. Dia tidak mempermasalahkan uangnya. Lagipula biaya kuliah Magen juga sudah gratis. Ia hanya butuh uang untuk keperluan sehari-hari. Tetapi Magen tidak ingin menggunakan uang haram itu lagi. Sepeserpun tidak mau.
Mestha menoleh, tidak paham. Lalu hal penting apa yang dimaksud?
"Terus?"
Magen meyakinkan dirinya untuk membicarakan ini sekarang. Ia menghela napasnya sejenak. Lantas kembali menatap mata Mamanya. "Aku rasa ini semua salah, Ma. Kita terlalu jauh mengambil milik orang lain. Apa nggak sebaiknya kita kembaliin aja? Aku pikir kebahagiaan itu jauh lebih berharga daripada uang."
Perkataan Magen barusan sungguh membuat Mestha tak percaya. Sejak kapan anaknya ini tak sejalur lagi dengannya?
"Kebahagiaan nggak menjamin kita untuk hidup tercukupi, Gen. Mama rasa pikiran kamu itu salah. Semua yang telah kita lakukan ini benar. Nggak ada lagi pengembalian hak milik," cetus Mamanya mempertegas. Magen menggeleng tak percaya. "Kita tercukupi dengan hidup sama Ayah, Ma. Nggak cuma masalah uang. Di sana Magen juga dapat kebahagiaan. Magen bisa ngerasain rasanya punya keluarga yang lengkap. Magen---"
"Jangan sebut dia Ayah! Mas Muzan itu bukan lagi Ayah kamu! Inget itu. Sudah. Mama nggak mau berdebat lagi sama kamu. Mau kamu sejalan sama Mama atau nggak, Mama nggak peduli. Ini udah larut malam. Mending kamu tidur aja," ujar Mestha tak memberi ruang bagi Magen untuk berbicara. "Besok Mama berangkat habis subuh. Kamu jaga rumah selama Mama nggak ada," tambahnya.
Melihat Magen yang diam menatapnya, Mestha langsung beranjak dari tempatnya. Melangkah menuju ke kamarnya untuk istirahat. Nyatanya berbicara dengan Magen malam ini hanya membuat pikirannya semakin bertambah beban saja. Apa tadi kata Magen? Semua ini salah? Padahal hidup memang begitu. Memanfaatkan orang untuk menunjang kehidupannya.
Mestha rasa dirinya tak pernah salah.
***
Muzan bersiap-siap untuk membuka warungnya pagi ini. Berhubung tadi pagi Muzan telah mengambil pesanan daging di pasar maka uangnya pun hanya tersisa sedikit. Mau tidak mau akhirnya Muzan memilih untuk naik angkot. Padahal jika tadi uangnya masih tersisa banyak ia akan naik taksi saja biar orang lain tidak mencium bau lebus dari daging yang telah dibawanya.
"Bang berhenti, Bang!" teriak Muzan melambaikan tangannya.
Angkot yang dipanggilnya telah berhenti di depannya. Namun sebelum memasuki angkot tersebut tiba-tiba ada dua preman yang menarik lengan Muzan. Ia langsung ditodongi dengan pisau tajam di lehernya. "Uang mana uang? Ini daerah kawasan gua! Harus bayar sebelum pergi. Enak aja main pergi seenaknya," ujar salah satu preman. Satu laginya memasuki angkot sambil menodongkan senjata juga.
"Uang lu mana, hah?!" bentak preman yang sejak tadi telah menodong Muzan dengan pisaunya. "A-ampun, Bang. Ss-saya b-beneran nggak ada uang. Serius," jawab Muzan terbata-bata.
"Banyak alesan lu!" Preman itu kembali memasukkan pisaunya. Ia lantas melayangkan satu bogem kepada Muzan. Tapi lengannya tertahan. Tak bisa bergerak. Preman itu menoleh dengan tatapan tajam. Ada yang menahan lengannya. "Woiii! Berani juga lu nyentuh gua. Opet, nih! Ada anak kecil yang sok jagoan!" ujar preman itu kepada temannya yang ada dalam angkot---meminta bantuan.
Orang yang bernama Opet langsung keluar dari angkot. "Mana, Bang? Waah, berani juga ya lo! Hajar aja, Bang, yuk!" Opet langsung loncat dan memberikan bogeman kepada anak kecil yang dimaksud temannya. Namun, anak kecil itu malah mendorong lengan si preman ke orang yang bernama Opet. "Duh! Sakit, Bang," keluhnya.
"Lu kira gua nggak?"
"Udah lah, Bang. Saya nggak mau cari perkara. Mending Abang pergi aja. Karena nggak lama polisi pasti bakal dateng," ujar anak kecil itu.
Si preman bukannya mendengar baik-baik ia malah semakin mempertajam matanya. "Lu pikir gua mempan dengan tipuan lu? Kagak," tutur si preman.
Anak kecil itu membunyikan suara sirine polisi di ponselnya yang dia pegang di belakang tubuhnya dengan senyuman. Alhasil suara sirine itu mulai terdengar dari arah mobilnya. Ia sengaja memasang speaker di mobilnya sebelum mendatangi dua preman ini.
Wiuuu...wiuuuu...
"Bang! Itu beneran suara sirine polisi! Kabur, yuk!" Opet yang mulai ketakutan langsung menarik paksa si Bosnya. Sementara si Bos menunjuk-nunjuk anak kecil yang dimaksudnya. "Kali ini lu boleh bebas. Lain kali lu nggak akan bisa lolos," peringatnya.
"Siap, Bang!" Si anak kecil itu memberi hormat pada premannya.
"Nggak perlu terima kasih, Yah---eh, Om. Saya nggak melakukan apa-apa kok," jawab Magen canggung sambil menggaruk rambutnya yang jelas tidak gatal itu.
Muzan mengembangkan senyum. "Kalau masih nyaman panggil Ayah nggak apa. Ayah senang dengarnya," tutur Muzan senang. Sudah lama sekali dia tidak melihat Magen dan Mestha.
Meskipun mereka yang sudah membuatnya hancur seperti ini tetapi Muzan tidak begitu peduli lagi. Semuanya sudah jalannya. Tidak perlu ada yang disesalinya. Lagipula tiga bulan sudah berlalu. Dan kenyataannya hidup Muzan sekarang jauh lebih baik. Ia bisa merasakan hangatnya memiliki keluarga yang belum sepenuhnya utuh. Setidaknya, ia masih bisa tersenyum itu sudah cukup. Lagipula dengan semua ini Muzan juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Marita dan Mahira.
"Ayah nggak marah sama Magen?" tanya Magen.
Muzan mengernyit.
"Kenapa harus marah? Magen kan anak Ayah juga."
"Tapi Magen dan Mama udah jahat sama Ayah dan Maru. Magen bener-bener minta maaf sama Ayah."
"Pak, jadi naik nggak, nih?" ujar si pemilik angkot karena sudah lama menunggu. Sementara Muzan mengangguk. "Eh, iya sebentar, Bang." Magen menoleh kepada di pemilik angkot. "Nggak jadi, Bang. Ini Ayah saya. Mau bareng saya aja nanti," ucapnya.
"Oke, duluan, Pak, Mas." Angkot pun mulai melaju meninggalkan Magen dan Muzan di trotoar.
"Tunggu sebentar, Yah. Magen ambil mobil dulu di sana." Magen pamit kepada Muzan sebentar. Namun Muzan menahan langkah Magen dengan gelengan. "Nggak usah, Gen. Ini Ayah bawa daging kambing. Nanti mobil kamu baunya nggak enak," tolak Muzan.
Magen hanya tersenyum. Memang kenapa jika mobilnya bau kambing?
"Nggak apa-apa. Tunggu, ya, Yah."
"Tapi---"
"Sebentar aja."
Muzan tak lagi menolak. Percuma karena Magen tetap pada pendiriannya.
***
Mobil Magen berhenti di depan warung Muzan yang masih tertutup. Magen memperhatikan sejenak. Hatinya sedikit tersisit. Mana mungkin Magen bisa hidup semewah ini sementara orang yang telah membuatnya merasakan bahagia harus hidup sesederhana ini.
Muzan keluar dari mobil Magen. Ia lantas menuju ke bagasi mobil untuk mengambil dagingnya. Magen segera menyusul Muzan. "Biar Magen aja, Yah. Kan katanya Magen anak Ayah," ujarnya.
Tanpa persetujuan dari Muzan, dia sudah lebih dulu membawa daging itu ke kursi yang ada di depan warung dan segera di letakkan. Magen langsung mencuci tangannya di wastafel samping warung. Lalu ia menghampiri Ayahnya yang sedang duduk. Belum berniat membuka warung. Padahal ini sudah hampir siang.
"Magen sama Mama apa kabar?" tanya Muzan sembari membuka karung yang berisi daging kambing itu. Magen duduk di samping Muzan dengan helaan napas. Ia bingung harus berkata bagaimana. "Magen baik, Mama juga baik. Cuma, Mama lagi nggak di Indonesia. Mama pergi ke Belanda sejak tadi pagi."
Tiba-tiba ada dua orang berjas datang menghampiri Muzan dan Magen.
"Apa benar ini dengan Bapak Muzan?" tanya salah satu dari mereka dengan menunjuk Muzan. Dua orang kantoran ini kembali mengingatkan Muzan dengan kejadian di kantor waktu itu. Apa mereka akan menagih uang sepuluh milyar itu?
Muzan mengangguk ragu. Ia belum punya cukup uang. "I-iya dengan saya sendiri. Ada apa, ya?" tanyanya.
"Kami dari Perusahaan CV. Firma Lentera ingin menagih uang sepuluh milyar kepada Bapak."
Dugaan Muzan benar.
"Tolong beri saya waktu lagi, Pak. Saya belum punya uang sekarang. Saya janji akan bayar dua bulan lagi," ucap Muzan dengan meminta belas kasih.
"Maaf, Pak. Tapi kami tidak bisa memberi waktu lagi."
"Berapa Pak tadi? Sepuluh milyar?" tanya Magen menyela. "Benar, Mas. Nominal yang cukup besar," balas salah satunya.
Magen kembali angkat suara. "Jika dibayar lima milyar dulu gimana, Pak? Setengahnya akan dibayar seminggu lagi. Bagaimana?" Uang lima milyar yang Mamanya berikan masih ada. Bahkan sama sekali belum ia pakai sepeserpun. Lagipula itu uang haram. Daripada Magen pakai lebih baik ia mengembalikan kepada pemiliknya saja.
Si jas hitam yang membawa berkas itu menggeleng tidak sependapat. "Maaf, Mas. Tapi kami tidak bisa memberi kelonggaran lagi karena kesepakatannya hanya tiga bulan."
"Tiga hari, deh. Boleh, ya? Saya minta tolong banget sama Bapak. Ya?" Magen kembali memohon. Muzan memegang bahu Magen sambil menggeleng. "Nggak perlu, Gen. Ini urusan Ayah."
Magen menjabat tangan si jas hitam itu. "Magenta Arkas Prakarsa, ini KTP saya. Nanti uangnya akan saya antar ke sana sebelum jam satu siang."
"Baik kalo begitu. Nanti kami tunggu kedatangan Bapak Muzan dan Masnya. Kami permisi."
"Terima kasih, Pak."
Muzan menatap Magen tidak percaya. "Itu semua uang Ayah," jelas Magen supaya Ayahnya tidak menolak lagi.