Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 5 :: KEMBALI BERTEMU



"Mantan. Benar ya kata orang. Pacar kalau sudah jadi mantan itu makin cantik." -Megizal Steven


Sepulang dari rumah Maru, Megi langsung pulang ke rumahnya. Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan tadi. Mengantarkan Maru pulang. Itu semua di luar rencananya. Pikiran Megi penuh dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang telah dilakukannya. Di depan rumah, Megi segera melepas sepatunya. Jika dibawa langsung ke dalam nanti Mozha akan memarahinya lagi. Bukan apa-apa, tapi cara memarahinya yang terus-menerus bisa membuat telinga Megi nyeri.


Dia sama sekali tidak menyapa Mozha yang sedang makan snack di depan televisi. Saat ini, dia butuh game untuk menghilangkan beribu pertanyaan di otaknya. Hanya dengan cara itu Megi bisa tenang. Mungkin bagi orang lain, game itu merupakan hobi. Atau bisa dibilang tugas. Ada pula yang mengatakan bahwa game itu kewajiban. Iya, kewajiban yang harus selalu di menangkan. Tidak boleh sampai kalah. Jika itu terjadi, mereka akan selalu memainkannya sampai mereka menang. Namun, semua kata mereka sama sekali tidak ada yang sama dengan Megi. Dan anehnya, selain dimanfaatkan Megi untuk mengisi waktu luangnya, game itu bisa membuat mood-nya kembali baik.


Biasanya, jika malam Minggu seperti ini teman-temannya sering mengajaknya mabar. Tetapi untuk kali ini tidak. Alasannya karena ingin mencari cewek-cewek yang berkeliaran di dekat Monas. Kebanyakan dari temannya memang jomlo semua. Ada satu yang tidak, yaitu Mesky, sudah menjalin hubungan dengan Magis.


"Meg!" panggil Mozha. Kakaknya ini memang suka menganggu dan juga meribetkannya. Di tambah, menyebalkan pula.


"Apa?"


Sesaat, tidak ada jawaban dari Mozha. Takut penting, Megi akhirnya turun ke bawah untuk menghampiri Mozha. Dia berjalan pelan dan santai. Dilihatnya, Mozha sedang memasukkan kue buatannya ke dalam Tupperware. Karena penasaran, Megi mendekatinya. "Lo tadi manggil gue, kan? Ada apa?" tangan Megi langsung mengambil satu kue dan kemudian dimakannya.


Mozha menutup Tupperware dan diserahkan kepada Megi. "Nih," ucapnya pendek.


Alis Megi bergelombang. Dahinya berkerut. Dia sama sekali tidak mengerti. "Apaan?"


"Kebanyakan nanya deh lo. Cepat mandi, habis itu anterin kuenya ke rumah Meta." Mozha duduk dan menatap Megi. "Jangan lupa pakai pewangi. Ketiak lo bau," lanjutnya.


Seketika Megi langsung mengangkat tangannya dan mencium ketiaknya. "Tahu aja sih lo, Kak." Megi terkekeh. Selain menyebalkan dan meribetkan, kakaknya ini juga sangat peduli dengannya. Termasuk masalah bau ketiak. Namanya juga baru latihan basket, ya jelas bau lah. "Ihh kok pake dicium beneran, sih? Jorok, Meg, ih! Cepat mandi sana. Keburu kuenya dingin nanti," Mozha menatap Megi ngeri sendiri.


"Iya, iya, bawel."


Mozha tertawa kecil. Lalu Megi membawa Tupperware itu dan kembali ke kamarnya. Dia mematikan komputernya dan langsung bersiap-siap. Kotak kuenya ditaruh di atas meja belajar. Sebatas meja belajar namanya, tetapi tidak pernah dipakai belajar. Jangankan belajar, sekadar menata atau menjadwal saja tidak. Megi itu menaruh semua bukunya di laci mejanya, jadi dia tidak pernah membawa bukunya pulang. Sekalipun ada tugas, Megi tidak memperdulikan itu.


Setelah berganti baju dan memakai pewangi, Megi langsung mengaca. Melihat penampilan dirinya yang hanya memakai celana jeans warna hitam, kaos berwarna hitam, dan juga kemeja kotak-kotak berwarna hitam-putih. Megi menyisir rambutnya. "Perasaan gue ganteng melulu. Kapan ya jeleknya?" tanyanya pada diri sendiri. "Kok gue pikun, ya? Orang ganteng mah nggak pernah jelek. Sekalipun tua masih mirip artis Korea," jawabnya sambil tersenyum.


"Takdir orang ganteng memang begini," celutuknya lagi.


Tiba-tiba ponsel Megi bergetar. Dia langsung membuka pesan yang masuk.


Makasih udah dianterin pulang.


Megi mengernyit karena pesan yang masuk dari Maru. Setelah sekian lamanya, hampir dua tahun tidak pernah berkomunikasi dan sekarang..., kembali lagi. Bibir Megi mengembang seketika, dia senang. Memang setelah sampai di rumah Maru, dia langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih kepada Megi. Karena itu, dia merasa tidak enak dan langsung mengirim pesan kepada Megi.


"Gue balas nggak, ya?" tanyanya menggantung. Dia mulai kebingungan. "Ah, balas aja deh. Siapa tahu bisa balikan," lanjutnya sambil tertawa kecil.


Oke. Btw, lo masih save nomor gue?


Megi membalas pesan Maru. Dia tiba-tiba teringat akan perintah Mozha. Bergegaslah Megi mengambil kotak kue dan segera mengantarkannya ke rumah Meta.


***


"Ta, ini ambil. Kue buatan Kak Mozha," ucapnya ketika dia sudah sampai di rumah Meta. Kebetulan Meta sedang menyiram bunga. Sekalian saja Megi langsung memberikannya kepada Meta. "Aduhaai wanginya, Abang. Mau ke mana sih? Kencan, ya?" tanya Meta sambil memperhatikan penampilan Megi sedetailnya. Dia juga mendekatkan hidungnya ke baju yang Megi pakai.


"Sok tahu lo," jawab Megi ketus.


Meta terkekeh. Dia membuka tutup Tupperware dan mencium kuenya. "Wangi bangeeettt, Meg. Makasih ya."


Megi mengangguk. "Meta, ke sini bentar dong, Nak!" teriak Mama Meta dari dalam rumah. Meta menatap Megi sebentar, lalu mengedikkan kedua bahunya. Dia memberi Megi kode untuk menunggunya, dia pun segera menghampiri Mamanya.


Dua menit berlalu, Megi ingin pulang tetapi Meta malah menarik tangannya. "Megi mau ke mana sekarang?"


"Pulanglah, emang mau ke mana lagi?"


"Oh, berarti nggak sibuk dong."


"Nggak."


"Kalau gitu anterin Meta belanja bulanan, ya?"


Megi menepuk jidatnya pelan. Dia lupa, jika dia bersama Meta berarti dia sedang mencari kesibukan. Seperti sekarang contohnya, diajak belanja bulanan. Megi menggeleng. "Ogah. Ngapain ngajak gue? Ajak Mate kan bisa. Gue sibuk," tolaknya mentah-mentah.


Meta terbungkam, menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia menyeriangi, "kan Megi tahu sendiri, Mate itu gimana. Mana mau dia nganterin Meta untuk belanja bulanan begini. Yang ada malah ngusir Meta kayak biasanya." Curhatnya tanpa disadarinya. "Lagian, Megi kok plin-plan sih? Tadi katanya nggak sibuk. Sekarang bilangnya sibuk. Yang benar yang mana, sih?"


"Kasian banget lo," ejek Megi. "Ya udah, yuk! Gue anterin. Tapi nggak lama, ya. Orang ganteng selalu sibuk," peringatnya lagi.


Meta langsung loncat-loncat. "Hoaahh makasih, Meg." Meta juga langsung naik ke motor Megi. "Ayo, Meg." Meta bergumam pelan. "Tapi Megi nggak ganteng, sih, lebih ke imut malah."


"Ngomong apa lo barusan?"


Dipergoki Megi membuatnya terkejut. Meta pun menggeleng.


Megi memutar bola matanya saat Meta mengembangkan senyumnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala saat Meta bersikap kekanak-kanakan begitu. Kemudian Megi menaiki motornya.


***


Motor Megi mulai memasuki halaman salah satu Mall yang ada di Jakarta. Dia langsung memakirkan motornya tanpa menyuruh Meta turun di depan pintu utama Mall. Sengaja dia ajak ke parkiran supaya Meta menemaninya berjalan. Sedari tadi, gadis mungil yang bersama Megi itu tidak ada henti-hentinya untuk berbicara. Dia juga sempat bercerita tentang sikap Mate yang tidak pernah memedulikannya. Bahkan sampai ke Maru juga. Sedangkan Megi hanya mendengarnya saja. Jika dia ikut menyahut nanti pasti Meta akan bercerita lebih panjang lagi dari sebelumnya.


"Ih kok gitu, sih?"


Megi menepuk-nepuk jok motornya. Dia memiliki sebuah ide yang mendadak terlintas di pikirannya. Dia mengacungkan tangannya. Sembari menoleh ke arah Meta yang menatapnya dengan tatapan memelas. Kedua tangannya dirapatkannya. "Gue ada ide, nih. Mau dengar nggak, Ta?" tawarnya.


"Mau ngajak Meta bersimbiosis mutualisme, kan?"


Dugaan Meta memang selalu merujuk ke arah sana seiring berjalannya ajakan Megi yang harus saling menguntungkan kedua belah pihak sama seperti dengan pengertian simbiosis mutualisme. Tanpa dijelaskan juga, semua orang pasti tahu artinya itu apa. Setiap Megi membantu orang yang dia kenal----dengan dipaksa----dia pasti akan meminta bayaran dengan mengatasnamakan simbiosis mutualisme sebagai alasan. Otaknya memang cerdas jika diharuskan untuk melakukan hal seperti ini. Berbeda jika diharuskan untuk menghafalkan rumus-rumus. Dia bahkan langsung memilih makan nasi uduk di dalam kelas.


Megi menyengir. "Tergantung, sih. Lo mau apa nggak."


Seolah perkataan Megi itu memaksanya untuk mengatakan iya. Tanpa bantuan Megi, dia tidak mungkin bisa membawa belanjaannya sendiri. "Iya, iya, Meta mau."


"Lo harus nraktir gue makan selesai belanja---" Meta langsung menyahut, memotong ucapan Megi segera. "Nggak, nggak, Meta nggak mau." Ujar Meta sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Hingga rasanya dia mulai pusing. "Itu enak di Megi, rugi di Meta!" tambahnya memekik.


Megi menepuk bahu Meta, tersenyum paksa. "Emang, lo pikir bawa belanja bulanan itu nggak berat? Berat banget kali. Jadi, sepadan dong kalau gue minta makan. Beda kalau gue mintanya rumah. Itu baru rugi di elo. Jadi, gimana? Mau gue bawain apa gue doain, nih?" godanya kemudian.


Meta mengembuskan napasnya, "ya udah. Boleh, tapi ... " Ucapan Meta berhenti, membuat Megi penasaran. "Tapi kenapa?"


"Makannya yang murah aja, ya? Yang harga goceng," pinta Meta memohon. Uang kembalian belanjanya mau dia pakai untuk di tabung. Jadi, dia takut jika nanti dihabiskan oleh Megi uangnya. Apalagi Megi kalau sudah dapat traktiran makannya tidak kira-kira. Sengaja dibanyakin memang. Terkadang malah dibungkus untuk dibawa pulang.


"Goceng dapat apa, Ta? Ya ampun. Lo kaya tapi pelitnya melebihi Spongbob," ujar Megi sambil menggeleng. Dia menghela napas beberapa kali, dan sekarang terdengar lebih berat dari sebelumnya. Meta meringis. "Emang Spongbob pelit, ya?"


"Iya."


"Sejak kapan?"


"Sejak lahir," tuturnya asal. Memang siapa yang tahu Spongbob itu pelit apa bukan, orang dia cuma sekadar film kartun. Mana bisa ditanya-tanya. Kecuali jika mimpi, itu baru mungkin.


"Kok Meta nggak tahu?"


"Banyak tanya lo. Jadi intinya gimana, perlu gue apa nggak?" Megi menggertakkan giginya karena Meta tak kunjung membalas pertanyaannya. "Mau berdiri sampai kapan, nih? Gue capek," keluhnya.


Meta diam sejenak untuk berpikir.


"Ya udah, Meta traktir sepuas Megi. Tapi kalau uangnya ada kembalian jangan diambil. Kasih ke Meta lagi. Awas ya kalau diambil. Itu artinya Megi ada udang dibalik perahu," Meta mengiakan saja.


***


Satu jam berlalu. Megi dan Meta sudah selesai berbelanja. Ternyata belanja bulanan Meta tidak sebanyak belanja bulanan Kakaknya. Tetapi, karena Meta tidak tahu jenis dari barang yang ditulis Mamanya, ya sudah waktu satu jam tadi mereka banyak berdebat dalam memilih barang belanjaan. Padahal Megi tahu betul mana yang itu mana yang ini. Tetapi Meta mengotot bahwa itu salah. Jadinya, untuk membuat Meta percaya, Megi menyuruhnya untuk bertanya kepada google yang pasti sudah akan dipercaya oleh Meta.


Megi membawa belanjaan Meta sambil berjalan di samping Meta menuju restoran yang ada di Mall. "Jadi orang jangan ngeyel, Ta. Bikin ribet gue aja lo."


"Bukan gitu. Megi kan cowok, jadi Meta nggak percaya kalau Megi beneran tahu. Meta minta maaf, ya?"


"Gue bercanda elaahh," tawa Megi pun langsung meledak.


"Ya ampun. Megi bikin tak---"


"Kalian ngapain di sini?" tanya Maru memotong pembicaraan. Entah darimana dia muncul. Tahu-tahu sudah ada di depan Megi dan Meta. Ternyata Maru tidak datang sendiri, dia ditemani seseorang yang Meta pun tidak tahu itu siapa. Seketika Meta menunjuk barang belanjaan yang dibawa Megi. "Nggak liat kalau Meta habis belanja?"


Maru ber-oh-ria. Meta memicingkan matanya. "Siapa nih? Selingkuhan Maru, ya? Mate tahu nggak, kalau Maru selingkuh?" tanyanya sambil menunjuk cowok yang berada di dekat Maru.


"Ini Magen, Kakak tiri gue," Maru mengenalkan Magen kepada Meta dan Megi. Selanjutnya, dia memperkenalkan kedua temannya kepada Magen. "Oh iya, ini Meta. Kalau yang ini Megi."


Magen mengulurkan tangannya kepada Meta. "Magen." Meta pun membalas uluran tangan Magen sambil tersenyum sinis. Masih tidak percaya jika dia Kakak tiri Maru. "Metaylor Asgeta Raline, masih SMA kelas 11. Calon masa depannya Mate."


Jawaban Meta membuat semuanya melongo. Namun hanya sesaat. Megi saling berpandangan dengan Maru. "Megi," ucapnya berjabat tangan dengan Magen.


"Magen," jawab Magen.


"Kak Magen itu Kakak tiri Maru beneran? Apa cuma akting? Kakak selingkuhannya Maru, kan? Ngaku aja deh, Kak. Seriusan apa nggak? Jangan buat Meta kepo, ih!"


Magen menggaruk rambutnya. "Lo aneh ya?"


Entah ada angin apa, Meta langsung mengajak Magen berselfie. Dia menyerahkan ponselnya pada Megi. "Fotoin kita, ya, Meg!"


"Apaan sih! Gue nggak mau!" tolak Maru.


"Jangan nolak Meta, Ru." Ujarnya sambil menampilkan wajah memelasnya. Hingga Maru pun mengangguk pasrah. Meta menarik Maru dan Magen bersamaan hingga Megi berhasil mengambil gambar mereka. Dengan terpaksa dia melakukan itu. "Udah malam nih, gue sama Maru pulang dulu." Putus Magen seketika. Maru hanya diam, selanjutnya Magen menarik tangannya untuk pulang. Menghindari kedua teman Maru yang tingkat kewarasaannya berkurang.


Setelah Maru dan Magen berlalu, Megi pun langsung menarik Meta menuju ke restoran. Menagih janji traktirannya. Tiba-tiba, ponsel Megi bergetar. Dia segera membukanya. Pesan itu dari Maru.


Emang pernah gue hapus ya?


Membaca itu, bibir Megi membentuk bulan sabit. Seperti ada kebahagiaan yang terlintas di depannya. Ternyata mantannya masih menyimpan nomornya dari dulu. Padahal sempat terlintas di pikiran Megi, jika Maru sudah melupakan dirinya.


_____