Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 11 :: KENANGAN TERJEBAK



"Tidak ada hal yang lebih membahagiakan kecuali harapan yang terbalas." -Marutere Althea.


Sebelum masuk kelas, Maru sudah lebih dulu menghampiri Mate di kelasnya. Dia ingin lebih dulu mengajak Mate untuk membantunya belajar Matematika sebelum Meta mengajak Mate juga. Kalau dulu, tanpa diminta pun Mate sudah lebih dulu menawari Maru setiap akan menghadapi ujian. Namun, sekarang tidak. Akhir-akhir ini sikap Mate berubah seratus delapan puuh derajat dari sebelumnya.


Terkadang, Maru sempat berpikir bahwa perasaannya kepada Mate bukanlah perasaan cinta. Akan tetapi, hanya perasaan kagum saja. Bisa jadi hanya sekadar suka. Buktinya, Maru mulai terbiasa dengan kesendiriannya tanpa Mate. Begitupun jika dia melihat Mate dan Meta bersama, rasa cemburunya kian sudah mulai menghilang. Walau begitu, hatinya masih menginginkan Mate. Entah mengapa, Maru merasa bahwa Mate tidak memiliki perasaan terhadapnya. Banyak waktu mereka lalui, namun tidak ada satu waktu pun di mana Mate memberikannya kejutan. Sudahlah tidak perlu jauh-jauh sampai kejutan. Untuk kencan saja mereka berdua belum pernah. Setiap Maru mengajak Mate, pasti ada saja alasannya. Jika bukan karena Meta ya karena tugas menumpuk.


"Mate, nanti malam kamu ke rumah aku, ya? Ajarin aku Matematika. Seminggu lagi kan PAT, aku belum selesai materinya. Mau ya?" Maru memegang pergelangan tangan Mate sambil berharap jika Mate akan mengatakan iya kepadanya. Dalam batinnya, dia berdoa supaya Mate peduli kembali dengan kemampuan Matematikanya. Sesekali Maru menatap mata Mate. Mencari tahu bagaimana ekspresi Mate ketika menjawab tawarannya. Sering kali Maru tidak percaya dengan apa yang Mate katakana. Ucapannya berbanding terbalik dengan matanya. Mau dijelaskan bagaimana pun, bagi Maru bagian tubuh manusia yang menunjukkan kejujuran adalah mata.


Di sisi lain, Mate bimbang harus menjawab apa. Jika dia menolaknya, maka Maru akan kecewa dengannya. Tetapi, jika dia menyetujuinya pasti akan lebih repot lagi. Padahal sekarang Mate sedang berusaha untuk menjauh dari Maru. Dia tidak ingin Maru merasa lebih kecewa dari ini. Baginya, sudah cukup sampai di sini saja. Mate sudah tidak ingin melanjutkan lagi. Dia tidak tega jika harus membawa Maru ke dalam masalahnya. Mulai dari seminggu yang lalu, Mate sudah berusaha untuk menjauhi Maru. Namun tetap saja tidak ada perubahan. Dia menunggu saat di mana Maru lelah dan akhirnya memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin ini. Meskipun Mate jarang perhatian kepada Maru, bahkan memang tidak pernah. Tetapi, dia tidak mau memutus hubungannya. Dia ingin jika Maru yang menyudahi semuanya. Itu akan lebih baik.


"Mau jam berapa?" tanya Mate menatap mata Maru. Ini pertama kalinya Mate berbicara sambil menatap mata orang yang diajak bicara. Dalam hati, Maru berbunga-bunga. Akhirnya dari sekian lama Mate mau menatap matanya juga. Biasanya malah membuang muka. Jika bukan begitu langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan. Maru tersenyum kepada Mate. Sedangkan Mate hanya bisa diam tanpa berkata lagi. Mungkin, ini waktunya dia mulai memberi perhatian kepada Maru sebelum akhirnya menyakitinya lagi. Setidaknya ada bekas kenangan indah yang bisa terukir. Walaupun tidak banyak namun masih bisa dikenang bila Maru memang ingin mengenangnya. "Jam tujuh aku tunggu di rumah. Bisa kan?" jawab Maru senang.


Mate mengangguk. "Iya, Sayang."


Maru membelalak lebar, dia segera memeriksa telinganya. Dia melongo sambil terkejut. Apa dia tidak salah dengar jika Mate memanggilnya 'Sayang' ?


Mate mengacak-acak rambut Maru seraya merangkul gadis itu. Yang benar saja Mate melakukan itu kepadanya. Sedang terkena apa Mate hingga sikapnya baik seperti ini? Maru menyengir kuda. Sementara Mate melepaskan rangkulannya dan berkata. "Aku masuk dulu," pamitnya sambil beranjak masuk kelas dengan meninggalkan Maru yang masih termenung sendiri. Tubuhnya kaku. Rasanya dia tidak ingin pergi dari depan kelas Mate. Ingin sekali dia merasa begini saja. Padahal baru dipanggil 'Sayang' tetapi senangnya kebangetan. Untuk orang semacam Mate ini adalah hal yang langka.


Bel berbunyi, Maru berlari mengacir menuju kelasnya dengan perasaan yang sulit diartikan. Hari ini dia sangat senang. Tidak sia-sia dia menahan diri untuk tetap sabar menghadapi Mate satu tahun lamanya. Sikap dinginnya dan juga cuek, mampu membuat siapa saja yang berurusan dengannya lebih memilih untuk mengalah saja. Lagipula, berdebat dengan Mate itu namanya nyari mati. Selalu saja mereka yang mengajak berdebat mati kutu di depan Mate. Walaupun yang dikatakan hanya beberapa kata yang bisa dihitung, namun semua orang yang mendengar perkataannya akan memilih diam.


Ketika sampai di kelas, Maru langsung duduk di tempatnya sambil memegangi jantungnya. Beruntungnya sudah ada guru yang masuk kelas. Sehingga Magis tidak harus capek-capek bertanya kepada Maru. Sekali lagi Maru tegaskan bila dia sangat senang. Dia berdoa di dalam hati semoga kedepannya akan jadi lebih baik.


***


Sudah sejak pukul tujuh tadi, Mate sampai di rumah Maru. Tanpa basa-basi, Mate langsung mengajari Maru dari BAB awal sampai akhir. Lagipula Maru tidak bodoh-bodoh sekali, jadi dia masih bisa untuk memahaminya lebih dalam. Setelah dua jam berlalu dengan perbincangan mengenai Matematika, kini Maru menjejerkan kedua kakinya yang sudah terasa lelah karena ditekuk. Sedari tadi, mereka memakai ruang keluarga Maru untuk belajar. Selain sepi, di sana juga terdapat papan tulis kosong bekas catatan pengingat yang Ayah Maru buat supaya tidak melupakan hal-hal yang sekiranya penting. Dulunya saat SMP, papan itu masih berguna. Namun, semenjak memasuki masa SMA papan itu sudah jarang sekali digunakan. Bahkan Ayahnya sudah tidak pernah mengisinya dengan hal-hal yang akan dilakukan esok hari.


Rumah Maru bisa terbilang sunyi. Ayahnya masih bekerja. Sementara Mama tirinya juga tidak tahu ke mana. Kalau Kakak tirinya pasti sedang mengerjakan tugas di rumah temannya. Kelas duabelas memang waktunya memiliki kesibukan lebih. Apalagi sekarang terdapat aturan baru. Siswa yang tidak mengerjakan tugas bisa menjadi faktor tidak lulus. Mau tugas kelompok maupun pribadi sama saja. Maka dari itu, sekarang Magen sangat rajin mengerjakan tugas di rumah temannya yang terkenal pintar. Selain itu, katanya juga baik. Jika sudah mengerjakan tugas, biasanya Magen akan pulang pukul sepuluh malam. Kalau Ayahnya memang sudah biasa pulang larut malam. Ketemunya juga ketika sarapan saja. Dan kalau Mama tirinya, entah kapan pulangnya Maru juga tidak tahu.


Maru menarik napasnya dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Dia mengambil air mineral di meja. Dilogoknya sampai tersisa setengah. Tiba-tiba Maru merasa lapar. Sejak sore tadi dia belum makan. Maru mendongak, menatap Mate yang sedang berdiri sambil membolak-balikkan buku yang dia pegang. "Mate, kamu lapar nggak?" tanyanya.


Mate menoleh. "Kamu lapar?" ditanya seperti itu akhirnya Maru hanya bisa mengangguk. Mate meletakkan bukunya di meja lantas membungkukkan badannya. "Mau makan di luar?" tanyanya balik.


Lagi, lagi, Maru mengangguk. Tangan kanannya memegangi perutnya. Dia meringis. "Emang kamu mau?"


"Boleh." Mate mengulurkan tangannya kepada Maru untuk memantunya berdiri. Dia tahu jika Maru belum makan. Terlihat jelas di raut wajahnya yang pucat. "Mau makan apa?" Mate tersenyum kepada Maru.


"Penginnya sate kambing, kalau kamu?"


"Nurut kamu aja."


"Memang doyan?"


"Mungkin," Mate menyodorkan jaketnya kepada Maru yang saat ini sedang memakai baby doll bermotif bunga-bunga warna pink. Maru tidak langsung menerima jaket itu, dia malah menatap Mate. Sedetik kemudian, dia langsung menerima jaket itu sebelum Mate berubah pikiran untuk menarik jaketnya lagi. Setelah jaket Mate berada di tangannya, Maru baru bertanya kepada Mate. "Ini buat apa?"


"Buat kamu pake biar nggak kedinginan," Mate memang mampu membuat orang di sekitarnya terbeku seperti ini. Mate bergegas melangkah pergi. Maru memandangi punggung yang semula berada di depannya kian menjauh. Lantas memegang jantungnya dengan kedua tangan sembari tertawa bahagia di dalam hati. Benar dugaannya, Mate sudah berubah. Menjadi lebih perhatian kepadanya. Merasakan diperhatikan oleh Mate membuatnya ingin terbang seketika. Maru memakai jaket milik Mate yang semula ada di lengannya. Dia segera menyusul Mate yang sudah keluar lebih dulu.


Di halaman depan, Mate sudah memutar motornya. Dia menunggu Maru keluar. Ketika Maru sudah sampai di dekatnya, dia memberikan helm berwarna hijau tua itu kepada Maru. Dia yakin jika Maru masih menyukai hal-hal yang berwarna hijau. Apalagi jika ditambah gambar pohon kelapa. Pasti akan lebih senang. Awalnya, Mate tidak sebegitu tahu akan warna ataupun apa saja yang berhubungan dengan Maru. Namun, akhir-akhir ini dia tak sengaja sering mendengar Maru dan teman-temannya bercanda sampai membahas apa yang mereka suka dan yang mereka benci. Kebetulan juga waktu itu Mate sedang membaca madding. Maru dan temannya sedang duduk di taman dekat madding sekolah sambil bercerita sepanjang mungkin. Walaupun itu hanya sebatas kebetulan, namun sangat membantu.


"Kalau kamu pakai akan lebih bagus."


Maru yang hampir memakai helm itu menghentikan gerakannya segera. Dia menatap Mate tidak percaya. Dia menggigit bibirnya. Merasa malu dengan apa yang telah dia dengar. Akan tetapi dia juga senang. Sebelumnya dia belum pernah Mate mengatakan hal itu. Entah itu gombalan atau hanya jebakan, tetapi sama saja. Itu membuat Maru merasa gejolak di hatinya. "Dipakai, jangan ngelamun aja." Mate menyadarkan Maru dari lamunannya. "Ah, iya. Ini juga mau dipakai." Maru membalas dengan gugup.


Dia sadar jika saat dia mengatakan hal itu, hati Maru sedang berbunga-bunga. Dia bahkan juga sadar jika Maru bukannya semakin menjauh tetapi malah semakin dekat. Caranya yang satu ini memang salah. Seharusnya dia tetap mendiamkan Maru dengan bersikap dingin kepadanya. Bukan memberikan Maru perhatian sebagai akhir dari kisah mereka. Itu justru akan membuatnya lebih sakit. Semuanya telah membuat Mate sadar akan jalan yang dia ambil. Namun apa daya, semua ini sudah terlanjur terjadi. Dia yakin bahwa Maru adalah gadis yang kuat. Maru tidak akan mungkin melakukan hal di luar dugaan jika dia sedang rapuh. Mau bagaimana pun nanti, dia tahu jika Maru tidak sebodoh Meta yang menghalalkan segala cara agar apa yang dia inginkan terkabul. Salah satu contohnya, Meta pernah ingin bunuh diri jika Mate tidak mau mengantarkannya pulang.


Maru langsung naik ke motor Mate setelah dia selesai memakai jaket Mate. Dia memeluk Mate dari belakang. Merasakan aroma mint yang sangat hangat baginya. Desiran angin yang lalu lalang membuat Maru tidak ingin melepaskan pelukan itu. Jarang-jarang Mate tidak menolak jika Maru memeluknya seperti ini.


Motor Mate membelah jalan raya yang sangat ramai. Maru memperhatikan orang-orang yang sedang berada di jalanan. Dia juga menyapa mereka meskipun tak mengenalinya. Saat ini Maru menyenderkan kepalanya di bahu Mate. Kenapa baru sekarang kamu bersikap seperti ini kepadaku? Akankah ini bertahan sampai nanti? Semoga saja apa yang aku pikirkan sekarang memang itulah kenyataannya nanti. Mate, jangan buat aku kecewa ya? Aku mohon. Batinnya sambil menghirup udara malam yang dingin. Banyak sekali pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar. Mate menghentikan motornya di salah satu warung sate yang berada di pinggir jalan dekat pedagang kaki lima. "Kamu duduk aja biar aku yang pesan," ujar Mate setelah dia mematikan mesin motornya.


Maru mengangguk lugu.


Dia turun dari motor Mate dan duduk di bangku bagian depan warung. Sementara Mate sedang memesan sate kambing. Maru mengeluarkan ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk. Siapa tahu saja Magis sudah mulai menyepamnya. Karena kebiasaan Magis jika tidak diajak Mesky chatingan ya suka nyepam.


"Mau makan di sini apa dibawa pulang?" tanya Mate membuat Maru merasa puas dengan hari ini. Dia lantas menjawabnya, "di sini aja."


Mate tersenyum sepintas lalu menghampiri si penjual sate kambing itu. Dia terlihat csedang mengobrol banyak dengan si penjual. Maru duduk diam sambil meminum air mineral yang tersedia meja tempat dia duduk. Dia memilih memainkan ponsel daripada harus memperhatikan Mate terus. Nanti yang ada terbawa perasaan kembali.


"Kang Oyan, sate-nyaaaa dua porsi yaaa!" teriak seseorang yang baru datang sambil melaimbakan tangannya ke penjual sate kambing. Ia lantas duduk di samping Maru tanpa mengetahui jika itu memanglah Maru.


"Berisik."


Megi menoleh saat orang yang duduk di sampingnya mengomentari ucapannya. Dia tercengang saat tahu siapa dia. Megi lantas mengulurkan tangannya kepada gadis itu. "Hai kenalin, gue mantan lo."


Maru mendongakkan kepalanya. "Hah? Eh, sorry. Gue kira siapa."


Megi tertawa sambil menatap mata Maru. "Lucu ya, sekarang manggilnya mantan. Masih suka makan sate kambing?"


"Hahaha, masih. Lo juga?" tanyanya canggung.


"Iya. Kayaknya kenangan masih membekas di sini, deh."


"Apa?"


Megi menggeleng. "Enggak. Cuma sayang aja."


"Sayang kenapa?"


"Nggak apa-apa, Sayang."


Sontak saja Maru tertawa. "Eh, Jebakan."


Mate yang berada tak jauh dari mereka hanya terdiam sambil diiringi alunan musik dari suara jangkrik. Dia lantas tersenyum bisa melihat Maru tertawa bukan dengannya. Memang apa yang Mate harapkan. Bukankah itu, Maru bahagia bersama orang lain?