
"Aku dan kamu hanyalah sebuah keping yang tak sengaja bertemu. Entah nanti kepingan itu bisa bersatu atau hanya sebatas bertemu." -Magenta Arkas Prakarsa.
"Yakin nggak ada? Serius dong dibaca-baca lagi. Orang gue ketemunya di sini. Masa nggak ada, sih?" Magen masih tetap kekeh bertanya kepada temannya----Meezo----teman lamanya yang membantu dia untuk bisa mendapatkan beasiswa itu. Hari ini Meezo mulai masuk kembali setelah beberapa hari ia tidak masuk karena membantu orangtuanya mengurus rumah sakit. Makanya, selama masuk di kampus ini Magen tidak memiliki teman. Karena ya hanya Meezo yang dapat dia percaya.
Meezo menggeser layar ponselnya lagi, bahkan sesekali dia mengezoom layar ponselnya. "Serius, Gen. Gue udah baca berulang kali. Tapi nama Mozhadiella itu nggak ada. Kalau lo masih nggak percaya, nih, baca sendiri."
Magen mendengus.
"Lo yakin dia itu setingkat sama kita?" tanya Meezo memastikan. Pasalnya dia tidak menemunkan nama yang dicari Magen itu di data angkatannya sekarang.
"Mungkin aja. Orang gue ketemunya di daerah sini kok. Masa iya dia angkatan di atas kita?" Magen balik bertanya. Dia juga ikut bingung. Jika bukan karena merasa bersalah telah menabraknya, dia tidak akan mencari gadis itu. Sayangnya, dulu ia tidak sempat untuk meminta maaf. Andai saja satu kata itu terucapnya dulu, mungkin sekarang dia tidak akan mencari gadis itu lagi. "Mungkin aja iya. Lo pikir yang lewat di daerah sini itu harus seangkatan? Nggak kali. Bikin pusing aja lo. Tahu gitu gue tadi nanya aja sekalian. Nggak usah minta datanya begini," cecar Meezo mulai emosi.
Magen menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Rasanya tidak enak telah merepotkan temannya begini.
"Sorry lah, gue kan nggak tahu."
"Emang apa, sih, motivasinya lo nyari itu cewek?"
"Nggak ada, sih. Gue cuma mau minta maaf aja. Beberapa hari yang lalu gue sempat nabrak dia dan lupa buat minta maaf," jelasnya. Meezo dibuat heran dengan tingkahnya. Ternyata dia baru tahu setelah dia direpotkan begini oleh Magen. Yang tadinya dia belum akan masuk kuliah jadinya harus masuk karena Magen terus saja memaksanya. Dia pikir, Magen sedang bermasalah besar dengan gadis bernama Mozhadiella. Tapi ternyata hanya sekadar ingin meminta maaf saja.
Seketika Magen mendapat jitakan dari Meezo. "Cuma minta maaf doang, kan?"
Magen mengangguk.
"Lo mending nanya si Mozhadiella itu ke Kakak tingkat, deh. Biar cepat ketemu sama itu cewek. Kalau lo nyuruh gue nyari, lama. Gue sibuk soalnya. Urusan rumah sakit dari kemarin belum kelar. Kalau lo masih nggak ketemu sama itu cewek, ya udah, besok gue bantu nyari. Sekarang gue mau cabut dulu, bye!" Meezo lantas meninggalkan Magen yang masih berpikir. Pria itu hanya mengulum senyum sekilas. Mengucapkan terima kasih kepada Meezo sebelum dia pergi. Kini hanya punggung Meezo yang bisa dia lihat. Punggung itu pun mulai menjauh dari pandangannya. Magen duduk di bangku. Sembari memikirkan perkataan Meezo tadi. Benar juga apa yang Meezo katakan. Mungkin saja si Mozhadiella itu memang kakak tingkatnya. Lagipula dia juga tidak pernah melihat gadis itu ketika pertama kali angkatannya berkumpul di aula.
Tanpa berpikir lagi, Magen bangkit. Dia berjalan mengelilingi kampusnya. Mencari nama Mozhadiella itu. Sampai akhirnya Magen melihat Mithar----kakak tingkatnya di Fakultas Ekonomi. Dia mengenal Mithar karena dulu mereka bertetangga sebelum Magen dan Mamanya memutuskan untuk pindah bersama suami barunya. Magen mengejar Mithar yang sedang membawa buku yang bertumpuk tinggi.
"Mau dibantu nggak, Kak?" tawar Magen ramah. Namun, Mithar hanya menggeleng. Dia meletakkan tumpukan buku yang dia bawa itu ke bangku yang berada di sampingnya. Mithar memang selalu menghargai orang yang akan berbicara dengannya. Maka dari itu, dia meletakkan bukunya supaya Magen dan dirinya tidak terganggu saat mengobrol.
Setiap orang yang menghampiri Mithar biasanya selalu membicarakan hal-hal yang penting. Tetapi, tidak jika untuk Magen sendiri. Keduanya bertetangga sejak Mithar masih menginjak bangku SMP. Tentunya Magen masih SD saat itu. Umur mereka terlampau lima tahun. Hingga Mithar hampir saja menyelesaikan S2-nya. Tinggal beberapa bulan lagi dia akan diwisuda. Karena itu, akhir-akhir ini Mithar sibuk dengan skripsi-nya.
Mithar mengibaskan kedua tangannya. "Nggak. Ada apa, Gen? Tumben manggil saya," tanyanya formal. Sejak kecil sampai Mithar kuliah, dia memang selalu memakai bahasa yang formal. Seperti saya-kamu kepada siapapun. "Kak Mithar kenal sama orang namanya Mozhadiella? Aku nggak tahu dia anak Fakultas apa. Tapi yang pasti dia itu anak kampus sini."
"Saya kan sudah pernah bilang sama kamu. Panggil saya Mithar saja. Jangan panggil saya 'Kak'. Oh iya, ada perlu apa kamu mencari Mozha?" Mithar memperhatikan wajah Magen sekilas. Masih sama. Seperti dulu.
Magen menjawab. "Ah, iya, kelupaan. Maaf. Ehm..., kalau aku nggak kasih tahu, kamu keberatan, nggak?"
"Nggak. Mau dianterin ketemu Mozha apa nyari sendiri?"
"Dianterin? Emang kamu nggak sibuk?"
"Mumpung enggak."
Magen ingin mengatakan iya. Tetapi dia sedikit kaku untuk bersuara. Apalagi Mithar terlihat sibuk. Meskipun dia berkata tidak sibuk, tetapi tumpukan buku yang banyak itu sudah menandakan jika gadis itu sedang sibuk. Magen menggeleng pelan. "Makasih. Tapi kayaknya nggak perlu. Aku bisa sendiri."
Mithar mengangguk paham. Tawarannya ditolak begitu saja. "Mozha itu anak FK. Angkatan tahun 2015."
"Oh, oke. Mau aku bantuin bawa buku, nggak? Sebagai ucapan terima kasih," tawar Magen senang. Lagipula Mithar itu perempuan. Tidak seharusnya membawa buku sebanyak ini. Magen sampai terheran-heran. Untuk apa buku sebanyak itu dia bawa.
Mithar mengernyit. Dia ingin menerima, tetapi tiba-tiba rasa gengsinya muncul. Lantas dia menolaknya. "Nggak perlu. Saya bisa kok."
Magen tersenyum. Dia tidak memedulikan penolakan dari Mithar. Buku setumpuk itu langsung dia bawa begitu saja.
"Dibawa ke mana?" tanya Magen.
"Kamu nggak perlu repot-repot bantu saya."
"Dibawa ke mana?" Magen mengulaingi kembali pertanyaannya itu.
Akhirnya Mithar mengalah. "Mobil saya," lantas Magen mulai berjalan. Dia masih ingat warna mobil Mithar apa. Meskipun tidak tahu letaknya di mana, dia langsung mencarinya begitu saja. Sementara Mithar hanya mengikuti dari belakang.
"Gen, itu Mozha!" teriaknya sambil menepuk bahu Magen yang sedang meletakkan buku-buku itu di mobil Mithar. Magen langsung menoleh. Melihat apa yang barusan Mithar tunjukan. Pria itu segera meletakkan semua buku, lalu meninggalkan Mithar untuk menghampiri Mozha.
Mithar hanya menatap Magen datar. Dia pergi tanpa mengucapkan sesuatu.
Di ujung sana, Mozha yang hendak masuk ke mobil temannya itu terkejut. Tangannya ditarik oleh seseorang. Dia mendongakkan kepalanya itu mencari tahu siapa orang itu. Mozha diam sejenak. Berpikir. Sebelumnya dia pernah bertemu dengan pria ini.
"Lo...," ucapannya langsung dipotong oleh pria di depannya itu. "Iya, yang nabrak kamu tanpa minta maaf itu saya. Sekarang saya mau minta maaf sama kamu."
Mozha mengernyit. Dia baru menyadari siapa pria di hadapannya itu.
"Zha, jadi pergi, nggak?" tanya salah satu temannya yang hendak masuk ke mobil. Karena Mozha ingin memarahi pria ini, dia lantas membatalkan rencananya untuk pergi ke kafe. "Nggak, lo duluan aja. Kalau sempat gue nyusul nanti," temannya hanya mengangguk.
Pandangannya kembali lagi kepada pria di depannya. "Lo itu...."
"Iya, saya minta maaf, Mbak," sahut Magen kembali memotong kalimat Mozha. Mendengar ucapan Magen barusan, Mozha membulatkan matanya lebar-lebar. "Gue bukan kakak lo, ya!"
"Aduh, salah, ya? Jadi, saya manggilnya apa?" Magen bingung. Padahal tadi dia sudah menyapanya dengan formal. Tapi Mozha masih saja marah. Memang salah jika memanggil kakak tingkatnya dengan sebutan mbak?
Mozha menggertakkan giginya, kesal. "Panggil gue Mozha. Jangan ada embel-embelnya. Gue nggak suka!" ketusnya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di otak Magen. Diam sejenak sembari berpikir. Tidak apa mengajak gadis itu makan? Tanyanya di dalam hati yang tentu saja tidak akan ada yang menjawabnya kecuali dirinya sendiri. Magen menghela napasnya lebih berat dari sebelumnya. Lantas memajukan sedikit tubuhnya mendekati gadis itu. "Gini deh, sebagai permintaan maaf saya, gimana kalau kamu saya traktir? Di mana aja. Terserah. Kamu yang pilih."
Mozha memikirkan tawaran pria di depannya itu. "Oke. Tapi beneran, ya, gue yang pilih tempatnya. Awas aja kalau bohong. Oh iya, nama lo siapa? Bisa nggak ngomongnya jangan baku begitu?"
Magen tersenyum. Dia mengulurkan tangannya. "Nama gue Magenta Arkas Prakarsa, anak FK angkatan 2017."
"Gue Mozha dan lo pasti udah tahu gue siapa. Satu lagi. Jangan macem-macem lo, ya!" Mozha memberi peringatan kepada Magen. Pria itu mengangguk, tangannya menggandeng Mozha. Mengajaknya untuk segera pergi dari kampus.
Kini, Mozha dan Magen menuju ke tempat yang Mozha inginkan sebagai permintaan maaf.
***
Maru sudah tidak ingin menginjakkan kakinya di rumah sakit lagi.
Dia sudah muak.
Setiap kali mendengar kata rumah sakit dia selalu teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu. Ayahnya dengan tega menamparnya begitu saja. Padahal, kenyataannya Maru sama sekali tidak bersalah. Semua ini hanyalah drama dari Mama tirinya. Awalnya Maru memang mendarangi rumah Mama kandungnya setelah dari rumah sakit. Akan tetapi, esoknya Magen menjemputnya ke sekolah. Magen juga menyuruh Maru untuk pulang ke rumah saja. Supaya mengurangi kemarahan Ayahnya nanti. Maru memutuskan untuk kembali lagi ke rumah. Selain untuk mengurangi amarah Ayahnya, Maru masih memerlukan barang-barang di rumah Ayahnya untuk mengerjakan tugas.
Kata Magen, hari ini Mestha sudah diperbolehkan pulang. Tadi Magen sempat menawari Maru untuk ikut ke rumah sakit. Akan tetapi, Maru menolaknya. Jadi, Magen pergi ke rumah sakit sendiri saja. Dia juga tidak ingin memaksa Maru untuk ikut bersamanya.
Suara mesin mobil mulai terdengar. Maru yang berada di dalam kamar hanya menghela napasnya. Dia malas untuk turun ke bawah. Lagipula itu yang datang adalah Ayah dan Mama tirinya. Sebenarnya Maru ingin bertemu dengan Ayahnya. Menjelaskan semuanya tentang siapa itu Mestha dan apa tujuannya. Tapi dia mengurungkan niatnya itu. Memilih untuk berdiam diri saja daripada harus emosi melihat wajah Mestha.
Derap langkah mulai terdengar semakin keras. Sepertinya langkah itu semakin mendekat dengan kamar Maru. Gadis itu masih terdiam. Memainkan ponselnya yang sembari tutup buka menu saja. Wifi rumahnya sudah menyala sejak tadi. Sengaja memang. Supaya Maru menyibukkan diri dengan ponselnya. Padahal dia tidak memiliki notifikasi yang penting. Ketika ponselnya sudah tersambung ke jaringan wifi, pemberitahuan yang masuk hanyalah sebatas iklan saja.
"Maru. Ayah perlu bicara sama kamu," ucap Muzan sambil mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu. Namun, Maru masih diam. Dia sama sekali tidak berniat untuk merespon Ayahnya. Walaupun dia tahu jika apa yang dilakukannya dosa. Tetapi memang ia sedang tidak memiliki pilihan lain selain itu.
Muzan kembali memanggil anaknya. Tetapi, kembali tak mendapat respon. Dia menghela napasnya. "Ayah tahu kamu mendengar suara Ayah dari tadi. Jika kamu masih enggan untuk membuka pintu tak apa. Kamu sudah tahu kan kenapa Ayah marah sama kamu? Ayah rasa Ayah tidak perlu memberitahu kamu. Maru, mendorong Mama kamu dari atas tangga itu bukan perbuatan yang baik. Bahkan nyawa Mama kamu bisa ditaruhkan. Ayah nggak suka jika kamu memainkan nyawa, Nak. Karena itu, Ayah sudah memutuskan jika jatah uang jajan kamu, Ayah potong selama tiga bulan. Tapi kalau kamu mau mengakui kesalahan kamu dan minta maaf ke Mama, mungkin keputusan Ayah bisa berubah."
Maru geram mendengarnya. Mulutnya sudah ingin terbuka sejak tadi. Tapi selalu dia tahan. Membantah Ayahnya sama saja dengan mencari mati.
Detik berikutnya, langkah itu kembali terdengar. Yang tadinya semakin keras, kini semakin pelan. Ayahnya sudah pergi dari kamarnya. Membuat gadis itu tenang seketika. Tangannya sudah mengepal sejak tadi. Kamar dengan dominan warna hijau itu tampak tak enak untuk dipandang. Semua barang-barang yang ada di dalamnya sudah tidak terletak sesuai tempatnya. Banyak baju yang sudah berserakan di lantai. Tadinya Maru berniat untuk pergi dari rumah. Tapi tidak jadi karena Maru belum sempat memberitahu Ayahnya yang sebenarnya. Kasur Maru pun sudah tidak berspresi. Dia mengacak-acak kamarnya kembali setelah Ayahnya mengatakan hal sedemikian rupa yang sangat menyisit hatinya.
Sekarang berganti. Maru mengacak-acak rambutnya hingga tak karuan. Membuat penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Ayahnya detik itu juga.
Kenapa Ayahnya sekarang berubah?
Di mana Ayahnya yang dulu?
Tamparan Ayahnya saat di rumah sakit itu adalah kali pertama ia mendapat perlakuan fisik dari Ayahnya. Sebelumnya, Ayah tidak pernah setegas itu. Semua ini karena Mama tirinya!