
"Manusia ini tempatnya salah. Tapi bukan berarti manusia tidak bisa berubah." -Magenta Arkas Prakarsa.
Hampir pukul tujuh pagi ini Magis, Maru, dan Megi berkumpul bersama. Tidak begitu dekat. Hanya saja Magis yang sudah menempel dengan Maru sejak tadi. Entah sedang membahas apa juga Megi tidak tahu. Berhubung Maru masih di kelas Megi ingin menyatakan sesuatu. Dia pun meletakkan tasnya di meja dan langsung menatap Maru.
"Idih, datang-datang langsung natap yang bening. Pinter banget lo, Tong." Magis menyelutuk. "Diem lo! Gue mau ngomong nih," sarkas Megi.
"Ya, udah. Ngomong tinggal ngomong aja susah."
"Bukan sama lo kali. Sama Maru ini. Jangan kegeeran jadi orang."
"Dih, pede amat," cibir Magis.
Maru hanya mengangguk. "Mau ngomong apa? Kayak penting aja."
"Sebenarnya..., gue itu mau ... gue ..., gue---" Megi hari ini aneh sekali. Hanya berbicara saja rasanya sulit sekali. Membuat Magis gergetan sendiri. Padahal Megi sedang berbicara dengan Maru tetapi malah Magis yang kesel. "Banyak omong lo, ah!" potong Magis.
Megi menggeram jengkel. "Gue belum ngomong, pinter!" Rencananya bisa kacau bila Magis masih setia menempel selalu di samping Maru seperti ini.
"Tauk, ah!" Magis ikut jengkel juga. Ini sebenarnya Megi ingin mengatakan apa? Lama sekali. Membuat Magis berdebar-debar saja. "Ampun, dah! Rambut gue gatal banget," keluh Magis tiba-tiba.
Megi menyorot mata Magis tajam.
"Makanya kramas itu pakai shampoo jangan pakai sabun," cecar Megi sebal. "Udah, ah. Lo pergi sana! Ganggu aja dari tadi."
"Waah, penghinaan!"
"Ya emang lo hina."
"Lo tuh cemen!"
"Kata siapa? Sukanya fitnah aja."
"Gue anti hoax, ya!"
"Modelan kayak lo itu anti hoax?"
"Lo tuh bener-bener bikin emosi deh lama-lama. Ini nih kenapa gue nggak setuju kalau Maru balikan sama lo!"
"Kalian bisa diem nggak, sih? Heran," potong Maru meleraikan keduanya. Setiap bertemu hobinya berantem terus. Tapi sekalinya akur langsung suka jahil sama guru. Maru tidak habis pikir. "Tuh, Bu Mai udah masuk," tambah Maru sambil menunjuk Bu Mai yang mulai memasuki kelas.
Magis mengercutkan bibirnya dan langsung pergi begitu saja. Bila saja tidak ada Bu Mai, Magis tidak akan pergi begitu saja. Sejak bulan lalu Magis dan Mesky pindah tempat duduk ke bagian pinggir. Jadi Magis tidak bisa begitu dekat untuk menjangkau Maru. Ia juga tidak bisa lagi menguping omongan dua orang itu.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Mai membuka pembelajaran kali ini. Dengan kompak kelas duabelas IPS 2 ini menjawab seperti paduan suara. "Pagi, Buuuu."
Megi masih menatap Maru seperti tadi. Seolah di kelas ini hanya ada mereka berdua saja. "Ru, gue sebenarnya..."
"MEGI!" teriak Bu Mai.
"Eh, iya, Bu." Megi gelapagan setelah namanya dipanggil oleh Bu Mai. Seantero kelas memperhatikannya. Menjadikan pusat perhatian sekarang.
"Ngapain kamu ngeliatin Maru kayak begitu? Suka?" tindas Bu Mai ke poinnya. Tatapan Megi tidak pindah saat Bu Mai sudah mengucapkan sapaan. Megi hanya menyengir dengan pertanyaan yang dilontarkan Bu Mai kepadanya. "Ah, Ibu kalau ngomong suka benar."
Bu Mai menggeleng heran dengan anak didiknya ini. Kadang jujurnya membuat orang lain terheran-heran. "Sudah jangan mimpi kamu! Mana mau Maru sama cowok kayak kamu, Mas," kata Bu Mai seenaknya.
"Ya ampun, Ibu. Disemangatin kek saya," tambah Megi dramatis.
"Kamu belajar dulu yang bener. Baru nanti saya doain." Bu Mai menasihatinya. Tapi apapun itu Megi tidak akan sepatuh itu. Cowok itu malah mengelus dadanya. "Keburu nggak kuat saya, Bu. Serius. Ini udah diujung," jawabnya membuat seantero kelas tertawa termasuk juga Maru.
Bu Mai melototinya. "Heh! Jangan bercanda ya kamu, Mas!"
"Mana ada sih, Bu. Ini udah beneran diujung. Saya izin ke toilet dulu, Bu. Permisi." Megi bergegas lari keluar. Baginya hanya ini caranya untuk kabur dari Bu Mai.
***
"Nanti malam jemput Magen di Kafe Sendy Buana, ya." Selepas Maru membaringkan tubuhnya di sofa Mamanya langsung memerintahkan Maru untuk keluar rumah nanti. Sebenarnya Maru sedang merasa agak lelah hari ini. "Udah besar ngapain pakai dijemput segala sih, Ma?" tanya Maru penasaran.
Marita duduk di samping Maru dengan mengedikkan bahunya. "Mama juga nggak tahu. Ayah kamu yang minta," ujar Mamanya.
"Magen udah seminggu di sini. Dia mau sampai kapan tinggal di sini, Ma? Bukannya Maru nggak suka. Tapi kan Mama tahu sendiri Tante Mestha itu gimana." Maru melepas tali sepatunya. Sepatu yang baru dipakai sehari ini sudah terlihat sangat kusam. Tadi di sekolah ada kegiatan bersih-bersih. Berhubung Maru memakai sepatu converse warna putih jadinya langsung kusam seperti ini. Lagian ada acara bersih-bersih tidak diumumkan di grup kelas. Jadinya Maru yang ribet sendiri. Kalaupun dia tahu akan ada acara bersih-bersih lebih baiknya dia tidak akan memakai sepatu sekalian. Sendal pun jadi. Sayangnya tidak ada yang membocorkan acara itu.
Mestha sependapat dengan Maru. Magen tinggal bersama mereka sudah seminggu dan Mestha masih belum tahu soal ini. Yang ditakutkan hanya satu bila nanti Mestha tahu dan akan marah-marah. Apalagi semua harta Mestha yang dititipkan kepada Magen sudah habis tak ada sisa. Tanpa izin pula. Rasanya Marita tidak bisa membayangkan hal itu bila nantinya beneran kejadian.
"Mama juga nggak tahu." Marita beranjak dari posisinya. "Inget pesan Ayah tadi, ya. Mama mau lanjutin jahitan Mama dulu. Kalau mau makan langsung ke ruang makan. Udah Mama siapin," tutur Mamanya.
Maru mengulum senyum dengan berhormat. "Siap, Bos!"
Tak lama setelah Marita pergi, Mahira sudah pulang lebih awal.
"Assalamualaikum," ucapnya di ambang pintu. "Waalaikumsalam," jawab Maru sambil menatapnya.
"Kamu ngapain masih di situ? Sana ganti baju terus makan."
"Iya, bentar lagi."
Mahira tak lagi memedulikannya. Ia melepas sepatunya dan langsung berjalan masuk. Namun, sesaat ada yang terlintas di benaknya. Ia pun berhenti tiba-tiba dan menoleh kepada Maru. "Oh, iya. Itu si Magen mau sampai kapan tinggal di sini?" tanyanya pada Maru.
"Meskipun Mbak udah terima Ayah kamu bukan berarti Mbak bisa terima Magen juga. Nggak semudah itu."
"Iya, Maru ngerti kok."
Mahira tak lagi merespon. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Maru yang sedang termenung di ruang tamu. Layaknya, Mahira tidak nyaman dengan keberadaan Magen. Dipikirannya semua orang bisa seenaknya tinggal di rumahnya. Yang semula sepi menjadi ramai. Ditambah pula dengan hadirnya Magen secara tiba-tiba. Mahira biasa saja kepada Magen. Ia bukannya tidak suka. Akan tetapi ia hanya takut aja bila nanti terjadi perang dunia antara kakaknya dan Ibunya Magen karena hal ini. Rasanya Mahira ingin membunuh Mestha dengan tangannya sendiri bila saja hukum membunuh orang itu halal.
***
Moza mendengus jengah di kantin kampus. Sejak tadi dia sudah menghubungi Magen. Tetapi tidak mendapat balasan meskipun hanya satu kata saja. Moza gergetan sendiri. Sebentar lagi dia akan ada banyak ujian. Karena itu disela waktu yang Moza miliki ia ingin sekali menghabiskannya dengan Magen. Namun, pacarnya itu sepertinya tidak paham dengan keadaannya sekarang.
Bahkan sudah seminggu ini dia tidak melihat Magen di kampus. Sewaktu Moza bertanya pada Meezo---teman dekat Magen---katanya Magen selepas kuliah langsung pulang begitu saja. Tanpa mampir ke kantin ataupun ke perpustakaan untuk mencari buku-buku yang baru. Saat Moza mendatangi rumah Magen ia malah bingung sendiri. Rumah itu sudah dijual. Lalu tinggal di mana pacarnya itu sekarang?
Katanya pacar, tapi kondisi pacarnya saja Moza tidak tahu.
Apa Moza salah mengambil keputusan?
Moza tidak harus menerima Magen menjadi pacarnya. Selain perbedaan usia yang lebih dewasa dirinya---jurusan kuliah mereka juga sama. Tentu sibuknya akan sama pula.
Kini hanya satu pertanyaan yang ada di benak Moza. Apa Magen masih ingat bila Moza ini pacarnya?
Atau mungkin..., sudah lupa.
"Za!" teriak Mithar. Sejak pertemuan pertamanya dengan Magen dulu Mithar mulai ikut muncul dalam kehidupannya. Secara tak sengaja Mithar menemuinya di kantin kampus dan mengajaknya untuk kenalan hingga sampai di titik ini. Moza sedikit tidak nyaman dengan Mithar karena bahasanya yang formal. Tapi di sisi lain Mithar selalu ada saat dia sedang terpuruk seperti ini. Itu anehnya.
Moza menoleh sambil tersenyum. "Eh, Kak Mithar. Ada apa, ya?" tanyanya.
"Saya mau ke Mal beli buku. Kalau kamu nggak keberatan mau nemenin saya?" Ajakan Mithar ini membuat Moza semangat. Setiap mendengar kata 'Mal' disebut ia langsung senang kembali. Moza bisa melupakan semua pikiran buruknya setelah berbelanja sesuka hati. "Sekalian temenin gue belanja, ya?" tawar Moza.
Mithar tidak menolak. "Iya, ayo. Naik mobil saya aja."
Moza pun bangkit dan bergegas menyusul Mithar yang sudah mulai berjalan pergi. Tidak apa. Untuk sesaat memang Moza butuh waktu untuk bersenang-senang.
***
Pukul tujuh malam ini Maru sudah berdiri di depan Kafe Sendy Buana untuk menjemput Magen. Tapi Maru sama sekali tidak melihat sosok Magen di sini. Ia sudah memperhatikan sekelilingnya. Jika tadi hanya disuruh menjemput itu berarti orangnya hanya berdiri di luar Kafe. Bukan berada di dalamnya. Masih tidak percaya Maru pun kembali mencari Magen.
Sudah beberapa kali mengitari Kafe ini namun masih tidak bertemu dengan Magen. Maru pasrah. Dia akhirnya memilih untuk menelepon Ayahnya saja daripada harus susah-susah mencari Magen. Lagipula Maru juga gengsi jika harus menelepon Magen dulu. Yang ada cowok itu akan kegeeran dengannya. Tentu Maru sangat menjauhi itu. Dia tidak ingin Magen menyalah artikan perbuatannya itu.
"Halo, Yah," sapa Maru ketika sambungan telepon itu mulai tersambung.
"Oh, Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Muzan di sambungan telepon. "Kata Ayah tadi Maru harus jemput Magen di Kafe SB. Tapi kok ini Maru nggak nemuin Magen di sini, sih?"
Muzan terkekeh di ujung sana. Sementara Maru hanya mengernyitkan alisnya bingung.
"Kamu ke Mal aja, Nak. Kamu tunggu Magen di Kafe-nya. Sudah dulu, ya. Ayah lagi banyak pesanan," ujar Muzan seraya mematikan sambungan teleponnya. "Tapi, Yah---"
Maru menghela napas. Tadi katanya ke Kafe Sendy Buana. Lalu sekarang ia harus ke Mal? Sebenarnya Magen sedang apa?
Ribet sekali.
Dengan malas Maru menyeret tubuhnya untuk mencari taksi. Jarak Kafe Sendy Buana ke Mal cukup jauh. Apalagi ini sudah malam. Sangat tidak mungkin bila Maru naik angkot. Malam hari di Jakarta ini sangat rawan. Tidak aman sebenarnya untuk keluar sendirian. Namun Maru tak punya pilihan. Mahira tidak mau menemaninya karena ingin membantu Marita yang sedang banyak jahitan.
Akhirnya Maru menghentikan taksi. Ia segera menyusul Magen di Mal. Sesampainya di sana Maru langsung menuju ke Kafe. Tampak matanya memperhatikan penjuru tempat. Ulasan senyum terukir saat Maru melihat Magen sedang membersihkan meja Kafe. Senyumnya tak bertahan lama setelah Maru melihat apa yang sedang dilakukan Magen.
Tanpa banyak berpikir Maru menghampiri cowok itu dan menepuk bahunya. "Lo ngapain? Jangan bilang lo kerja di sini lagi."
Magen yang awalnya kaget langsung kembali normal. Dia juga tidak mungkin berbohong.
"Part time," jawab Magen.
Cowok itu melanjutkan pekerjaannya. Maru tidak tega membiarkan Magen melakukan ini. Magen sudah membantu Ayahnya sampai dia harus bekerja seperti ini. Maru pun ikut membantu Magen dengan mengambil piring bekas di meja itu. Namun Magen menahan tangan Maru untuk membantunya.
"Biar gue aja. Lo tunggu di sini," kata Magen menahan.
Maru tetap tidak mau diam. Setelah apa yang terjadi Maru tidak bisa hanya diam memperhatikan. "Nggak apa-apa. Habis ini lo janji traktir gue es krim, oke?" tawar Maru tersenyum. "Kalau diam gue anggap oke, ya."
Lagi, lagi, Magen dibuat bahagia dengan Maru. Wajar bila perasaannya muncul kembali. Karena memang perasaan itu tidak pernah hilang. Maru tidak menghiraukan diamnya Magen. Gadis itu dengan cekatan membantu Magen mengangkat piring dan gelas kotor di meja. Lalu membersihkannya.
Sekian menit akhirnya pekerjaan Magen selesai dan dia sudah boleh pulang.
"Jadi, mau es krim rasa apa?" tanya Magen sambil berjalan beriringan dengan Maru. Gadis itu mendongak. "Banyak rasa juga boleh."
Magen merangkul Maru sampai membuat gadis itu kembali menatapnya. Seolah bertanya ini maksudnya apa? "Nggak apa-apa. Gue cuma rindu aja punya momen berdua sama lo," jawab Magen.
Mendengar penuturan Magen itu membuat Maru tidak menolak.
Di sisi lain Moza tak sengaja melihat Magen dan Maru berduaan di Mal. Moza pun berhenti melangkah secara tiba-tiba. Gadis itu kesal setengah mati. Mithar yang berada di sampingnya ikut berhenti melangkah. Memperhatikan Magen yang sedang merangkul seorang gadis dengan penuh tawa. Mithar merasakan sakit. Perasaannya itu masih ada sampai sekarang. Begitu pula dengan Moza. Hatinya serasa sudah jatuh ke usus.
"Jahat banget, sih!" Moza menggeram kesal. Dia tidak lagi melihat Magen. Tangannya menarik lengan Mithar. "Ayo pulang, Kak! Gue udah ngantuk," ujarnya berbohong.
Mithar hanya mengikuti Moza. Meskipun hatinya masih sesak melihat Magen bahagia bersama cewek lain. Andai waktu bisa diulang. Mithar ingin memperbaiki semuanya. Termasuk memperbaiki tata dirinya yang dianggap membosankan dimata orang lain.