Maybe, Yes!

Maybe, Yes!
BAB 37 :: TELUK BERINGKUK



"Sekecil apapun perhatian yang diberikan, dampaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkan." -Marutere Althea.


Ruangan makan pagi ini terdengar sedikit berisik. Suara TV dengan volume yang besar dan gemercik air di kolam samping rumah menambah keberisikan rumah ini. Seseorang turun dari tangga atas menuju ke ruang makan dengan lunglai tak semangat. Mungkin karena kemarin sempat kehujanan sekarang tubuhnya tidak enak badan. "Eh, buset. Lo kenapa lemes gitu? Masih pagi juga," celutuk Moza sambil mengolesi rotinya dengan selai nanas.


"Tauk, ah." Megi enggan menjawab pertanyaan yang Moza lontarkan. Dia menarik kursi yang ada di depannya. Lantas duduk sembari melemparkan tasnya ke atas meja. "Bikinin dua dong, Kak," ujarnya menyuruh.


Seperti hari-hari biasanya. Rumah besar ini hanya ditinggali oleh Megi dan Moza. Tidak ada pembantu di rumah ini. Mama-Papa mereka sedang bekerja di luar kota. Sangat jarang sekali berada di rumah. Bahkan bisa dihitung berapa kali orangtua mereka berada di rumah. Kemungkinan besar saat hari raya idul fitri, tanggal merah, dan juga saat kenaikan kelas. Itupun juga tidak pasti. Karena itu rumah sebesar ini akan terlihat berisik ketika di pagi hari saja.


"Buat siapa, nih?" Moza penasaran. Tanpa menunggu jawaban Megi, dia sudah lebih dulu mengambil roti di depannya dan segera diolesi dengan selai. Tidak seperti hari biasanya. Kali ini Moza sedang ingin akur dengan adiknya. Bila biasanya saat disuruh oleh Megi dia akan marah. Sekarang berbeda.


Megi mengambil roti milik Moza tanpa izin dan langsung mengunyahnya. "Bhanyhak thanyhak," jawabnya dengan kunyahan roti di dalam mulutnya. [Banyak tanya]


"Dih! Nggak gue bikinin, nih."


"Jangan ngambek kenapa? Gue lagi nggak enak badan ini," keluh Megi.


Moza meletakkan rotinya di dalam kotak bekal. Ia lantas memeriksa kening Megi. Panas. "Ya ampun! Lo beneran sakit, Meg? Butuh dokter nggak?" Moza khawatir.


"Kagak, mana nih bekalnya? Gue mau berangkat sekarang."


"Lo lagi sakit, pinter. Ke rumah sakit dulu, yuk!" ajak Moza semakin khawatir.


Megi mengesah panjang. "Katanya lo anak FK. Ngapain juga gue harus ke dokter. Lo kan ujungnya juga jadi dokter."


"Oh, iya. Lupa."


***


Suara klakson mobil terdengar beberapa kali dari dalam rumah. Megi menggertakkan giginya jengkel. Badannya sedang tidak sehat dan dia harus mendengar keberisikan lagi. Tadi mulai dari suara TV dan air kolam. Sekarang malah mobil yang tidak berhenti mengklakson. Megi jadi heran. "Mobil siapa, sih? *****, berisik banget," gerutunya.


Sampai Megi selesai memakai sepatunya suara klakson mobil yang tadi tak kunjung berhenti. Dengan kejengkelan penuh Megi segera menghampiri mobil yang membuat keberisikan itu. Sebelum keluar rumah dia lebih dulu mengambil kunci mobilnya. Mulai pagi ini dia tidak lagi memakai motor. Kondisi tubuhnya kurang sehat. Daripada kenapa-kenapa di jalan akhirnya Megi memilih untuk cari aman dengan membawa mobil. Lagipula jarang-jarang dia membawa mobil. Sekalian pula berganti gaya.


Megi tak berpamitan dengan Moza. Kakaknya sedang sibuk di kamar. Lagipula tanpa pamitan Moza juga akan tahu. Jadi Megi tidak perlu repot-repot untuk berpamitan.


Kaki Megi melangkah demi langkah. Ketika tiba di teras rumah ia langsung berhenti melangkah. Tak diduganya mobil yang menyalakan klakson itu ternyata berada di depan rumahnya. Mobil berwarna hitam pekat itu bertengger tepat di depannya sekarang. Megi bahkan tidak mengenal siapa pemilik mobil itu. Pertanyaannya; siapa yang bertamu sepagi ini?


Pintu mobil itu terbuka. Menampakkan si pemilik mobil dengan celana jeans hitam yang dibalut kemeja berwarna maroon. Begitu melihat siapa yang datang Megi langsung tercengang.


Ngapain?


Begitulah sekiranya yang ada dibenak Megi sekarang.


"Moza-nya mana?" tanya sang pemilik mobil hitam itu dengan tampang datar. Megi sangat mengenal orang ini. Lebih dari yang dia kira. Dunia memang sesempit ini. Megi memperhatikan secara lebih baik lagi. Ini Magen, bukan Genta seperti apa yang Moza ceritain ke gue. Sekali lagi gue sadar kalau dia ini Magen. Bukan Genta. Mata gue juga nggak lagi error. Batinnya dengan menatap lekat Magen.


Cowok itu melambaikan tangannya di depan wajah Megi. "Woy! Moza mana? Jangan malah bengong," ujarnya membuyarkan lamunan Megi.


Lagipula mengapa Megi harus peduli?


Mau Magen atau Genta juga tidak ada urusan dengannya, kan?


Secara, yang dekat dengan orang di depannya ini hanya berurusan dengan Moza. Sekali lagi bukan dengan dirinya. Lagipula Magen juga sudah tidak menganggunya lagi, kan? Magen sudah lepas jauh dari Maru.


Oke, artinya memang Megi tidak harus peduli dengan urusan orang lain.


"Cariin aja sendiri. Punya kaki, kan?" jawab Megi cuek. Ia tak bertahan lama. Selepas mengatakan itu dia langsung pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya.


Magen menghela napasnya, sabar. "Gue juga punya mulut kali. Gunanya buat nanya," ucapnya entah kepada siapa.


"Eh, Genta udah dateng?" seruan itu membuat Magen menoleh. Ia tak lagi memperhatikan Megi. Kini pandangannya sudah beralih kepada Moza yang tiba-tiba ada di depannya. "Iya, dari tadi malah." Gadis itu tertawa kecil seraya memberikan kotak bekal kepada Magen. "Sori, deh. Nih, jarang-jarang kan gue baik."


Magen mengambil kotak itu. "Thanks," ucapnya.


"GUE BERANGKAT!" teriak Megi di dalam mobil seraya melajukan mobilnya meninggalkan Moza dan cowok yang belum pasti namanya. "HATI-HATI LO BAWANYA!!" peringat Moza yang sudah tak mungkin Megi dengar.


"Dia siapa?" tanya Magen.


Moza tersenyum. "Adik gue. Nggak sopan emang orangnya. Suka teriak-teriak," jelasnya.


Magen tertawa.


"Lo juga suka teriak," cetusnya. Magen pikir Moza dan adiknya itu sama. Tidak ada bedanya. Maka bila Moza bilang jika Megi itu tidak sopan dan suka teriak-teriak, baginya pun Moza sama seperti itu.


"Iya, tapi gue masih punya sopan santun daripada dia."


"Alesan."


"Iiiih beneran tahu!" Karena jengkel Moza pun mencubit lengan Magen hingga membuat cowok itu sedikit meringis. Jangan ditanya seperti apa rasa cubitan Moza. Yang pasti tidak seenak seperti dipijat.


"Iya, iya, percaya. Yuk berangkat," ajak Magen mengalihkan.


Moza hanya berdehem dan melangkah ke mobil Magen. Dia masuk ke dalam mobil. Lalu Magen melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Rasanya sudah lama Moza tidak keluar dengan Magen. Sekilas Moza tiba-tiba merasa rindu.


***


Morin sedang berada di perpustakaan. Dia sedang mengikuti bimbingan untuk Olimpiade Ekonomi bersama dengan Mars yang mewakili mata pelajaran Geografi. Dua orang jenius itu sudah berada di perpustakaan sejak jam pertama pelajaran. Sampai sekarang waktu istirahat mereka berdua juga belum kembali. Sedangkan Magis. Dia sedang berada di UKS mengurusi Mesky yang katanya sedang tidak sehat. Padahal kemarin dia tidak hujan-hujanan. Aneh saja bila tiba-tiba sakit. Karena Morin dan Magis tak ada di kelas mau tidak mau Maru harus ke kantin sendirian.


Kini hanya ada dirinya dan Marsha yang berada di dalam kelas. Marsha terlihat sibuk dengan ponselnya. Sudah lama sekali Maru tidak berinteraksi dengan Marsha. Apa mungkin ini waktunya memperbaiki?


Bisa jadi jawabannya adalah iya.


Maru pun bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menghampiri Marsha. Gadis itu masih tak berkutik dengan ponselnya. Dia masih diam di tempat seolah tak menyadari bila Maru mulai datang mendekat dengannya. Kebetulan Marsha sedang menghadap ke belakang. Jadi, Maru berhenti sejenak di belakang Maru. Dia tak langsung memanggil Marsha. Sedikit penasaran dengan apa yang Marsha lakukan, Maru pun memperhatikan ponsel Marsha. Tak diduganya Marsha sedang mencari informasi seputar kehamilan di google.


Maru cukup terkejut.


Marsha yang mendengarnya langsung terkejut. Dia membalikkan badannya dan menganga setelah tahu siapa yang bertanya padanya. Bodoh. Itulah kesan pertama Marsha setelah membalikkan badan.


"Lo sejak kapan berdiri di situ?" timpal Marsha. Dia tidak menjawab pertanyaan Maru itu. Bingung harus menjawab bagaimana.


"Nggak lama, sih."


"Mau ngapain? Ngintipin gue, ya?" tuding Marsha cepat. Jantungnya sedang tidak normal sekarang. Dia gugup. "Eh, nggak kok. Tadinya gue cuma mau ngajak lo ke kantin. Tahunya lo malah sibuk nyari-nyari info tentang kehamilan," jawab Maru.


Marsha menatap Maru tidak suka. "Pergi aja sendiri. Ngapain ngajak gue. Temen juga bukan," ucapnya ketus.


"Lo ngapain nyari hal-hal tentang kehamilan?" Maru kembali bertanya.


Aneh nggak, sih?


Seorang Marsha mencari informasi tentang hal-hal yang belum waktunya. Ini membuat Maru berpikir yang tidak-tidak pada akhirnya. "Gabut aja gue. Emang ada larangannya apa? Nggak ada, kan? Lo juga ngapain banyak tanya. Kalo mau ke kantin ya sana ke kantin aja. Ngapain masih di sini, sih? Heran. Suka banget ngurusin urusan orang," sembur Marsha seperti sedang menstruasi.


Tapi benar pula apa yang Marsha katakan. Mengapa Maru sepeduli itu dengan urusan orang lain?


"Sana ih pergi!" usir Marsha, lagi.


"Iya, ya ampun."


"Ya udah cepetan sana!"


***


Kantin cukup ramai siang ini.


Karena itu Maru tidak jadi membeli makanan maupun sekadar minuman belaka. Ia malas mengantre maupun berdesak-desakan. Lagipula masih ada waktu istirahat kedua. Nanti dia bisa datang lagi ke kantin. Mungkin bisa bersama dengan Morin atau Magis. Istirahat kedua nanti ini pasti Morin sudah selesai bimbingan. Begitupun dengan Magis. Gadis itu juga tidak mungkin membolos pelajaran hanya untuk menemani pacarnya.


Setibanya di koridor kelas sebelas, Maru melihat Mate berjalan tidak sendirian di koridor kelas sepuluh. Ada Meta yang mengekori di belakangnya. Tiba-tiba Maru berhenti melangkah. Memperhatikan Mate yang melangkah maju ke depan mendekat padanya. Mate berhenti juga. Matanya sempat kontak mata dengan Maru sebentar. Namun tak bertahan sampai sepuluh detik.


Meta menarik lengan Mate. "Jalannya barengan dong, Mate. Jangan ditinggalin Meta-nya."


Lalu tanpa sadar Mate mengulum senyum kepada Meta. Tangannya bergerak merangkul Meta lantas mengajaknya berjalan kembali dengan memutar arah. Langkahnya tak mendekat menuju Maru. Melainkan berbalik arah menuju ke lapangan basket kedua yang berada di belakang sekolah.


Rasanya melihat Mate merangkul Meta di depannya seperti itu membuat Maru merasa sakit. Ada luka yang tak terlihat. Ada darah yang mengalir tanpa bisa diraba. Rasa sakit itu menyisit hatinya perlahan. Walaupun tanpa perasaan, namun Maru yakin bila ada sedikit rasa yang masih menempel di hatinya. Tentunya rasa itu masih untuk Mate.


Mata berkaca-kaca ingin menangis.


Namun tubuh Maru merasa ditarik ke samping oleh seseorang. Membuat Maru mengalirkan air matanya sepuas mungkin di dalam dekapan ini. Megi datang memeluk Maru di saat Mate merangkul Meta di depan matanya. Menyadari hal ini, Maru semakin yakin bila Megi memang selalu ada untuknya akhir-akhir ini.


"Nangis aja sepuas mungkin. Tapi setelah ini lo harus janji sama gue untuk selalu senyum. Oke?" ujar Megi pelan. Ketika Maru masih tidak bersuara, Megi pun menjawabnya sendiri. "Oke."


Sepertinya sudah ada beberapa pembuktian yang bukan hanya janji atau ucapan semata.


Lantas, bolehkah Maru memiliki harapan itu lagi?


***


Sepulang kuliah Moza dan Magen sudah berjanjian untuk makan malam di Sendy Buana Cafe. Berhubung hari ini jadwal Moza sangat padat jadi Magen dengan senang hati menunggu Moza di kampus. Entah dengan berdiam diri di dalam mobil atau sibuk dengan ponselnya Moza juga tidak tahu. Namun melihat Magen yang senantiasa menunggunya membuat Moza terenyuh. Seperti menganggap bahwa 'ini loh perjuangan Magen ke gue'.


Sejak pertemuan pertamanya dengan Magen itu sudah membuatnya memiliki banyak harapan.


"Bu dokter kayaknya capek banget, nih. Mau pulang aja?" tanya Magen di dalam mobil.


Moza menggeleng. Dia melepas almamaternya itu. "Nggak usah. Makan dulu aja. Kan udah janjian. Masa dibatalin, sih."


"Ya nggak apa-apa. Kan lo lagi capek. Nggak usah maksain buat makan. Nanti kan bisa diatur lagi jadwalnya."


"Enggak. Ayo makan aja. Gue fit kok. Lagian juga cuma makan, kan?" Moza merapikan rambutnya di kaca. Sengaja sambil mengalihkan pandangannya dengan Magen. "Bukan sekadar makan, Za," ralat Magen membenarkan.


Moza berhenti merapikan rambutnya lantas menoleh. "Terus?" tanyanya.


"Kita dinner."


"Dinner kan untuk orang yang udah berpasangan, Gen."


"Ya makanya itu. Lo mau nggak jadi pacar gue?"


Moza terdiam kaku. Tidak salah dengar, kan?


Magen menembaknya.


"Bercanda lo nggak lucu," tutur Moza berusaha biasa saja. Padahal aslinya dia ingin sekali terbang. "Siapa juga yang bercanda. Gue serius, Moza. Jadi gimana?"


Moza terkejut bukan main.


"I-ini serius?"


"Iyaa, duarius malah. So? What is your answer?" Magen menatap manik mata Moza lekat. Sedekat ini hampir tidak ada jarak yang tersisa.


"Tapi umur kita beda jauh, Gen. Nggak mungkin kalo lo pacaran sama cewek yang lebih tua dari lo."


"Cinta nggak mandang usia. Nggak peduli tuaan siapa. Selagi nyaman kenapa nggak?"


"Ya, kalau lo emang serius gue mau jadi pacar lo."


Entah jawaban yang bijak atau tidak. Tapi detik ini juga Moza telah resmi menjadi pacar Magen. Tidak ada lagi harapan. Karena harapan itu sudah terwujud. Yang ada sekarang adalah bagaimana Moza menjalaninya. Setelah perubahan status tentunya akan ada sedikit perubahan dalam hidupnya.


Apapun itu, Moza akan siap bila bersama Magen.