
"Hati dan mulut memiliki fungsi yang berbeda. Kerja mereka pun saling bertolak belakang." -Marutere Althea.
Mata pelajaran terakhir adalah Seni Budaya. Dan kebetulan, gurunya sedang berada di rumah sakit karena habis melahirkan anak pertama. Beliau masih muda. Karena itu, ini pertama kalinya anak-anak XII IPS 2 kompak untuk menjenguknya setelah pulang sekolah. Sebenarnya, jika tadi Bu Mai tidak mengabarkan kalau sekarang jam kosong dan tidak dapat tugas apapun, Megi tidak akan mengusulkan saran itu. Tapi karena kebaikan guru Seni Budaya yang membebaskan mereka di jam terakhir membuat Megi dan sekawanannya senang. Bahkan sampai konser seperti biasa. Namun, bedanya kali ini yang memimpin konser adalah Magis. Setelah berbulan-bulan sekelas dengan Megi sekawanannya, Magis yang semula tidak suka dengan mereka malah semakin suka.
Ketika konser berlangsung, Mamat selalu berteriak sedari tadi. Dia tak henti-hentinya untuk berteriak. Sampai air minum Marsha habis diminum olehnya. Untung saja Marsha orangnya baik, jika bukan mungkin Mamat sudah dilahap habis-habis oleh Marsha. Oh iya, sejak Marsha sekelas lagi dengan Megi sekawanannya itu ia ikut membuat ulah. Selain itu, setiap Megi memiliki sebuah rencana Marsha tak segan-segan untuk mendukungnya. Padahal Marsha itu pintar. Tahu mana yang baik dan yang bukan. Tetapi sikapnya itu tidak mencerminkan jika ia bisa membedakan antara yang baik dan yang bukan. Sempat terlintas di benak Maru dan Magis bahwa Marsha memiliki perasaan lebih kepada Megi.
Meskipun begitu, keduanya sama-sama tak memedulikan hal itu. Magis malah senang. Dia memiliki teman sejenis saat dirinya ikut kumpul di antara teman-teman Megi. Tapi, saat Magis mengajak Maru dan Morin untuk ikut kumpul dengan mereka keduanya kompak menolak. Jika Morin menolak, Magis paham dengan itu. Morin memang tidak suka berkumpul dengan banyak orang. Apalagi membahas hal-hal yang tidak penting. Ia lebih memilih ke perpustakaan sendiri daripada harus ikut kumpul. Morin itu adalah versi perempuannya dari Mars. Cowok itu juga memang susah untuk diajak berkumpul walaupun hanya sekadar bercanda. Ada saja alasan yang muncul darinya. Mulai dari yang masuk akal sampai tak masuk akal.
Tapi kalau Maru yang menolak juga, Magis malah curiga sendiri. Statusnya Maru dan Megi sekarang sudah biasa saja. Mereka berteman. Bahkan bisa dibilang jika keduanya dekat. Selain karena memang sebangku, mereka juga sering pulang bersama. Status mantan di antara mereka kian mulai menghilang. Tak ada alasan lagi bagi Maru untuk tidak mau ikut berkumpul dengan Megi sekawanannya. Entah mengapa, dia malah menolak ketika diajak bergabung. Padahal semua teman Megi sudah tidak menggoda Maru lagi. Meskipun terkadang mulut mereka tak terkontrol hingga ada saja waktu di mana mereka keceplosan. Namun tetap saja. Itu tidak di sengaja.
Apa mungkin karena Marsha selalu menempel pada Megi, Maru jadi tidak mau ikut?
Apa mungkin?
Ah, tapi tetap saja. Hanya Maru yang mengerti semuanya. Megi sendiri saja tidak tahu jawabannya ketika ditanya seperti itu. Jawaban yang ia lontarkan malah membuat setiap orang yang mendengarnya ingin menjedotkan jidatnya itu di tembok. Bagaimana tidak? Orang jawabannya saja begini; mungkin Maru belum siap untuk melihat kegantengan gue.
"Main truth or dare, yuk?!" seru Mamat yang sedang berdiri di atas meja sambil membawa sapu bekas ia pakai sebagai gitar selepas konser tadi. "Siapa nih yang mau ikut?" tanyanya sambil mengedipkan kedua matanya.
Marsha berteriak nyaring. "Gue, dongg!!"
"Iye, iye, Mbak. Nggak usah ngegas juga kalee," balas Mamat kesal.
"Suka-suka gue, dong."
Mamat menghela napas jengah. "Sekarepmu! Siapa lagi, nih?" (Terserah kamu)
"Gue sama Maru juga ikut," ucap Magis tiba-tiba membuat Maru yang semula diam langsung mendengus seketika. "Apaan, sih! Gue nggak mau. Ogah," balasnya ketus.
"Halah! Bilang aja takut kena truth," cetus Mesky di belakang. Seketika Maru cemberut dibuatnya.
Mamat turun dari meja dan menghampiri Maru. "Sekali-kali ikut dong, Ru. Masa kalah sama Marsha. Nanti Oppa Mamat temani."
"Apa hubungannya sama gue?" Merasa namanya disebut Marsha langsung bertanya keheranan. Sementara Mamat malah menyengir. "Nggak ada, sih," jawabnya asal.
"Dih. Ru ikut aja. Biar ceweknya ada tiga. Masa cuma gue sama Magis, sih, yang ikut." Marsha ikut menimpali. Memaksa Maru untuk ikut bermain. Itu lebih tepatnya.
Maldi ikut menyahut. "Lo cemburu sama Marsha, Ru?"
"Iya, tuh," Mesky menambah.
"Lah, kok gue lagi, sih? Emang kenapa? Maru suka sama Megi?" Marsha bingung.
"Kalau nggak mau nggak usah dipaksa," ujar Megi menengahi. Melihat Maru terus dipaksa teman-temannya membuat Megi merasa risih. Apalagi sampai bawa-bawa perasaan. Ia tahu jika Maru sensitif soal perasaan. Karena itu ia tidak suka jika Maru terus dipaksa untuk bermain bersama. Meskipun dalam hatinya dia menginginkan hal itu.
Maru menatap Mesky tajam lalu menghela napasnya gusar. "Fine! Gue ikut. Tapi nggak usah bawa-bawa perasaan juga bisa 'kan?"
"Siap, Bu Bos!" Mamat langsung melakukan kegiatan hormat kepada Maru. Kini, semuanya membentuk bundaran di belakang kelas. Teman lainnya memilih untuk menyibukkan diri daripada ikut bermain seperti itu.
Marsha duduk di samping Megi. Sementara Magis menempel terus dengan kekasihnya itu. Lalu Maru? Dia duduk di samping Mamat. Itu artinya duduk tepat di depan Megi. Maru lebih memilih duduk di tengah-tengah Mamat dan Maldi daripada harus di samping Megi yang sedang dekat dengan Marsha. Tapi sebenarnya, melihat Marsha dekat dengan Megi juga membuatnya kesal sendiri.
Mamat memutar botol bekas di tengah-tengah mereka. Putaran pertama itu langsung tertuju kepada Mesky hingga membuat pria itu mendengus. "Truth or dare?" tanya Mamat langsung.
Pertanyaan? Akan tetapi Mesky takut ditanya yang aneh-aneh.
Tantangan? Ah, sayangnya dia kapok dengan hal itu. Pernah sekali dulu dia memilih tantangan dan berujung di hukum di lapangan. Itu semua karena ulah teman-temannya yang memang sudah sangat kejam saat bermain seperti ini.
"Truth aja, deh. Gue kapok lo kerjain," ungkapnya pasrah. Membuat yang lainnya terkekeh. Mamat kembali berbicara layaknya seorang MC. "Oke, pertanyaan yang dilontarkan cuma tiga. Jadi jangan pada rakus. Siapa dulu, nih?"
Marsha langsung mengangkat tangannya. "Gue," ucapnya.
"Tanya apa?"
"Lo kenapa bisa pacaran sama Magis? Hm, maksudnya..., kok lo bisa milih Magis dari sekian banyak cewek yang ada di sekolah ini. Padahal 'kan, Magis itu cerewet banget orangnya," tuturnya panjang.
"Jadi, menurut lo gue nggak pantes gitu buat Mesky? Yang harusnya nanya itu gue. Pantes nggak dia buat gue." Magis menimpali pertanyaan Marsha dengan ketus. Pasalnya itu antara Magis dan Mesky memang mendingan Magis. Walaupun cerewet tapi jarang bikin ulah.
Marsha menggeleng. "Isshh, bukan begitu. Diam dulu makanya. Gue itu nanya biar tahu alasan dia, pinter. Memang lo nggak kepo gitu?"
"Ya, kepo, sih."
"Ya udah, jangan buruk sangka dulu."
"Bawel."
Maldi menggaruk lehernya. "Ini kenapa pada debat coba?"
"Iya, tuh. Dasar cewek. Apa-apa baperan," tambah Maldi. Mesky terkekeh dengan ucapan Maldi yang seratus persen memang benar.
"Bukannya cowok juga, ya?" tanya Maru di sela-sela perdebatan.
"Nggak juga."
"Tahu dari mana?"
"Buktinya gue nggak."
"Terserah."
"Mau main apa ngajak berantem, sih? Ngeselin lo pada. Ini alasan gue kenapa nggak mau main sama kalian. Ujungnya bikin emosi aja," ungkap Maru sudah terbawa emosi.
"Ampun, dah. Bercanda, Ru. Lo mah emosi melulu dari kemarin," Mamat menyenggol bahu Maru.
Maru menoleh, tajam. "Sori," lalu kembali merundukkan kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba dia emosi seperti ini. Padahal anak kecil pun juga tahu jika semua ini hanya bercanda. Tetapi anehnya, ia malah terpancing emosi. Yang lainnya diam sambil menatap Maru heran. Jarang sekali Maru marah seperti ini. Biasanya yang suka marah itu Magis. Bahkan biasanya Maru yang suka menenangkan Magis. Namun hari ini semuanya terbalik.
"Lanjut aja. Jawab Mes, buruan," putus Megi akhirnya. Melihat Maru seperti ini dia jadi khawatir sendiri. Ada apa dengannya?
Mesky menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Kenapa gue milih Magis, karena dia bisa bikin gue nyaman. Sekalipun dia cerewet tapi gue suka. Udah itu aja. Gue nggak punya alasan lain. Menurut gue itu yang penting nyamannya kita sama dia. Cantik, baik, nggak cerewet, tapi kalau nggak bikin nyaman ya percuma. Intinya nyaman. Lanjut pertanyaan kedua, deh."
Semuanya bertepuk tangan. Tumben sekali Mesky mengatakan hal yang benar. Biasanya hanya celotehan tak karuan.
Maldi berdehem, lantas berucap. "Ada niat bikin berapa anak sama Magis?"
"Ngawur lo, ya!" tukas Mesky langsung.
"Gue serius."
Mesky mengangguk-angguk. Magis yang berada di sampingnya hanya diam sambil memunggu jawaban dari Mesky. "Gue belum tahu. Nanti kalau gue udah tahu, gue kabarin, deh," jawabnya menggundang tawa banyak orang.
Magis mencubit pinggangnya. "Kamu pikir apaan pakai cerita segala ke orang lain? Memang nanti kita jodoh?"
"Hehehe, maaf. Tapi semoga jodoh, deh."
"Amin," semua mengaminkan sambil terkekeh. Selanjutnya Maru ikut bertanya untuk menguburkan emosinya. "Kalau seandainya Magis itu jodohnya bukan sama lo gimana?"
"Ya nggak gimana-mana. Gue cari yang baru. Masa iya gue ngambil jodoh orang," jawabnya asal.
Magis menatapnya tajam. "Begitu, ya? Nggak mau memperjuangkan aku. Awas aja!"
"Eh, jangan marah, dong. Kan aku jujur jawabnya."
"Ya karena itu aku tahu kamu itu gimana nantinya kalau nggak jodoh sama aku."
"Woy! Jangan KDRT di sini, kenapa?!" Maldi angkat bicara. Sejujurnya jika satu pasangan diajak bermain seperti ini memang bukan ide yang baik.
Mamat kembali memutar botol bekas itu sebelum Mesky dan Magis bertengkar lagi. Padahal hanya masalah sepele. Putaran yang kedua ini berhenti tepat di depan Maru. Membuat Mamat, Maldi, dan Megi menyunggingkan tawanya.
Maru mendengus. Sudah ia duga, jika bertemain TOD ia selalu mendapat jatah. "Gue truth aja, deh," ucapnya tanpa ditanya.
"Jawab jujur sejujur-jujurnya, ya. Lo masih suka 'kan sama mantan lo?" Maldi menjadi penanya pertama sekaligus orang yang kembali memancing amarahnya. Kenapa yang ditanyakan kepadanya selalu memojokkannya?
Maru menggeleng. "Nggak," jawabnya tenang.
"Eh, tunggu. Mantan yang mana, nih? Yang pertama atau yang kedua?" Magis angkat berbicara.
Di depannya, Megi diam menatap manik mata gadis itu. Kini, keduanya saling bertatapan. Jujur saja, sekarang jantung Maru mulai berdebar. Entah karena apa. Tak lama, gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Dua-duanya nggak," ujar Maru kembali memperjelas ucapan pertamanya.
Gue tahu lo masih suka sama Mate. Lo nggak bisa membohongi gue, Ru. Dulu gue memang pernah menyakiti lo. Tapi mulai sekarang, gue janji nggak akan menyakiti lo lagi. Perlakuan Mate itu akan jadi yang terakhir. Gue akan menjaga lo, Ru. Sama kayak dulu. Maaf kalau rasa ini muncul lagi. Semoga dengan adanya gue, lo bisa lupakan Mate dan kembali memaafkan semua kesalahan gue. Megi memperhatikan gerak-gerik Maru yang sedikit berbeda. Terlihat jelas di wajahnya jika dia hanya pura-pura bersikap biasa saja.
Maru kembali memperhatikan Megi dan Marsha. Pandangan matanya tak bisa jauh-jauh dari mereka. Sejujurnya, gue mulai suka lagi sama lo, Meg. Tapi nggak mungkin kalau gue ngomong jujur tadi. Apalagi lo lagi dekat sama Marsha. Gue nggak mau mengganggu hubungan kalian. Terima kasih sudah menenangkan gue kemarin. Semoga hubungan lo sama Marsha semakin jelas, ya? Semoga nggak berakhir dengan perpisahan seperti yang gue alami.
"Apa lo masih berhubungan sama Mate?" Pertanyaan kali ini muncul dari Marsha.
"Enggak. Selama pacaran pun kami jarang chatingan. Jadi, gue ngerasa kalau kejadian kemarin itu biasa aja. Ya, walaupun awalnya gue shock, sih."
Megi memejamkan matanya, lantas membukanya kembali. "Keberatan nggak kalau gue dekat sama lo lagi?" tanyanya to the point.
Semuanya melongo tanpa terkecuali. Megi bertanya tanpa menutupi sesuatu. Dia bahkan langsung menjabarkannya.
Maru jadi bingung harus menjawab apa.
"Busettt, gerak cepat lo, Bos!" celutuk Maldi sambil menepuk bahu Megi dari belakang. Cowok itu hanya tersenyum saja untuk meresponnya.
Di sisi lain, Marsha memanyunkan bibirnya. Kenapa harus Maru? Kenapa nggak gue aja coba? Maru kan juga habis putus. Masa langsung disamber aja, sih. Beruntung banget itu anak. Batinnya menggerutu.
"Gimana?" tanya Megi lagi.
Mamat menggeleng tak percaya. "Marvelous! Kenapa nggak balikan aja, sih?"
"Hah?! Balikan? Memang pernah pacaran? Kok gue nggak tahu?" Marsha heboh sendiri.
Di sini memang hanya Marsha yang tidak tahu bila Maru itu pernah menjalin hubungan dengan Megi.
Maldi mencibir. "Dasar! Jabatan aja banyak. Tapi berita kayak gini aja nggak tahu. Lo hidup di zaman apa, sih?"
"Gue kan sibuk," elaknya membela diri.
"Halah! Alesan," cetus Mesky.
Magis tertawa. Dia juga ikut heran. Kenapa Marsha tidak tahu berita ini. "Itu berita udah lama kali. Jadi gimana, Ru? Keberatan, nggak?"
"Keberatan," jawab Maru cepat. Iya, gue keberatan karena gue nggak mau lihat cewek lain tersakiti karena gue. Gue udah pernah jadi korban. Dan gue nggak mau jadi tersangka juga.