
“Aku merindukannya, aku merindukan Hyerin.” Kyuhyun menyandarkan kepalanya di atas bahu Seira, air matanya juga terlihat menetes, dan Seira sungguh terkejut dengan hal itu. Hatinya terasa sangat sakit mendengar kalimat itu, bukan hanya itu, ia merasa sakit melihat kondisi Kyuhyun saat ini.
“Begitu pun denganku. Tapi, aku yakin jika Hyerin eonni sudah bahagia disana, dan aku kemari untuk berpamitan padamu. A-aku akan kembali ke kampung halamanku, sudah tidak alasan lagi untukku tinggal di sini.” Mendengar itu membuat Kyuhyun melepaskan pelukannya, tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memandang keduanya.
“Apa yang kalian lakukan?” Seseorang menyeru, dan keduanya menoleh menuju sumber suara tersebut.
“Donghae hyung? Kenapa datang pagi-pagi sekali?”
“Seira memintaku bantuanku untuk mengantarnya menuju stasiun.”
“Dia tidak akan pergi, dia akan tetap disini.” Titah Kyuhyun, dan Seira terkejut ketika mendengar pernyataan tersebut. Mana mungkin ia tinggal berdua di satu atap yang sama, Seira merasa khawatir akan hal tersebut. Khawatir jika perasaannya pada Kyuhyun akan tumbuh semakin besar.
Seira mulai menolak permintaan Kyuhyun, namun tiba-tiba saja nyonya Cho datang, dan menyela semua pembicaraan mereka. Nyonya Cho meminta mereka semua untuk duduk di ruang tengah. Ahra yang datang bersama dengan ibunya pun tidak tahu apa yang tengah direncanakan oleh ibunya saat ini. Ketika mereka tengah duduk, tanpa di sengaja tangan Seira menggenggam erat tangan Donghae, dan Donghae memandangnya hangat.
“Ahra sudah menceritakan semua yang terjadi, dan juga mengenai pesan terakhir yang di ucapkan oleh Hyerin. Maka dari itu, aku memintamu untuk mengikuti permintaannya. Kau akan menikah dengan Seira, sesuai dengan apa yang di inginkan oleh mendiang istrimu.”
Peryataan itu sungguh membuat semua orang disana terkejut. Mata Seira kini memandang Ahra, dan Ahra hanya menggelengkan kepalanya, yang mengartikan jika ia pun tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut. Seira terlihat begitu khawatir dengan keputusan itu.
“Tapi mana mungkin aku bisa melakukan hal itu? Aku tidak bisa melakukannya.” Seira menyela.
“Kenapa, nak? Bukankah dirimu sudah menjadi bagian keluarga ini, kau juga tahu apa yang disukai, dan apa yang tidak di sukai oleh Kyuhyun bukan? Tidak, bukan hanya Kyuhyun, begitu pun dengan selera kami. Jadi, kau pasti bisa melakukan semua kewajibanmu nanti, dan ku rasa kau pun tidak akan kesulitan untuk beradaptasi lagi bukan?”
“Bukan itu yang ku maksud. Tapi, aku tidak bisa mengkhianati Hyerin eonni?”
“Kau tidak mengkhianatinya. Bukankah ini permintaannya? Permintaan yang terakhir kalinya, dan permintaan itu diberikan padamu. Jadi, kau harus menjalaninya.”
“Ibu, aku…”
“... Hentikan Seira. Bukankah kau sebenarnya senang mendengar hal itu? Kau tidak perlu berpura-pura lagi. Sejak datang kesini sepertinya memang inilah rencanamu bukan? Ketika kau datang, kau mulai berusaha mengambil hati ibuku lagi, kakakku, dan mendiang istriku hanya untuk ini kan?”
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Kyu?”
“Kau ingin semua kemewahan yang ada di sini, dan cara satu-satunya untuk bisa mendapatkannya secara utuh hanya dengan satu cara, yaitu memiliki hubungan dengan keluarga ini. Benar begitu kan Han Seira? Ah aku lupa, bahkan aku sendiri pun hampir terkena tipu dayamu.” Mata Kyuhyun menatap Seira tajam, matanya merah, dan terlihat sangat marah.
“Hyung. Kau belum lama mengenalnya. Jadi, sebelum lebih jauh lagi, sebaiknya jauhi gadis ini. Aku yakin, dia hanya mendekatimu hanya karena menginginkan sesuatu.” Nada suara Kyuhyun benar-benar terdengar merendahkan Seira, dan Donghae sudah mengepalkan kedua tangannya saat ini.
“Kyu.. Kau….” Langkah Donghae terhenti saat Seira menahannya, dan matanya terlihat berkaca-kaca.
“Hentikan. Semua perkelahian hanyalah sia-sia. Karena jadwal pernikahan Kyuhyun, dan Seira sudah di atur dengan cepat. Jadi, aku tidak akan menerima alasan apa-apa lagi. Untukmu Kyu, kau tidak boleh merendahkan seseorang seperti yang kau bicarakan tadi. Kau seperti ini karena kau masih belum bisa menerima kepergiannya.” Nyonya Cho sendiri pun terlihat kesal dengan ucapan putranya, kemudian nyonya Cho pun bergegas pergi, dan Seira mengejarnya.
“Ibu aku mohon batalkan pernikahan itu, aku…”
“… Baiklah, aku menerima itu, dan kita lihat apa kau akan sanggup bertahan hidup bersamaku Han Seira.” Kyuhyun memotong pembicaraan itu, dan langsung kembali ke kamarnya. Ia juga menubruk tubuh Donghae dengan sengaja.
“Kau tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja.” Nyonya tersenyum, dan kembali melangkahkan kakinya. Sedangkan Ahra membagi senyuman tipisnya seraya menepuk bahu Seira, kemudian menyusul langkah ibunya.
Tubuh Seira mulai kehilangan keseimbangannya, air matanya pun pecah saat itu juga, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan Donghae menatapnya miris. Melihat Seira menangis sangat membuatnya terluka, dirinya juga kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh nyonya Cho, karena bagaimana pun juga, dirinya mencintai gadis tersebut.
Langkah kakinya membawanya untuk menghampiri gadis kecil itu, ia pun menariknya ke dalam pelukannya. Gadis itu semakin terisak disana, hatinya tengah berada dalam kebimbangan. Dia memang mencintai Kyuhyun, dan ingin memilikinya, namun tidak seperti ini caranya. Bisa melihatnya tersenyum, tertawa saja sudah sangat membuatnya bahagia, meski semua itu bukan untuknya.
•••
Hari pernikahan tiba, dan tidak ada rasa bahagia sedikit pun di wajah Seira. Meski semua ini memang mimpinya, meski semuanya di awali karena permintaan terakhir Hyerin, namun ini semua tetaplah salah di mata Seira. Bukan begini cara yang ia inginkan. Lagi-lagi air matanya kembali menetes.
“Kau pasti sangat terharu di hari pernikahanmu. Tapi, usahakan untuk menahannya, karena itu akan membuat make up mu hancur nona.” Seru penata rias tersebut seraya tersenyum kecil.
“Kau sudah siap?” Ahra menyeru, dan Donghae menatap gadisnya dengan lirih.
“Noona, aku lah yang akan membawa Seira. Jadi, kau bisa menjadi pengiringnya di belakang kami.” Sahut Donghae.
“Baiklah, aku tunggu di pintu depan.” Ahra keluar, begitu pun dengan penata rias yang ada disana. Wajah Seira kembali tertunduk, dan tanpa berfikir panjang, Donghae langsung menghampirinya seraya berlutut dihadapannya.
“Jadi, kau memang benar mencintainya? Sejak kapan?”
Bersambung ...