Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 07



Hubungan Kyuhyun dengan Seira masih belum membaik akibat kejadian satu minggu yang lalu. Sedangkan Donghae merasa cemas karena belum bisa menghubungi Seira selama itu juga. Seira memutuskan untuk berhenti bekerja sesuai dengan yang dikatakan Kyuhyun, dan ia mengerjakan segala pekerjaan rumah.


Ketika malam tiba, Donghae datang kerumah Kyuhyun, ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Seira. Setibanya disana, ia bertemu dengan Hyerin, dan tampaknya Kyuhyun pun tidak ada disana. Hyerin memanggil Seira, kemudian Donghae meminta izin untuk mengajaknya pergi keluar.


“Seokchon Lake?” Seru Donghae, dan Seira hanya tersenyum menanggapinya.


Keduanya pergi bersama. Hanya keheningan yang tercipta disana, Seira maupun Donghae tampak diam tak seperti biasanya. Terlebih untuk Donghae, biasanya Donghaelah yang akan memulai kerusuhan, dan banyak bicara. Namun, berbeda untuk kali ini, kekonyolannya hilang untuk sesaat.


Setibanya di Seokchon Lake, mereka berjalan santai, kemudian duduk di anak tangga seraya memandang air sungai yang tenang. Wajah Seira pun terlihat sangat muram, dan Donghae tengah berfikir keras. Apa yang harus ia lakukan untuk mengalihkan perhatian Seira saat ini.


“Sebenarnya ada apa? Apa kau sedang ada masalah? Dan kenapa kau tidak terlihat di restaurant lagi?”


“Eoh? Maafkan aku, aku berhenti dari semua pekerjaan paruh waktuku.” Mendengar itu membuat Donghae sangat terkejut. “Aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisinya seperti saat ini.”


“Siapa yang kau maksud? Hyerin?” Seira menganggukkan kepalanya. “Tapi Kyuhyun ada untuknya, dan …”


“… bagaimana jika kita berkeliling? Aku bosan sekali jika harus duduk seperti ini.” Pungkas Seira mencoba mengalihkan pembicaraan, dan Donghae hanya pasrah mengikutinya.


Ketika tengah berjalan, Seira melihat hot bar, dan tanpa menghiraukan Donghae, ia langsung berlari ke sana. Kedai itu juga menjual sundae, tanpa fikir panjang, Seira juga mencicipinya. Sikap Seira memang sulit untuk di tebak, sifatnya selalu berubah-ubah setiap waktu, atau itu hanya pengalihan saja, tidak ada yang tahu.


Melihat dakkochi membuat Donghae menarik lengan Seira untuk ikut bersamanya. Mulut Seira masih penuh dengan makanannya, dan Donghae sudah memesan dakkochi untuk mereka. Melihat pipi Seira yang mengembung membuat Donghae tertawa, meski begitu Seira langsung menatapnya tajam, dan membuat Donghae semakin tertawa.


Merasa kesal karena di tertawai, Seira mencubit lengan Donghae, dan saat itu juga ia tersedak dengan makanannya. Dengan cepat, Donghae mengambil air mineral yang tersedia disana, dan memberikannya pada Seira, namun tawanya masih belum hilang.


“Aku akan pulang.” Ucap Seira dengan ketus, dan Donghae langsung menahan lengan Seira.


“Kelinciku sedang marah rupanya.” Mata Seira terbelalak mendengar penuturannya. “Melihat pipimu mengembung tadi, kau terlihat seperti kelinci saat sedang makan.” Tuturnya lagi.


Donghae terus merayunya agar gadis disampingnya tidak marah lagi. Malam itu adalah malam yang sangat menyenangkan untuk Donghae. Sudah sangat lama ia tidak bisa bersenang-senang seperti itu semenjak Kyuhyun menikah, mungkin lebih tepatnya ketika ia sudah resmi menjadi seorang dokter.


Malam semakin larut, dan Donghae langsung mengajak Seira untuk kembali. Setibanya di depan rumah Kyuhyun. Donghae ikut turun, dan ia terkejut melihat air mata menetes dari kedua matanya. Pria ini sungguh bingung dengan apa yang terjadi, bukankah selama perjalanan ia tak mengatakan apa pun yang menyakitkan?


“Hey, apa kau menangis karena sikapku yang menyebalkan tadi?” Gumam Donghae dengan sangat lembut, dengan cepat Seira mengusap air matanya seraya menggeleng. “Lalu?” Sambungnya.


“Aku hanya merasa beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian. Terima kasih.” Senyuman itu terlihat sangat tulus, namun air matanya kembali menetes, dan membuat Donghae menariknya ke dalam pelukan hangatnya.


Setelah melihat Donghae benar-benar pergi, Seira kembali masuk ke dalam. Ia sungguh terkejut ketika melihat Kyuhyun berdiri tegak di balik pintu dengan tangan menyilang di dadanya. Tak ingin mencari masalah, Seira berjalan melewatinya tanpa menyapa.


“Maafkan aku.” Gerutu Kyuhyun yang membuat langkah Seira berhenti. “Kubilang maafkan aku. Apa kau mendengarnya?” Langkah Kyuhyun membawanya mendekat ke arah Seira, dan memintanya untuk menatapnya.


“Karena memintamu untuk berhenti dari pekerjaanmu.”


“Aku sudah melupakan kejadian itu. Lagi pula, memang seharusnya aku tidak berbuat sesuka hatiku.” Seira mulai tersenyum tipis.


“Bagaimana jika kita minum diluar?” Kyuhyun terlihat sumringah. “Kau mau kan? Sebut saja untuk menebus kesalahanku, dan Hyerin pun sudah tertidur.”


Kyuhyun menarik lengan Seira, wajahnya memerah dan jantungnya sungguh tak bisa di kontrol saat ini. Gadis ini benar-benar tak bisa mengatakan tidak ketika pria itu memintanya. Namun, ketika pria tersebut membukakan pintu mobilnya, kaki gadis ini tetap bertahan, hatinya mulai menahan dirinya untuk tidak terbawa suasana.


Seira menolaknya. Dengan segera ia meminta maaf, dan langsung kembali ke dalam kamarnya.


•••


Saat ini Hyerin, Ahra, dan Seira tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Hyerin meminta Seira untuk membeli segala persediaan yang sekiranya sudah mulai habis, karena Seira lah yang lebih tahu kondisi dapur kali ini. Setelah berbelanja, mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama.


Ketika makanan sudah siap untuk dihidangkan, Ahra menerima panggilan masuk, dan mengharuskan dirinya untuk pergi meninggalkan mereka sejenak. Kemudian keduanya pun memakan apa yang mereka pesan.


“Bagaimana perasaanmu dengan Kyuhyun?” Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Hyerin tentu saja membuat Seira tersedak. Bagaimana tidak? Pertanyaan itu sugguh mengejutkan, dan sangatlah tiba-tiba untuknya.


“K-kenapa tanyakan hal itu padaku?”


“Aku hanya ingin tahu. Mungkin menyerahkan Kyuhyun padamu bukanlah hal buruk.”


“Eon apa maksudmu? Kyuhyun bukanlah barang yang bisa diberikan padaku atau orang lain sekali pun. Dia suamimu, dan akan tetap begitu.”


“Ada apa ini?” Ahra menyeru.


“Sepertinya tegang sekali.” Sambung Donghae yang entah kapan ia datang, namun ia berjalan bersama dengan Ahra. Mungkin Ahra lah yang memintanya untuk datang.


“Berjanjilah Seira. Jika terjadi sesuatu padaku kelak, atau saat aku tak selamat saat melahirkan nanti, ku percayakan dia padamu, dan jaga Kyuhyun untukku. Menikahlah dengannya.” Ucap Hyerin seraya menggenggam tangan Seira, mendengar pernyataan itu sungguh membuat Seira terkejut. Tidak, bukan hanya Seira, begitu pun untuk Ahra, dan juga Donghae.


“Aku sungguh tidak mengerti dengan semua yang kau bicarakan eon.” Seira pergi dari sana begitu saja.


“Tunggu disini. Aku yang akan mengejarnya.” Sahut Donghae. Tak mendengarkan, Hyerin pun ikut menyusulnya, sedangkan Ahra harus membayar tagihannya lebih dulu.


 


Bersambung ...