Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 36



Donghae sudah berada di Mokpo. Setibanya disana, ia langsung menuju restaurant miliknya, dan mencari asistennya. Ketika sudah bertemu dengannya, saat itu juga Donghae meminta penjelasan darinya mengenai foto yang ia ambil.


“Aku sungguh melihatnya. Bukankah dia pernah datang kemari bersamamu?”


“Dimana kau melihatnya.”


“Malam itu aku melihat dia keluar dari supermarket di persimpangan dekat stasiun.”


Tanpa menunggu lagi, Donghae langsung pergi menuju tempat yang di maksud oleh asistennya. Kali ini ia sungguh berharap dapat bertemu dengannya kembali. Dirinya juga sungguh menyesal karena telah menjauh darinya. Jika saat itu dirinya tidak memutuskan untuk menjauh, mungkin Seira akan mendatanginya kala itu.


Setibanya di supermarket tersebut, ia langsung masuk kedalam, dan menemui kasir yang ada di sana. Saat bertemu dengan kasir tersebut, Donghae langsung menodongkan foto Seira, dan berharap jika kasir tersebut mengenalnya.


“Hey pria tampan. Ada apa kau mencarinya? Kau tidak berniat menyakitinya bukan?”


“Bibi. Kau mengenalnya? Aku teman dari suaminya, dan aku ingin mengajaknya kembali ke Seoul.”


“Jika kau datang hanya untuk mengelabuinya, sebaiknya kau pergi. Dia wanita yang begitu baik, setiap hari ia harus bekerja demi menghidupi dirinya serta memenuhi kebutuhan calon anaknya.”


“Aku tidak berbohong, aku sungguh mengenalnya.”


“Jika kau teman suaminya saja begitu perduli padanya. Lantas kenapa tidak kau bawa saja suaminya untuk datang? Aku sungguh tak percaya dengan ucapannya, dia selalu mengatakan jika suaminya tengah berada di luar negeri. Justru aku selalu merasa jika dia telah di buang.”


“Maaf aku tidak bisa menceritakan kebenarannya, tapi aku sungguh harus menemuinya. Kakak iparnya begitu mengkhawatirkan dirinya.”


“Dia bekerja di salah satu butik di ujung gang, dan dia akan pulang setiap jam 5 sore, atau jam 7 jika ia mengambil lembur.”


“Terima kasih banyak bibi, terima kasih banyak.”


•••


Sudah hampir jam 8 malam, namun Donghae sama sekali tidak melihat Seira keluar dari butik tersebut. Fikirannya mulai kacau, dan beranggapan jika dirinya telah di bohongi. Setelah melihat salah satu gadis keluar, tanpa buang-buang waktu, Donghae langsung menghampirinya.


Gadis itu terlihat begitu terengah-engah, dan Donghae langsung bertanya apa yang telah terjadi. Salah satu temannya kesakitan, gadis ini sungguh ketakutan akan hal tersebut, dan keluar unruk mencari pertolongan.


Donghae mengatakan jika dirinya dokter, kemudian gadis tersebut langsung menarik tangannya ke dalam. Pertanyaan Donghae pun terpaksa dipendam, karena nyawa seseorang sangatlah penting untuknya, kini itulah yang menjadi prioritasnya.


Teman gadis tersebut pingsan, dan sebuah darah mengaliri kedua kakinya. Gadis tersebut memangkunya, dan Donghae terkejut melihat siapa wanita tersebut. Ia menekan perasaannya, dan langsung membawanya menuju rumah sakit terdekat.


Ketika berada di rumah sakit, wanita itu langsung dibawa menuju ruang pemeriksaan. Gadis yang tengah menunggu temannya pun tampak risau, dan gelisah. Kemudian, Donghae mencoba menenangkannya, dan berkata jika semua akan baik-baik saja.


“Seira eonni begitu baik padaku. Setiap aku meminta izin untuk melakukan tugas kuliahku dulu, dia selalu membantuku untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan sangat baik. Bebarapa kali aku ingin mentraktirnya, tapi selalu berujung dia lah yang membayar tagihannya.”


“Apa dia selalu bekerja sampai larut?”


“Setiap hari dia selalu mengambil lembur. Dia bilang padaku, jika dirinya perlu mengumpulkan uang untuk calon anaknya nanti, dia bahkan berencana untuk membeli rumah.”


“Membeli rumah? Memang selama ini di tinggal dimana?”


“Rumah Seira eonni tidaklah besar, rumahnya hanya satu petak, dan 1 kamar. Itu pun toilet. Maka dari itu dia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya kelak.” Suara gadis itu terdengar semakin parau.


Setelah mendengar semua cerita itu, membuat rasa penyesalan Donghae semakin membesar. Tak lupa ia pun memberitahu Seira jika dirinya telah bertemu dengan Seira, namun ia tak mengatakan kondisinya saat ini.


Beberapa menit kemudian, dokter yang bertugas memeriksa Seira pun keluar. Dengan cepat Donghae menghampirinya, dan kebetulan ia mengenal dokter tersebut. Keduanya pernah bekerja sama di luar negeri ketika sedang bertugas.


“Bukankah kau juga seorang dokter? Seharusnya kau memberitahunya untuk tidak kelelahan. Istrimu kekurangan banyak cairan, dan kelelahannya itulah yang membuatnya mengalami pendarahan.”


“Tapi dia baik-baik saja kan dokter Yoon?”


“Pendarahannya sudah kami hentikan. Jika lebih banyak lagi, mungkin anak kalian tidak bisa selamat. Jagalah dia dengan baik, dan jangan sampai kejadian ini terulang kembali.”


“Dokter Yoon, dia istri sahabatku, bukan istriku. Jadi, kumohon jangan salah faham.” Gumam Donghae menepuk bahu dokter tersebut, kemudian masuk ke dalam, dan di ikuti oleh gadis yang berada dibelakangnya.


•••


Hari telah berganti, dan Seira membuka matanya dengan perlahan. Tempat yang begitu asing menurutnya, dan tercium bau obat yang begitu menyengat. Setelah sadar sepenuhnya, dia terkejut saat mengetahui dirinya tengah terbaring di rumah sakit.


Melihat seorang gadis yang tengah tertidur membuat Seira menepuk pelan bahu gadis tersebut. Ketika baru membuka matanya, gadis itu langsung berhambur memeluk Seira dengan air mata yang menetes, dan Seira tersenyum akan hal tersebut.


“Kau tahu? Aku begitu mengkhawatirkanmu eonni, aku sangat takut ketika melihat darah mengalir. Untunglah kakak baik itu datang tepat waktu. Jadi, tidak terjadi apa-apa pada calon bayimu.”


“Kakak baik?”


Bersambung ...