
Ketika matahari telah memancarkan sinarnya. Mata Seira terbuka secara perlahan, tubuhnya terlihat sudah tak seperti semalam, demamnya pun sudah menurun karena Kyuhyun yang telah merawatnya.
Ketika menoleh, ia tidak menemukan Kyuhyun di sisinya. Bukankah ini hari libur? Lalu kemana Kyuhyun pergi? Dengan segera ia keluar, dan mencarinya. Ia menemukannya, Kyuhyun berada di kamar sebelumnya.
Langkahnya pun mendekati ranjang itu. Melihat Kyuhyun tidur dengan memeluk foto mendiang istrinya membuat Seira sedikit merasakan cemburu. Kemudian, ia menarik foto itu secara perlahan agar Kyuhyun merasa nyaman, namun terlihat jika wajahnya terlihat habis menangis.
Dengan sigap, ia mengusapnya, dan hatinya begitu sakit melihat air mata tersebut. Kyuhyun yang merasakan sebuah tangan menyentuhnya pun langsung membuka kedua matanya, dan langsung menangkap tangan tersebut. Kemudian, ia langsung menghempaskannya begitu saja.
“M-maaf karena telah mengganggu tidurmu.”
“Singkirkan tangan kotormu itu dariku.” Ucap Kyuhyun dengan nada tingginya, dan mendengar itu jelas saja membuat Seira tersentak. Apa yang telah dilakukannya hingga membuatnya marah seperti itu?
“K-Kyu, apa maksudmu? Ada apa denganmu? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku… aku sungguh tidak mengerti.”
“Sandiwaramu itu berjalan begitu sempurna Han Seira. Setelah membunuh istri, dan calon anakku, kau masih bertanya apa yang telah kau lakukan? Lancang sekali kau.” Sahutnya dengan nada yang lebih tinggi.
Mendengar itu sungguh membuat Seira terkejut, bagaimana mungkin dirinya berani membunuh wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri? Air matanya menetes, tubuhnya terlihat bergetar saat itu, ia sungguh tidak berani menatap mata pria di hadapannya.
“Jadi semuanya benar. Hyerin begitu baik padamu, dan dengan teganya kau membunuhnya? Bahkan kau membunuh seorang janin yang tidak berdosa sama sekali. Kenapa kau membunuh mereka? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Katakan padaku sekarang juga.” Bentak Kyuhyun lagi.
“Aku.. Aku..” Lidahnya Seira sangat kelu saat itu, ia sungguh takut. Kyuhyun terus berjalan ke arahnya, dan Seira pun berjalan mundur selangkah demi selangkah, hingga ia pun terpojok.
“KATAKAN APA YANG KAU MAU.” Kini amarah Kyuhyun sudah sangat memuncak.
“Aku… menginginkanmu, aku..” Sebuah tamparanmu mendarat di pipi Seira saat itu, dan matanya semakin memerah ketika mendapat perlakuan tersebut.
“Kau bukan hanya pembunuh, kau adalah wanita murahan, dan kau wanita yang sangat kotor Seira.” Mata Seira terbelalak mendengar semua pernyataan tersebut. “Kau tahu? Aku sudah sangat menyesal telah menghabiskan waktu bersamamu, aku menyesali semua hal yang pernah ku lakukan bersamamu.”
“Jadi, apa kau juga menyesal telah mencintaiku?” Ungkapnya dengan suara yang terdengar begitu parau.
“Mencintaimu? Apa yang kau fikirkan? Mungkin aku melakukan semua itu hanya karena terbiasa saja. Jika bukan karena Hyerin yang meminta, aku tidak akan pernah menikah denganmu. Oh ya, saat itu kau pernah bertanya padaku bukan? Kau bertanya apa dirimu jahat? Ya Seira, kau sangat jahat, bahkan lebih jahat dari seekor binatang.”
“Sekarang, aku ingin kau angkat kaki dari rumah ini, dan jangan pernah lagi menampakkan diri di hadapanku. Jika sekali saja kau muncul di hadapanku, maka aku tidak akan segan untuk menghabisimu. Pergi!"
Dengan perlahan wanita itu bangun dari posisinya, dan kembali ke kamarnya untuk mengemas segala pakaian miliknya. Tak ada satu pun barang yang ia bawa dari sana. Semua pemberian yang telah diberikan oleh Kyuhyun maupun Hyerin, semuanya ia tinggalkan.
Kakinya mulai melangkah keluar kamar tersebut, lupa akan satu hal, ia pun kembali, dan langsung melepaskan cincin pernikahannya dari jarinya, kemudian meletakkannya di atas meja rias yang ada dikamar tersebut. Bukan hanya itu, ia bahkan meletakkan ponsel yang pernah dibelikan oleh nyonya Cho.
“Terima kasih telah mengizinkan untuk tinggal disini, terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Meski aku menginginkanmu, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk membunuhnya, karena aku juga sangat menyayanginya. Aku..”
“… tutup mulutmu. Tidak perlu banyak bicara, cepat pergi dari sini.” Ketusnya, namun Seira mencoba menahan air matanya, dan langsung pergi dari sana.
•••
Kala itu Seira tengah berada di perhentian bus, ia akan kembali ke rumah lamanya, Mokpo. Ia memutuskan untuk menetap disana, lagi pula bukankah tempat itu adalah tempat kelahirannya? Setelah membeli tiket, ia pun menunggu bus datang. Untunglah ia tidak memiliki banyak barang, jadi tidak akan merepotkan.
Ditempat lain, Ahra tengah sibuk menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban sama sekali, bahkan pesan pun tak ada yang mendapat balasan. Kemudian, ia memutuskan untuk menghubunginya kembali, dan berharap ia akan mendapatkan jawaban.
“Noona, ada apa?”
“Kyu? Kenapa kau yang menerimanya? Berikan pada Seira.”
“Dia tidak disini.”
“Apa dia sedang berada di toilet? Baiklah, beritahu dia untuk menelfonku kembali.”
“Tidak, dia tidak disana, dia tidak dirumah ini, dan tidak akan pernah kembali untuk selamanya.” Ahra yang hendak menutup panggilannya pun terkejut ketika mendengar pernyataan terakhir adiknya. Apa maksud dari perkataannya itu?
“Berhenti bergurau denganku.”
Bersambung ...