Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 38



“Aku sudah memberikan semua hatiku untuk suamiku. Meski dia tidak menerimanya, meski dia membenciku, meski dia menghina atau membunuhku sekali pun. Aku akan tetap dengan pendirianku. Tidak ada yang bisa mengambil posisi itu.”


“Tapi, sorotan mata kakak itu terlihat jelas jika dia mencintaimu.”


“Aku tahu. Dia pernah mengutarakannya padaku, dan aku tidak bisa menerimanya. Dia menghargai keputusanku. Maka dari itu, saat aku melihatnya ketika di rumah sakit saat itu, aku memintanya untuk pergi. Tapi, dia tidak melakukannya.”


“Ah kau tahu? Aku sungguh iri padamu. Aku harap kau akan membuka hatimu untuknya.”


“Tidak. Aku berharap dia mau membuka hatinya untuk orang lain.” Gumamnya tersenyum. “Bagaimana jika denganmu saja? Bukankah kau menyukainya?” Ucapnya lagi seraya mengacak-ngacak rambut Eun Ri.


“Berhenti menggodaku. Aku memang menyukainya, tapi bukan suka dalam artian lebih. Aku hanya kagum padanya.” Balasnya seraya mempoutkan bibirnya.


•••


Donghae yang telah kembali pun langsung mendatangi butik Ahra, dan disana terlihat adanya Kyuhyun di ruangan tersebut. Tanpa permisi, Donghae pun langsung duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Ahra noona sedang melakukan rapat.”


“Aku sudah mendengarnya dari asistennya.” Balas Donghae dengan dingin. Ingin sekali rasanya ia meninju pria yang ada di hadapannya saat ini, dan mengatakan semua penderitaan yang tengah di alami oleh Seira.


Dengan mengabaikan keberadaan Kyuhyun, Donghae justru asyik dengan ponselnya. Meski baru tiba, rasanya ingin sekali ia kembali ke Mokpo, dan ketika melihat Kyuhyun, ingin rasanya dia meninju wajah pria itu.


Tidak lama kemudian, Ahra pun kembali ke ruangannya, dan terkejut melihat Donghae telah kembali. Tak ada yang dibicarakan oleh Donghae ketika sadar Ahra telah kembali, dan Kyuhyun justru menatapi Donghae yang tengah asyik dengan ponselnya.


“Hyung. Bukankah kau ada perlu dengannya? Kenapa tidak mengatakannya? Apa kau pengangguran hingga kau memiliki banyak waktu untuk bersantai?” Ketus Kyuhyun, dan Donghae langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


“Apa kau ingin mendengarnya? Aku rasa kau tidak ingin mendengar apa yang ingin ku katakan? Sebaiknya aku pergi saja, dan akan kembali setelah kau meninggalkan tempat ini.” Ujar Donghae yang langsung keluar dari ruangan tersebut seraya melambaikan tangannya tanpa menatap Kyuhyun sedikit pun.


“Maaf karena tak memberi kabar yang detail mengenai dirinya. Tapi wanita itu benarlah dia, dia tengah mengandung 5 bulan, anak itu adalah milik Kyuhyun. namun, Kyuhyun tak mengetahui kehamilannya. Dia berpesan padaku untuk tidak memberitahunya soal ini. Tolong jangan membahas tentangnya di hadapan Kyuhyun.” -Lee Donghae


Beberapa menit setelah Donghae pergi Ahra menerima pesan tersebut. Air matanya menetes, perasaannya begitu bahagia karena telah menemukan adik iparnya. Kyuhyun yang melihat kakaknya menangis pun langsung menghampirinya.


Dengan cepat Ahra menutup ponselnya, dan mengusap air matanya. Kyuhyun khawatir akan hal tersebut, kemudian Ahra pun mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Lalu Kyuhyun meminta sang kakak untuk menemaninya makan keluar, dan Ahra mengiyakan permintaannya.


Berada di hadapan ruangan direktur, membuat Donghae membenarkan letak dasinya serta jas putihnya tersebut. Kemudian ia langsung mengetuknya, ketika diperbolehkan masuk, ia pun segera membuka knop pintu tersebut. Setibanya di dalam, tak lupa untuk dirinya membungkukkan tubuh di hadapan direktur Jung.


“Aku senang kau sudah kembali. Tapi, ada kabar mendesak, dan salah satu rumah sakit meminta bantuan untuk melakukan operasi whipple.”


“Jadi, aku yang akan pergi atau pasien yang akan di pindahkan kemari?”


“Kau yang harus datang ke sana dokter Lee. Chonnam Central Hospital-Mokpo, kau harus pergi kesana besok lusa, dan operasi akan dilakukan dua atau 3 hari kemudian.”


“Baiklah. Aku akan pergi lusa pagi.” Jawabnya penuh dengan semangat.


•••


Siang itu Donghae tengah menyiapkan segala sesuatunya. Dia mendapat jatah waktu satu bulan di Mokpo, dan itu akan ia manfaatkan sebaik mungkin. Setelah semua siap, ia pun segera bergegas untuk keluar, ada seseorang yang harus ia temui.


Setibanya di salah satu café, ia langsung menghampiri seseorang yang sudah lebih dulu tiba. Orang tersebut pun sudah memesankan minuman untuknya, moccacino latte kesukaannya. Donghae tersenyum manis di hadapannya, dan segera duduk.


“Bisakah aku ikut bersamamu? Bukankah saat melakukan operasi itu, aku juga berada di ruangan bersama denganmu, dan aku ingin melakukannya lagi.”


“Bodoh.” Gumam Donghae menyentil dahi seseorang di hadapannya. “Kau fikir ruang operasi itu taman bermain? Kau memiliki tanggung jawab disini. Ayahmu sangat percaya padamu, jangan membuatnya kecewa Jung Soo Ra.” Donghae tersenyum, kemudian menyeruput minumannya.


“Kau terlihat begitu bahagia ketika ditugaskan ke sana. Apa ada seseorang yang sangat ingin kau temui?” Pandangan Soo Ra kini tak lagi setegar tadi, ia hanya dapat menunduk, dan Donghae tersedak mendengar ucapannya.


“Kau benar. Dia wanita yang aku sukai, dan aku merasa memiliki kesempatan untuk menjaganya. Direktur Jung memberiku waktu satu bulan disana, untuk operasi, dan menjaga kestabilan pasien pasca operasi. Waktu itu tidak akan aku sia-sia kan.”


“Kau yakin memiliki kesempatan?” Donghae mengangguk. “.. apa itu artinya, aku sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk bersama denganmu? Apa kau tau? Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kau membantuku.”


“Aku tahu itu.” Sahut Donghae seraya menyeruput kopi di dalam gelasnya.


Bagaimana mungkin?


Bersambung ...