Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 44



Menerima telfon darinya membuatnya begitu senang, seolah Tuhan berada di pihaknya kali ini. Donghae akan memanfaatkan orang ini untuk menjaga Seira beberapa hari selama dirinya pergi. Ia juga merasa sangat yakin jika orang tersebut tidak akan merasa keberatan.


“Lee Donghae! Kenapa kau diam saja?” Teriak orang itu, dan membuat Donghae yang sedang melamun begitu terkejut mendengar ocehannya.


“Kau dimana sekarang? Aku akan menjemputmu, dan membawamu bertemu dengannya.”


“Bandara.”


Sebelum pergi, Donghae pamit untuk keluar sejenak, dan Eun Ri di minta untuk tetap tinggal hingga dirinya kembali.


•••


Donghae telah kembali. Seira, dan Eun Ri tengah menyiapkan makanan di dapur. Ketika hendak membawa makanan itu menuju ruang makan, Seira terkejut ketika melihat seseorang yang berada di sisi Donghae kali ini.


Tanpa berkata-kata, air matanya mengalir begitu saja. Kemudian, ia meletakkan mangkuk yang digenggamnya di meja makan, lalu memeluk erat orang tersebut. Donghae tersenyum melihat hal tersebut, dan Eun Ri hanya berdiri dengan penuh kebingungan.


“Wanita itu adalah kakak iparnya.” Bisik Donghae.


“Dia cantik. Tampaknya Seira eonni dekat sekali dengannya.”


“Tentu saja. Seira sangat dekat dengan keluarga suaminya. Namun, karena sebuah kesalahpahaman, hubungan keduanya jadi retak. Aku berjanji akan memperbaikinya sebisaku.”


“Tapi, bukankah kau juga mencintainya? Kenapa kau tidak berjanji untuk memberikannya kebahagiaan saja?”


“Tentu saja itu juga salah satu janjiku. Karena kebahagiaan miliknya adalah bersama dengan suaminya. Bagaimana pun pria itu membencinya, bagaimana pun pria itu menghinanya, masih terlihat jelas jika Seira masih mencintainya. Sudahlah, kau akan mengerti ketika besar nanti.”


“Kau fikir aku ini masih kecil?” Eun Ri mempoutkan bibirnya, dan Donghae terkekeh mendengar hal tersebut.


“Baiklah nona-nona yang disana. Butuh berapa lama lagi untuk kalian berpelukkan? Jika terlalu lama, aku takut makanan ini akan segera dingin. Sebaiknya kita makan dulu, karena aku pun sudah sangat lapar.” Eun Ri terkekeh melihat Donghae berperilaku layaknya anak kecil.


Berbeda dengan Eun Ri, Ahra justru memberikan tatapan yang sangat tajam pada Donghae. Tidak terlalu memperdulikannya, Donghae langsung duduk, dan menyantap makanan yang sudah di hidangkan di atas meja. Lalu, Seira pun meminta Ahra untuk segera duduk.


Saat malam tiba, Donghae meminta Ahra menemuinya di balkon. Melihat Seira yang tengah membereskan tempat tidurnya membuat Ahra keluar sejenak. Ahra menghampiri Donghae sesuai dengan keinginannya, sebelum mengatakannya, Donghae terlihat mengela nafasnya.


“Noona, kau tahu gadis yang siang tadi bukan?” Ahra membalasnya dengan sebuah anggukkan. “Dia gadis yang selalu bersama dengan Seira dalam waktu yang lama. Gadis itu memiliki mimpi menjadi seorang dokter, karena kurangnya biaya, dia harus membiarkan mimpinya begitu saja.”


“Lantas, apa yang mau kau lakukan?”


“Bodoh, untuk waktu yang lama pun aku tidak akan keberatan. Pergilah, percayakan dia padaku.”


“Terima kasih noona.”


•••


Hari itu, Donghae dan Eun Ri berangkat menuju Swiss. Donghae juga sudah menjelaskan pada Seira, jika selama dirinya pergi, Ahra lah yang akan menemaninya. Mendengar hal itu tentu saja tidak membuat Seira merasa keberatan. Lagi pula banyak sekali yang ingin ia bicarakan pada kakak iparnya itu.


Kakak ipar. Sebutan itu tentu saja masih berlaku untuknya. Karena sampai hari ini pun, Kyuhyun masih tidak mengajukan surat perceraian padanya, meski di ajukan pun, Seira tidak ingin menanda tangani berkas tersebut.


Di kota yang berbeda, Kyuhyun tengah mengadakan rapat pemindahan saham. Kini, ia kembali menaklukan dua perusahaan yang ingin bersaing dengannya. Nilai saham yang di miliki olehnya semakin tinggi, dan jumlah keuntungan yang di raihnya pun semakin besar.


Untuk merayakan keberhasilannya kali ini, ia akan mengundang seluruh karyawan kantornya menuju bar yang ada di pusat kota. Ia juga meminta sekretarisnya untuk memberitahu manager bar tersebut jika dirinya akan datang..


Ketika malam tiba, Kyuhyun duduk di depan meja bartender, ia menenggak beberapa gelas tanpa ingin di ganggu oleh siapa pun. Hingga seorang wanita menghampirinya, dan Kyuhyun langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar.


“Aku tidak membutuhkanmu. Jangan dekat-dekat.” Ungkapnya dengan nada yang tinggi.


Kali ini, ia sudah menghabiskan 4 botol, dan sekretaris Hwang meminta Kyuhyun untuk menghentikan minumnya. Tidak menggubrisnya, Kyuhyun meminta satu botol lagi. Wajah pria itu sudah memerah, sudah di pastikan jika dirinya mabuk berat.


Tidak lama kemudian, Kyuhyun keluar, dan sekretarisnya itu mengikuti langkah kaki atasannya. Melihat direkturnya berjalan tanpa menjaga keseimbangannya, sekretarisnya pun langsung memapahnya, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


“Tuan Hwang. Apa kalian akan pergi?” Seru salah satu karyawan yang berjalan keluar.


“Tuan Cho harus segera istirahat, dia pasti lelah karena semua pekerjaannya. Kalian bersenang-senanglah, dan semua biaya sudah di bayarkan oleh Tuan Cho.”


Setelah mengatakan semua itu, sekretaris Hwang lekas masuk ke dalam mobilnya, dan segera mengantar tuannya pulang. Hingga tiba di kediaman Kyuhyun yang begitu besar, Kyuhyun terus saja mengigau, dan memanggil-manggil nama seseorang.


Kini, Kyuhyun sudah di antar menuju kamarnya, dan bibirnya terus menyebutkan nama orang tersebut dengan suara paraunya. Wajahnya terlihat sedih seakan tengah merindukan orang tersebut.


“Seira. Kenapa harus kau? Kembalilah.” Racaunya lagi.


Bersambung ...