
4 bulan berlalu. Saat ini Seira tengah berada di Seokchon Lake, menikmati pemandangan indah yang terjadi saat itu. Bunga sakura mulai bermekaran, dan kabarnya akan di adakan festival pada pekan depan. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan ketika ia bisa mengajak seseorang datang.
Datang ke sebuah festival bunga adalah impiannya sejak kecil. Namun, ia tak pernah memiliki waktu untuk itu, meski ada pun pasti akan terasa percuma. Menurutnya, menikmati seorang diri tidak lah menyenangkan, akan lebih menyenangkan jika bersama dengan seseorang, seseorang yang kita sayangi, dan juga berharga.
“Hatchiiih.” Hidung Seira terlihat memerah, tampaknya ia terkena flu, sudah tiga kali ia bersin-bersin, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali.
Setibanya di rumah, ia sangat terkejut ketika melihat Kyuhyun berada di sana saat itu. Langkahnya mulai meragu ketika hendak melewatinya, namun dengan cepat ia pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya secepatnya. Ia merogoh ponselnya, dan menekan beberapa digit nomor yang ia hafal, tidak ada jawaban. Ia kembali mencoba untuk menghubunginya lagi, namun tetap nihil.
Disamping itu, Lee Donghae tengah bersiap untuk memasuki ruangan operasi, dan siap untuk bekerja. Ia terlihat tengah melakukan hand scrubbing dengan asistennya, ketika ia sudah berada di dalam, salah seorang perawat memakaikan gowning di tubuh Donghae, dan Donghae langsung mengenakan hand gloving.
Sebelum operasi dimulai, mereka melakukan do’a terlebih dulu. Kemudian, ia bertanya pada dokter anestesi mengenai kondisi pasien yang akan di operasi. Ketika semua siap, Donghae pun meminta kerja sama mereka, dan memulai operasinya.
“Scalpel.” Asisten dokter pun memberikan benda tersebut, dan Donghae siap membedahnya.
Ketika sudah terbuka, ia mengambil peluru yang berada di bagian perut pasien tersebut dengan menggunakan splinter forceps. Setelah berhasil mengeluarkan benda itu dari dalam tubuh pasien, Donghae siap untuk menutupnya dengan sebuah jahitan. Setelah usai dengan jahitan terakhir, ia mempercayakan kelanjutannya pada yang lain, dan tak lupa untuk berterima kasih.
Setelah operasi selesai, ia pun memberi kabar pada keluarganya jika pasien akan baik-baik saja. Merasa lelah dengan pekerjaannya hari itu, ia pun pergi ke ruangannya, ketika membuka ponselnya, ia terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab beserta beberapa pesan yang masuk.
“Kau tak menerima panggilanku lagi.”
“Kudengar pekan depan akan ada festival di Seokchon Lake. Apa kita bisa pergi kesana?”
“Donghae-ssi. Apa salahku padamu? Hingga kau tak pernah menghubungiku lagi? Kau harus segera menghubungiku ketika membaca pesan ini.”
“Apa kau tengah melakukan operasi? Baiklah, maafkan aku telah mengganggu waktumu.”
Pesan-pesan itu membuat Donghae ingin sekali memeluk gadis tersebut. Pesan yang dikirimkan, seolah tanda jika gadisnya tengah kesepian kali ini. Namun, ia hanya takut terjebak jauh lebih dalam lagi dengan perasaannya, ia takut tidak bisa melupakan gadis itu, dan takut melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Itulah alasannya menjaga jarak.
Sedangkan Ahra, kini ia tengah sibuk mengurus butiknya bersama nyonya Cho. Beberapa jam yang lalu Seira menghubunginya, dan meminta sesuatu darinya. Seira ingin mengajaknya pergi menuju festival musim semi yang akan di adakan pekan depan, dengan berat hati Ahra harus menolaknya. Karena tiga hari lagi, ia, dan nyonya Cho akan berangkat menuju Swiss.
•••
Ketika hari festival telah tiba, Seira hanya menikmati seorang diri. Disana sungguh ramai, bunga sakura yang bermekaran pun terlihat sangat indah. Danau di tempat itu jauh lebih ramai, namun memang tempat itulah yang paling indah. Seira duduk seraya menikmati pemandangan yang jarang sekali ia lihat ketika musim semi.
Sebuah senyuman terlukis di bibirnya. Matanya memandangi orang-orang yang datang, memandangi mereka yang datang bersama dengan orang yang mungkin mereka sayangi. Teman, kekasih, atau mungkin keluarga mereka. Menurutnya, mereka pasti bahagia.
Pandangannya terhenti pada seseorang, seseorang yang tengah berdiri tanpa melakukan apa-apa, orang itu terus melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Seira mengambil ponselnya, dan mengambil foto orang tersebut, ia pun kembali tersenyum.
Ketika orang tersebut memutarkan pandangannya, Seira terkejut. Seira takut jika orang itu melihatnya, Seira takut jika orang itu menyadarinya jika dirinya telah mengambil foto tanpa izin darinya. Seira pun berputar, dan mencoba meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya di kalahkan oleh orang itu.
“Kau? Dimana Ahra noona?” Serunya.
“Kyu? Bukankah Ahra eonni hari ini pergi menuju Swiss bersama ibu?”
Setelah menerima panggilan dari adiknya, serta mendengar permintaan adiknya. Ahra langsung memikirkan sesuatu, ia pun langsung menekan beberapa digit nomor yang sudah ia hafal di luar kepalanya.
“Ada apa noona? Aku sedang meeting.”
“Pekan depan akan ada festival cherry blossom di Seokchon Lake, aku ingin sekali kesana. Kau bisa menemaniku kan?”
“Baiklah. Jika begitu aku sudahi.”
“Terima kasih adikku, dan maaf sudah mengganggumu.”
“Jadi dia membodohiku. Tidak, ini semua pasti rencanamu bukan? Kau memintanya untuk menyuruhku datang agar bisa bertemu denganmu. Begitu bukan? Kau sungguh licik Han Seira.”
Bersambung ...