Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 35



Seorang gadis berlari ke arah seseorang, dan memeluknya begitu erat. Gadis itu sangat terlihat begitu bahagia, hingga melihat kebahagiaannya membuat orang di sisinya pun merasakan hal yang sama.


“Eonni, ini bonus pertamaku, aku bahagia sekali.” Ucap gadis itu, dan wanita di hadapannya tersenyum seraya mengusap puncak kepala gadis itu.


“Seira, jika pekerjaanmu sudah selesai, kau bisa pulang. Angin malam sangat tidak baik untuk ibu hamil.”


“Terima kasih nona. Eun Ri, aku duluan, kau berhati-hati lah, dan simpan uang itu dengan baik.” Seira tersenyum pada gadis yang lebih muda darinya, kemudian ia lekas pergi dari sana.


Sebelum pulang, Seira memutuskan untuk pergi ke salah satu minimarket, dan membeli sesuatu. Ia membeli beberapa bahan makanan untuk kebutuhannya selama satu bulan, dan setibanya di rumah, ia segera membersihkan tubuhnya agar dapat beristirahat.


Wajahnya terlihat begitu bahagia, sesekali tangannya mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membesar. Selain mengusap, ia selalu berkomunikasi dengan calon bayinya tersebut, dan ia selalu mengatakan jika dirinya begitu bahagia karena kehadirannya.


Ditempat yang lain, Kyuhyun masih sibuk dengan urusan kantornya. Malam sudah semakin larut, dan dirinya masih berada di ruang baca. Matanya begitu lelah, sesekali ia memijat dahinya secara perlahan seraya memandangi foto mendiang istrinya.


“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Gumamnya, dan tangannya mengusap bingkat foto tersebut. “Jika saja saat itu aku tidak mengizinkannya tinggal, mungkin ini semua tidak akan terjadi, dan kita pasti tengah menantikan kelahiran anak kita.” Sambungnya lagi.


Di pagi harinya. Ahra, dan Donghae masih mencari-cari kabar tentang keberadaan Seira. Akhir tahun nanti nyonya Cho akan kembali dari Swiss, dan mereka hanya memiliki waktu 6 bulan lagi untuk menemukan Seira, lalu membawanya kembali.


Meski jadwal Donghae penuh, ia tetap mampu membagi pekerjaannya, bahkan ia pun menyuruh orang-orangnya untuk mencari di seluruh kota Seoul, Nowon, dan tempat lainnya. Hingga mereka di kejutkan dengan deringan yang berasal dari ponsel milik Ahra.


“Ahra. Kenapa aku tidak bisa menghubungi Seira? Aku menanyakan pada Kyuhyun, namun dia tidak menjawab apa-apa. Dimana Seira?”


“Ibu tenanglah. Mereka tengah bertengkar, saat ini Seira tengah bersamaku. Baterai ponselnya sedang habis, dan sekarang dia tengah di toilet.”


“Tapi, tidak terjadi sesuatu padanya bukan?”


“Tentu saja tidak. Seira pun sudah ku anggap sebagai adikku, aku tidak mungkin membiarkannya terluka sedikit pun.”


“Baiklah. Aku sambung nanti, aku ada rapat.” Nyonya Cho memutuskan panggilannya, dan Ahra langsung bernafas lega.


“Seira, dimana kau sebenarnya?” Gumamnya frustasi.


“Kita pasti menemukannya noona. Aku akan ke rumah sakit sekarang, aku akan hubungi dirimu jika menerima kabar mengenai dirinya.”


•••


Raut wajah Kyuhyun terlihat begitu letih, Ahra mengusap kening adiknya tersebut, lalu Kyuhyun pun membuka matanya secara perlahan seraya menggenggam erat tangan yang telah menyentuh dahinya.


“Seira, kau kah itu?” Ucapnya parau. “Ah noona, ada apa?” Sambungnya ketika sudah mendapatkan kesadarannya.


“Kau merindukannya? Tanpanya kau merasa kesepian bukan? Jika iya, kenapa tidak pergi untuk mencarinya?”


“Tidak, aku sama sekali tidak merindukannya. Salah jika aku merindukan orang yang telah membunuh istriku. Jika noona datang hanya untuk memintaku pergi mencarinya, sebaiknya noona pulang. Lagi pula sudah malam, aku juga akan pergi tidur.”


Di tempat yang berbeda, Donghae tengah berada di ruang direktur. Ia sedang melakukan negoisasi untuk mengambil cuti selama seminggu. Ada masalah yang terjadi pada restaurant miliknya, dan kali ini dirinya lah yang harus menangani masalah tersebut.


Ketika mendapat persetujuan, besok pagi ia akan langsung berangkat. Kemudian, ia menghubungi Ahra untuk meminta bertemu di salah satu café, karena ada hal penting yang ingin di bicarakan padanya.


Saat keduanya sudah berada ditempat yang sama, Donghae memberikan sebuah foto kepada Ahra. Ahra terkejut melihat foto tersebut, lalu ia menatap Donghae dengan tatapan untuk meminta penjelasan dari foto yang ia berikan itu.


“Awalnya aku juga tidak mempercayainya. Tapi ketika sore tadi, asistenku menghubungiku, ia melihatnya, dan dia juga yang mengirimiku foto ini. Besok pagi aku akan berangkat untuk memastikannya.”


“Bagaimana dengan rumah sakit?”


“Aku sudah mengambil cuti, dan aku terpaksa membohongi direktur rumah sakit hanya untuk menyakininya.”


“Aku ikut.”


“Tidak noona. Aku akan pergi sendiri, kau sudah begitu lelah mengurusi semua ini. Setelah memastikannya, aku akan memberimu kabar secepat mungkin.”


“Baiklah. Aku sangat penasaran dengan kehamilannya itu. Apa jangan-jangan dia sudah menikah kembali?”


“Seira bukan wanita seperti itu noona. Dia sangat mencintai Kyuhyun, tidak akan mudah baginya untuk menerima pria lain masuk ke dalam hatinya. Beruntung jika anak dalam kandungannya itu milik Kyuhyun, dengan begitu kita memiliki alasan untuk membawanya kembali.”


“Benar. Yasudah, jangan lupa untuk memberiku kabar ketika kau bertemu dengannya.”


Bersambung ...