
“Tapi baru saja Ahra eonni mengirimiku pesan. Dia akan datang kemari bersama dengan eomma, dan Ahra eonni mengatakan jika ada yang ingin eomma bicarakan padamu.”
“Astaga kenapa harus hari ini.” Batin Kyuhyun sedikit kesal mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana jika aku masakkan untukmu? Kau ingin makan apa?” Belum menjawab pertanyaan darinya, Kyuhyun berbalik meninggalkannya begitu saja, dan Seira hanya mampu mendesah.
•••
Malam itu, Donghae membanting tubuhnya di atas ranjangnya. Mengingat kejadian yang terjadi di bandara tadi sungguh membuatnya merasa sedikit kesal. Sikap yang ditunjukkan Kyuhyun itu ia nilai sebagai salah satu tanda cemburu.
Dirinya tidak akan bisa berbuat apa-apa jika Kyuhyun sudah mulai mencintainya. Menurutnya, itu memang bagus jika terjadi, maka Seira dapat mendapatkan keinginannya, dan cintanya pun terbalas.
“Lalu, bagaimana denganku?” Gumam Donghae mengacak-ngacak letak rambutnya. Kemudian, tak lama kemudian, ponselnya pun bordering. “Soo Ra? Ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?” Wajah yang tengah merasa frustasi pun langsung berubah menjadi panik saat itu juga.
“Untuk kedua kalinya aku tersinggung dengan hal yang kau utarakan Lee Donghae. Apa aku hanya boleh menghubungimu untuk membicarakan pekerjaan saja? Di luar itu tidak bolehkah?”
“Baiklah. Ada apa Jung Soo Ra? Apa ada yang bisa ku bantu?” Kini nadanya terdengar begitu sangat lembut, dan tanpa ia ketahui orang di seberang disana merasa terlena meski hanya mendengarnya saja. “Soo Ra, apa kau bisa mendengarku?”
“Temani aku makan malam. Appa pergi ke luar negeri, aku bosan. Temui aku di restaurant biasa, ya?” Sahutnya yang langsung mematikan panggilan itu, dan Donghae pun kembali mengacak-ngacak letak rambutnya lagi.
Donghae bergegas menuju restaurant, tempat dimana Soo Ra menunggunya. Keduanya memang begitu akrab. Mereka saling mengenal karena mereka berada di fakultas yang sama ketika kuliah. Soo Ra tampak tak memiliki keberanian dalam segala hal, hingga Donghae datang untuk membantunya.
Soo Ra sering terlihat tertindas oleh teman-temannya, sering juga ia di remehkan oleh yg lain. Tak terima melihat orang tertindas, sejak saat itulah Donghae selalu berada di sisinya, berteman dengan tujuan untuk menjaganya, dan membantunya agar bisa berani dalam bertindak.
Seiring berjalannya waktu, keduanya semakin terlihat akrab, dan perasaan yang berbeda mulai tumbuh dalam diri Soo Ra. Namun bagi Donghae, Soo Ra hanyalah adik kecilnya.
Hingga mereka lulus, seorang dokter yang melihat kemampuan Donghae pun merekrutnya, tanpa disangka dokter tersebut adalah ayah dari Soo Ra sekaligus pemilik rumah sakit, tempat dimana ia bekerja saat ini.
•••
Kedatangan nyonya Cho membuat Seira berlari untuk memeluknya. Pelukan hangat yang selalu ia rasakan bagaikan tengah memeluk ibu kandungnya sendiri. Pelukan yang begitu lama tak ia rasakan, kini ia dapatkan kembali ketika bertemu dengan nyonya Cho.
“Eomma, kau sudah datang?” Sahut Kyuhyun, dan langsung berhambur memeluk ibunya. Seira yang masih belum melepaskan pelukan itu pun terkejut, karena secara tak langsung Kyuhyun pun mendekapnya dari belakang. Meski niat sebenarnya untuk memeluk ibunya.
“Acara berpelukannya sudah selesai. Ayo cepat duduk.” Ahra bergumam dengan sedikit geram, dan menarik adiknya itu ke ruang tengah. Sedangkan Seira berjalan bersama ibu mertuanya dengan penuh manja.
“Baiklah langsung saja. Besok aku akan kembali ke Swiss, dan mungkin akan tinggal disana untuk beberapa bulan. Butik kita disana membutuhkanku, dan Ahra akan fokus untuk mengurus butik yang disini. Aku harap kau bisa menjaga Seira lebih baik lagi.”
“Apa aku tidak bisa ikut bersamamu?” Ujar Seira.
“Jika kau ikut, bagaimana dengan Kyuhyun? Jika Kyuhyun memiliki waktu senggang, aku akan meminta dia untuk membawamu kesana.” Balas nyonya Cho dengan nada yang lembut.
Ditempat yang berbeda. Donghae tengah menikmati makan malamnya bersama dengan Soo Ra. Keduanya berbincang banyak hal, cerita Donghae mampu membuat Soo Ra tertawa hingga tersedak, dan justru hal tersebut mengundang tawa Donghae. Namun, ia pun segera memberikan segelas air kepadanya.
Ketika makan selesai, Donghae tampak mengajaknya menuju taman han. Mereka berjalan di sana seraya menikmati angin malam yang terasa begitu sejuk. Kemudian, tak sengaja seseorang menabrak tubuh Soo Ra, dan dengan cepat Donghae menahannya agar tidak jatuh.
“Maafkan aku nona. Aku sedang terburu-buru. Sekali lagi maafkan aku.” Sahut orang tersebut membungkukkan tubuhnya, dan Soo Ra membalasnya.
“Sudah malam, apa tidak mau pulang?” Ujar Donghae.
“Kenapa? Apa kau sudah bosan menemaniku?”
“Bukan begitu. Apa kau tahu? Aku memiliki 3 jadwal operasi besok, dan tambahan satu operasi lagi.” Pungkasnya lagi, dan Soo Ra langsung menghentikkan langkahnya ketika mendengar hal tersebut.
“Ah tambahan satu operasi itu pasti karena ulahku ya. Aku pasti melakukan kesalahan lagi, hingga orang tersebut harus kembali masuk ruang operasi, dan kembali merepotkanmu. Bodohnya aku ini.” Soo Ra menggerutu seraya menepuk-nepuk kepalanya dengan kepalan tangannya.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Ucap Donghae menahan tangan Soo Ra. “Siapa bilang ini kesalahanmu? Lagi pula, tidak ada orang yang melakukan segala sesuatunya dengan sempurna bukan? Jadi, berhenti untuk selalu menyalahkan dirimu sendiri.” Sambungnya lagi.
Bersambung ...