Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 10



“Entahlah, kebaikan yang selalu ia berikan padaku saat itu membuatku luluh. Kebaikan yang selalu ia berikan untuk istrinya lah yang membuatku iri. Sejak saat itu aku merasa menginginkannya. Namun, aku tidak pernah berfikir untuk menikah dengannya, karena aku tidak mungkin bisa mengkhianati Hyerin, dia sungguh sudah seperti kakak kandungku sendiri. Melakukan ini sama saja aku merebut miliknya. Yah, meski dialah yang meminta, tapi ini…”


“... Jika kau merasa ini tidak benar, jika kau benar merasa begitu. Bagaimana jika kau melarikan diri saja? Aku lah yang akan menemanimu, dan bagaimana jika menikah denganku saja? Kau tidak akan merasa bersalah dengan hal itu, dan aku bisa menjagamu jauh lebih baik lagi. Karena aku juga mencintaimu Han Seira.” Pandangan serta ucapan Donghae terdengar begitu tulus, dan Seira sendiri pun terkejut dengan pernyataan tersebut.


“Terima kasih sudah mencintaiku, aku senang mendengarnya. Tapi, aku tidak bisa melakukan hal pengecut seperti itu. Jika aku melakukan itu, maka ibu, Ahra eonni lah yang harus menanggung semua rasa malu, aku tidak ingin melakukan itu pada mereka. Mereka adalah keluargaku, dan aku juga tidak ingin menyusahkanmu, karena kau juga adalah keluargaku oppa.”


Ketika acara telah berakhir. Tamu pun mulai meninggalkan aula hotel satu per satu, Seira membagikan senyumannya untuk mereka yang berpamitan, dan Donghae hanya menatapnya sendu. Sedangkan Kyuhyun, ia memutuskan untuk pulang. Melihat Seira melakukan semua itu, Donghae menghampirinya, dan berdiri di sisinya, begitu pun dengan Ahra.


Saat semua tamu telah pergi, nyonya Cho menghampiri Seira, dan Seira langsung memeluknya erat. Air matanya kembali membasahi kedua pipinya, tubuhnya pun bergetar, gadis ini merasa takut. Ahra yang melihat itu pun merasa iba pada adik kecilnya.


“Kau tidak perlu khawatir Seira, karena aku akan selalu menjagamu, dan aku yakin jika Kyuhyun akan kembali seperti dulu lagi. Aku yakin akan hal itu, karena aku adalah ibunya.” Nyonya Cho menepuk-nepuk punggung Seira.


“Bukan hanya ibu, tapi aku, dan juga Donghae akan selalu mengawasimu.” Ahra tersenyum, dan tanpa permisi, Donghae langsung meninggalkan tempat itu.


•••


Tiga minggu sudah berlalu, dan selama itu Kyuhyun tak bicara dengannya. Keduanya pun terlihat tidak tidur dalam satu kamar. Kyuhyun melarangnya untuk masuk ke dalam kamar miliknya, karena kamar itu hanya akan di penuhi oleh kenangan mendiang istrinya, dan Seira sama sekali tak menuntut hal tersebut.


Setiap pagi Seira selalu membuatkan sarapan untuk keduanya. Dulu, Kyuhyun sangat menyukai masakannya, namun berbeda untuk kali ini. Kali ini, jangankan untuk memakannya, melihatnya saja tidak mau. Meski begitu, Seira tetap tak putus asa, ia terus membuatkannya sarapan, makan siang, bahkan makan malam.


Siang itu, Seira memutuskan untuk pergi menuju tempat dimana Kyuhyun bekerja. Setibanya disana, ia melihatnya tengah bicara pada sekretarisnya. Kyuhyun yang melihat kedatangan Seira pun langsung pergi dari sana, dan Seira mempercepat langkahnya.


“Tunggu. Aku datang hanya untuk mengantarkan ini.” Seira memberikan kotak bekal, Kyuhyun mengambilnya tanpa ekspresi sedikit pun, meski begitu Seira terlihat tersenyum kecil. Kemudian Kyuhyun berjalan meninggalkannya, dan Seira mengikuti langkahnya. Pria ini berjalan ke arah pintu utama kantornya. Setibanya di meja receptionist, ia langsung meletekkan kotak bekal itu disana.


“Kalian pasti belum makan siang bukan? Makanlah.” Tutur Kyuhyun dengan nada dinginnya, dan Seira terbelalak melihat hal tersebut. “Pergilah, dan jangan pernah datang lagi kesini.” Kyuhyun melanjutkan, dan Seira pun langsung pergi dari sana.


Setelah pergi dari sana, Seira memutuskan untuk pergi menuju Seokchon Lake. Tempat itu memang tempat favorit Donghae, namun ketika berada disana selalu membuatnya sangat nyaman, dan tenang. Ia mencoba menghubungi Donghae, namun Donghae tak menerimanya, Seira merasa bingung dengannya, karena setelah acara itu, Donghae sangat sulit untuk dihubungi.


“Donghae-ssi.” Sang punya nama menoleh ke belakang, dan ia terkejut melihat Seira berada ditempat itu juga. Tanpa fikir panjang lagi, Donghae berjalan meninggalkannya tanpa bicara satu patah kata pun. Hal itu sungguh membuat Seira bingung, dan ia pun mencoba untuk menyusul langkahnya.


Donghae berjalan begitu cepat, dan sangat sulit untuk Seira menyamai langkahnya. Akhirnya ia memilih untuk berjalan pelan di belakangnya, dan Donghae sedikit merasa kesal karena sikap gadis itu yang keras kepala. Kenapa dia harus mengikutinya seperti itu.


Ketika berada di parkiran, Donghae menghentikan langkahnya, dan Seira menubruk punggungnya. Ia mengusap dahinya seraya mengumpat kesal. Kemudian Donghae berbalik untuk menatapnya, dan Seira tersenyum ke arahnya.


“Kenapa kau mengikutiku? Tidak bisakah untuk seolah-olah tidak melihatku?” Umpat Donghae kesal.


“Eo? Kenapa aku harus melakukan itu? Dan juga aku ingin bertanya padamu, kenapa kau tidak pernah menerima panggilanku, dan tidak pernah membalas pesanku.”


“Aku sibuk. Aku harus pergi sekarang, karena ada jadwal untuk operasi. Sebaiknya pergilah.” Tanpa menatapnya, Donghae langsung masuk kedalam mobilnya, dan pergi meninggalkan tempat itu. “Maafkan aku Seira.” Donghae membatin.


Ketika malam tiba, Seira menunggu Kyuhyun di ruang makan, karena lelahnya, ia tertidur disana. Saat tengah malam, Seira mendengar seseorang memukul-mukul pintu seraya berteriak. Benar, itu Kyuhyun. Seira segera bergegas membukakan pintunya, dan tubuh Kyuhyun kehilangan keseimbangannya.


“Astaga, kau mabuk?” Seira menyeru, dan memapah tubuh Kyuhyun menuju kamarnya. Merasa ingin menjaganya, tak disangka Seira tertidur di kamar itu. Tidak berbaring di sisi Kyuhyun, namun ia duduk dengan bertumpu menggunakan kedua tangannya yang ia letakkan di atas ranjang.


Hingga saat pagi menjelang, Kyuhyun membuka matanya seraya bangkit, dan menyandar pada dinding ranjangnya. Tangannya tampak memijat keningnya, kepalanya terasa begitu berputar. Bukan hanya itu, ia pun terkejut ketika melihat Seira berada di kamarnya.


Mata Seira perlahan terbuka, ia menatap wajah Kyuhyun dengan sedikit rasa pilu, kemudian ketika benar-benar tersadar, matanya terbelalak, dan langsung berdiri seraya membungkukkan tubuhnya. Dirinya merasa menyesal telah melakukan hal ceroboh itu, ketika hendak keluar, lengannya tertahan.


“Dengar. Sekali lagi kau berani tertidur di kamar ini, aku akan membuatmu menyesal Han Seira. Sekarang pergilah.” Kyuhyun melepaskan genggaman itu dengan kasar, dan hampir membuat Seira tersungkur.


 


Bersambung ...