
“… lalu bisakah kau melepaskan tanganku. Aaargh.” Seira masih berusaha melepaskan genggaman tersebut, karena itu sangat menyakitkan untuknya.
“Jawab saja apa yang sudah ku tanyakan padamu. Kau fikir aku akan iba karena melihatmu kesakitan? Tidak akan, dan tidak akan pernah.”
“Bagaimana aku bisa berhenti untuk tidak peduli padamu? Jika aku memang benar-benar peduli padamu. Bagaimana aku bisa menjauh darimu? Jika aku memang ingin selalu dekat denganmu seperti sebelumnya. Dan aku tidak berusaha untuk mempengaruhimu atau siapa pun. Tidak bisakah kau mempercayaiku sedikit pun?” Mendengar penuturan itu membuat Kyuhyun menghempaskan genggamannya.
Seusai mengatakan semuanya, Seira membereskan apa yang ia bawa, dan menyimpannya ke dapur. Setelah itu, Seira memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Matanya sudah tak mampu lagi membedung semua air mata yang tengah ia tahan sejak tadi, pergelangan tangannya pun memerah akibat cengkraman Kyuhyun tadi.
Ponselnya bordering, dan Ahra lah yang tengah menghubunginya. Dengan cepat ia mengusap air matanya, dan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian barulah ia menerima panggilan tersebut.
“Kenapa kau lama sekali menerimanya? Apa kau tengah bersama Kyuhyun, eoh? Sejak tadi aku menghubungi kalian, namun sulit sekali.” Oceh Ahra kesal.
“Maafkan aku, aku sedang di dapur tadi. Ada apa?”
“Urusanku di Swiss belum selesai. Masih banyak yang harus kami selesaikan. Jadi, aku, dan eomma belum bisa pulang.”
“Lalu kapan kalian akan kembali?”
“Yang jelas tidak dalam waktu dekat ini. Baiklah, aku harus akhiri, dan tolong beritahu dia soal ini."
“Tapi, aku…” Belum menyelesaikan ucapannya, Ahra sudah mengakhirinya lebih dulu, dan mau tak mau, dirinyalah yang harus menyampaikannya.
•••
Hari kembali berganti, dan seperti biasa Seira kembali menyiapkan sarapan. Kemudian seseorang datang dengan rasa bahagianya, yang membuat Kyuhyun maupun Seira terkejut melihat kehadirannya.
“Hyung, apa yang kau lakukan dirumahku pagi-pagi seperti ini?”
“Jarak rumah sakit dekat dengan rumahmu, dan sudah dua hari aku belum tidur. Jadi, aku meminta izinmu untuk istirahat disini.” Donghae tersenyum licik seraya merangkul sahabatnya itu. “Bagaimana? Bolehkah? Dan lihat ada makanan disini, kebetulan sekali aku lapar. Mari kita makan bersama.” Tangan Donghae menarik Kyuhyun, dan Seira yang kebetulan berada di sisi kanan kirinya.
“Makan, dan beristirahatlah. Aku harus segera berangkat.”
“YAK CHO KYUHYUN.” Donghae meneriakinya, dan Kyuhyun sungguh tak menghiraukannya.
“Kenapa masih belum memakannya?” Seira memberanikan diri untuk membuka pembicaraan, karena sejak tadi Donghae tak menyentuh makanannya. “Apa itu bukan seleramu?” Sambungnya lagi.
Tanpa menjawab ucapan tersebut, Donghae langsung menyantapnya. Sedangkan Seira pergi keluar untuk menyirami beberapa tanaman. Seperti biasa, ia bersenandung dengan lagu yang sama, dan Donghae yang mendengar itu pun segera keluar.
"Tidak bisakah kita saling mencintai? Sangat banyak waktu yang kita habiskan bersama. Bukankah kita menggunakannya untuk terluka bersama. Aku tidak tahu dimana kamu, apa kamu dapat mendengar suaraku? Hatiku yang disakiti ini selalu mencari mu. Memanggilmu, dan menjadi gila."🎶🎶
“Apa itu yang tengah kau rasakan kali ini?”
“Apa kau sudah selesai? Jika begitu istirahatlah, kau bisa menggunakan kamar Kyuhyun, dan aku akan membereskan meja makan.” Seira kembali menghiraukan Donghae, dan berjalan menuju dapur.
Meski tak mendapatkan respon, langkah Donghae membawanya untuk mendekat. Ia berdiri di sisinya, dan membantunya. Tanpa menoleh sedikit pun, tanpa bicara sedikit pun, Seira tetap mengerjakan pekerjaannya, dan Donghae sama sekali tak keberatan akan hal tersebut.
Ketika satu pekerjaan selesai, Seira langsung mengantar Donghae menuju kamar Kyuhyun, dan ia langsung memintanya untuk segera beristirahat. Donghae membaringkan tubuhnya, sedangkan Seira mengambil beberapa pakaian kotor Kyuhyun yang berada di keranjangnya. Ketika hendak keluar, Donghae menahan lengannya, dan menariknya, hingga Seira terjatuh ke dalam dekapannya.
Sepasang mata memandang mereka dengan geram, kedua tangannya mengepal, wajahnya mulai memerah. Saat itu juga pria itu berjalan menghampiri keduanya, dan menarik Seira dari dekapan Donghae. Keduanya terkejut melihat kehadirannya, Kyuhyun.
“K-Kyu. I-ini salah faham. Ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Seira mencoba menjelaskan, namun cengkraman Kyuhyun pada lengannya semakin mengencang, dan Seira harus kembali menahannya.
“Aku tidak peduli ini salah faham atau bukan. Pada dasarnya, kau memanglah wanita murahan, jadi aku tidak terkejut melihat itu. Namun, bisakah untuk mencari orang lain saja? Bisakah untuk tidak mempengaruhinya juga, hah?” Kyuhyun menghempaskannya, hingga Seira tersungkur, dan dahinya membentur meja.
“Kyu. Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Bukankah sejak dulu kau tidak pernah berani untuk melukai seorang wanita? Bahkan saat dibangku kuliah, ketika kau di permalukan oleh seorang gadis, kau mencoba menahan amarahmu. Tapi, kenapa sekarang kau mengingkari perkataanmu sendiri?” Sahut Donghae, dan membantu Seira untuk bangun.
“Hyung. Aku rasa wanita itu sudah berhasil mempengaruhimu.”
“Seira hanya terpeleset, dan aku…”
“... aku tidak peduli. Lagi pula aku kembali hanya untuk mengambil berkasku yang tertinggal. Jika mau, kalian bisa melanjutkannya.” Kyuhyun berjalan menuju lemarinya, dan kembali berjalan keluar. “Tapi, jangan melakukannya di kamarku.” Sambungnya seraya menatap Seira tajam.
Bersambung ...