Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 17



“Ah aku juga bingung kenapa bisa berada disini.” Seira hanya terkekeh kecil menanggapinya. “Kapan kau tiba? Kenapa tidak mengabariku?” Lanjutnya lagi.


“Tadi malam. Tentu saja untuk membuatmu terkejut adikku. Dimana Kyuhyun? Dia pasti di dalam bukan?.” Tangan Ahra menyentuh knop pintu, dan hendak membukanya.


“Eon, kurasa Kyuhyun masih terlelap. Bagaimana jika kita sarapan dulu?” Seira langsung menahan Ahra agar tidak membukanya.


“Sarapan? Kebetulan aku sangat lapar.” Sambar seseorang, dan membuat keduanya menoleh bersama.


Lee Donghae, lagi-lagi orang tersebut datang. Namun, dengan kehadirannya membuat Ahra sedikit senang, setidaknya bersama Donghae, Seira bisa tersenyum. Karena pertanyaannya merasa belum terjawab, Ahra tetep dengan pendiriannya untuk masuk ke dalam kamar Kyuhyun.


Seira tidak bisa diam saja, ia bahkan terus mencari alasan agar Ahra melupakan hal itu, dan berharap Kyuhyun segera bangun, kemudian melakukan sesuatu. Kini, Seira sudah tidak bisa mencegahnya, Ahra sudah membuka pintunya.


Ketika pintu terbuka, mata Ahra terbelalak melihat apa yang terjadi di kamar tersebut. Wajah Ahra sangat geram, dan menyiram Kyuhyun dengan air. Donghae yang bingung pun melihat ke dalam, dan ia pun tak kalah geramnya dari Ahra. Sedangkan Seira hanya berdiri di luar dengan perasaan yang campur aduk.


Mata Kyuhyun, dan wanita di sampingnya terbuka. Melihat kedatangan sang kakak membuat Kyuhyun sangat terkejut. Wanita itu pun di usir oleh Ahra, dan sebuah tamparan mendarat di pipi Kyuhyun dengan sangat keras.


Kyuhyun melirik keluar, dan ia yang melihat Seira tengah berdiri tanpa melakukan apa pun langsung menghampirinya serta mencengkram lengannya kuar-kuat.


“Apa kau sengaja melakukan hal ini? Kau bahkan berani mengadu pada kakakku sendiri, dan kau…” Belum menyelesaikan perkataannya, Donghae langsung menarik kerah baju Kyuhyun, dan melayangkan sebuah tinjuan.


“... kenapa kau mengambing hitamkan seseorang untuk semua kesalahanmu, Cho Kyuhyun? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Donghae sangat geram dengan perilaku Kyuhyun sekarang ini. Rasa peduli yang selalu ia tanamkan sejak dulu seakan lenyap begitu saja.


“Cih. Bahkan sahabatku sendiri kini menyerangku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu hingga bisa mempengaruhi kalian semua.”


“Dengar! Seira tak melakukan apa-apa. Kau tahu? Dia bahkan tertidur tepat di depan kamarmu, lalu apa yang kau lakukan? Apa kau bersenang-senang dengan wanita lain? Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan dilakukan Hyerin jika ia masih hidup.” Sambung Ahra.


Mendengar nama istrinya disebut, Kyuhyun langsung melepaskan cengkraman Donghae.


“Jika saja Hyerin masih hidup, aku pun tak akan menikahinya. Dia hanyalah gadis rendahan yang tiba-tiba masuk untuk mendapatkan semua kemewahan ini. Bahkan, melihatnya saja sudah membuatku jijik. Aku…” Lagi-lagi Ahra menampar Kyuhyun akibat kelancangannya.


“Ingat Kyu. Semua ini adalah permintaan terakhir dari mending istrimu, dan kau menerima pernikahan ini tanpa paksaan dari siapa pun. Lalu, apa yang sudah kau lakukan padanya? Apa kau pernah sedikit saja peduli padanya? Tidak. Lalu, apa Seira menuntut semua perlakuanmu itu? Tidak Kyu. Dia justru selalu melindungimu.”


Ahra panik dengan kondisi adik iparnya, wajah Seira juga terlihat sangat pucat. Ia demam, namun tubuhnya begitu dingin. Donghae langsung memeriksanya kondisinya, dan kondisi punggung tangannya yang sebelumnya terluka.


“Demamnya karena infeksi dari luka yang ada di tangannya. Ia meremehkannya, dan justru menutupnya dengan perban. Karena lukanya tidak mendapat udara, jadi seperti ini. Selain itu, Seira kekurangan cairan. Tapi, ini tidak parah, dia akan segera sadar.”


“Apa yang terjadi pada punggung tangannya?”


“Kau bisa tanyakan langsung pada adikmu.”


“Sekali lagi kau melukainya secara fisik, maupun psikisnya. Aku akan mengatakannya pada ibu.”


•••


Malam tiba, dan Seira membuka mataya secara perlahan. Sembari membuka matanya, ia memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, ia sadar jika itu adalah kamar Kyuhyun. Dengan cepat Seira bangun dari sana, dan hendak keluar.


Beberapa langkah kemudian, kepalanya sedikit terasa berputar, ia pun hendak jatuh, namun untunglah seseorang menahan tubuhnya. Alangkah terkejutnya saat tahu jika Kyuhyun lah yang menahannya. Kemudian, Seira langsung menjauh darinya, dan Kyuhyun menahannya.


“K-Kyu a-aku, a-aku s-sungguh t-tidak tau kenapa aku ada disini.” Kyuhyun masih tak melepaskan genggamannya, dan Seira sungguh merasa panik. “A-aku m-minta m-maaf.” Ucapnya lagi, dan Kyuhyun justru mengangkatnya, kemudian membawanya kembali berbaring.


“Apa yang mau kau lakukan? Kau sedang sakit, tidak bisakah untuk diam sejenak, dan beristirahat?” Mendengar itu justru membuat Seira menatapnya lekat, namun penuh kebingungan, dan Kyuhyun langsung menyentil dahi Seira.


“M-maaf tapi aku…”


“Kenapa kau terus meminta maaf? Akulah yang seharusnya mengucapkan kata-kata itu.”


“A-apa m-maksudmu?”


Bersambung ...