Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 32



Tubuhnya kini sudah dibasahi oleh air hujan, saat ia membalikkan tubuhnya, orang di dalam itu melihat Seira yang kehujanan di luar. Hatinya meronta untuk mengejarnya, dan membawanya masuk, namun otaknya melarang dirinya agar tidak pergi.


“Donghae-ya ada apa?” Sahut Soo Ra dengan kondisi mulut yang masih penuh.


“Tidak apa-apa.”


Hujan semakin lebat, dan tidak biasanya bus maupun taksi tidak ada yang melintas. Meski sudah berdiri di bawah halte, karena hujan badai itu, tetap aja ia terkena percikan hujan tersebut. Wajahnya mulai pucat, tubuhnya bergetar karena kedinginan, dan ia mencoba menghubungi Kyuhyun.


Sudah hampir 10 kali ia menghubunginya, namun tak ada jawaban dari pria itu, bahkan pesan pun tidak ada balasan. Semakin lama, kepalanya pun terasa begitu berat, dan ia terus mengalami bersin-bersin. Kemudian, ia pun kehilangan kesadarannya.


Dua jam setelah itu, Seira membuka matanya, dan tempat yang begitu asing untuknya. Ia pun lekas bangun dari posisinya, mencoba mencari sesuatu, ia membutuhkan ponselnya, dan ia bahkan tidak tahu dimana dirinya sekarang ini.


“Aargh kepalaku sakit sekali.” Gerutunya, kemudian seseorang membuka pintu kamar tersebut, dan saat itu juga Seira turun dari ranjang.


“Kau sudah sadar? Makanlah dulu. Kyuhyun akan datang menjemputmu sebentar lagi.” Gumamnya seraya menyimpan semangkuk bubur di atas nakas yang ada di dalam kamar tersebut.


“Bukankah kau memintaku untuk menjauh darimu? Lantas, kenapa kau menolongku? Seharusnya kau biarkan saja aku disana.” Pandangan Seira tertunduk, dan air mata pun menetes dari kedua pelupuk matanya.


Fikiran Donghae melayang entah kemana semenjak melihat Seira yang kehujanan. Hati, dan otaknya benar-benar tidak sinkron pada saat tiu. Ketika tahu hujan semakin lebat, rasa khawatir itu muncul. Meski mencoba menepisnya untuk berulang kali, itu sangat sulit di singkirkan olehnya.


“Soo Ra, maafkan aku. Aku pergi dulu.” Donghae menyeru, dan Soo Ra hanya tersenyum membalasnya. Setelah itu, Donghae langsung bergegas dari sana.


Keluar dari café tersebut, ia langsung mengambil payung yang berada di mobilnya. Kemudian, ia pun mencari keberadaannya. Ia berkeliling, dan benar-benar tak bisa menemukannya. Ketika hendak berbalik kembali, ia melihat seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri.


“Seira. Hei, buka matamu.” Dengan cepat pria itu menggendongnya, dan membawanya ke dalam mobil miliknya. Pria itu membawanya pulang ke rumah, dan akan mengecek kondisinya.


Pria itu langsung meraih ponselnya, dan mencari salah satu nama di kontaknya. Ketika menemukan nama tersebut, rasa egoisnya muncul ketika menatap wajah wanita yang ada dihadapannya muncul, hingga ia pun mendesah kesal.


“Kyu, datanglah kerumahku. Seira ada disini, Aku menemukannya pingsan di dekat halte.” Tulisnya di pesan tersebut.


“Bagaimana bisa? Pantas saja aku tidak bisa menghubunginya kembali. Aku segera datang.” Begitulah balasan yang ia dapat.


Donghae masih tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Seira kepadanya. Bagaimana mungkin ia menjawab, jika dirinya masih mengharapkannya? Sampai ia mengatakan itu, mungkin Seira lah yang justru akan menjauhinya.


“Kenapa kau diam?”


“Seira, kau baik-baik saja? Maafkan aku karena tidak menerima panggilanmu, aku sedang melakukan rapat penting, dan…” Kyuhyun tiba-tiba masuk tanpa permisi sedikit pun. “… Kau menangis? Ada apa?” Kemudian matanya menatap Donghae dengan tajam.


“Aku tidak melakukan apa pun padanya. Kau bisa tanyakan padanya.” Donghae mendengus kesal. “Kalian segeralah pulang, dan biarkan Seira istirahat dengan cukup.” Sambungnya lagi, dan langsung meninggalkan keduanya.


•••


Malam itu, tubuh Seira kembali menggigil, ia bahkan tetap tinggal di kamarnya setelah makan malam. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, dan ia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya. Meski sudah tertutup, tubuhnya masih bergetar.


Kyuhyun bahkan masih sibuk dengan pekerjaannya, ia berada di ruang bacanya, dan tengah menyelesaikan apa yang belum ia selesaikan. Sedangkan Seira terus mencoba untuk memejamkan matanya.


Ketika tengah malam, Kyuhyun pun kembali ke kamar. Merasa lelah ia pun segera berbaring di ranjangnya, tubuhnya memutar, dan memeluk tubuh Seira. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh, ia bingung ketika melihatnya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, hingga ia pun membukanya.


“Astaga, apa yang terjadi padamu?”


“Di-dingin.” Gumamnya dengan suara gertakkan dari giginya.


“Kenapa tidak memanggilku sejak tadi eoh? Kau demam. Aku akan ambilkan air untuk mengompresmu.” Dengan cepat Kyuhyun berhambur menuju dapur, dan mengambil mangkuk besar yang berisikan air serta handuk kecil.


Saat kembali ke kamar, ia langsung merawat Seira dengan sangat baik. Dua jam kemudian, panas yang di alaminya pun menurun, dan Kyuhyun memutuskan untuk tidur, namun ia memperbaharui handuk itu, dan menempelkannya kembali di dahi Seira.


Sadar seseorang tertidur di sisinya, Seira langsung mendekapnya. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Suatu bayangan muncul di benaknya. Tidak, bukan bayangan, mungkin mimpi. Kini wajah Seira terlihat sangat merasa bersalah, air matanya pun menetes semakin banyak.


“Hyerin eonni maafkan aku. Apa kau membenciku kali ini?” Igaunya dengan suara yang terdengar begitu parau, dan Kyuhyun yang mendengar itu pun kembali membuka matanya.


“Seira sadarlah.” Gumam Kyuhyun, kemudian Seira menggenggam erat tangannya, dan air mata kembali menetes.


“Maafkan aku, seandainya saat itu aku menurut, kami tidak akan kehilanganmu.” Mata Kyuhyun terbelalak mendengar penuturan tersebut. Kemudian, ia menarik tangannya, dan langsung beranjak dari ranjang.


Kini, Kyuhyun berada di kamar miliknya bersama dengan Hyerin dulu. Dalam tidurnya, ia memeluk erat foto mendiang istrinya. Air matanya mengalir, ia sungguh menyesali perbuatannya selama ini.


“Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Maafkan aku, karena telah mengkhianatimu, maafkan aku Hyerin.” Ujarnya dengan suara yang begitu parau.


Bersambung ...