
Hati Donghae mulai gusar ketika mendapat pesan tersebut. Bagaimana mungkin Seira berbuat salah padanya? Apa pun yang gadis itu lakukan selalu terlihat benar di matanya. Bahkan sungguh berat, dan butuh keberanian untuk dirinya menolak panggilan tadi.
“Benarkah kau akan melakukan apa pun? Baiklah jika begitu, aku memintamu untuk jangan pernah menghubungiku lagi, dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Pergilah dari sana, aku tidak akan datang.”
Membaca pesan teks yang dikirim oleh pria itu membuat Seira tak percaya. Pria itu tak pernah berbuat demikian sebelumnya, dan dirinya terus berfikir, apa kesalahan yang telah ia buat hingga pria itu memintanya untuk menjauh.
Hujan pun turun, dan Seira memutuskan untuk pergi dari sana. Hari bahkan sudah sore, dan sepertinya Donghae memang tidak akan datang. Wajah Seira terlihat begitu lesu ketika meninggalkan tempat tersebut.
Melewati sebuah café, gadis itu memilih untuk masuk, ia memesan vanilla latte kesukaannya, dan salah satu pelanggan memberikan handuk kecil untuknya, dengan segera Seira berterima kasih padanya.
Satu teguk, dua teguk tidak terjadi apa pun. Ketika tegukkan ketiga kalinya, Seira merasa kepalanya begitu berat. Seseorang yang memperhatikan ia dari jauh pun merasa khawatir, hingga akhirnya Seira pun jatuh pingsan, dan orang itu langsung menampakkan diri untuk membawanya.
Orang tersebut dengan cepat membawa Seira pergi kerumah sakit terdekat dari café tersebut. Rasa khawatirnya, dan rasa bersalahnya terus menjalar dalam dirinya kali ini. Setibanya di rumah sakit, Seira langsung mendapat perawatan, dan orang itu menghubungi seseorang.
“Donghae-ya? Ada apa?”
“Noona, Seira pingsan. Aku sudah membawanya ke rumah sakit, dan dia sedang di periksa. Bisakah kau datang?”
“Tentu, dimana?”
“Aku akan mengirimkan alamatnya.”
Ketika Ahra datang, dokter yang memeriksa kondisi Seira pun keluar. Donghae langsung memberikan banyak pertanyaan, terlihat sangat jelas jika raut wajahnya begitu amat sangat khawatir. Bahkan ia terus menyalahkan dirinya sendiri ketika melihat gadis yang ia cintai jatuh pingsan.
“Asam lambungnya naik. Ia meminum kopi dengan posisi perut yang belum terisi makanan, ditambah ia kedinginan. Tapi, dia sungguh tidak apa-apa.”
“Baiklah, terima kasih.” Sahut Donghae, dan dokter tersebut lekas pergi dari hadapan mereka. Kemudian Ahra segera masuk ke dalam, namun tidak dengan Donghae. Pria itu masih terdiam di depan sana, dan membuat Ahra menariknya.
“Maaf noona, aku tidak bisa menemuinya. Aku harus segera kembali ke rumah sakit, dan aku mohon jangan katakan padanya jika aku yang mengantarnya.” Donghae segera meninggalkan tempat tersebut. Ahra yang tidak tahu apa yang terjadi hanya menatap punggung pria itu penuh dengan kebingungan.
•••
Setelah hari itu, Seira masih mencoba menghubunginya. Namun, semua sia-sia, pria itu sungguh tak meresponnya sama sekali. Kyuhyun yang melihat kegelisahan di wajah gadisnya pun langsung menghampirinya, dan duduk di sisinya seraya merangkulnya.
“Siapa yang kau maksud? Donghae hyung?” Kyuhyun bertanya, dan Seira segera menganggukkan kepalanya. “Bukankan sudah kubilang? Tidak perlu menghubunginya lagi! Selama aku berada di sisimu, aku tidak mengizinkanmu untuk dekat pria mana pun. Karena hanya aku yang boleh berada di dekatmu.” Sambung Kyuhyun, kemudian pergi meninggalkannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Aku merasa ada yang aneh. Setiap kali aku membahas tentang malam itu, dia selalu marah seakan sedang menyembunyikan sesuatu.” Seira bergumam hingga mendesah kesal.
“Apa kau sudah mulai membuka hatimu untuknya? Jika benar begitu, aku akan mundur, dan melepaskannya dengan senang hati. Tapi, jika kau hanya ingin memberinya harapan, aku akan tetap maju untuk mendapatkannya.”
“Benarkah? Kau yakin bisa melakukan hal demikian?” Kyuhyun tersenyum licik ke arahnya. “Jika aku memintamu untuk menjauh darinya, apa kau akan menjauhinya? Jika aku memintamu untuk tidak berhubungan lagi dengannya, apa kau bisa melakukannya?” Sambungnya.
“Jadi begitu. Aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Seira sangat mencintaimu, sekeras apa pun aku mencoba masuk, hatinya tidak akan goyah. Aku senang kau sudah membuka hatimu padanya, aku harap kau bersungguh-sungguh akan hal itu Kyu.”
“Apa aku terlihat main-main? Sebesar apa pun dia mencintaiku, jika kau selalu berada di sisinya, bukankah lambat laun ia akan terbiasa? Dia akan semakin merasa nyaman padamu, dan saat itulah perasaannya padaku mulai memudar.”
“Kau terlalu meremehkan perasaannya Kyu. Tapi, demi kebahagiaannya, aku siap melakukan yang kau minta, dan dengan satu syarat…” Donghae memandang Kyuhyun dengan tatapan tajamnya.
“Cepat katakan. Dia pasti akan segera kembali.”
“… aku tidak ingin melihat air matanya menetes sedikit pun, meski aku menjauhinya, bukan berarti aku tidak melindunginya. Aku akan menjaganya dari jarak yang ia tidak ketahui.” Sahut Donghae, saat itulah ia pergi meninggalkan tempat tersebut, dan mencoba mengubur dalam-dalam perasaannya.
“Aku tidak akan melakukan itu hyung, aku pasti akan menjaganya.” Gerutu Kyuhyun.
•••
Hari itu, Kyuhyun memutuskan untuk libur, dan menghabiskan waktunya bersama dengan Seira. Sejak ia membuka mata, ia masih belum melihat dirinya. Sebenarnya kemana gadis itu pergi? Kyuhyun bahkan sudah mencari ke kamar, dapur, taman bunga, namun ia masih belum menemukannya.
Dengan segera ia kembali ke kamarnya, dan menyambar ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ketika hendak mencari nama di kontaknya, ia mendengar seseorang membuka pintu gerbang, dan saat itu juga Kyuhyun langsung berlari keluar untuk melihatnya.
Melihat Seira yang tengah menutup gerbang pun langsung membuat Kyuhyun memeluknya dari belakang, sedangkan Seira terkejut dengan hal tersebut, hingga sepeda yang tengah ia pegangi pun jatuh.
“Aku mencarimu sejak tadi. Sebenarnya dari mana saja dirimu?” Tampaknya Kyuhyun masih belum melepaskannya pelukan tersebut, dan justru menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Seira.
Bersambung ...