
“Aku sungguh minta maaf akan sikapku belakangan ini kepadamu. Aku sungguh kasar padamu, dan tidak memikirkan perasaanmu sedikit pun. Seperti yang di katakan Ahra noona, aku menikahimu tanpa paksaan dari siapa pun. Tapi aku justru berlaku egois padamu, dan melimpahkan semua kekesalanku padamu.”
“K-Kyu, aku sungguh tidak mempermasalahkan hal itu. Aku sangat mengerti.”
“Aku sungguh merasa bersalah padamu, aku bahkan sampai melukaimu. Mulai saat ini, aku akan mencoba bertanggung jawab, dan tidak akan membuatmu terluka lagi. Aku juga berjanji akan melindungi, memberikan apa pun yang kau butuhkan. Tapi...”
“Ada apa?”
“Tapi maaf, aku tidak akan bisa menyentuhmu layaknya seorang suami pada istri, dan aku tidak bisa membuka hatiku begitu saja untuk orang lain selain Hyerin.”
“Aku mengerti.” Meski itu terdengar begitu menyakitkan untuknya. Namun, Seira tetap mencoba untuk tersenyum ke arahnya.
Setelah mendengar semua penuturan dari Kyuhyun, Seira bergegas pergi dari kamar tersebut dengan segera. Namun, Kyuhyun mencegahnya, dan meminta Seira untuk beristirahat selagi Kyuhyun bekerja.
Bukan hanya itu, Kyuhyun juga meminta pada Seira untuk tak melakukan apa pun. Yang ia inginkan adalah Seira tetap beristirahat hingga benar-benar pulih. Kemudian, Kyuhyun melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, dan Seira menahan lengannya.
“Bisakah aku meminta satu hal padamu?” Gumamnya tanpa memandang wajah Kyuhyun. “Bisakah untuk tidak pergi ke bar itu lagi? Bisakah untuk tidak membawa wanita lain kerumah ini? Kau jelas sudah tahu mengenai perasaanku, dan aku sama sekali tak mengharapkan apa pun darimu. Tapi, bisakah kau untuk sedikit menghargai perasaanku ini?”
Kyuhyun tersenyum mendengar hal tersebut. Ia pun membalikkan tubuhnya, dan menatap Seira dengan lekat, namun Seira sungguh tak berani untuk membalas tatapan itu. Tatapan Kyuhyun hanya akan dapat membuatnya egois.
“Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Aku berjanji.” Puas mendengar jawaban darinya, Seira segera beristirahat, dan Kyuhyun segera berangkat.
•••
Musim dingin hampir tiba, dan malam itu Kyuhyun tengah mengunjungi mendiang istrinya. Ia berada di crematorium dengan sebukat bunga digenggamannya. Melihat 3 batang bunga tulip putih yang masih segar. Tentu hal tersebut megundang tanya di dalam benaknya.
“Maaf, siapa yang menyimpan bunga ini?” Kyuhyun menyeru pada petugas yang berjaga disana.
“Ah itu, pagi tadi ada seorang gadis cantik yang menyimpannya. Gadis itu selalu datang seminggu sekali ke tempat ini, dan membawakan beberapa batang bunga tulip untuknya.”
“Kira-kira pukul berapa saja gadis itu akan datang?”
“Seorang gadis? Siapa? Aku akan menemuinya, dan mengucapkan terima kasih padanya.”
Di tempat yang berbeda, Donghae yang selesai memeriksa kondisi pasiennya pasca operasi pun kembali ke ruangannya. Sudah 2 minggu ini ia berada di rumah sakit, dan waktu tidurnya pun tidaklah banyak. Sesekali ia memijat bahunya yang terasa keram, hingga seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Dokter Jung, anak tunggal dari kepala direktur rumah sakit tempat Donghae bekerja. Gadis yang akan menjadi penerus rumah sakit tersebut, sekaligus gadis yang menyukai Lee Donghae sejak 2 tahun yang lalu. Namun, ia sangat pintar menyembunyikan perasaan terhadap pria itu.
“Jung Soo Ra? Ada apa? Apa ada keadaan yang diluar kendali?” Donghae yang panik langsung menyambar jas putihnya, dan gadis itu tampak terkekeh melihat reaksi pria di hadapannya.
“Apakah kehadiranku selalu disertai dengan berita yang buruk? Kau tahu? Aku sedikit tersinggung akan hal tersebut.”
“Ah tidak. Bukan itu maksudku, maaf.”
“Aku hanya bergurau. Sekarang disini sudah ada aku, dokter Kim, dan dokter So juga sudah ada. Sebaiknya kau pulang untuk beristirahat, ambil libur lah selama 2 hari. Sisanya serahkan pada kami. Kau bahkan sudah berada di rumah sakit hampir 2 minggu.”
“Kau benar. Baiklah, aku akan pulang sekarang, terima kasih.” Seru Donghae seraya mengacak-ngacak pelan puncak kepala Soo Ra. Kemudian ia pun pergi dari tempat tersebut, dan tanpa di sadari, wajah Soo Ra merona ketika mendapatkan perlakuan seperti itu.
Merasa lapar, dan keluar di saat jam makan malam membuat Donghae pergi ke suatu tempat. Tempat dimana memiliki masakan yang sangat enak menurutnya, dan tempat dimana ia bisa menemukan sebuah kehangatan keluarga setelah ia kehilangan orang tuanya.
Dengan cepat ia menuju tempat tersebut, dan wajahnya sangat senang, karena tak sabar untuk menemui seseorang yang tak ia kunjungi selama 14 hari tersebut. Setibanya disana, ia benar-benar beruntung karena dapat menemuinya. Bukan hanya itu, bahkan orang tersebut baru saja menyajikan makan malam. Namun, sayangnya ada orang lain lagi disana.
Dia sudah mengetahui bagaimana keduanya berbaikan. Ia juga tahu semuanya, Seira lah yang memberitahunya. Namun, ia akan tetap mencoba untuk menekan perasaanya pada gadis itu, karena baginya, kebahagiaan Seira lebih penting dari apapun juga.
“Hyung? Tidak bisakah untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke rumah orang lain? Kini, rumah ini bukan hanya aku yang menempatinya, namun ada seorang gadis. Kau harus berhati-hati.” Pemilik suara itu menatap Donghae dengan tajam, dan Donghae hanya terkekeh menanggapinya.
“Aroma masakkannya membuatku tak bisa mengontrol diri, terlebih sudah hampir 2 minggu aku tidak pulang.”
“Kau pasti lelah, jika begitu makanlah bersama kami.” Gadis itu tersenyum hangat.
Bersambung ...