
Melihat dari kondisinya beberapa bulan terakhir, Seira sering merasakan pusing, dan itu bisa di pastikan jika akan terjadi komplikasi pada proses persalinannya kelak. Jika psikisnya juga terganggu, maka itu bisa membuat kefatalan.
Sudah hampir 10 jam, akhirnya Donghae tiba, dan ia langsung memanggil taksi untuk membawanya ke satu alamat. Setelah tiba di rumah itu, Donghae terkejut ketika melihat seseorang yang di kenalnya keluar dengan wajah yang terlihat begitu marah.
Orang tersebut bahkan tidak menyapanya, dan langsung melaluinya begitu saja. Mengingat satu hal, ia langsung masuk ke dalam. Hatinya sakit saat melihat wanita di hadapannya menangis dengan penuh isak, melihat kehadiran Donghae disana, wanita itu langsung memeluk Donghae. Memintanya untuk segera membawanya kembali ke Mokpo.
“Apa yang sudah Kyuhyun katakan pada Seira?” Donghae menatap Ahra dengan tajam.
Malam itu, seseorang datang mengetuk pintu, dan membuat Seira membuka pintu tersebut. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang datang. Pandangannya langsung tertunduk begitu saja, dan orang itu menatapnya tajam sembari berjalan mendekatinya.
“Rubah licik. Kenapa kau masih berada di kota ini?” Teriak orang tersebut, dan membuat Seira sangat tersentak.*
“Apa yang terjadi?” Ahra menyeru ketika mendengar teriakkan. “Kyuhyun? Apa yang kau katakan?”
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menjauh dari orang-orang terdekatku? Sepertinya kau tidak pernah memperdulikan ucapanku ya? Apa kau ingat apa yang pertama kali aku katakan padamu? Ketika aku mengusirmu dulu dari kediamanku?”
Bagaimana mungkin ia tidak mengingatnya? Kejadian itu adalah luka besar yang tak akan bisa ia lupakan sampai kapan pun. Tubuhnya kembali bergetar ketika tubuh Kyuhyun semakin mendekat padanya.
“Benar. Aku akan menghabisimu, wanita kotor. Ketika bertemu denganmu di Mokpo, aku masih menahan diri, dan memberimu kesempatan. Saat dirumahku tadi, aku juga masih bersabar. Jika tidak ada kakakku, mungkin aku bisa menghabisimu sekarang. Tapi, jika sekali lagi kau muncul di hadapanku, aku pastikan jika aku akan langsung menghabisimu, dan juga anak harammu ini.”
Langkah Seira langsung menjauh dari sana, air matanya semakin mengalir. Ahra yang melihat kelakuan adiknya pun tak segan-segan untuk langsung menamparnya. Kyuhyun yang merasa kesal pun langsung pergi dari sana dengan kondisi sangat marah.
“Jika kau tidak membawa Seira kembali, Seira tidak akan terluka. Aku sungguh kecewa akan keputusan yang kau ambil noona.” Donghae yang kesal pun langsung memaksa masuk ke kamar Ahra, dan membereskan barang-barang milik Seira saat itu juga.
Donghae menyeret koper milik Seira keluar dari ruangan itu. Ketika hendak berjalan meninggalkan rumah itu, sesuatu terjadi pada Seira. Wanita itu meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
Ringisannya semakin menjadi, dan Donghae langsung menggendongnya keluar. Ahra yang merasakan khawatir pun segera mengambil kunci mobilnya, dan meminta Donghae untuk membawa Seira masuk ke dalam mobil.
Ahra memangku Seira di kursi belakang, dan Donghae mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Keringat mulai bercucuran di wajah Seira, ia juga menggenggam erat tangan Ahra saat itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit.
“Dokter Lee? Kapan kau kembali?” Seru salah seorang perawat yang melihat Donghae turun dari mobil.
Langkah kakinya begitu gusar. Setelah bertemu dengan Raeya, Donghae langsung menariknya membawa menuju UGD. Raeya yang sudah tiba di sana pun langsung mengecek kondisi Seira, kemudian mengatakan pada Donghae, jika bayi itu harus segera di keluarkan.
“Melihat kondisinya, kita juga harus menyiapkan diri untuk segala hal yang bisa saja terjadi.”
“Jangan berlarut-larut. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” Sambar Donghae.
“Kemungkinan hanya satu yang bisa selamat. Ibunya atau anaknya yang kau pilih? Kau putuskanlah, obat bius itu masih bisa menahannya. Aku akan siapkan dokumen persetujuannya dulu.”
“Selamatkan anakku, aku mohon. Dia harus lahir melihat dunia ini, aku sudah cukup menikmati hidupku.” Nafas Seira tesengal, dan menahan sakitnya. “Lalu, kau bisa memberitahu keberadaan anak ini padanya, dan katakan juga padanya, apa pun yang terjadi, aku akan selalu mencintainya.”
“Bukan aku atau kau yang memutuskan Seira. Kau sangat mencintainya bukan? Maka, akan aku bawa dia datang kesini, dan kau sendirilah yang akan memberitahu semua itu padanya.” Donghae langsung berlalu dari sana menuju rumah Kyuhyun. Bahkan panggilan Seira pun tak mampu menghentikan langkah kaki pria tersebut.
Setibanya di kediaman Kyuhyun. Donghae masuk begitu saja tanpa permisi, dan Kyuhyun yang berada di lantai atas pun memandangi orang yang memasuki rumahnya tanpa meminta izin sedikit pun. Donghae yang melihat Kyuhyun pun langsung mengambil langkah seribu untuk berdiri di hadapannya.
“Apa yang membawamu kesini, hyung? Hingga berani mendobrak pintu rumahku.” Kyuhyun menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.
“Seira, dia membutuhkanmu Kyu. Dia akan melahirkan, dan kemungkinan terburuk, hanya satu yang bisa di selamatkan. Aku mohon datanglah untuk menemuinya, kemudian kau bisa putuskan, siapa yang ingin kau selamatkan. Ibunya atau anaknya.” Balas Donghae.
“Apa hubungannya denganku? Tidak peduli siapa yang selamat, semua itu tidak ada urusannya denganku. Keduanya mati sekali pun, sama sekali bukan urusanku, dan mungkin itu adalah balasan Tuhan untuk wanita kotor itu.”
Sebuah tinjuan mendarat di wajah Kyuhyun, dan Donghae yang merasa kesal pun langsung menarik kerah baju pria yang berada di hadapannya. Dirinya sudah merendahkan dirinya, namun respon yang ia terima sungguh di luar nalar.
“Bukan urusanmu? Tentu saja itu menjadi urusanmu bodoh.” Sebuah tinjuan kembali menghadangnya. “Kau tahu anak siapa yang dikandung oleh Seira? Dia adalah milikmu, dia anakmu Cho Kyuhyun.” Imbuhnya lagi yang kemudian mendorong kesal kerah baju yang di genggamnya tadi.
“Anakku? Mana mungkin?”
Bersambung ...