
“Aku sama sekali tidak tahu akan hal ini.” Tutur Seira, dan Kyuhyun tersenyum picik.
“Seira, tidak perlu bersandiwara di hadapanku. Aku tidak akan terkena tipuanmu. Ikut aku! Aku sangat ingin memberi satu pelajaran untukmu.” Kyuhyun menarik lengan Seira, dan Seira mencoba menolaknya. Namun, genggamannya begitu erat, dan membuat Seira merasa sakit.
“Lepaskan dia bodoh.” Seseorang datang mendorong tubuh Kyuhyun, dan menarik Seira untuk berdiri di belakangnya. “Tidakkah kau lihat jika kau menyakitinya?”
“Hyung? Kenapa kau disini?” Kyuhyun menatapnya tajam. “Aaah aku tahu, pasti gadis itu yang sudah memintamu datang. Memalukan sekali. Sudah menikah, tetapi masih berani berkencan dengan pria lain.” Sambungnya lagi.
“Dia memang sudah menikah, namun tidak lebih dari sebatas status. Jadi, suaminya tidak berhak untuk melarangnya, melarang apa yang akan ia lakukan.”
“Donghae hyung, sungguhkah kau menyukai gadis itu? Apakah kau menyukai gadis-gadis murahan seperti dia? Seleramu sungguh rendahan ternyata.” Ejek Kyuhyun. “Datang kesini sungguh membuang waktuku, dan aku menyesal telah datang.” Tambahnya lagi, dan langsung pergi dari sana.
Kyuhyun berjalan melewati keduanya, dan dengan sengaja ia menubruk bahu Seira, hampir saja gadis itu terjatuh, untunglah Donghae menahan tubuhnya. Setelah memastikan Kyuhyun telah pergi, Donghae langsung berjalan meninggalkan Seira, dan Seira mengikuti langkahnya dari belakang.
Tak ada pembicaraan antara keduanya. Merasa tidak ada lagi yang ingin dilakukan, Donghae memutuskan untuk menuju parkiran, dan memilih pulang untuk beristirahat di hari liburnya itu. Ketika Donghae melangkahkan kakinya lebih cepat, Seira pun berlari, dan langsung menghalangi langkah kaki pria itu.
“Ada apa? Aku sungguh sibuk hari ini.” Seru Donghae, dan Seira masih menghalangi jalannya.
“Kenapa kau terus menghindariku? Jika aku salah, maafkan aku.”
“Kau tidak perlu minta maaf Seira, sekarang pergilah.” Donghae langsung berjalan ke sisi lain, dan mulai melangkah menjauh dari Seira.
“Pergilah”
“Sekarang pergilah.”
“Sebaiknya kau pergi jika tidak ingin ku buat menyesal.”
“Kenapa? Kenapa kalian terus memintaku untuk pergi?” Seira menundukkan pandangannya, dan Donghae yang mendengar itu pun langsung menghentikan langkahnya. “.. Lalu, apa yang akan kalian lakukan jika aku tidak ingin pergi?” Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
Seira merasa kakinya tidak sanggup untuk berdiri pun terjatuh akibat terkena tubrukkan orang-orang yang berlalu lalang. Dirinya merasa tak peduli dengan keadaan tersebut, hingga seseorang pun mengulurkan tangannya, dan Seira menatap orang tersebut. Ketika tangannya menyatu, orang tersebut menariknya untuk berdiri. “Maafkan aku.” Orang itu menyeru.
“Jangan memintaku untuk pergi lagi. Hanya kau yang bisa menerimaku setelah Ahra eonni, dan nyonya Cho. Aku…”
“… Maaf. Tapi, jika aku terus menerus bertemu denganmu, aku hanya takut tidak bisa menekan perasaanku terhadapmu. Meski begitu aku berjanji padamu, mulai sekarang aku tidak akan memintamu untuk pergi lagi.”
•••
Malam itu, Seira menanti kedatangan Kyuhyun. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun Kyuhyun belum juga tiba. Seira mulai cemas, kemudian ia mengambil ponselnya, dan menghubungi Kyuhyun. sia-sia saja, Kyuhyun tidak akan mau menerima panggilan darinya.
Tak lama kemudian, seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya. Kyuhyun kembali, dan ia pulang dalam kondisi mabuk lagi. Seira harus memapahnya, dan melepaskan sepatu, jas, serta dasi yang melingkar di lehernya. Setelah itu, Seira memutuskan untuk keluar dari sana.
“Aku mencintaimu …” Gerutu Kyuhyun seraya menahan lengan Seira, dan Seira yang mendengar kalimat itu pun sungguh tersentak. “ … Cho Hyerin.” Genggaman itu mengendur, dan saat itu juga Seira merasa dijatuhkan dari sebuah ketinggian.
Ketika pagi tiba, Seira menyiapkan segelas susu, dan sup hangat di atas meja yang ada dikamar Kyuhyun. Tak ingin mengganggu waktu tidurnya, Seira memilih untuk segera keluar. Ponselnya bordering, sebuah pesan masuk, dan Donghae lah pengirim pesan tersebut.
Yah, hubungan keduanya mulai membaik, dan Donghae pun tengah belajar untuk tidak tenggelam terlalu dalam dengan perasaannya. Sikapnya justru menyakiti perasaan Seira, dan bukan itu yang ia inginkan.
“Hey, siang ini sepertinya aku tidak ada operasi. Bisakah kita makan bersama?” Seira tersenyum membaca pesan itu. Sepertinya dengan berat hati, ia harus menolaknya, karena hari ini adalah hari libur Kyuhyun. Jika Kyuhyun tahu dirinya keluar dengan Donghae, ia takut hubungan pertemanan mereka bisa memburuk.
“Maafkan aku. Bagaimana jika kita undur saja? Sepertinya hari ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan rumah.” Donghae sedikit kecewa menerima pesan tersebut, namun dirinya berusaha untuk mengerti.
Kini, Seira tengah berada di halaman rumah untuk menyirami beberapa tanaman disana seraya bersenandung. Lagu yang sering ia nyanyikan setiap kali ia merasa tengah sepi, dan lagu tersebut pernah ia dengar dari ibunya. Namun, kali ini ia bersenandung bukan untuk mendiang orang tuanya, melainkan tertuju untuk Kyuhyun.
Seusainya dengan tanaman-tanaman itu, Seira kembali ke dalam untuk membersihkan rumah bagian dalam. Ketika berada di dalam, ia melihat Kyuhyun sudah duduk di ruang tengah, senyumnya terukir tipis. Kemudian, ia menuju kamar untuk mengambil mangkuk serta gelas yang sempat ia letakkan tadi.
Mangkuk, dan gelas itu tidak berubah posisi sedikit pun. Bahkan isinya pun tidak berkurang, Kyuhyun sungguh tak menyentuhnya, jangankan untuk menyentuhnya, mungkin melihatnya saja tidak. Kemudian, Seira membawanya keluar, ia membawanya menuju ruang tengah, ke hadapan Kyuhyun.
“Kenapa kau tidak memakannya? Berhubung ini masih sedikit hangat, sebaiknya kau memakannya. Semalam kau mabuk, dan sup ini…” Kyuhyun menatapnya dingin, dan Seira sungguh tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya. “… Sup ini bisa meredakannya.” Sambungnya seraya menyodorkan sendoknya.
Reaksi Kyuhyun sungguh tak menyenangkan. Dengan cepat Kyuhyun menghempaskannya, hingga membuat sendok itu terpental jauh. Mendapat perlakuan itu hanya membuat Seira menghela nafasnya, kemudian ia mengambil sendoknya, lalu pergi ke dapur untuk mengambil yang baru.
Meski sudah mendapat penolakan, ia tetap berusaha untuk membuat Kyuhyun mau memakannya. Ketika hendak menyodorkannya lagi, Kyuhyun mencengkram pergelangan tangan Seira dengan sangat erat, dan tatapan matanya sungguh tajam. Namun, sorotan itu membuat Seira mampu merasakan apa yang tengah pria itu rasakan. Kesepian.
“Bisakah kau berhenti seolah-seolah kau itu peduli padaku? Bisakah untuk menjauhiku? Bisakah untuk tidak mempengaruhiku?” Ucapannya sungguh terdengar sangat dingin, dan tatapan matanya semakin tajam.
Bersambung ...