
Donghae merogoh sakunya, ponselnya berdering, dan itu sungguh mengganggunya. Ia pun keluar dari stand tersebut untuk menerima panggilannya. Kemudian, Seira keluar dari sana, sebelum pergi, tak lupa ia berterima kasih pada pria yang mau melukis dirinya.
Pelukis itu pun merasa sangat senang sudah di izinkan untuk melukisnya, berkat dirinya juga stand miliknya menjadi ramai. Seira tersipu ketika mendapat pujian tersebut, hingga akhirnya ia pun keluar dari sana, dan mencari Donghae.
“Tapi aku juga sedang mengambil cuti hari ini.” Gerutu Donghae sedikit kesal.
“Maafkan aku, tapi dokter Park, dokter Kim, dan Dokter So sedang tugas di luar kota. Dokter Jung belum dibolehkan menjadi dokter utama, karena ia harus masih banyak belajar. Sedangkan dokter Yoon masih belum di izinkan masuk ruang operasi, karena pelanggaran saat itu.”
“Baiklah. Kau siapkan ruang operasi sekarang, jaga agar nadi pasien supaya tetap stabil. Aku ingin dokter Min Soo yang menjadi anestesiku kali ini, juga jangan lupa untuk meminta persetujuan dari keluarganya, 25 menit aku akan tiba disana, dan langsung menuju ruang operasi.”
“Apa ada masalah?” Seira menyahut kala melihat wajah Donghae yang terlihat sangat khawatir.
“Maaf, kita harus kembali sekarang. Aku akan mengantarmu terlebih dulu.”
“Tidak apa-apa, kau pergilah. Lagi pula aku masih ingin berada disini.”
“Tapi, aku yang membawamu kemari, dan aku juga yang harus membawamu kembali.”
“Tidak ada waktu lagi, sebaiknya kau segera berangkat.”
“Aargh baiklah, maafkan aku.” Donghae menghela nafasnya, dan sungguh menyesalinya. Hal ini sungguh di luar kendalinya. Bukan hanya itu, ia juga merasa kesal karena kenapa tidak ada satu pun dokter yang berjaga di saat dirinya tengah membutuhkan liburan.
•••
Rumah sakit. Donghae berlari menuju ruang operasi, dan langsung melakukan hand scrubbing. Ketika selesai, ia segera masuk, dan salah seorang perawat memakaikan gowning di tubuh Donghae, kemudian dirinya langsung mengenakan hand gloving.
“Lemak sudah terpotong, dan sudah mencapai aponeurosis Muskuls Oblikus Abdominis Ekternus (MOE). Sekarang berikan aku scalpel.”
Kemudian, Donghae memperlebarnya menuju lateral, dan ke medial dengan bantuan pinset anatomi. Pengait luka tumpul dipasangnya dibawah MOE, setelah tampak Muskulus Oblikus Internus (MOI), Donghae mulai membuka secara tumpul dengan menggunakan klem arteri secara searah dengan seratnya.
Salah seorang yang memberikan alat-alat, salah seorang lagi membantu mengusap keringat yang ada di dahi Donghae. Sudah hampir 3 jam mereka berada diruang operasi, dan operasi pun hampir selesai.
“Kau boleh kembali ke ruanganmu Donghae-ssi, sisanya biar kami yang melanjutkan.”
“Baiklah aku serahkan pada kalian.”
Hari sudah semakin sore, Donghae sungguh mengkhawatirkan Seira. Ia berlari menuju ruangannya, dan langsung mengambil ponselnya agar bisa menghubunginya. Sayangnya Seira tak menerima panggilan tersebut. Tentu saja, Seira tak menerimanya, karena ia tengah berada di crematorium saat itu.
Tak lupa untuk Seira menyimpan bunga tulip yang ia bawa, dan tersenyum ke hadapan guci abu tersebut. Seperti biasa, ketika datang Seira selalu bicara banyak hal disana. Hingga seseorang menepuk bahunya, dan membuatnya menoleh.
Seira maupun orang tersebut terkejut, dan saling memandang satu sama lain. Kemudian, Kyuhyun berjalan keluar, dan Seira mengikutinya dari belakang.
“Jadi, kau yang selalu menyimpan bunga tulip itu di sana?”
“M-maaf karena tidak meminta izinmu dulu.” Seira menundukkan kepalanya.
“Kenapa harus meminta maaf untuk hal yang sama sekali tidak salah, Seira?” Kyuhyun menepuk bahu Seira, dan tersenyum ke arahnya. “Ikut aku.” Pintanya seraya menggenggam pergelangan tangan Seira. Namun, dengan cepat Seira melepaskan genggaman tersebut.
“Hari sudah hampir malam, sebaiknya aku pulang sekarang Kyu.”
“Tentu kita akan pulang. Sebelum itu, aku ingin mengajakmu untuk makan terlebih dulu. Apa kau tidak tahu? Aku udah menunggumu disini sejak pagi, dan ingin mengajakmu makan bersama. Lalu, kau menolaknya? Sakit sekali rasanya.”
“Aku akan ceritakan dijalan. Ayo kita pergi, aku sudah sangat lapar.”
•••
Siang itu, Seira tengah membuatkan ramen untuk Kyuhyun. Kemudian tanpa sengaja, tangannya menyenggol gelas hingga jatuh. Kyuhyun yang mendengar suara pecahan pun langsung berlari ke dapur, dan langsung memegangi Seira.
Melihat wajah Seira yang berkeringat langsung membuat Kyuhyun mematikan kompor yang menyala, dan membawanya menuju ruang tengah. Kemudian, ia membuatkan segelas teh hangat untuknya.
“Ada apa?”
“Entahlah. Tiba-tiba kepalaku terasa berputar.”
“Bagaimana jika periksakan ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Sekarang sudah tidak apa-apa. Ah ramenmu?”
“Aku pesan saja nanti. Sebaiknya kau istirahat.”
Tanpa membantah, Seira langsung bergegas menuju kamarnya, dan Kyuhyun kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting. Dokumen yang harus ia pelajari untuk melakukan rapat besok siang.
Siang itu juga Ahra datang berkunjung. Ahra memasuki ruang kerja adiknya, dan hal itu sangat membuatnya terkejut, juga kesal dengan kakaknya yang datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan apa pun.
Merasa sedang tak ingin di ganggu, Kyuhyun langsung meminta sang kakak untuk pergi ke kamar Seira, dan meminta untuk mengecek kondisi adik iparnya itu. Mendengar hal itu, membuatAhra langsung berbalik untuk keluar, namun sebelum menutup pintu, matanya menatap tajam sang adik.
“Sungguh aku tidak melakukan apa-apa padanya.”
“Jika terjadi sesuatu padanya, kau tidak akan aman Kyu.” Balas Ahra, dan langsung menutup pintunya.
“Astaga, sebenarnya adiknya itu aku atau Seira? kenapa dia sangat menyayanginya? Di fikir-fikir, rasa sayang yang ia berikan pada Seira jauh lebih besar dari pada rasa sayang yang ia berikan pada Hyerin dulu.”
Meski tengah terlelap, Seira menyadari ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Perlahan ia membuka matanya, dan tersenyum ketika mengetahui Ahra lah yang datang. Dengan segera ia mencoba bangun, namun Ahra memintanya untuk tetap berbaring.
2 jam kemudian. Kyuhyun yang telah selesai dengan pekerjaannya pun berniat untuk keluar membeli makanan. Awalnya ia berniat untuk mengajak Seira, namun mengingat kondisi Seira yang sepertinya sangat membutuhkan istirahat, ia pun memilih pergi sendiri.
Sebelum keluar rumah, ia melewati kamar Seira yang sedikit terbuka. Mendengar suara tawa membuatnya sangat penasaran, penasaran akan apa yang tengah mereka bicarakan. Kyuhyun pun mengintip, dan menguping disana. Meski tak terdengar jelas, ia cukup senang, karena melihat Seira sudah sedikit pulih.
Banyak cerita pada Ahra membuat Seira merasa sedikit baikkan. Seira hanya kelelahan, itulah yang membuatnya hampir pingsan. Namun, pemulihannya begitu cepat, hanya tertidur beberapa jam, tubuhnya sudah terlihat lebih baik.
Hari sudah hampir malam, Ahra segera berpamitan dari sana, dan Seira mengantarnya keluar. Kemudian, ia berjalan menuju ruang kerja Kyuhyun. Ada hal yang ingin ia tanyakan, apa yang ingin Kyuhyun makan malam itu. Namun, ruangan kerjanya kosong, hendak menelfonnya, ia melihat ponsel Kyuhyun tergeletak disana.
Kemudian, Seira pergi ke dapur untuk membuat coklat panas. Duduk di ruang makan sembari menunggu coklat yang dibuatnya menjadi hangat, dan juga menunggu kedatangan Kyuhyun yang entah pergi kemana. Masih merasa sedikit pusing, ia meletakkan kepalanya di atas meja makan.
Tanpa sadar Seira tertidur disana, dan tak lama kemudian Kyuhyun tiba dirumah. Melihat Seira tertidur disana membuat kakinya melangkah ke arahnya, dan duduk di hadapan gadis itu seraya menatapnya. Perlahan Seira membuka matanya, dan terkejut melihat seseorang duduk di hadapannya.
“Apa begitu melelahkan hingga kau tertidur disini?”
Bersambung ...