
Lelah mendengarnya, sekretaris Hwang langsung menghubungi seseorang untuk memberitahu kondisi mengenai Kyuhyun. Kali ini, ia memutuskan untuk memberitahu keluarga Kyuhyun, Cho Ahra. Ahra yang mendengar ponselnya berdering pun segera menerimanya saat melihat nama yang terlihat di layar ponselnya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu lagi padanya?”
“Tuan Cho mabuk berat malam ini, dan aku rasa adikmu demam. Apa kau bisa datang untuk menjaganya? Dia juga terus meracau, sejak tak sadarkan dirinya, ia terus memanggil nama istrinya.”
“Istri? Hyerin?”
“Bukan, tapi nona Seira.” Mendengar kabar tersebut justru membuat Ahra tersenyum.
“Aku akan kembali besok pagi. Sementara panggilkan dokter untuk mengecek kondisinya.”
Setelah mematikan panggilan tersebut, Ahra memberitahu kondisi Kyuhyun saat itu. Terlihat jelas pada wajah Seira jika dia tengah merasa khawatir. Reaksi yang sangat diharapkan olehnya, kemudian Ahra terus memancingnya agar ia mau ikut bersama dengannya menemui Kyuhyun.
Meski begitu, Seira tetap menolak, dan tidak bisa bertemu walau ia ingin sekali pun. Rasa takutnya akan kembali ketika melihat pria itu. Namun, Ahra terus mengatakan berbagai kata-kata manis demi membawa adik iparnya tersebut.
“Setelah dia sembuh, tidak, setelah dia merasa baikkan, kau akan pergi dari rumah itu. Kemudian, kau akan tinggal bersamaku.”
Seira hanya mampu terdiam seraya mengusap perutnya yang sudah mendekati bulan kelahirannya. Lagi-lagi, Ahra meyakininya, dan mengatakan jika dirinya tidak bisa pergi tanpa adiknya tersebut. Donghae akan memusuhinya jika harus meninggalkan Seira seorang diri, begitulah yang ia ucapkan. Hingga akhirnya Seira pun luluh, dan mau ikut kembali ke Seoul.
•••
Siang itu, Seira kembali menginjakkan kakinya di Seoul. Kota yang meninggalkan banyak kenangan, juga duka untuknya. Tanpa disadari, air matanya menetes ketika kembali mengingat semua kejadian yang terjadi padanya.
Sekretaris Hwang yang sudah menunggu keduanya pun langsung mengantar mereka menuju kediaman Kyuhyun. Pria itu juga mengatakan jika Kyuhyun belum sadarkan diri sejak semalam, dan dokter yang memeriksakan kondisinya pun mengatakan jika Kyuhyun kelelahan.
Setibanya di rumah Kyuhyun, langkah kaki Seira tertahan, namun Ahra menghampirinya, dan berdiri di sampingnya. Seraya memegangi perutnya, Seira berjalan dengan penuh keraguan, bukan keraguan, tapi rasa takut.
“Kau bukan hanya pembunuh, kau adalah wanita murahan, dan kau wanita yang sangat kotor Seira.” Mata Seira terbelalak mendengar semua pernyataan tersebut. "Kau tahu? Aku sudah sangat menyesal telah menghabiskan waktu bersamamu, aku menyesali semua hal yang pernah ku lakukan bersamamu.”
Suara itu kembali teringat di benaknya, dan kembali membuat langkahnya terhenti hingga membalikkan tubuhnya. Ahra sangat terkejut dengan reaksi tersebut. Terlihat sangat jelas jika tubuh Seira tengah bergetar, keringatnya bercucuran.
“Aku tidak ingin menemuinya, aku sangat takut. Aku takut Kyuhyun akan melukai anakku.”
“Benar nona. Aku rasa tuan Cho pun sangat merindukan anda, karena sejak semalam, tuan Cho terus meracau memanggil-manggil nona tiada henti.” Sekretaris Hwang menjelaskan.
“Benarkah begitu? Benarkah Kyuhyun memanggil diriku? Namun, atas dasar apa? Benar karena merindukanku, atau karena dendamnya?” Seira membatin, dan Ahra kembali menggandengnya untuk masuk.
Ketika berada di dalam, mereka langsung menuju kamar Kyuhyun. Melihat kondisinya yang sangat lemah, tanpa sadar, langkah kaki Seira berjalan mendekatinya, dan mengusap keringat yang keluar dari dahi pria tersebut.
Ahra tersenyum melihat pemandangan itu, dan meminta sekretaris Kyuhyun untuk memberikan mereka ruang. Kemudian, Seira mulai merawatnya, dan ia pun mengompres dahi Kyuhyun menggunakan handuk kecil yang sudah tersedia disana.
“Nak, dia adalah ayahmu.” Gumam Seira ketika merasakan sebuah tendangan di dalam perutnya. “Kau pasti sangat senang bertemu dengannya bukan? Maafkan aku.” Tambahnya lagi yang mengusap lembut perutnya.
Malam telah tiba, dan Seira pergi ke dapur untuk membuatkan sup. Sampai saat itu, Kyuhyun masih belum juga membuka matanya, namun demam yang di alaminya sudah menurun. Sedangkan Ahra tengah pergi ke butiknya sejak sore tadi untuk mengurus beberapa dokumen.
Bubur sudah siap di sajikan, saat kembali ke kamar Kyuhyun. Seira lekas menyimpan sup tersebut di atas nakas, kemudian mengambil handuk yang masih menempel di dahi Kyuhyun. Ketika hendak menempelkannya kembali, sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.
Hal itu sungguh membuatnya terkejut. Kyuhyun sudah sadar, dan mengetahui ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin, pria itu langsung menatapnya tajam, dan langsung bangun dari posisinya.
“Sedang apa kau disini? Apa yang kau lakukan di rumahku?” Nadanya meninggi saat itu, dan membuat Seira begitu tersentak mendengarnya. “Bukankah sudah ku katakan untuk tidak muncul lagi di hadapanku? Apa kau sangat senang bermain-main denganku?” Imbuhnya lagi.
“Maafkan aku. Aku… aku akan pergi sekarang. Tapi, aku minta agar kau segera pulih, dan aku sudah menyiapkan sup untukmu. Setelah makan, segera makan juga obatmu.”
Seira berjalan meninggalkan kamar tersebut, dan Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menarik wanita tersebut ke dalam pelukannya. Namun, otaknya tak merespon tersebut, hingga kebenciannya justru kembali muncul.
•••
Lima hari sudah Seira berada di Seoul, dan kini ia tinggal bersama dengan Ahra. Donghae juga menghubungi Ahra untuk memberitahu jadwal pulangnya, ia juga menanyakan bagaimana dengan kondisi Seira saat ini, dan Ahra mengatakan jika kali ini mereka sudah kembali ke Seoul.
Mendengar semua itu membuat Donghae sangat marah besar, Ahra menjelaskan semuanya pada Donghae, dan Donghae langsung menutup panggilan tersebut dengan sangat kesal. Pesawat sudah landas, dan ia sudah dalam perjalanan menuju Incheon.
Hatinya menjadi gusar ketika mendengar mengenai kembalinya Seira ke Seoul. Pria ini hanya takut jika mental Seira akan terganggu, ia takut jika semua itu akan mengganggu proses persalinannya nanti.
Bersambung ...