Love Me, Please!

Love Me, Please!
Love Me, Please! Bagian 19



“Itulah tujuanku datang kemari, Seira.” Tanpa permisi, Donghae langsung menyambar piring, dan beberapa makanan yang sudah tersaji di atas meja.


Mereka menikmati hidangan disana. Kini tidak ada adu argument, tidak ada perdebatan antara mereka, mereka kembali seperti sebelumnya. Kembali menjadi Kyuhyun yang seperti dulu sangat membuat mereka bahagia. Meski Kyuhyun tak bisa menerima perasaan Seira terhadapnya, itu sudah cukup untuk Seira pribadi.


Ketika makan selesai, Donghae membantu Seira membersihkan piring-piring tersebut, dan Kyuhyun pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya, karena memang ketika ia tiba dirumah, Seira langsung menyuruhnya untuk makan lebih dulu.


Donghae menuju ruang tengah, dan bersandar di sofa. Baginya, rumah Kyuhyun sudah bagaikan rumah sendiri untuknya, begitu pun sebaliknya. Bagaimana tidak, keduanya sudah kenal sejak mereka duduk di sekolah menengah pertama. Kemudian, Kyuhyun menyusulnya, dan menyalakan siaran televisi.


Melihat keduanya dari kejauhan membuat sebuah senyuman terukir dari bibir Seira. ia berharap semua kehangatan ini tidak akan pernah berakhir, dan akan terus berjalan seperti sekarang ini. Seira membawakan teh hangat untuk keduanya.


“Kyu, pekan depan akan ada festival seni di Nowon. Bisakah kita pergi kesana bersama? Apa kau ada waktu?”


“Apa kau tidak salah bertanya seperti itu? Bukankah kaulah yang sangat sibuk dengan pasien-pasienmu itu?” Mata Kyuhyun masih menatap layar televisi. Seira tertawa kecil mendengar penuturannya, dan Donghae menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu.


“Aku akan usahakan untuk mendapat cuti di hari tersebut.”


“Pekan depan? Aku rasa aku tidak bisa, aku ada acara di hari itu. Bagaimana jika kau pergi bersama dengan Seira saja?” Kini Kyuhyun menatap Donghae, dan Seira bergantian. “Bagaimana Seira? Kau bisa pergi menemaninya bukan?”


“B-baiklah.”


Hari semakin malam, dan Donghae pun sudah kembali ke rumahnya. Sedangkan Kyuhyun, ia justru sibuk dengan laptopnya serta beberapa dokumen. Ada sesuatu yang ganjal, dan ada yang sangat ingin Seira katakan, Seira hanya takut jika Kyuhyun akan pergi ke bar itu lagi, namun apakah pantas pertanyaan tersebut dilontarkan.


“Ada apa?” Seru Kyuhyun yang tak menoleh sedikit pun, dan Seira sungguh terkejut karena Kyuhyun menyadarinya jika dirinya masih berada disana.


“S-soal tadi, k-kau mengatakan jika kau tidak bisa pergi karena ada acara di hari itu. Acara yang kau maksud itu apa…”


“... bukan, acara itu bukan di bar, atau di tempat semacam itu. Ada seseorang yang ingin ku temui di hari itu.” Seira terkejut ketika Kyuhyun membalikkan tubuhnya, dan tersenyum padanya.


Senyuman itu sudah lama tak ia lihat, senyuman itu sudah sangat lama tak pernah ia terima, senyuman hangat itu, ia sangat merindukannya. Namun mendengar kata ‘seseorang ’ dari mulutnya membuat Seira semakin khawatir. Melihat Kyuhyun mengatakan semua itu, entah kenapa ia merasa jika Kyuhyun sangat senang.


Kini Seira merasa takut, apakah Kyuhyun sudah menemukan seseorang? Seseorang yang bisa memasuki hatinya selain Hyerin. Jika benar begitu, apa itu artinya tidak lama lagi dirinya harus pergi dari sisi Kyuhyun untuk selamanya? Membayangkannya saja sudah sangat menakutkan untuknya.


“Apa ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan?”


“T-tidak a-ada. Jika begitu aku pergi tidur, dan kau juga sebaiknya tidur.”


•••


Hari itu tiba, hari dimana Donghae pergi bersama dengan Seira, dan Kyuhyun akan bertemu dengan orang tersebut, orang yang selalu rutin datang untuk menjenguk istrinya di kala ia sendiri sebagai suaminya sangat sulit menyempatkan waktunya untuk datang.


Donghae yang tengah asyik melihat tarian, membuat Seira tak ingin mengganggunya. Seira pergi tak jauh dari sana, ia menghampiri stand lukisan, ia masuk kesana, dan ia sungguh kagum dengan semua lukisan yang terpajang disana.


“Indah sekali.”


“Nona, apa nona ingin aku membuatkan lukisan untukmu?” Seru seorang pria yang tiba-tiba datang menghampirinya.


“Apa boleh?”


“Tentu saja. Kau ingin aku melukis apa untukmu?”


“Ah aku lihat di meja sana ada 2 batang bunga tulip. Aku sangat menyukai bunga tulip, bagaimana jika paman melukisnya?”


“Jika sudah selesai ku buat, pada siapa lukisan ini kau berikan?”


“…. Mungkin akan ku berikan pada suamiku.”


“Bravo. Jika begitu, aku harus melukis dirimu juga. Duduklah di kursi ini, dan pegang bunga ini. Ah aku juga memiliki flower crown, kau bisa menggunakan ini.” Pria itu meminta maaf untuk merapihkan letak rambut Seira, dan memakaikan flower crown tersebut di kepalanya.


Pria tersebut meminta Seira untuk menundukkan sedikit kepalanya, seolah ia tengah mencium aroma bunga yang di genggamannya. Seira tampak terlihat cantik dengan posisinya saat ini. Bahkan beberapa orang melihatnya begitu kagum, mereka melihatnya bak model.


Keramaian itu membuat Donghae mengalihkan pandangannya, dan menghampiri ke tempat tersebut. Mencoba melihat apa yang terjadi, ia terkejut ketika melihat Seira duduk disana, dengan memejamkan matanya seraya menggenggam beberapa tangkai bunga. Donghae sungguh terpesona kali ini.


“Kau sudah kembali.” Sahut Seira yang sudah selesai, dan hal itu berhasil menyadarkan lamunan Donghae.


“Stand ini tiba-tiba ramai, dan membuatku penasaran.”


“Apa mereka sepasang kekasih, terlihat sangat serasi.” Bisik salah seseorang.


“Kau benar, kurasa jika keduanya menjadi model pun pasti akan sangat popular.”


“Nona, ini dia milikmu.” Seru pria tersebut seraya menyerahkan lukisan tersebut pada Seira. “Ah apa kau suami nona ini? Kau tahu, dia sangat ingin melukis ini, dan memberikannya padamu, lalu aku…”


“Paman, pria ini bukan suamiku, dia adalah sahabat suamiku.”


“Ah begitu, aku minta maaf. Tapi kalian sungguh terlihat serasi.”


Bersambung ...