
“Aku hanya berkeliling dengan sepeda. Ah tampaknya, kali ini kau tidak bisa jauh dariku.” Serunya mencoba menghibur dirinya seraya menunggu jawaban pahit yang akan diberikan oleh Kyuhyun padanya. Lagi pula penolakan darinya sudah bukan hal asing lagi, jadi bergurau sedikit tak akan masalah.
“Tentu saja. Aku hampir menghubungi asistenku untuk mengerahkan semua orangku agar bisa mencarimu.”
“Eh, kenapa jawaban dia seperti ini? Akhir-akhir ini sifatnya padaku pun berubah begitu hangat, dan lembut.” Gerutu Seira dalam hati, kemudian Kyuhyun membenarkan sepedanya, dan membawanya menuju garasi. Lalu, mereka berjalan bersama ke dalam.
“Kau bersikap begitu manis akhir-akhir padaku. Apa kini posisi Hyerin eonni sudah mulai bergeser di dalam hatimu?” Mendengar itu langsung membuat langkah kaki Kyuhyun terhenti. “Matilah aku, dia pasti akan benar-benar marah kali ini, apa aku terlalu mengujinya?” Batinnya.
“Aku tidak pernah berniat menggeser posisinya di hatiku. Namun, aku mampu membagi ruang tersebut untukmu masuk, dan menempatinya bersama dengan Hyerin. Karena kali ini, kau sama pentingnya dengan Hyerin, kaulah wanita yang harus ku jaga setelah dia. Bukankah itu keinginannya?”
“Terima kasih telah memberiku tempat di hatimu. Tapi tetap saja, sampai kapan pun kau tidak akan pernah mencintaiku, dan aku tidak bisa mengharapkan hal tersebut.” Gerutu Seira.
“Bodoh. Ternyata kau lebih bodoh darinya. Apa aku memberikan tempat padamu tanpa alasan? Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku membagi ruang itu untukmu. Sudahlah sekarang buatkan aku sarapan, setelah sarapan kita akan pergi keluar.”
Kyuhyun berlari ke dalam. Sedangkan Seira masih mematung di tempat dengan wajah yang semakin lama semakin memerah. Ketika sadar, ia langsung menutupi wajahnya, dan segera masuk untuk membuatkan sarapan.
•••
Sebulan telah berlalu. Kini, keduanya bukan hanya tinggal di atap yang sama. Namun, Kyuhyun membagi ranjang miliknya untuk Seira, dan mereka tinggal di kamar milik Seira. Meski sudah membuka hatinya untuk wanita lain, ia tetap ingin kamar itu menjadi kenangan bersama dengan mendiang istrinya.
“Sampai saat ini aku masih tidak menyangka karena tidur di kamar milikmu ini.” Kyuhyun memeluknya erat, membenamkan Seira didalam dada bidangnya.
“Kau tidak membiarkanku untuk menempatinya. Tapi, kau membiarkan wanita lain masuk kesana.”
“Aaah itu kan karena aku sedang mabuk. Kamar itu akan tetap menjadi kenangan untukku bersama dengan Hyerin.” Gumamnya lagi.
“Apa kau yakin? Aku rasa aku juga memiliki sedikit kenangan di kamar itu. Meski pahit, tapi selama membuatmu bahagia, aku akan menerimanya.” Seira menyahut, air matanya menetes ketika mengingat malam itu, dan ia langsung mempererat pelukannya.
Matahari pagi kembali bersinar. Donghae yang baru saja tiba di rumah sakit pun langsung di minta untuk mengikuti rapat. Soo Ra yang merasa telat menuju ruang rapat pun langsung berlari hingga menubruk punggung Donghae.
Donghae membalikkan tubuhnya, dan menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi gadis di hadapannya melakukan hal ceroboh. Donghae sangat khawatir padanya, jika kecerobohannya tak bisa dikurangi, ia takut akan membahayakan pasien.
“Baiklah, aku akan lebih hati-hati lagi. Sekarang cepatlah kita ke ruang rapat.”
Rapat dimulai, dan direktur Jung pun sudah duduk disana bersamaan dengan petinggi rumah sakit lainnya. Kini, di hadapan mereka sudah terdapat beberapa berkas yang akan mereka bahas di rapat hari ini.
Mata mereka saat ini tertuju pada gambar yang terdapat pada layar. Tumor yang terdapat pada pankreas, dan tidak semua bisa melakukan operasi besar seperti ini. Meski sudah mengikuti prosedur, kemungkinan berhasil pun hanya sedikit.
Direktur Jung ingin rumah sakit yang memiliki nama pun bisa melakukan tugas besar ini. Bukan karena ingin kepopuleran, namun jika bisa menyelamatkannya, bukankah pasien dapat kembali bersama keluarganya?
“Bagaimana jika mengambil tindakan whipple?” Seru Donghae yang masih mengamati kertas yang ada di hadapannya, dan seluruh isi ruangan tersebut menatapnya bersamaan.
“Tapi operasi itu sangat beresiko dokter Lee, dan kemungkinan untuk sembuh hanya 5%.” Sahut dokter Park
“Meski kemungkinan itu hanya 5%. Jika, kita tidak mencobanya bagaimana kita tahu? Setidaknya masih ada kemungkinan, dan 5% itu akan sangat berharga untuk mereka.”
“Apa kau fikir, kau bisa membuka, dan menutup tubuh pasien semaumu? Bagaimana jika hal tersebut justru membuat harapan pasien, dan keluarga pasien hilang? Apa kau akan bertanggung jawab?” Kini dokter Kim menyahut dengan nada kesalnya.
“Golongan darah pasien A+, yang ku ingat rumah sakit ini masih memiliki banyak persediaan. Direktur Jung, kau bisa membawa pasien tersebut datang, dan rumah sakit ini yang akan mengambil alih operasi tersebut.”
“Dokter Lee. Bukankah sudah ku katakan jika operasi itu beresiko? Bagaimana jika pasien tak selamat, dan itu bisa membuat rumah sakit di tuntut dengan tuduhan malpraktek.” Dokter Park yang tidak terima dengan pendapat Donghae pun langsung menggebrak meja tersebut.
“Semua operasi itu beresiko dokter Park. Jika kau tidak ingin mengambil resiko untuk satu ini, maka aku yang akan menanggung resikonya, dan aku juga yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu nanti. Aku permisi.” Ujar Donghae yang langsung bangun dari tempat duduknya.
“Rapat belum selesai dokter Lee, apa kau tidak menghormati direktur Jung?” Gumam dokter Hwang, dan langkah Donghae langsung terhenti mendengar ucapan tersebut.
“Bagiku sudah selesai, keputusanku sudah final. Aku harap direktur Jung pun menghargai keputusannya, ah dan satu hal lagi. Untuk operasi ini, bagian anestesi, aku serahkan pada dokter Min Soo.” Sahutnya, dan kini ia pun keluar dari sana.
Bersambung ...