
Merasa tak sabar, Donghae langsung membuka lemari pendingin, dan mengambil beberapa bahan makanan disana. Seira yang melihat itu pun sedikit terkekeh, tidak sedikit yang Donghae keluarkan dari sana, dan Seira mengambil beberapa bagian untuk di simpan kembali.
“Memasak untuk satu porsi tidak membutuhkan bahan sebanyak itu.” Gerutunya, dan kembali berdiri di sisi Donghae.
Keduanya memasak bersama, dan Donghae sangat menikmati momen tersebut. Sedangkan Seira, ia berharap bisa melakukan hal kecil ini bersama dengan Kyuhyun, hingga tanpa sengaja jari telunjuknya teriris, dan ia sedikit terkejut seraya merintih.
Dengan sigap, Donghae menarik jari Seira, dan membawanya menuju westafel agar dapat membilasnya. Kemudian, ia mensterilkan lukanya, dan melilitkan plester di jari Seira. Donghae memintanya untuk berhati-hati, hingga mereka pun kembali memasak.
“Terima kasih.”
Keduanya kembali menuju dapur, namun Donghae meminta Seira untuk duduk diam. Pria ini tidak ingin, ia kembali terluka lagi. Fikirannya sedang kacau, dan akan berbahaya jika ia harus melanjutkannya.
Beberapa menit kemudian, makanan telah siap, dan pria itu membuat 2 porsi makanan. Seira sangat tergiur dengan masakan itu, kemudian Donghae memintanya untuk segera mencicipinya.
“Ini sungguh lezat. Tapi, kenapa kau membuatkannya untukku juga?”
“Kau butuh makan. Makanlah, dan setelah selesai, aku akan pulang.”
•••
Malam sudah hampir larut, dan tidak ada tanda-tanda kepulangan Kyuhyun. Seira mencoba menghubunginya, namun ponselnya tidak bisa dihubungi. Kini, ia pun mulai merasa khawatir. Dengan cepat, ia pergi ke ruang kerja Kyuhyun, dan mencari buku telfon. Berharap dapat menemukan nomor ponsel asistennya.
Syukurlah ia menemukannya, dan ia langsung menghubunginya. Asisten Kang mengatakan jika Kyuhyun sudah pulang dari beberapa menit yang lalu, dan membawa mobilnya sendiri. Setelah menutup panggilan tersebut, Seira kembali ke ruang tengah, dan tak henti-hentinya ia melakukan panggilan meski tak aktif.
Mendengar suara mobil di garasi membuatnya mengintip melalui jendela. Mobil Kyuhyun terparkir disana, dan Seira langsung berlari keluar membuka pintu. Saat pintu terbuka, Kyuhyun terjatuh di pelukannya.
“Bukankah kau sudah janji untuk tidak mabuk? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Bukankah jika mabuk tidak boleh berkendara? Bagaimana jika kau terlibat hukum, dan….”
“… aku tidak mabuk, aku baik-baik saja, dan kau terlihat cantik malam ini.”
Seira sungguh tidak menanggapi ucapan Kyuhyun. Sudah jelas pria ini tengah mabuk, tapi kenapa ia tidak mengakuinya. Dengan segera ia membawanya menuju kamar, dan membaringkannya disana.
Saat itu, ia membantu suaminya untuk melepaskan sepatu hingga jas, dan dasi yang masih melilit di kerah kemejanya. Ketika selesai, ia pun segera keluar, namun sebuah tangan menahannya. Seira membalikkan tubuhnya, dan justru tangan tersebut menariknya hingga dirinya terjatuh di atas tubuh suaminya.
Pria ini mencium kening gadis dihadapannya, berlanjut ke hidung hingga bibirnya. Seira yang mendapat perlakuan itu pun merasa bimbang akan perasaannya. Bolehkah ia melakukan semua ini dengan Kyuhyun?
“Aku mencintaimu…” Bisik Kyuhyun, dan saat itu juga Seira membelalakkan matanya. “… sangat mencintaimu, Hyerin.” Sambungnya. Kemudian, air mata Seira pun menetes.
Tak peduli dengan apa di dengarnya kali ini, keegoisannya meminta dirinya untuk tetap bertahan disana, dan tak menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh Kyuhyun. Meski itu terasa menyesakkan untuknya, setidaknya ia bisa menghabiskan malam itu bersama dengan pria yang ia cintai.
•••
Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Seira membuka matanya secara perlahan, dengan sangat jelas ia bisa melihat wajah polos Kyuhyun yang tengah tertidur. Mengingat kejadian yang terjadi semalam pada dirinya, membuat ia beranjak, dan berlari dari sana.
Seira masuk ke kamar mandi yang berada di kamarnya, ia menyalakan shower, dan duduk dibawah air tersebut. Air matanya sudah tak mampu ia bendung. Apa yang harus ia rasakan kali ini? Apa dirinya harus merasa senang atau sedih?
Tubuhnya sudah mulai pucat akibat air yang terus menerus membasahinya. Gadis ini pun memutuskan untuk keluar dari sana, dan bergegas untuk berganti pakaiannya. Meski sudah mengganti pakaiannya, ia memilih untuk duduk memojok, dan menyandar pada sisi tembok.
Dengan kondisi kaki yang menekuk, ia menenggelamkan kepalanya disana. Air matanya kembali mengalir deras, dan tubuhnya sedikit bergetar. Seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan gadis itu tak beranjak dari tempatnya sedikit pun.
Hingga orang tersebut membuka pintu kamarnya, dan langsung berlari ke arah Seira yang tengah duduk. Orang tersebut memeluknya, dan Seira menolak sentuhan itu. Mendapat respon seperti itu tentunya membuatnya sangat terkejut.
“Hey, ada apa? Apa yang terjadi? Ini aku, Kyuhyun.”
“Maafkan aku. Aku.. aku hanya mimpi buruk.”
“Tubuhmu dingin sekali, wajahmu juga pucat. Kita tunda untuk pergi ke Mokpo, dan kau harus pergi ke rumah sakit.”
“Aku tidak mau. Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit. Aku baik-baik saja.” Seira menjauh dari Kyuhyun, dan tubuhnya tak bisa menjaga keseimbangannya. Sebelum jatuh, Kyuhyun lebih cepat menahannya, sehingga tubuh Seira dapat diraih olehnya.
Dengan cepat Kyuhyun menghubungi Donghae, dan memintanya untuk segera datang. 25 menit kemudian ia tiba, dan Kyuhyun langsung membawanya menuju kamar Seira. Donghae terkejut melihatnya terbaring tak sadarkan diri, dan hal itu membuatnya menatap Kyuhyun dengan sangat tajam.
“Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi.” Kyuhyun membela diri, dan Donghae langsung bergegas mengecek kondisinya.
Bersambung ...